Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Wisata Bersama


__ADS_3

Semalaman Indi dan Satria tidak langsung tidur. Keduanya bergantian bersih-bersih terlebih dahulu. Sembari mendengarkan sayup-sayup kedua orang tuanya yang masih bercerita. Ini pun menjadi kesempatan keluarga Indi menginap di rumah Besannya. Sebenarnya Ayah Pandu dan Bunda Ervita ingin menginap saja di hotel. Akan tetapi, Rama Bima dan Bu Galuh meminta supaya Besannya menginap saja di rumahnya. Awalnya memang sungkan, tapi ternyata keluarga Hadinata diterima dengan sangat baik.


"Orang tua kita masih ngobrol tuh, Mas. Padahal yang lain sudah pada pulang," kata Indi kepada suaminya.


"Kan dua keluarga sudah menjadi keluarga besar, Sayang. Rama begitu, kalau pembicaraan nyambung ... duh, betah banget bicaranya. Bisa sampai malam," balas Satria.


Satria sekarang bak membuka kartu Ramanya sendiri. Sosok Rama yang kalau sudah klik dan nyambung pembicaraannya pastilah akan begitu betah untuk terus berbincang. Indi juga baru tahu kalau cocok dan nyambung Rama Bima bisa begitu betah berbincang-bincang.


"Kupikir Rama itu pendiam," kata Indi sekarang.


"Ya, memang pendiam, tapi kalau ada yang nyambung gitu bisa berbicara banyak hal," balas Satria.


Indi kemudian menatap suaminya itu. "Sama kayak kamu dong, Mas? Kamu kan diem gitu, tapi kalau cocok baru deh bisa berbicara banyak hal," balas Indi.


"Iya, mungkin. Aku sih dari awal MaBa dan kenal kamu, rasanya kayak udah lama kenal gitu, terus kamu juga baik banget. Bikin aku nyaman. Cowok pun kalau berteman butuh kenyamanan, Sayang. Itu yang kutemukan dari kamu," balas Satria.


Mendengarkan cerita dari suaminya, Indi sekarang justru menyadarkan kepalanya di dada suaminya. Padahal kala itu, mereka baru bertemu sebagai mahasiswa baru, tapi Satria sudah merasa mengenal Indi lama.


"Aku masih ingat sih waktu kita masih jadi mahasiswa baru. Aku biasanya gak dekat sama cowok, tapi sama kamu bisa temenan. Cuma, setelah pacaran anehnya itu terbiasa memanggil Satria, terus jadi Mas," cerita Indi.


"Nanti manggilnya jadi Papa loh," balas Satria.


"Iya, naik kelas terus ya, Mas. Dari sahabatan jadi pacaran, terus jadi suami istri, nanti jadi orang tua untuk Babies Boy," balas Indi.


"Benar, Sayang. Nanti kita jadi orang tua. Katanya orang tua tadi persiapannya mulai dari sekarang. Ya sudah, bobok yah. Bumil jangan malam-malam boboknya," balas Satria.


Indi menganggukkan kepalanya. Wanita itu segera mengambil posisi tidur ternyamannya di sisi Satria. Memeluk suaminya itu."Met Malam, Mas Satria. I Love U," kata Indi dengan mulai memejamkan mata.

__ADS_1


...🍀🍀🍀...


Keesokan Paginya ...


Mentari belum menyapa, masih terdengar kokokkan ayam jago di sekitar rumah, tapi Indi sudah terbangun terlebih dahulu. Dia tahu kalau sisi tempat tidur kosong pastilah karena Satria yang menunaikan sholat subuh ke Mushola dekat rumah. Oleh karena itu, Indi segera mencuci muka dan gosok gigi. Hening beberapa saat, Indi memilih mengambil wudhu dan menunaikan sholat subuh sendiri di kamar suaminya. Memulai hari dengan bersujud.


Seusainya, Indi kemudian turun dari kamar suaminya dan menuju ke dapur. Ingin membantu Ibu mertuanya untuk menyiapkan sarapan.


"Pagi, Ibu ...."


Indi menyapa dengan suara yang masih serak khas orang baru bangun tidur. Bu Galuh pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum melihat Indi yang sudah bangun dan menuju ke dapur.


"Satria ke Mushola sama Rama dan Yayahnya," kata Bu Galuh.


Indi menganggukkan kepalanya, tidak mengira bahwa Yayahnya turut ke Mushola juga. Tidak berselang lama, Bunda Ervita juga bergabung di dapur. Bunda Ervita senang melihat Indi yang sudah terlebih dahulu berada di dapur.


"Bu, istirahat saja. Tidak usah ke dapur," kata Bu Galuh.


"Tidak apa-apa, Bu. Mana yang bisa saya bantu biar saya bantu," balas Bunda Ervita.


Akhirnya sarapan pagi itu adalah hasil olah tangan Bu Galuh, Bunda Ervita, dan Indi. Ketiganya menyiapkan sarapan, menyeduh teh, dan mempersiapkan meja makan untuk sarapan. Sementara kaum pria seperti biasa, usai dari Mushola melihat para petani yang datang dan menawarkan rempah mereka. Baru kali ini Ayah Pandu melihat kegiatan seperti ini. Rasanya sangat unik.


"Jadi, seperti ini setiap pagi, Pak Bima?" tanya Ayah Pandu.


"Benar, Pak Pandu. Hampir setiap pagi. Kalau rempahnya seperti ini lebih murah, Pak. Selain itu, kami punya tanah perkebunan sendiri untuk Teh dan Rempah di Karang Pandan."


"Saya doakan pabrik jamu ini jaya selalu yah, banyak petani dan karyawan yang menggantungkan hidupnya di sini," kata Ayah Pandu.

__ADS_1


"Amin, Pak. Lain kali kalau main ke Solo, saya ajak melihat produksi jamunya Pak Pandu."


Pagi itu menjadi cerita tersendiri untuk banyak orang. Sama seperti Ayah Pandu yang bisa melihat lebih dekat kehidupan besannya. Sesuatu yang menarik.


Siang harinya, ketika sebenarnya Ayah Pandu dan Bunda Ervita ingin berpamitan justru Rama Bima mengajak Besannya piknik bersama ke arah Karang Anyar. Melihat pemandangan alam dan merasakan udara pegunungan yang sejuk. Mumpung berada di Solo dan kumpul besan.


"Padahal kamu mau ke rumah Eyangnya," kata Bunda Ervita.


"Liburan dulu, mumpung di Solo. Nanti kan kalau kami ke Jogjakarta biar diajak Pak Pandu liburan," kata Rama Bima.


Ayah Pandu akhirnya menganggukkan kepalanya. "Boleh, nanti saya ajak ke Abhaya Giri."


Sekarang, cukup membawa satu mobil saja menuju ke arah Tawang Mangu, Karang Anyar. Daerah pegunungan, di kaki Gunung Lawu. Tempat yang dikunjungi oleh Rama Bima untuk pertama kali adalah Warung Makan Bu Ugi yang terkenal dengan Sup Iga Sapi nya. Di daerah pegunungan dan menikmati Sup yang hangat terasa sangat nikmat.



"Ini sup legendaris Pak Pandu dan Bu Ervi. Kalau ke Tawang Mangu, harus mampir ke sini. Nasi Pecelnya juga enak, tapi saya rekomendasi Sup Sapi ini," kata Rama Bima.


Menikmati daging sapi dengan potongan Wortel dan Kentang, juga kuahnya yang gurih benar-benar sangat lezat. Terutama Indi yang baru memakannya saja merasa bahwa ini memang Sup yang enak dan sangat lezat.


"Enak sekali, Rama," balas Indi.


"Enak? Mbak Indi makan yang banyak. Yang sehat biar bayinya juga sehat," balas Rama Bima.


Bu Galuh juga menganggukkan kepalanya. "Ini memang enak, Mbak Indi. Hanya kuahnya saja sudah enak. Rama dan Ibu kadang dari kebun disempatkan naik ke sini untuk makan Sup ini."


"Ini kami justru seperti diajak wisata kuliner loh, Bu Galuh," kata Bunda Ervita.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bu Ervi. Mumpung masih di Solo. Nanti giliran kami diajak wisata kuliner di Jogjakarta," balas Bu Galuh.


Semangkok Sup Sapi yang rasanya benar-benar lezat ditemani dengan Teh hangat menjadi kombinasi sempurna. Indi terlihat sangat lahap, sementara orang tua juga menikmati sambil mengobrol. Ini menjadi seperti wisata keluarga rasanya.


__ADS_2