Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Pentingnya Setia Kepada Pasangan


__ADS_3

Mendengar cerita dari kawannya, Rama Bima tidak bertanya-tanya lagi. Walau begitu, mendengar sakit yang diderita Karina, Rama Bima yakin bahwa putri kawannya telah melakukan hubungan tidak hanya dengan satu pria, melainkan dengan beberapa pria. Selain itu, bisa saja pria yang berhubungan dengannya tengah terjangkit virus itu terlebih dahulu dan akhirnya Karina tertular.


Sebab, Rama Bima juga paham bahwa penyebaran bakteri Treponema Pallidum terjadi melalui kontak dengan orang yang terinfeksi selama bercinta. Bakteri itu bisa masuk ke dalam tubuh melalui luka kecil atau lecet para kulit dan selaput len-dir. Hanya saja terkadang tidak diperhatikan.


"Berobat di mana, At?" tanya Rama Bima.


"Di sini ... di Solo. Aku menunggu untuk satu tahun pertama. Kalau memburuk, aku akan membawa Karina ke luar negeri. Sebab, Dokter mengatakan kalau tidak segera diobati bisa mengarah ke HIV," balas Papa Atmaja.


Rama Bima benar-benar terkejut mendengarnya. Tidak mengira bahwa infeksi itu bisa mengarah ke penyakit yang lebih serius. Sungguh, Rama Bima sangat terenyuh jadinya.


"Kamu yang kuat yah, At ... sudah sejak lama kamu membesarkan Karina sendiri. Kamu bisa. Kali ini, kamu juga pasti bisa mendampingi Karina. Kamu adalah Papa yang hebat," kata Rama Bima membesarkan hati kawannya itu.


Ada helaan napas panjang dari Papa Atmaja. Di saat bersama, ada tepukan Rama Bima di bahu kawannya itu. "Kuat-kuat," katanya.


"Suwun yah, Bim ... makasih sudah mendengarkan aku. Monggo, kalau mau dilanjut. Itu kasih cucu-cucu kamu," kata Papa Atmaja kemudian.


Rama Bima menganggukkan kepalanya. "Kamu yang kuat yah. Di balik musibah juga ada hikmah. Percayai itu."


Usai itu, keduanya berpamitan. Rama Bima kemudian melanjutkan untuk menemui istri, anak-anak, dan cucunya. "Sudah, Rama?" tanya Bu Galuh.


"Iya, sudah ... kita pulang, yuk. Sudah malam, kasihan Nakula dan Sadewa," kata Rama Bima.


Akhirnya sekarang mereka pulang menuju ke kediaman Rama Negara. Rama Bima banyak diam, karena masih kaget dengan kabar terkini dari kawannya. Sementara begitu sudah di rumah, Indi memandikan Nakula dan Sadewa terlebih dahulu. Setelah itu memberikan ASI. Mungkin karena sejak siang beraktivitas di luar, Nakula dan Sadewa menjadi kecapekan. Sehingga sekarang, kedua bayinya itu dengan begitu cepatnya tertidur.

__ADS_1


Agak malam ketika Nakula dan Sadewa sudah tertidur, Indi dan Satria bergabung dengan Rama Bima dan Bu Galuh yang sekarang berada di Pendopo.


"Sudah tidur Nang-Nang?" tanya Bu Galuh.


"Iya, sudah, Ibu. Mungkin kecapekan karena sejak siang aktivitas di luar. Habis mandi air hangat, minum ASI, terus pada bobok," balas Indi.


Rama Bima yang mendengarkannya pun tersenyum. Dari cerita Indi dan binar di mata menantunya itu, terlihat Indi juga adalah seorang ibu yang sangat baik. Bangga malahan memiliki menantu seperti itu.


"Boleh Rama berbicara?" tanya Rama Bima.


Indi dan Satria menganggukkan kepalanya. Keduanya tentu siap mendengarkan perkataan dari Rama Bima. Sembari menunggu apa yang hendak disampaikan oleh Rama Bima.


"Ada apa, Rama?" tanya Satria.


Pikiran Indi dan Satria, sakit yang serius itu seperti kanker atau sejenisnya. Namun keduanya terperanjat dan kaget ketika Rama Bima melanjutkan ucapannya.


"Sakit kelamin ...."


Indi dan Satria terdiam mendengarkannya. Sekaligus tidak menyangka bahwa seorang wanita bisa terjangkit virus seperti itu. Bu Galuh pun terkejut. Pantas saja sejak tadi suaminya seperti tengah berpikir, rupanya pikiran inilah yang memenuhi kepala Rama Bima.


"Kok bisa, Rama?" tanya Satria.


"Bisa, karena melakukan hubungan dengan lebih dari satu pria. Sementara pria mana dulu yang terinfeksi sebelumnya. Penularannya melalui aktivitas bercinta," kata Rama Bima.

__ADS_1


"Kayak gitu, dulu Rama menjodohkan Satria dengannya," balas Satria sekarang.


Mendengarkan apa yang dikatakan suaminya, Indi kemudian mencubit kecil kaki suaminya. Supaya mendengarkan cerita Ramanya terlebih dahulu dan tidak menginterupsi dengan hal yang lain. Satria kemudian terdiam. Dia menunduk setelahnya.


"Ya, Rama pikir dulu dia gadis baik-baik. Terlebih memang Rama sudah mengenalnya sejak kecil. Maafkan, Rama ... orang tua juga pernah salah, Satria," balas Rama Bima.


Indi dan Satria kemudian menganggukkan kepalanya. Tempatnya salah bukan hanya anak-anak, tapi juga orang tua. Kesalahan di masa lalu tentulah akan dimaafkan. Lagipula semuanya sudah berlalu.


"Rama juga mengatakan selalu setialah kepada pasanganmu. Jangan coba-coba di luar sana, karena sekali coba bisa ketagihan. Itu nikmat sementara yang bisa menjadi malapetaka yang bisa kalian sesalkan seumur hidup," kata Rama Bima lagi.


"Tentu, Rama ...."


"Semarah apa pun dengan pasangan jangan mencari kesenangan di luar rumah. Pasangan yang sudah menjadi milikmu, yang Allah persatukan dalam kata akad itu lah yang halal dan mendatangkan berkah. Bertengkar sehebat apa pun jangan seperti itu. Sesalnya itu bakalan seumur hidup," balas Rama Bima lagi.


Indi dan Satria kembali menganggukkan kepalanya. Nasihat dari orang tua tentulah adalah nasihat yang baik. Keduanya tentu akan mendengarkan nasihat itu.


"Yang Rama katakan benar, dulu Rama dan Ibu juga bertengkar. Sehebat apa pun pertengkarannya, kami berdua berkomitmen untuk tidak macam-macam. Menyelesaikan semuanya dengan baik-baik," kata Bu Galuh sekarang.


"Iya, Ibu," jawab Indi.


"Kadang bertengkar dengan pasangan juga baik, penting diselesaikan. Kalau tidak diselesaikan dan berlama-lama itu yang salah. Namun, komitmen pasangan dan istri itu harus selalu dijaga."


Mumpung bisa memberikan nasihat, sekarang Rama Bima memberikan nasihat kepada Satria dan Indi. Walau begitu, Rama Bima yakin bahwa Satria dan Indi sudah dewasa, keduanya juga terlihat saling mencintai sejauh ini. Semoga saja pernikahan anak-anaknya itu dijauhkan dari setiap hal yang buruk.

__ADS_1


__ADS_2