
Perjalanan dari Solo menuju Jogjakarta kali ini penuh cerita. Terlebih dengan kehangatan dan kebaikan hati dari keluarga yang mereka datangi. Ada keluarga Negara, keluarga Eyang Agus, dan tentunya keluarga Bapak Firhan. Semua memberikan kesan hangat untuk Indi dan Satria.
"Nanti kalau tasyukuran empat bulan di Solo, keluarga Bapak Firhan diundang, Sayang," kata Satria.
"Iya, Mas. Pasti diundang. Jangan memutus tali silaturahmi yah, Mas," balas Indi.
"Iya, lebih baik menjaga silaturahmi. Bapak juga kemarin kelihatan bahagia banget waktu kamu datang," balas Satria.
Walau tak banyak berbicara, tapi Satria tahu bahwa perasaan Bapak Firhan sangat senang ketika Indi datang. Untuk itu, Satria berbicara nanti kalau menggelar tasyukuran di Solo, mereka akan mengundang Bapak Firhan dan keluarganya.
"Masih mau mampir enggak?" tanya Satria kepada istrinya itu.
"Enggak, udah kenyang banget, Mas. Dawetnya itu tadi, sejak aku kecil rasanya gak pernah berubah loh, Mas," cerita Indi.
"Iya, benar. Aku sampai habis dua mangkok, Sayang. Enak."
Satria juga mengakui enak dan sampai habis dua mangkok. Indi tertawa mendengar cerita suaminya. Kemudian, tangan Indi bergerak dan menyentuh perut suaminya.
"Bisa-bisa aku yang hamil, perut kamu yang menyembul duluan loh, Mas," kata Indi dengan tertawa.
Satria justru tergelak, terbahak-bahak. Memang Satria yang mengalami lonjakan makan. Bahkan sejak menikah dengan Indi, beratnya sudah naik hingga tiga kilogram. Mungkin Satria mengikuti trend bahwa pria kian melebar ketika usai menikah. Lebih makmur dan subur.
"Gak apa-apa yah, masih cakep kok walau perutku menyembul," balas Satria.
"Kamu bisa saja. Adik babies kalau cowok secakep Papa yah," kata Indi dengan mengusapi perutnya sendiri.
"Iyalah kayak Papanya, masak kayak tetangga, Yang. Kan buatnya sama Papanya," balas Satria.
Kedua pasangan itu lagi-lagi tertawa dengan candaan tidak jelas. Banyak tertawa hingga perjalanan dua jam pun tidak terasa. Sebab, sekarang mereka sudah tiba di area Prambanan, Sleman, dan tinggal menuju ke kediaman Ayah Pandu dan Bunda Ervita.
Sekarang, mereka sudah tiba di kediaman keluarga Hadinata. Indi turun, sementara Satria mengambilkan satu kotak berukuran sedang yang berisikan aneka oleh-oleh khas Solo dari keluarga Negara untuk keluarga Hadinata.
"Assalamualaikum," sapa Indi dan Satria bersamaan.
"Waalaikumsalam," balas Bunda Ervita.
"Baru ngapain, Nda?" tanya Indi dengan memberikan salam takzim dan memeluk Bundanya itu.
__ADS_1
"Baru nyantai saja, Mbak Didi ... Sambil cerita-cerita tadi sama Yayahmu," balasnya.
"Sehat, Bunda?" tanya Satria. Pria itu turut memberikan salam takzim kepada ibu mertuanya itu.
"Alhamdulillah, sehat Mas Satria. Kok ada kotak oleh-oleh khas Solo ini?" tanya Bunda Ervita.
"Iya, Nda. Kemarin kami dari Solo. Menginap semalam di rumah Rama dan Ibu," balas Indi.
"Ya tidak apa-apa, Mbak Didi. Sekarang kan orang tuanya dua.
Ada orang tua di Jogjakarta dan di Solo. Kayak Yayahmu dulu, asalnya Bunda dari Solo, jadi Yayah punya orang tua dari Solo juga. Bunda jadi punya orang tua dari Jogjakarta, karena Yayah dari Jogja. Tidak menyangka anaknya Bunda mendapatkan Putra Solo. Entah nanti Irene dapat orang mana," balas Bunda Ervita.
Mungkin kisah Indi hampir mirip dengan Bunda Ervita, orang Solo yang mendapatkan orang Jogjakarta. Hanya sekarang terbalik, pihak keluarga cowok yang berasal dari Jogjakarta. Tinggal menunggu nanti Irene akan mendapatkan orang mana.
Hingga akhirnya, Ayah Pandu keluar dari menemui Indi dan Satria. Melihat Yayahnya, Indi segera memeluk Yayahnya. Walau bukan ayah kandung sendiri, tapi hubungan keduanya sangat akrab.
"Yayah," sapa Indi.
"Dari mana, Mbak Didi?" tanya Ayah Pandu.
"Ya, bagus. Dulu Yayah juga begitu. Kadang kala mengagendakan ke Solo untuk menginap di rumah Eyang kamu," balas Ayah Pandu.
"Perpaduan Solo dan Jogja yah, Yah?" tanya Indi dengan tertawa.
"Benar Mbak Indi. Keluarganya kan dua, di dua kota."
Setelah Ayah dan Bundanya berkumpul. Waktunya Indi dan Satria untuk mengabarkan kabar baik untuk orang tuanya. Sebab, keluarga di Solo sudah diberitahu. Sekarang, giliran memberitahu langsung Ayah dan Bundanya.
"Kami bukan hanya main dan mengunjungi Ayah dan Bunda. Akan tetapi, kami ingin berbagi kabar baik kepada Ayah dan Bunda," kata Satria sekarang.
Mendengarkan kabar baik, Ayah Pandu dan Bunda Ervita sudah sama-sama tersenyum. Mungkin saja yang dimaksud Satria dan Indi sama dengan yang dimaksud oleh Ayah Pandu dan Bunda Ervita. Walau begitu, Ayah Pandu dan Bunda Ervita kompak mendengar cerita dari anak-anaknya terlebih dahulu.
"Allah begitu baik kepada kami, Ayah dan Bunda. Sekarang, Indi sedang hamil. Alhamdulillah," kata Satria.
"Alhamdulillah," balas Ayah Pandu dan Bunda Ervita.
"Ayah dan Bunda sebenarnya beberapa waktu lalu sudah berbicara. Menunggu kapan kira-kira kalian dipercaya Allah untuk mendapatkan keturunan. Rupanya, sekarang sudah dijawab. Sekarang, yang harus dijaga dua orang Satria. Istrimu dan calon bayimu," kata Ayah Pandu.
__ADS_1
Satria menganggukkan kepalanya. Dia setuju dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Ayah Pandu. Benar, yang harus dijaga Satria sekarang adalah istri dan calon bayinya. Sembilan bulan yang tentunya juga akan begitu berkesan untuk Satria.
"Masih ada kabar baik lagi, Nda," kata Indi sekarang.
Bunda Ervita dan Ayah Pandu saling pandang. Menerka lagi apa kabar baik dari Indi dan Satria selanjutnya.
"Apa?" tanya Bunda Ervita.
"Indi hamil kembar, Nda," jawab Indi.
"Alhamdulillah, Ya Allah ... sungguh ini kabar yang bahagia Mbak Indi dan Mas Satria. Maha besarnya Allah yang mengaruniakan anugerah ini untuk keluarga kita," balas Bunda Ervita.
Sekarang Indi sudah merasa lega karena sudah memberikan kabar baik ke semua keluarga. Hanya saja, Indi menyampaikan hamil kembar hanya kepada keluarga Negara dan kepada keluarga Hadinata. Rasanya senang melihat wajah orang tua mereka yang terlihat begitu bahagia.
"Kok Indi bisa hamil kembar dari mana yah, Bunda? Dokter bilang kalau hamil kembar biasanya dari genetik wanita. Lalu, dari keturunannya Bunda siapa yah yang hamil kembar?" tanya Indi sekarang.
"Adiknya Eyang itu kebanyakan memiliki keturunan kembar, Mbak. Tinggalnya di Lampung sih, jadi kamu tidak ketemu," balas Bunda Ervita.
Oh, rupanya memang ada keluarga dari pihak Bunda Ervita yang memiliki genetik kembar. Sehingga, kemungkinan memang Indi bisa memiliki keturunan kembar juga. Hal ini selaras dengan penelitian bahwa variasai gen FSHB dan SMAD3 pada wanita berpeluang memiiki prosentase 29% untuk memiliki anak kembar. Sehingga, kebanyakan mereka yang memiliki keturunan kembar memang dari pihak perempuan.
"Oh, begitu ya, Nda," balas Indi.
"Iya, di hati-hati ya, Mbak. Kalau mengharuskan berhenti bekerja ya, tidak apa-apa. Fokus untuk anak dulu," kata Bunda Ervita.
Indi menganggukkan kepalanya. "Sejauh ini Indi sih sangat sehat, Nda. Tidak teler, sehat banget. Jadi, Indi sih masih bisa bekerja. Nanti kalau Indi sudah merasakan kehamilan semakin besar, mohon maaf, Indi fokus menjalani kehamilan dan persalinan dulu ya, Yah," kata Indi kepada Ayahnya.
"Iya, Mbak Didi ... jangan dijadikan beban. Menjalani masa kehamilan dan persalinan hingga mengasuh anak itu adalah kesempatan emas. Tidak akan terulang. Ayah sama sekali tidak masalah," balas Ayah Pandu.
"Terima kasih, Yah."
"Satria keberatan enggak bisa yang mencari penghasilan hanya Satria saja?" tanya Ayah Pandu.
Biasanya memang ketika yang terbiasa mencari nafkah dua orang, kemudian menjadi satu orang akan terjadi penurunan pendapatan. Untuk itu, memang harus didiskusikan pasangan suami dan istri terlebih dahulu.
"Satria tidak keberatan, Yah. Yang penting Indi nyaman menjalaninya," jawabnya.
Satria sendiri juga tidak keberatan. Asalkan istrinya nyaman dan menjalaninya tanpa tekanan itu sudah cukup untuk Satria. Ketika Indi nyaman dan bahagia, Satria juga akan merasakan hal yang sama.
__ADS_1