Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Festival Budaya


__ADS_3

Keesokan harinya, keluarga Negara bersiap terlibat dalam festival budaya dan UMKM yang digelar di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia di Amsterdam, Belanda. Keluarga Negara sudah tampil rapi mengenakan batik, secara khusus Indi dan Satria yang memakai batik sarimbitan, satu motif, yang dibuatkan langsung oleh Bunda Ervita. Juga Nakula dan Sadewa yang cakep mengenakan kemeja batik lengan pendek.


Keluarga besar Negara turut hadir, dan Sitha mau menjaga Nakula dan Sadewa. Asal kedua bocah kembar itu tidak menangis semuanya aman. Selain itu, Indi dan Satria dipercaya Rama Bima untuk menjadi Nara sumber yang menjelaskan mengenai produk jamu mereka dan keterkaitan melestarikan tradisi melalui jamu.


"Indonesia sebagai negara yang memiliki sekitar 30.000 jenis tanaman herbal, seharusnya memiliki lebih banyak resep obat herbal dengan potensi nilai industri yang jauh lebih besar dibandingkan negara lain. Oleh karena itu, industri jamu harus dilestarikan. Sebab, ini adalah bagian dari tradisi. Di mana nenek moyang yang menemukan berbagai rempah dan tanaman herbal membuat dalam minuman yang menyehatkan badan, selain itu tradisi minum jamu jika tidak dikenalkan kepada generasi muda juga akan hilang," tutur Indi kala menjadi nara sumber waktu itu.


Selain itu, Satria juga menyampaikan bagaimana branding jamu supaya diterima oleh generasi masa kini. Biasanya branding jamu kunyit asam hanya akan menggunakan tanaman kunyit dan asam jawa, pilihan warna di kemasan juga warna oranye yang mewakili warna kunyit. Sementara jamu milik Keluarga Negara direbranding dalam kemasan yang menarik, bahkan dikombinasikan juga dengan seni batik. Sehingga, ada dua hal yang diusung yaitu jamu dan batik. Sama-sama melestarikan tradisi dengan cara yang bisa menjangkau anak-anak muda.


Hampir satu jam Indi dan Satria bersama-sama menjadi nara sumber dan sekaligus sessi tanya jawab, apa yang mereka sampaikan benar-benar diapresiasi. Keduanya menerima tepuk tangan dan juga respons yang baik dari audience yang ada di sana. Bahkan kala ada audience yang bertanya dengan menggunakan Bahasa Inggris pun, Indi juga bisa menjawab dengan baik dan informatif.


"Sudah selesai," kata Indi kepada suaminya di belakang panggung.


"Makasih Sayang ... untuk supportnya. Benar yang dikatakan Rama, kalau berjuang bersama lebih terasa perjuangannya. Respons positif ini juga terasa lebih menyenangkan," kata Satria.


Indi tersenyum. Sejak mengenal Satria dan menikah dengan suaminya memang baru sekarang mereka berdua bekerja sama dalam hal kerjaan. Ini pun menjadi ajang pertama Indi kembali tampil setelah vakum mengandung dan melahirkan. Seakan jiwanya kembali dibangkitkan untuk bisa bekerja dan menekuni apa yang dia kuasai.

__ADS_1


Oemah Jamu yang ada di Jogjakarta pun menjadi hal yang Satria sampaikan untuk menjangkau generasi muda dengan minuman tradisional khas Indonesia yang resepnya sudah ada sejak berabad-abad. Ada rasa bangga keduanya ketika bisa memperkenalkan salah satu budaya dan tradisi jamu di Belanda.


"Dankjewel," kata Rama Bima. Beliau mengucapkan terima kasih kepada Indi dan Satria dalam bahasa Belanda.


"Deg-degan, Rama," balas Indi dengan tersenyum.


"Ini yang Rama mau ... kalau yang menyampaikan generasi tua seperti Rama ini sudah pasti monoton dan kurang terasa terobosannya. Kalian sudah melakukan yang terbaik. Kayaknya Rama siap-siap pensiun ini," kata Rama Bima.


Satria kemudian tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Rama masih bisa melakukan banyak hal untuk Sido Mulyo kok. Satria akan membantu Rama," balasnya.


"Keren, Mbak ... kok bisa bahasa Inggris gitu bagaimana?" tanya Sitha sekarang.


"Gak sejago Mamanya Nang-Nang," balas Satria.


Menyelesaikan mendengarkan beberapa narasumber yang diundang hadir, hingga akhirnya disajikan hiburan seperti Nyanyian Macapat, Tembang Dolanan, Alunan Gamelan, dan Seni Tari. Semuanya memang adalah tradisi Jawa yang diangkat kembali dan dikenalkan kepada seluruh hadirin kala itu.

__ADS_1


Makanan yang disajikan juga adalah makanan tradisi dari Jawa. Dari Urapan atau Gudangan, hingga Sate, semuanya tersedia di sana. Juga, ada stand jamu milik keluarga Negara yang bisa dicicipi secara langsung bahkan jika ada yang ingin membeli pun bisa.


"Pabrik jamu ini luar biasa, sudah berdiri begitu lama yah?" tanya seseorang dari bagian KBRI di Amsterdam.


"Benar, Pak ... lebih dari seratus tahun," balas Rama Bima.


"Mbah saya itu sudah minum jamu ini dulu. Sekarang sampai ke saya," balasnya.


Rama Bima tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Bahkan Rama Bima memberikan beberapa kemasan jamu kepada staf dari KBRI itu. Selain itu, ada brosur dan beberapa informasi dalam begitu lay out yang Satria berikan supaya bisa didisplay di sana. Dengan begitu, orang-orang Indonesia yang datang ke kantor KBRI pun bisa membaca dan mengingatkan lagi pada tradisi minum jamu di Nusantara.


"Next time, jika ada acara lagi bisa berkolaborasi lagi, Pak Bima," kata pemerintah dari Solo yang turut hadir ke Amsterdam.


"Nggih, siap ... Pak. Bisa nanti kita sesuaikan jadwalnya," balas Rama Bima.


"Bulan depan mau tidak membuka stand di Solo Jadoel Festival?" tawaran dari pejabat kota Solo itu.

__ADS_1


Rama Bima tertawa dan kemudian kembali menganggukkan kepalanya. "Baik, kami akan support," balasnya.


Untuk pelaku industri ketika mendapatkan tawaran seperti ini bukan hanya sekadar mendapatkan laba atau keuntungan, tapi juga cara promosi supaya produk-produk jamu mereka semakin dikenal masyarakat luas termasuk generasi muda. Senang rasanya ketika pabrik jamu keluarga Negara terus mendapatkan tempat di berbagai event yang digelar.


__ADS_2