Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Sikap Tidak Mengenakkan


__ADS_3

Selang beberapa hari kemudian, Satria mendapatkan undangan menghadiri pernikahan temannya di Solo. Oleh karena itu, akhir pekan Satria mengajak istrinya untuk ke Solo lagi. Teman SMA Satria yang melepas masa lajang.


Acara perhotelan kali ini juga digelar di salah hotel yang ada di pusat Kota Solo. Berdasarkan rencana Satria lebih baik menghadiri resepsi pernikahan temannya terlebih dahulu, dan setelahnya langsung kembali ke Jogjakarta. Tidak usah mampir ke rumah orang tuanya. Satria merencanakan itu juga supaya Indi tidak terlalu kecapekan.


"Yang nikah ini teman SMA yah, Mas?" tanya Indi.


"Iya, teman sekelas waktu SMA dulu, Sayangku," balas Satria.


Indi pun menganggukkan kepalanya perlahan. Dia turun saja dari mobil dan mengikuti suaminya untuk masuk ke dalam. Sebelumnya di depan sudah ada penerima tamu, Satria pun mengisi buku tamu dan juga tidak lupa memasukkan amplop, tradisi ketika menghadiri pernikahan. Setelahnya ada suvenir yang diberikan kepada setiap hadirin.


Baru memasuki tempat resepsi saja, sudah terdengar musik keroncong yang dilantunkan di dalam aula resepsi. Keroncong yang beralunan lembut, padu dengan harmonisasi nada dan suara.


"Penyanyinya suaranya bagus, Mas," kata Indi.


Dia mengamati penyanyi cewek yang terlihat tomboy dan berkacamata itu. Walau begitu, Indi mengakui bahwa sang vokalis memiliki suara yang merdu. Indi saja merasa suara ini adalah suara termerdu yang pernah dia dengarkan.


Hingga akhirnya, Satria dan Indi duduk. Satria sengaja mencari rombongan teman-teman SMA nya, karena memang ada beberapa yang hadir. Tak lupa, Satria memperkenalkan istrinya itu.


"Kenalkan, Istriku," kata Satria kepada beberapa temannya.


"Loh, nikahnya kapan, Sat? Kok enggak undang-undang. Padahal kita temen loh?" tanya Rendi seorang teman SMA Satria dulu.


"Belum lama, setengahan tahun lalu di Jogjakarta," balas Satria.


Sampai akhirnya ada beberapa teman wanita Satria yang datang. Acara resepsi itu justru seperti acara reuni sekarang karena Satria bertemu lagi dengan teman-teman SMAnya dulu. Termasuk teman cewek yang heboh.

__ADS_1


"Nah ini, yang dulu juara kelas ... Satria," sapa beberapa cewek di sana.


"Sama siapa, Sat?" tanya Rinda, teman SMA Satria dulu.


"Sama istriku," jawab Satria.


"Loh, tak kirain kamu sama Karin loh. Kan dulu kamu dan Karin dekat. Makanya waktu ada video berapa detik itu langsung ingat kamu," kata Rinda dengan ceplas-ceplos.


Indi yang turut mendengarkannya praktis langsung teringat dengan berbagai pesan yang masuk di grup chat suaminya waktu itu. Indi juga melihat dan menggulir beberapa pesan di sana bahwa teman-teman SMA suaminya mengira bahwa dulu Satria pacarnya Karina. Lantaran pesan dan gosip itu juga, mertuanya sampai menelpon dan menenangkan Indi supaya tidak percaya ketika nama Satria turut terbawa.


"Kami cuma temen," balas Satria.


Terlihat Satria melirik Indi sesaat. Seketika Satria merasa menyesal mengajak istrinya menghadiri resepsi ini. Terlebih bibir teman-temannya yang kebanyakan ceplas-ceplos, takut kalau melukai hati istrinya.


"Hush, bicara apa sih. Satria sama istrinya loh," kata Rendi berusaha memperingatkan Rinda.


Satria sudah memilih diam dan tidak menanggapi apa pun. Namun, ucapan Rinda itu terasa tidak enak dan membuat tidak nyaman. Termasuk Indi yang memilih untuk menyibukkan dirinya dengan handphonenya saja.


"Gak usah bahas masa lalu, Rin," balas Satria.


Walau ucapan Satria terdengar biasa, tapi ucapannya penuh dengan penekanan. Terlihat Satria yang menunjukkan sikap tak suka dengan cara Rinda berbicara dengannya. Namun, Satria masih berusaha bersabar karena sekarang di tempat umum.


Hingga akhirnya, makanan disajikan dan kemudian acara foto bersama. Di sana, Satria turut foto dengan teman-teman SMA nya. Namun, Indi memilih tidak ikut, karena Indi merasa bahwa teman-teman suaminya tidak menunjukkan sikap yang ramah kepadanya. Lebih baik, Indi duduk di tempatnya saja.


Usai acara resepsi kurang lebih dua jam selesai, rombongan dari SMA itu tak langsung pulang. Indi pun berusaha memahami bahwa acara seperti ini kadang menjadi tempat reuni juga. Ajang bertemu dengan teman lama.

__ADS_1


Hingga akhirnya, Rinda berbicara lagi dengan Satria. "Sat, sorry ... aku perhatikan istrimu gak begitu cantik deh. Lebih cantikan Karin juga kemana-mana, terus istrimu itu ndut deh," kata Rinda.


Seolah-olah Rinda tengah membandingkan Indi dan Karina. Lebih dari itu, Rinda justru melakukan body shaming kepada Indi dengan mengatakan bahwa Indi lebih gendut. Satria sekarang tidak bisa lagi untuk sabar. Telinganya seketika memerah karenanya.


"Rin, kalau kamu gak suka sama aku dan istriku cukup diem aja deh. Kamu udah melakukan body shaming ke istriku tahu. Kecantikan wanita tidak hanya dari paras dan bentuk badannya. Lihat hati dan karakternya, kamu ngatain istriku gendut itu karena istriku baru hamil! Wanita yang hamil rela badannya melar, terjadi lonjakan berat badan belasan kilogram. Mulut dijaga, Rin!"


Praktis semua teman-teman Satria sekarang melihat Satria yang marah dan meladeni ucapan Rinda. Sejak tadi waktu Rinda membahas Karin, Satria berusaha tenang dan sabar. Sekarang ketika Rinda melakukan body shaming ke istrinya, Satria melawan. Bagi Satria, bertambahnya berat badan Indi yang sampai belasan kilogram sepenuhnya karena pengorbanannya kala mengandung buah cinta keduanya. Namun, memang tak jarang orang lain justru melakukan body shaming kepada ibu hamil dan ibu yang pasca melahirkan.


"Apaan sih, Sat ... aku kan berkata jujur."


Rinda membalas, dia tidak terima ketika Satria berbicara tegas dan membela istrinya. Menurut Rinda, penilaiannya sendiri itu benar.


"Punya mulut gak bisa dijaga!"


Teman-Temannya Satria juga merasa tidak enak. Biasanya Satria itu kalem, sabar, dan jarang marah. Akan tetapi, sekarang Satria terlihat benar-benar marah.


"Udah, Rin. Dari awal loe yang salah. Loe ngrendahin orang lain," kata Rendi sekarang.


Tidak ingin memicu keributan dan membuat suasana kian panas, Indi berdiri. Dia mengusap lengan suaminya perlahan, setelahnya dia berbicara kepada suaminya. "Kita pulang saja, Mas," ajaknya.


"Iya, Sayang."


Sebelum melangkahkan kakinya pergi, Ervita berdiri di hadapan teman suaminya yang bernama Rinda itu. "Makasih yah Mbak untuk body shamingnya. Kalau suatu hari nanti Mbak hamil dan berat badannya jauh lebih besar dari saya. Saya mau mengucapkan selamat dulu."


Indi sama sekali tak takut. Tujuannya mengajak Satria pulang memang karena tempat itu tidak nyaman untuknya. Walau hatinya sakit, Indi tak mau menunjukkan bahwa dia terintimidasi. Indi justru menunjukkan bahwa dia berani dan juga melawan body Shaming itu.

__ADS_1


"Semoga ya Rin ... kalau kamu hamil nanti kabarin aku," balas Satria.


Akhirnya Satria menggandeng tangan Indi dan meninggalkan acara itu. Niat hati menghadiri pernikahan teman, tapi justru istrinya diperlakukan tidak sopan. Menerima body Shaming karena sekarang Indi memang mengalami lonjakan berat badan. Kehamilannya baru menginjak enam bulan, tapi Indi sudah mengalami lonjakan berat badan hingga sepuluh kilogram.


__ADS_2