
Sepulang dari Tea House yang berada di kaki Gunung Lawu, Ayah Pandu, Bunda Ervita, dan Irene berpamitan untuk pulang terlebih dahulu ke Jogjakarta. Sementara Indi dan Satria masih berada di Solo. Keduanya masih akan menginap semalam lagi di rumah keluarga Negara.
Sore itu, ketika Rama Bima dan Bu Galuh mengasuh Nakula dan Sadewa di pelataran rumah, Satria mengajak Indi ke tepi sawah. Menikmati sore berdua dengan menatap hamparan sawah yang menghijau. Semua warna hijau dari padi itu benar-benar sejuk di mata, terlebih lambaiannya ketika angin berhembus adalah tarian yang indah.
"Diajakin ke sini lagi," kata Indi kepada suaminya.
"Kan katanya kamu suka sawah. Ya sudah, aku ajakin ke sini. Nakula dan Sadewa juga biar diasuh Eyangnya. Kadang para Eyang juga senang kalau dipercaya mengasuh cucunya, Sayang," kata Satria.
"Cuma Nang-Nang aktif banget, takutnya Rama dan Ibu kecapekan nanti," balas Indi.
"Tenang ada jamu pegal linu untuk orang yang capek kok, Sayang. Bisa diminum Rama dan Ibu nanti. Itu ada Sitha juga. Biar aja, dari sini juga kita bisa mengamati Nang-Nang," kata Satria.
Indi kemudian menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Satria mengajak Indi duduk di kursi kayu yang berada di tepian sawah. Dengan satu tangan Satria yang menggenggam tangan istrinya itu.
"Kamu tahu enggak, Yang ..., tadi beberapa kali Viona dan Anthony mengamati kita berdua," kata Satria.
"Emangnya iya? Lah, diamati kenapa?" tanya Indi.
Satria lantas menggelengkan kepalanya. "Ya, aku tidak tahu sih, Sayang. Temanmu itu rujuk yah dengan Anthony?" tanya Satria.
"Belum rujuk kok, Mas. Masih ada luka di hati Viona. Bagaimana perselingkuhan meninggalkan luka, Mas. Sedalam apa kita juga tidak tahu, tapi memang Viona tadi berbicara bahwa Anthony beberapa kali mengutarakan niatnya untuk rujuk," cerita Indi.
__ADS_1
"Tanggapanmu apa, Yang?" tanya Satria lagi.
"Yah, ini adalah masalah yang berat, Mas. Bagiku sendiri ketika masalah rumah tangga melibatkan orang ketiga, atau salah satu pasangan berselingkuh itu sudah merupakan masalah yang besar. Menerima kembali orang yang menggoreskan luka rasanya juga tidak mudah loh, Mas. Goresan luka berdarah karena sebilah pedang bisa dengan mudah diobati. Akan tetapi, goresan luka di dalam hati yang sayatannya mungkin sering kali tak berdarah, justru sukar untuk diobati," kata Indi.
Satria mendengarkan ucapan istrinya itu. Satria juga tahu bahwa luka di dalam hati itu sukar disembuhkan. Perlu waktu yang lebih lama.
"Setidaknya mencari jalan tengah dengan anaknya, Sayang. Kasihan, supaya tidak terjadi Fatherless," kata Satria.
Fatherless adalah suatu keadaan di mana tidak adanya sosok ayah secara nyata. Ketika seorang ayah hanya ada secara biologis, tapi tidak hadir secara psikologis di dalam jiwa anak. Terlebih Indonesia menempati posisi ketiga tertinggi sebagai Fatherless country. Di mana peran ayah dalam keluarga begitu minim. Sosok ayah hanya difungsikan sebagai orang yang bekerja sehari-hari dan tidak terlibat dalam pengasuhan anak. Layaknya pandangan di masa lalu bahwa mengasuh anak itu ya tugasnya istri. Suami sudah capek bekerja dari pagi hingga sore atau malam. Mengkotak-kotakan peran ayah dan ibu, suami dan istri dalam rumah tangga.
"Bukan berarti anak yang kehilangan ayahnya karena ayahnya meninggal dunia, Sayang. Ayahnya masih ada, masih hidup. Akan tetapi, tidak pernah terlibat untuk mengasuhnya, tidak pernah bonding dengan anak, tidak membersamai tumbuh kembangnya. Lama-lama ya anak ini hanya memiliki ayah secara fisik, tidak dekat di hati," kata Satria lagi.
"Anak kehilangan figur ayah itu sendiri, merasa kurang bisa menerima dirinya, memandang ayah hanya sebagai sosok bekerja saja, bukan sosok yang menyayangi anak-anaknya," kata Satria lagi.
Indi terdiam sekarang. Mungkin kasusnya seperti dia dan Bapak Firhan. Intinya menghargai keberadaan beliau di hidupnya sebagai ayah biologis saja. Akan tetapi, tidak bisa nenggantikan kedekatan secara hati dengan Ayah Pandu.
Sebab, tidak dipungkiri bahwa sosok ayah yang mengasuhnya, melimpahkan kasih sayang, dan membersamai tumbuh kembangnya justru adalah Ayah Pandu. Posisi keduanya di hati Indi juga berbeda tentunya. Indi juga tidak ingin munafik, karena memang begitulah adanya.
"Aku bersyukur banget dong karena Mas tidak hanya mau capek bekerja dan mencari nafkah untuk keluarga kita, tapi selalu memiliki waktu untuk mengasuh anak-anak. Nakula dan Sadewa tumbuh dengan baik dan memiliki figur seorang ayah," kata Indi.
Mendengarkan apa yang disampaikan oleh istrinya, Satria kemudian tersenyum."Ya, walau pun aku belum sempurna. Masih perlu belajar ini dan itu. Pengennya yah, Nakula dan Sadewa tidak kehilangan figur papanya," kata Satria.
__ADS_1
"Menurut pendapatku, kalau Viona dan Anthony bisa berbagi peran dengan baik. Walau tidak bisa bertemu Anthony setiap hari, pasti Arbe akan tahu suatu hari nanti. Memiliki orang tua yang bercerai tak selamanya membuat anak merasa berbeda. Tergantung bagaimana menerapkan Co-Parenting bersama-sama. Walau memang sangat tidak mudah," kata Indi.
"Benar, kalau di posisiku ketika Anthony menunjukkan kesungguhannya berubah, memperbaiki komitmen, dan berjanji tidak akan bermain serong lagi, Viona bisa memberikannya kesempatan kedua. Menjadi orang tua yang utuh untuk Arbella," kata Satria.
"Ya, kita doakan yang terbaik saja untuk mereka berdua, Mas. Jangan sampai memaksakan pemikiran dan saran kita. Begitu."
"Benar, Sayang. Aku ingin terus membina rumah tangga kita. Mengisi tangki air cinta kita sampai penuh dan melimpah, sehingga kita bisa mengisi gelas-gelas cinta milik Nakula, Sadewa, dan mungkin adek-adeknya nanti," kata Satria.
Indi tersenyum. Sejenaknya dia sandarkan kepalanya di bahu suaminya. Indi sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh suaminya barusan. Keduanya harus terus mengisi tangki air cintanya untuk bisa memenuhi gelas-gelas cinta milik anak-anaknya nanti.
"Jadi, kapan tambah momongan?" tanya Satria perlahan.
"Sedikasihnya Allah," balas Indi.
Satria kemudian menganggukkan kepalanya. "Benar banget, Sedikasihnya Allah saja. Yang pasti kita berdua tidak pernah menolak yah. Anak laki-laki atau perempuan dari Allah pastilah kita terima dengan tangan terbuka," kata Satria sekarang.
"Iya, Mas. Semoga saja. Penting kamu jangan berubah yah, Mas. Selalu menjadi suami dan Papa terbaik untuk kami bertiga. Jangan terpesona dengan berbagai macam bentuk keindahan di luar sana," kata Indi.
"Insyaallah. Aku sudah mendapatkan perhiasan terindah dari Allah. Insyaallah, aku akan selalu menjaganya. Menjaga kamu yang adalah jodoh sepadan dan terbaik dari Allah," kata Satria.
Keduanya tersenyum bersama. Banyak topik-topik dalam keluarga, dalam pengasuhan anak. Banyak harapan juga yang terukir. Untuk itu, keduanya akan mencari cara untuk selalu bersama dan berkolaborasi untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga impian mereka berdua.
__ADS_1