
Sementara itu di lain tempat, terjadi prahara rumah tangga yang lainnya. Rumah tangga yang satu tahun belakangan gonjang-ganjing lantaran kehadiran pihak ketiga. Ya, itu adalah rumah tangga Viona dan Anthony.
Bagaimana tidak, ketika Viona usai melahirkan dan mengalami pemulihan pasca bersalin. Juga masa nifas yang jauh lebih panjang hingga dua bulan, membuat suaminya memilih mencari wanita lain. Ironis memang. Ketika istrinya pasca bersalin, masa Palang Merah terlama, dan belum stabil secara emosional, suaminya justru mencari kenikmatan di luar rumah.
Hari ini Anthony datang ke rumahnya Viona yang dia tinggali dengan putri semata wayangnya Arbella. Ya, sejak Karina mendatangi rumah Anthony, Viona dan Anthony tidak lagi memiliki kehidupan rumah tangga yang harmonis. Buntut dari persoalan itu, keduanya akhirnya pisah ranjang, dan selang sebulan kemudian memutuskan pisah rumah.
"Arbe sudah tidur, Vio?" tanya Anthony begitu Viona membukakan pintu untuk pria yang kini tengah proses cerai dengan dirinya itu.
"Belum, dia masih bermain di kamarnya. Sebentar, aku bawa Arbe turun," jawab Viona.
Anthony akhirnya memilih menunggu di ruang tamu. Akses untuk bermain dengan putrinya yaitu Arbella hanya sebatas di ruang tamu atau di ruang bermain yang ada di bawah. Selain itu, Anthony tidak menginjakkan kakinya kemana-mana.
"Papa, pa ...."
Suara Arbella nyaring terdengar. Anak berusia satu tahun itu memang hanya bisa mengucapkan Papa atau Mama saja. Akan tetapi, wajahnya berbinar ketika Papanya datang. Bisa bermain dengan Papanya memang tidak bisa dirasakan Arbella setiap hari.
"Arbe Sayang ... Papa datang."
Ketika Anthony datang dan mengajak putrinya bermain, Viona juga bersikap dingin. Rasanya masih terngiang-ngiang ketika ada wanita asing datang ke rumah dan mengucapkan dia adalah wanita penghangat ranjang suaminya. Sejak saat itu, Viona merasa jijik dengan suaminya sendiri.
Alih-alih turut bermain dengan Arbella dan Anthony, Viona memilih duduk di ruang makan. Sebab, dari dapur, Viona bisa mengamati interaksi langsung Anthony dan Arbella.
Cukup lama Anthony bermain dengan Arbella, kira-kira hampir satu jam. Hingga Arbella tertidur sendiri karena sudah kecapekan bermain. Waktu hanya berdua dengan Viona dimanfaatkan Anthony untuk berbicara dengan istrinya itu.
"Vi," sapa Anthony lirih dengan melirik Viona yang duduk cukup berjarak dengannya.
__ADS_1
"Hm, apa," jawab Viona.
"Dua pekan lagi akan ada persidangan mediasi di antara kita berdua. Apakah tidak bisa kamu membatalkan tuntutan perceraian ini? Kita berdamai untuk Arbe," kata Anthony.
Viona tersenyum kecut. Baginya ucapan Anthony tidak berdampak sama sekali untuknya.
"Sudah terlambat. Aku lebih memilih bercerai. Yang kamu lakukan itu tak termaafkan, Thony."
Dengan tolok ukur dan perasaannya sendiri Viona menilai bahwa apa yang dilakukan Anthony dan Karina sudah tak termaafkan. Mungkin di luar sana masih banyak istri yang berlapang dada dan bisa memaafkan khilaf suaminya, tapi tidak dengan Viona. Yang dilakukan Anthony terasa menjijikkan. Tak hanya itu kedatangan Karina dan serangkaian bukti video membuat Viona kehilangan kepercayaan dengan suaminya sendiri.
"Aku akan berubah, Vi," kata Anthony.
Viona tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Berubah apa, Thony? Bahkan sampai sekarang kamu tidur dengannya. Aku heran, katanya dia dari keluarga Ningrat, tapi mau-maunya menjadi penghangat ranjang suami orang. Mau-maunya menjadi peliharaan suami orang."
"Kalau aku bisa meninggalkan dia?" tanya Anthony.
Anthony merasa terpojok sekarang. Hasrat hati ingin mengajak Viona berdamai. Dia ingin memperbaiki untuk putrinya. Akan tetapi, Viona sudah tidak bisa memberikan maaf dan kesempatan untuk suaminya.
"Kasihan Arbe, Vio," kata Anthony sekarang.
"Ck, ketika kamu berse-tubuh dengan dia saja, kamu tidak kasihan dengan Arbe kok. Sekarang baru kamu berkata kasihan Arbe. Jangan-jangan uang dan kekayaanmu habis untuk memelihara dia yah?"
Anthony terdiam. Sekarang rasanya dia sudah tidak bisa memberikan jawaban lagi kepada Viona. Selain itu, apa yang dikatakan oleh Viona ada benarnya. Dulu, ketika memulai perselingkuhan saja Anthony tidak memikirkan semuanya, tidak memikirkan Arbe yang masih bayi merah.
"Jadi kamu tidak mau rujuk denganku, Vio?" tanya Anthony dengan menatap wajah Viona dalam-dalam.
__ADS_1
Viona menggelengkan kepalanya. Dia sudah sampai pada keputusannya. "Tidak. Tidak pernah ada kata rujuk di kamusku, Thony. Jangan terus-menerus berzina. Dosa. Nikahi wanita itu," kata Viona.
Di satu sisi, Viona justru berbicara supaya pria yang menunggu ketokan palu hakim akan menjadi mantan suaminya itu untuk menikahi Karina. Menghentikan perzinaan yang selama ini terjadi. Justru, Viona memberitahu supaya Anthony menikahi Karina.
"Ada beda wanita yang bisa diajak berumahtangga dan hanya memuaskan di ranjang," kata Anthony sekarang.
Mendengar ucapan Anthony justru Viona merasa miris. Bahkan ada pria seperti Anthony yang membuat penilaian bahwa ada wanita yang bisa diajak berumahtangga dan hanya menghangatkan di ranjang.
"Aku pikir, dia tidak akan bisa diajak berumahtangga. Untuk berumahtangga dibutuhkan komitmen. Sementara komitmen itu tidak ada di dalam dirinya. Sebatas dipakai saja," kata Anthony terang-terangan.
"Ternyata lama-lama kamu brengsek juga, Thony. Kamu hanya memprofiling wanita. Bahkan kamu menilai wanita yang hanya sebatas menghangatkan ranjang. Aku berdoa, ketika Arbe besar dia dijauhkan dari pria brengsek seperti Papanya."
Viona mengatakan itu secara terang-terangan. Doanya putrinya kelak kala dewasa akan dijauhkan dari pria brengsek seperti Papanya sendiri. Biarlah Viona yang menjadi korban dan merasakan pahitnya berumahtangga. Akan tetapi, nasib buruk ini tidak akan menimpa putrinya kelak.
Apa yang diucapkan Viona membuat dada Anthony menjadi sesak. Benar, karma bisa berlaku. Kesalahan orang tua, suatu saat dampaknya bisa dirasakan oleh anak. Anthony benar-benar merasa tertampar dengan ucapan Viona.
"Kalau sudah pergilah, Thony. Wanitamu sudah menunggu, aku tidak mau ada yang marah-marah datang ke mari dan mencari lelakinya," kata Viona.
Kian sakit karena Viona mengusir Anthony. Namun, Viona mengantisipasi. Sebab dulu Karina pernah datang lagi dan mencari-cari Anthony. Akhirnya pria itu berdiri, dia berpamitan dengan Viona.
"Aku pamit, Vio ...."
"Hm, iya. Kita bertemu di meja hijau dua pekan lagi," balas Viona.
"Permintaan maafku tetap tidak bisa melunakkan hatimu yah?" tanya Anthony.
__ADS_1
Viona menggelengkan kepalanya. Dia sudah sampai di keputusannya. "Gak, Thony. Walau begitu, aku tidak akan menutup akses bagimu untuk menemui Arbe. Itu sudah lebih baik. Jangan terus-menerus berzina. Jangan sampai kamu kena getahnya, Thony."
Viona masih memperingatkan, bagaimana dosa zina itu menjijikkan. Viona benar-benar tidak akan memberikan pintu maaf. Itu adalah keputusan Viona sendiri.