
Usai memakan bubur malam itu, Satria mengambilkan obat untuk Indi, karena memang ada empat jenis obat yang harus diminum Indi. Setelah itu, Indi bersandar di brankarnya, dan memikirkan sesuatu. Jujur, sedikit banyak ucapan Rama Bima tadi membuatnya banyak berpikir. Namun, Indi juga sepenuhnya setuju dengan apa yang disampaikan suaminya untuk sembuh terlebih dahulu.
"Kok bengong?" tanya Satria.
"Enggak kok, Mas ... cuma kepikiran dikit saja. Mas, kakiku ini bengkak banget yah?"
Indi bertanya sembari menyingkap selimut yang menutup kakinya. Terlihat memang kaki sebelah kirinya lebih bengkak dan ada lebam berwarna biru di sana. Indi yang melihat kakinya saja terlihat ngeri rasanya.
"Kaki kamu tertimpa banyak panel kayu, Sayang. Sudah dirontgen, hasilnya akan dibacakan besok pagi. Semoga ini memang bengkak biasa. Bukan karena patah tulang atau retak," jelas Satria.
"Iya, semoga enggak terjadi apa-apa ya Mas. Duh, aku takut kalau sampai operasi," balas Indi.
"Aku temenin Sayang ... jangan takut. Nanti aku juga yang akan merawat kamu sampai sembuh," kata Satria.
Mendengar ucapan suaminya yang terasa menenangkan itu, Indi pun tersenyum. Dalam hatinya, Indi merasa betapa baiknya suaminya itu sampai mau menemani dan juga merawatnya. Setelah itu, Indi ingin merapikan rambutnya yang panjang. Satria pun responsif, dia segera mengambil sisir di tas istrinya, dan berdiri di belakang Indi.
"Sini, biar aku yang sisirin dan rapikan rambut kamu," kata Satria.
"Agak pelan yah, Mas ... di sini kok rasanya sakit," kata Mira dengan menyentuh bagian kepalanya yang sakit.
"Oke, Sayang."
__ADS_1
Satria itu menyisir rambut Indi dengan sangat pelan, berusaha untuk tidak menyakiti, apalagi untuk bagian kepala yang menurut Indi sakit itu. Apalagi rambut Indi sangat panjang, hingga sepinggang, jadi Satria benar-benar hati-hati menyisirnya. Usai itu, Satria bertanya lagi kepada istrinya.
"Dikuncir atau gimana?" tanya Satria.
"Dikuncir, Mas. Kamu bisa nguncirin?" tanya Indi.
"Bisa, ya, tapi ... sebisanya," jawab Satria.
Akhirnya, Satria menguncirkan rambut panjang Indi itu dengan karet. Benar-benar sebisanya. Sesekali Indi membantu menginstruksikan. Setelah itu, Indi meminta tolong hal yang lain kepada suaminya.
"Pinjam handphone Mas," pinta Indi.
Satria memberikan handphonenya kepada Indi. Lalu, Indi kemudian membuka kamera, mengarahkan kamera ke wajahnya sendiri. Begitu kagetnya Indi, ternyata ada bagian wajahnya yang bengkak dan lebam.
"Iya, wajah kamu bengkak di sebelah kiri juga, dan luka di kening dan pelipis," jawab Satria.
"Hm, kalau begini aku gak cantik sama sekali ...."
Indi mengatakan itu dengan menangis. Wajahnya terlihat seram malahan, dengan bengkak di wajah sebelah kiri dan juga luka di kening dan pelipis. Bahkan di puncak kepala sebelah kiri juga bengkak seperti telor ayam.
"Cantik ... di mataku, kamu selalu cantik kok. Sudah jangan menangis," balas Satria.
__ADS_1
"Mas Satria bisa saja," balas Indi.
"Selalu cantik, Sayang ... walau wajah kamu luka dan lebam, tidak masalah. Cintaku juga bukan karena rupa kok, Sayang," kata Satria lagi.
Satria mendekat dan merangkul Indi. Membawa wajah istrinya mendekat ke dadanya. Jujur, bagi Satria bahwa istrinya itu selalu cantik. Walau wajahnya bengkak, tapi kecantikan yang Indi miliki tidak hanya terpancar dari wajahnya, tapi juga dari hatinya. Itu yang jauh lebih berharga untuk Satria.
Beberapa menit merangkul Indi, Satria kemudian mengurai rangkulannya, dia menyeka perlahan air mata Indi. "Jangan nangis terus ... kepalanya bisa pening nanti," kata Satria.
"Kening mengarah ke kepala ini aja kayak ikan Louhan loh, Mas ... makanya kok sakit," balas Indi.
"Ya, enggak ... cantikan kamu," sahut Satria.
Indi tersenyum perlahan. "Kamu itu paling bisa deh," balas Indi.
"Biar kamu enggak sedih terus. Kalau kamu sedih, ya aku juga sedih. Jadi, harus bahagia, kan ada aku," balas Satria.
"Harus nunggu sampai wajahku kayak ikan louhan dulu yah, untuk dapat restu dari Rama. Mencintai Putra Ningrat itu memang berat," celetuk Indi dengan tiba-tiba.
Satria terdiam, sedih sebenarnya mendengarkan ucapan Indi itu. Walau dia melihat senyuman di wajah Indi, tapi itu mengisyaratkan kesedihan dan perjuangan cinta yang tidak mudah. Benar-benar harus mengalami sakit dan penderitaan terlebih dahulu. Rasanya memang tidak muda mendapatkan restu dari seorang putra ningrat.
"Aku tidak pernah merasa kaum ningrat, Sayang. Aku bahagia memiliki identitas baru sebagai suami kamu," kata Satria sekarang.
__ADS_1
Menjeda ucapannya sejenak, kemudian barulah Satria berbicara lagi. "Aku meninggalkan semua tradisi yang mengikatku. Akan tetapi, aku sekarang memiliki tradisi baru, yaitu tradisi untuk mencintaimu sepanjang waktu. Pagi, siang, dan malamku akan selalu penuh dengan namamu dan akan selalu cinta kamu. Indira."
Ah, manisnya ucapan Satria. Indi sampai tersenyum dan berurai air mata di saat yang bersamaan. Perkataan suaminya itu benar-benar menyentuh hatinya. Semoga saja itu bukan sekadar tradisi, tapi benar-benar direalisasikan dalam kehidupan nyata.