Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Curhat Bersama


__ADS_3

"Seneng aku bisa bertemu kamu di sini, In," kata Viona.


Kurang lebih waktu bergulir hampir satu tahun. Setelah dulu Viona bertemu dengan Indi ketika dia hendak bercerai, dan sekarang bisa kembali bertemu. Tentu saja Viona sangat senang. Selain itu, Indi juga ingin tahu kenapa Viona bisa bersama dengan Anthony. Setahu Indi, kawannya itu sudah bercerai dengan Anthony.


"Aku juga gak menyangka ketemu kamu di sini. Baik kan?" tanya Indi.


"Sangat baik."


"Bersama dengan dia?" tanya Indi lirih. Dia yang dimaksud oleh Indi tentu adalah Anthony.


Viona kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, hanya sebatas Co-Parenting, In. Bagaimana pun Arbe membutuhkan Mama dan Papanya kan?"


Indi menganggukkan kepalanya. Dia tahu bagaimana pasangan orang tua yang telah bercerai sering disebut Co-Parenting. Mereka harus bekerja sama untuk mengakomodasi kebutuhan anak. Tak jarang harus melunakkan ego, mencari jalan tengah untuk mengasuh anaknya.


"Oh ... sekadar Co-Parenting atau memungkinkan bisa berkembang?" tanya Indi.


Viona kemudian mengedikkan bahunya. "Aku tidak tahu. Aku masih trauma, In. Bagiku membina rumah tangga tak semudah itu. Terlebih aku seolah adalah korban dari perselingkuhan suamiku dan wanita lain. Aku kehilangan kepercayaan dengan pria," kata Viona.


Bukan melebih-lebihkan, tapi apa yang dialami Viona sangatlah wajar. Ketika usai melahirkan, suaminya justru memiliki wanita penghangat ranjang hingga anaknya seolah kehilangan figur kebapakan dari Anthony. Benar-benar terpuruk sendiri dalam rumah tangga yang rapuh.


Indi merespons dengan menganggukkan kepalanya. Tentu sangat tidak mudah menjadi Viona. Terlebih mengambil peran dalam Co-Parenting dengan Anthony.


"Aku tahu, dan semoga kamu selalu kuat dan sabar yah, Vi," kata Indi.


"Iya, Indi. Aku hanya mencoba untuk kuat dan sabar saja."


"Bagaimana caranya tidak melibatkan perasaan saat mengasuh Arbe, Vio?" tanya Indi sekarang.


Viona tertawa terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan dari Indi. "Kamu tanyanya menelisik sekali sih. Ya, berusaha untuk profesional aja, In. Mengesampingkan perasaan. Dulu, memang perasaan itu berbeda yah, tapi sekarang pun bentuknya juga sudah berubah. Walau memang tidak mudah. Ada kala, rasa sakit itu masih menyelimuti hatiku," balas Viona.

__ADS_1


"Kamu hebat bisa menjalani semuanya setahun lebih," balas Indi.


"Aku bertahan untuk Arbe, In. Kalau aku menutup akses komunikasi sepenuhnya, Arbe akan benar-benar kehilangan sosok Papanya. Dalam perceraian orang selalu berkata bahwa anak adalah korban. Itu benar, tapi bagaimana orang tua mencari solusi, menundukkan egonya. Lihatlah, In ... Arbe selalu bahagia kalau bermain dengan Papanya."


Indi menoleh dan memperhatikan Anthony dan Arbe sesaat. Sesungguhnya di dalam hatinya ada rasa kasihan ketika anak-anak tidak memiliki orang tua yang utuh. Namun, semua keputusan ada juga risikonya.


"Benar sekali, Vi. Semoga saja kalian bertiga memiliki hubungan yang baik. Semuanya untuk Arbe yah," balas Indi.


"Iya, hubungan yang baik aja," balas Viona.


"Tak terbersit rujuk?" tanya Indi.


Viona tersenyum. Sebelum menjawab, Viona justru bertanya kepada Indi. "Andai kamu di posisiku, kamu akan memanfaatkan perselingkuhan dan menerima suamimu lagi tidak?"


Indi terdiam. Pertanyaan dari Viona sukar untuk dijawab. Studi kasusnya pun terbilang berat.


"Berat, Vio. Aku sendiri pun tidak tahu. Namun, aku menuntut adanya kesetiaan dalam berumahtangga. Satu untuk selamanya. Namun, ketika usai bercerai, dan ada perubahan sikap mau pun karakter, mungkin aku akan memikirkan opsi rujuk. Dengan kesepakatan bersama tentunya."


Tidak heran sebenarnya. Di mata Indi sendiri Anthony berubah. Dulu, saat dia bertemu Anthony ketika bersama Karina dan sekarang ada perubahan. Walau sebenarnya Indi tak tahu juga perbedaannya.


"Lalu, kamu?" tanya Indi.


"Aku masih belum siap. Sama seperti yang aku katakan sebelumnya aku trauma dan takut diselingkuhi lagi. Aku mulai hilang kepercayaan dengan pria," cerita Viona.


Indi menganggukkan kepalanya lagi. "Orang berkata, daripada memulai dengan orang lain, lebih baik rujuk sih, Vio. Arbe pasti susah menerima kehadiran orang baru, dia sudah tahu siapa Mama dan Papanya. Anak dengan tahapan usia seperti Arbe akan susah menerima kehadiran orang baru, Vi."


Indi bisa mengatakan seperti itu karena dia berkaca pada masa lalunya. Terlahir tanpa nasab, dikira tidak memiliki bapak. Sejak bayi, figur yang Indi lihat sebagai ayah adalah Ayah Pandu saja. Ketika dia sudah dewasa saja dan Bundanya memberitahu semua kisah masa lalu termasuk asal-usulnya saja membuat Indi shock dan sukar menerima keberadaan Bapak Firhan.


Untunglah, Indi memiliki orang tua yang baik, yang memberikan didikan dan tuntutan yang baik pula. Dia kecewa, tapi hubungan dengan bapak biologisnya diperbaiki.

__ADS_1


"Benar, In. Yah, doakan saja untuk kami bertiga. Aku berharap aku tidak salah langkah lagi," kata Viona.


Ketika seseorang pernah mengalami kegagalan di masa lalu, mereka akan lebih berhati-hati. Memiliki harapan bahwa setiap langkah yang dia ambil bukan langkah yang salah. Mereka akan memiliki pertimbangan yang lebih matang.


"Apa pun itu, aku berharap kamu dan Arbe bahagia, Vio. Kamu berhak bahagia dengan caramu," balas Indi.


Mendengar apa yang Indi katakan barusan, kedua mata Viona berkaca-kaca. "Itu yang selalu aku harapkan, Indi. Aku ingin bahagia. Dengan atau tanpa Anthony, aku akan mengusahakan kebahagiaanku dan Arbe."


Setelah banyak curhat bersama, Indi kemudian mengenalkan Viona kepada orang tua dan mertuanya. Walau untuk Rama Bima, dia tahu siapa Anthony dan merasa kurang respek dengan pria itu. Namun, hati Rama Bima melembut melihat Arbe. Bocah kecil itu harusnya layak mendapatkan figur teladan seorang ayah yang baik. Selain itu, Rama Bima juga salut dengan cara Viona dan mantan suaminya mengasuh Arbe bersama.


Benar yang Viona curhatkan kepada Indi sebelumnya mengesampingkan perasaan dan masa lalu itu tidak mudah. Perlu untuk bersikap profesional. Walau memang kadang sakit hati tiap kali memandang wajah mantan pasangan kita.


"Lanjut family time nya yah. Kapan-kapan kalau ke Jogja kabar-kabar. Biar bisa outing bersama," kata Indi.


"Iya, Kembar juga udah bisa diajak main kan yah? Lain kali yah kita outing barengan. Biar anak-anak bisa main bersama," balas Viona.


Setelah itu, Indi melanjutkan dengan keluarga besarnya. Sementara Viona juga menikmati family time dan menjadi Co-Parenting dengan Anthony.


"Dia yang selingkuh dengan Karina, kan?" tanya Rama Bima.


"Benar, Rama."


"Rama pernah melihat wajah pria itu di surat kabar kala perceraiannya. Kalian sudah tahu kan kabar Karina sekarang?" tanya Rama Bima.


Indi dan Satria menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu, Rama."


"Kabar dari Atmaja, Karina terkena penyakit kelamin, sifilis yang mengharuskan dia berobat hingga dua tahun. Sekarang Karina tinggal di luar negeri untuk menyembuhkan sakitnya," kata Rama Bima.


"Makanya penting setia dengan pasangan. Kalau bukan pasanganmu yang halal, jangan melakukan hubungan terlarang," kata Bu Galuh.

__ADS_1


Kadang dari pengalaman orang lain kita bisa belajar sesuatu. Pentingnya setia kepada pasangan. Menjaga diri dari hubungan terlarang. Hanya melakukan hubungan dengan pasangan kita yang halal saja.


__ADS_2