Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Kembali ke Jogjakarta


__ADS_3

Semalam di hotel yang berada di kaki Gunung Lawu benar-benar dimanfaatkan Satria dan Indi. Menyempatkan memadu cinta bersama hingga menikmati pemandangan alam yang indah. Bahkan pagi harinya, Satria mengabadikan momen istrinya itu mengambil foto dengan latar yang instagramable di hotel itu. Selain itu, hotel itu juga memiliki karyawan yang baik dan ramah, tak jarang beberapa karyawan hotel menawarkan untuk memotret Indi dan Satria. Para karyawan justru dengan sukarela membantu para pengunjung di hotel untuk mengambil gambar dan berfoto-foto. Sehingga, menjadi momen yang berkesan untuk pengunjung. Pantas saja hotel ini menjadi pilihan para pengunjung karena pelayanan yang benar-benar bagus.


"Niatnya fotoin istri yang tengah hamil. Foto ala-ala baby bump gitu, malahan banyak foto kita berdua yang bagus-bagus, Sayang," kata Satria.


"Boleh pinjem handphonenya enggak, Mas? Mau lihat fotonya," balas Indi.


Satria pun memberikan handphonenya kepadq istrinya itu. Indi pun berselancar dan menggulir galeri suaminya melihat satu per satu foto yang ada di sana. Indi juga setuju bahwa hasil fotonya bagus-bagus. Kapan lagi bisa mendapatkan foto bagus di tempat yang indah dan instagramable.


"Kalau foto yang kita tasyukuran Empat bulanan ada enggak, Mas?" tanya Indi.


"Ada, di folder ini, Sayang," balas Satria.


Indi kini melihat foto-foto waktu tasyukuran dengan nuansa Jawa yang kental. Rasanya Indi senang dengan foto dirinya dan Satria yang diambil kala tasyukuran itu. Wanita hamil berkebaya justru cantik, itu yang Indi lihat melalui dirinya sendiri.


"Kirimin foto ini yah, Mas. Mau aku pakai status whatsapp," pinta Indi.


Satria menganggukkan kepalanya, dia kemudian mengirimkan foto kepada istrinya. Setelah itu, Satria mengajak istrinya jalan-jalan di sekitar hotel sebentar untuk menikmati pemandangan sembari menikmati hari yang sejuk berdua.


"Tinggal nyantai dan nanti dijemput Rama," kata Satria.


"Iya, indah banget yah, Mas ... nginap di sini seminggu kayaknya aku juga betah kok," balas Indi.


"Mau cuti seminggu dan nginap di sini?" tanya Satria.


"Jangan dong, pekerjaanku baru banyak, Mas. Tabungannya babies untuk persalinan nanti," balas Indi.


Satria tertawa perlahan. "Sudah aku siapkan. Uangmu pakai sendiri saja, untuk senang-senang, untuk mengapresiasi diri sendiri. Gak usah mikir persalinannya Twins," balas Satria.


"Ya kan nanti baby nya dua, pengeluarannya double, Mas. Diapers aja belinya lebih banyak, personal carenya, dan lain-lain. Beli harus dua," balas Indi.

__ADS_1


"Tenang saja, suamimu ini sudah mempersiapkan semuanya kok. Kamu fokus jaga kesehatan, jaga kehamilan, masalah finansial itu urusanku," balas Satria.


Satria ingin menunjukkan bahwa dia adalah suami yang bertanggung jawab. Bahkan untuk masalah finalsial terkait persalinan dan setelahnya nanti sudah Satria persiapkan. Dia ingin Istrinya hanya fokus menjaga kesehatan dan menjaga kehamilannya.


"Pinter banget nenangin istri sih, Mas," balas Indi.


"Iya, harus dong. Biar kamu hamilnya juga bahagia selalu."


Setelah itu, keduanya memilih masuk ke dalam kamar. Berniat untuk packing terlebih dahulu, sembari bersantai sampai nanti jelang cek out akan dijemput oleh Rama.


"Kita menikah aja gak sempat bulan madu ya, Sayang. Aku langsung memboyong kamu ke rumahku waktu itu. Gak merayakan bulan madu," kata Satria.


Indi kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, baru dua minggu menikah aku kecelakaan yang tertimpa kayu panel itu. Harus cuti dan istirahat lagi," balas Indi.


Satria juga mengingat bagaimana dulu usai menikah harus benar-benar sabar untuk bisa menyemai ladang batinnya. Indi yang berhalangan usai malam pertama dan juga kecelakaan waktu itu. Setelah sekarang Indi hamil, Satria juga lebih banyak menahan takut buah hatinya akan pusing kalau terlalu banyak terkena cairannya.


"Berarti kita jarang nginap di hotel yah?" tanya Satria.


"Nah iya, jarang banget yah. Maaf yah, banyak menghabiskan waktu hanya di rumah," kata Satria.


Indi dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Di rumah asal ada kamu, rasanya nyaman kok. Buktinya setiap libur, kita menghabiskan banyak waktu di rumahmu."


"Rumah kita itu, Sayang. Sejak kita menikah, itu bukan hanya rumahku, tapi rumah kita."


Indi tersenyum lagi, rasanya setiap ucapan suaminya itu terdengar menenangkan. Indi membayangkan pasti nanti anak-anaknya akan belajar sosok yang baik dan hebat seperti Satria. Bahkan Indi berpikiran bahwa Satria ini tidak jauh berbeda Yayah Pandu.


Hingga akhirnya, waktunya cek out Satria mengajak Indi keluar. Lebih baik mereka menunggu di luar saja. Ada layaknya ruang tamu di depan resepsionis. Satria memanggul ransel di bahunya dan menggandeng tangan istrinya. Dia cukup memberikan kartu akses masuk ke dalam kamar itu kepada resepsionis, setelah itu Satria hendak mengajak istrinya duduk terlebih dahulu. Akan tetapi, belum sempat duduk, sudah datang Rama Bima dan Bu Galuh.


"Sudah cek out?" tanya Rama.

__ADS_1


"Sudah, Rama. Pas banget, kami baru saja duduk di situ sembari menunggu Rama," balas Satria.


"Tadi Rama dan Ibu mampir membeli sate dulu, maaf yah enggak mengajak kalian. Setahu Ibu kan Bumil tidak boleh makan sate. Asapnya dari arang tidak bagus untuk janinnya," kata Bu Galuh.


Indi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ini sudah Indi pelajari sebelumnya bahwa dia memang tidak memakan sate sama sekali selama hamil ini. Daging untuk Sate biasanya dari daging Kambing dan Sapi, daging yang tidak dimasak sampai matang bisa mengandung toksoplasma dan itu berbahaya untuk janin. Asap dari arang juga tidak baik. Sehingga, lebih baik Bumil mengonsumsi olahan daging yang dimasak sampai benar-benar matang.


"Tidak apa-apa, Bu. Terima kasih Rama dan Ibu, kami diberi kesempatan healing semalam di sini," kata Indi tak lupa berterima kasih.


"Sama-sama Mbak Indi. Nanti kalau ada dua jagoan, mau nginep repot, Mbak. Daripada repot, nginap di rumah Eyang Rama aja yah, main ke sawah mencari Walang," balas Rama.


Mereka tertawa bersama. Mungkin karena rumah Rama Bima yang dekat persawahan nanti cucunya akan diajak mencari Walang (Belalang) di sawah. Kegiatan dan permainan anak yang sangat tradisional.


Setelahnya, Rama Bima dan Bu Galuh mengajak Indi dan Satria memasuki mobil. Mereka tahu bahwa usai ini Satria juga harus kembali ke Jogjakarta. Masih harus menempuh perjalanan kurang lebih dua jam untuk sampai di Kota Gudeg.


...🍀🍀🍀...


Sore Harinya ....


Siang tadi dari kediaman Rama Bima, Satria dan Indi berpamitan langsung pulang ke Jogjakarta. Sekarang mobil yang dikemudikan Satria sudah memasuki area Sleman, Jogjakarta.


"Sudah di Jogja lagi," kata Satria.


"Iya, padahal tadi masih Solo sekarang udah di Jogjakarta. Pengen nyampe di rumah," balas Indi.


"Capek yah, Sayang?" tanya Satria.


"Biasa, pinggang aja yang capek, Mas. Pengennya kena kasur," balas Indi.


"Nanti kalau kehamilan tujuh bulan, gimana ya Yang? Apa upacara tujuh bulanan dilakukan di Jogjakarta aja kali yah? Mengingat perut kamu udah semakin besar," balas Satria.

__ADS_1


"Mana baiknya saja kok, Mas. Kan Solo ke Jogjakarta masih bisa ditempuh dan tidak terlalu jauh. Tidak apa-apa. Santai saja," balas Indi.


Setidaknya Indi berpikir bahwa hamil besar pun dari Jogjakarta ke Solo bisa ditempuh kurang lebih dua jam perjalanan. Apalagi dengan mobil pribadi kalau memang capek bisa istirahat di beberapa rest area terlebih dahulu. Sehingga tetap bisa menyesuaikan dan menuruti kemauan orang tua pada nantinya.


__ADS_2