Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Nama Satria Terbawa


__ADS_3

Rupanya kasus yang menimpa Karina membawa nama Satria juga. Terutama di grup alumni SMA mereka, nama Satria dibawa-bawa karena dulu Satria dan Karina itu berteman dekat sehingga kedekatan keduanya sering kali dikira berpacaran. Pun begitu dengan setiap pesan yang masuk di grup Whatsapp itu.


[Bukannya Karina dulu pacarnya Satria yah? Wah, Jangan-jangan mereka udah begituan di SMA.]


[Aku inget Karin yang sering sama Satria.]


[Iya sih, dulu mereka dekat. Pacaran mungkin kali yah?]


Sekarang Satria tampak memandang setiap pesan yang masuk di handphonenya. Satria juga tidak habis pikir aja dengan spekulasi teman-temannya waktu SMA yang beranggapan bahwa dia adalah Karina. Indi yang baru duduk dan menilik sesaat handphone suaminya itu kemudian bertanya.


"Kenapa Mas?" tanyanya.


"Enggak, di grup SMA ini loh, Sayang. Pada ngira aku dulu pacarnya Karin. Padahal sih enggak," balas Satria.


Bahkan sekarang Satria memberikan handphonenya kepada istrinya. Memang Indi dan Satria begitu sudah menikah keduanya sama-sama terbuka. Handphone pun pasangannya tahu sandinya, membaca whatsapp juga tidak masalah. PIN ATM juga diketahui bersama. Tidak ada yang dirahasiakan.


Ketika orang lain beranggapan jangan pernah membuka handphone pasangan, justru Satria dan Indi sama sekali tidak keberatan untuk terbuka dengan handphonenya. Keterbukaan dalam hubungan itu yang diusung Satria dan Indi. Bahkan scrolling WhatsApp dan Media Sosial pun tidak masalah.


"Handphone kamu loh, Mas," kata Indi.


"Enggak apa-apa. Kan kita sejak menikah udah terbuka satu sama lain. Enggak menutupi sesuatu. Aku sih, begitu Sayang," balas Satria.


Indi kemudian tersenyum. "Katanya artis tuh biar gak berantem jangan buka handphone suaminya," kata Indi.


"Yah, itu sebenarnya istrinya udah tahu aja kelakuan suaminya bagaimana. Jadinya, yah mending membuat self defense sendiri. Kalau aku, ya ini aku apa adanya. Termasuk kamu boleh tahu handphoneku," balas Satria.


Usai mendengarkan ucapan Satria kemudian, Indi menerima handphone suaminya dan membaca pesan di grup Whatsapp itu. Kemudian Indi menepuk paha suaminya sesaat.


"Kamu dulu pacarnya Karin?" tanya Indi.

__ADS_1


"Enggaklah, aku cuma berteman aja sama dia. Dari kecil malahan temenan sama dia. Sebatas teman dan enggak pernah jadi cinta," balas Satria.


Baru mengobrol, rupanya di grup ada yang membagikan foto-foto waktu SMA dulu, dan ada foto Satria dan Karina di sana. Indi juga bisa melihat foto-foto yang baru aja masuk.


"Tuh, Mas Satria sama Karin," kata Indi.


Fotonya memang biasa saja, bukan foto berdua saja. Akan tetapi, memang terlihat keduanya dekat. Karina pun memandang Satria di foto itu.


"Kan ini sama banyak orang, Sayang. Beneran, gak pernah ada apa-apa antara aku dan Karina. Aku left grup aja yah, daripada kamu kepikiran nanti," balas Satria.


"Ya, enggak left grup juga gak apa-apa kok. Berarti dulu kalian memang deket dong?" tanya Indi.


"Dekat sebagai teman, Sayangku. Dari kecil malahan. Udah jangan ngambek. Nanti pengaruh ke Babiesnya loh," balas Satria.


"Enggak ngambek sih, cuma jadi tahu aja sedekat apa kalian berdua dulu. Makanya Rama sampai mau ngejodohin kamu dan Karin," balas Indi.


Memang terkadang begitulah hidup. Yang sedang bermasalah siapa, tapi sekadar orang dekat bisa dibawa-bawa namanya. Sama seperti Satria sekarang yang hanya sebatas teman saja, tapi justru dikira pasangannya Karina dulu. Lebih dari itu, ada yang mengira di masa lalu bisa saja Satria mencoba hubungan kayak gitu dengan Karina. Sebab, pada dasarnya orang bisa berpersepsi. Sehingga, sah-sah saja mengemukakan pendapatnya.


"Seriusan gak ada apa-apa kan Mas?" tanya Indi.


"Iya, serius. Aku gak pernah aneh-aneh, Sayang. Kalau aneh-aneh ya cuma sama kamu kok. Gak pernah sama yang lain," balas Satria.


Baru beberapa saat mereka terdiam, sudah ada panggilan telepon dari Sitha. Satria kemudian menggeser ikon telepon warna hijau di layar handphonenya.


"Ya, halo Dik ... ada apa?" tanya Satria dengan mendekatkan handphone ke telinganya.


"Apa benar dulu Mas Satria pacarnya Mbak Karina?" tanya Sitha.


"Enggaklah, cuma temenan. Ibu juga tahu, kalau kami berdua hanya temenan," balas Satria.

__ADS_1


Satria membawa nama Ibunya karena sebagai anak laki-laki, Satria justru dekat dengan Ibunya dan bisa bercerita apa pun dengan Ibunya. Oleh karena itu, Ibunya juga pasti tahu bahwa hubungannya dengan Karina hanya sebatas teman saja.


"Ini Rama mau berbicara, Mas," kata Sitha.


Akhirnya telepon berpindah ke Rama. Kemudian Rama berbicara kepada Satria dan Indi.


"Satria dan Mbak Indi, jangan didengarkan kabar seperti itu yah. Apalagi Satria dijaga istrinya, kan Indi baru hamil. Jangan banyak kepikiran. Kalau benar-benar tidak benar kebenarannya tidak usah dimasukkan ke telinga," kata Rama Bima.


Yang Rama Bima takutkan justru jika kabar kurang baik seperti ini bisa berpengaruh ke kehamilan Indi. Oleh karena itu, Rama Bima meminta Satria untuk menjaga Indi. Menjaga kehamilan istrinya.


"Pasti Rama. Satria pasti akan menjaga Indi. Terima kasih untuk perhatiannya," balas Satria.


"Iya, Sat. Rumah tangga seperti ini, kadang ada masalah yang tiba-tiba datang. Rama memberitahu saja supaya kalian kuat bersama. Kalau bukan pasangan suami istri yang saling bergandengan tangan dan saling menguatkan siapa lagi," kata Rama Satria.


Usai itu, rupanya handphone berpindah tangan ke Bu Galuh. Sekarang giliran Bu Galuh yang berbicara.


"Mbak Indi, ini Ibu. Kabar ity gak benar yah, Mbak. Ibu sangat tahu Satria itu bagaimana. Satria juga cuma sayang sama kamu. Fokus ke kehamilan dulu yah Mbak Indi. Jangan sampai kepikiran yang aneh-aneh," kata Bu Galuh.


"Nggih, Ibu. Indi tidak apa-apa kok. Kehamilannya juga sangat baik kok," balas Indi.


"Syukurlah, Mbak Indi. Ada kalanya kabar angin jangan dimasukkan ke telinga. Percayai suamimu yah Mbak Indi."


Mendengar nasihat dari mertuanya, Indi malahan tersenyum sendiri. Sebab, Indi memang percaya kepada suaminya. Walau tadi sempat tak enak dengan foto-foto Satria dan Karin saat SMA, tapi Indi sudah baik-baik saja. Daripada cemburu buta, Indi memilih untuk percaya kepada suaminya sendiri.


"Iya, Indi percaya kepada Mas Satria kok, Bu," balasnya.


"Syukurlah Mbak Indi. Ibu lega mendengarnya. Jangan banyak pikiran dulu, takutnya nanti berdampak ke janinnya," balas Bu Galuh.


Setidaknya ada nasihat yang baik dan mertuanya. Indi juga senang karena mertuanya perhatian. Memintanya untuk tidak terlalu pikiran, fokus ke kehamilan dan mengabaikan hal-hal yang tidak benar kebenarannya.

__ADS_1


__ADS_2