
Sepekan telah berlalu. Sekarang Satria bersiap mengajak istri dan kedua jagoan kecilnya ke Solo. Ini menjadi pengalaman pertama bagi Nakula dan Sadewa ke Solo dan mengunjungi rumah Eyangnya.
"Berangkat sekarang, Sayangku?" tanya Satria.
"Iya, semuanya sudah dibawa kok. Bagasi full barang-barang ya, Mas," balas Indi.
"Babynya dua, Yang. Jadi yang dibawa lebih banyak."
Usai itu, Satria segera menjalankan mobilnya. Jika biasanya di samping kursi kemudi ada Indi yang duduk menemaninya, tapi sekarang hanya dirinya yang berada di depan. Sementara Indi berada di belakang dengan dua bayinya yang ditaruh di kursi bayi khusus untuk baby.
"Kalau begini, Papa jadi kayak driver yah? Mama dan dua jagoan kecil duduk di belakang," kata Satria sekarang.
"Mama mendukung di belakang dengan jagain replikanya Papa nih. Maaf yah Papa Satria," balas Indi.
Satria kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tidak masalah sebenarnya, nasib jika sudah menjadi Papa, pasti seperti ini. Nanti kalau Nakula dan Sadewa sudah semakin besar, akan berbeda juga.
"Tidak apa-apa, Mama Sayang. Kita pelan-pelan aja yah, penting Nakula dan Sadewa nyaman selama di dalam mobil."
Sepanjang perjalanan, diam-diam Satria berdoa supaya Nakula dan Sadewa tidak rewel. Bagaimana pun kedua bayinya masih berusia dua bulan, masih begitu kecil. Indi pun sama, selalu mengatakan afirmasi positif sepanjang perjalanan supaya kedua bayinya tidak menangis. Untung saja yang dikhawatirkan pasangan muda itu tidak terjadi, karena Nakula dan Sadewa justru kompak tidur.
"Nak Lanang malahan tidur, Pa. Nyaman ini karena yang nyetir Papanya," kata Indi.
Satria tersenyum mendengarnya. "Baru juga keluar Sleman, udah kompakan bobok. Sampai besar selalu kompak dan selalu rukun yah Putranya Papa," balas Satria.
"Aamiin, Papa."
Dua jam perjalanan dari Jogjakarta menuju Solo akhirnya bisa dilewati Satria dengan baik. Selain itu, Nakula dan Sadewa juga tidak rewel sama sekali. Memasuki area rumah Eyangnya, keduanya masih bobok sehingga Indi ketawa sendiri dan mencoba membangunkan kedua bayinya.
__ADS_1
"Nakula dan Sadewa bangun dulu yuk ... sudah tiba di rumah Eyang Rama nih," kata Indi.
Seolah mendengar instruksi, Nakula dan Sadewa mulai bangun. Apalagi turun dari mobil dan sedikit terkena panas, keduanya kompak membuka mata dan menggeliat lucu.
"Assalamualaikum, kula nuwun Eyang," sapa Indi dan Satria begitu tiba di rumah Rama Bima dan Bu Galuh.
"Waalaikumsalam, akhirnya cucu ganteng ke Solo juga," kata Bu Galuh. Tampak Bu Galuh membuka tangannya dan hendak menggendong salah satu dari cucunya.
Sementara Rama Bima juga menyambut, hendak menggendong yang lain. Keduanya senang sekali akhirnya cucu-cucunya bisa datang ke Solo. Kunjungan pertama Nakula dan Sadewa di rumah Eyang Solo.
"Rewel enggak, Mbak Indi?" tanya Bu Galuh.
"Tidak rewel kok, Bu. Malahan kompak bobok."
"Wah, pinter-pinter yah cucunya Eyang. Di jalan malahan bobok, nyampe rumahnya Eyang pada bangun," kata Rama Bima.
"Gimana, kelulusannya?" tanya Indi.
"Katanya sih 100% lulus, Mbak. Besok acaranya kok, Mbak. Ikut yah, Mbak," kata Sitha.
Indi tampak berpikir dua kali karena dia memiliki bayi. Mengikuti acara kalau memiliki dua bayi rasanya juga begitu repot.
"Kalau udah mau selesai, aku susul aja ya, Sitha. Takutnya Nakula dan Sadewa rewel," balas Indi.
Sitha kemudian menganggukkan kepalanya. "Oke deh, tidak apa-apa. Besok Nang-Nang (panggilan untuk anak laki-laki dalam bahasa Jawa, berasal dari kata Lanang) foto sama Tante Sitha yah," kata Sitha dengan tertawa.
"Iya, biar dipipisin Nakula dan Sadewa yah," balas Satria yang tentunya bercanda juga.
__ADS_1
"Ihh, Mas Satria jahat kan. Besok aku dandan cantik memakai kebaya, kan foto sama keponakan cakep dulu," balas Sitha.
Rupanya untuk acara kelulusan SMA besok Sitha diharuskan memakai kebaya dan berias. Bukan hanya kelulusan tapi juga semacam wisuda sekaligus. Sebab, dari jenjang TK hingga SMA sekarang melakukan prosesi layaknya wisuda.
"Tante Sitha bakalan cantik dong besok," balas Indi.
"Makanya Mbak, foto dulu sama Nang-Nang," balas Sitha.
Indi lagi-lagi tersenyum. Rupanya Sitha juga menunjukkan rasa sayangnya kepada kedua keponakannya yang kembar. Sekecil Sitha sudah kelihatan senang memiliki keponakan.
"Mandi-mandi sana enggak?" tanya Bu Galuh.
"Tadi Nakula dan Sadewa waktu mau berangkat sudah mandi Eyang," balas Indi.
"Mama dan Papanya. Sana mandi, biar Nang-Nang diasuh Eyangnya dulu."
Satria tersenyum saja, kalau mandi bersama rasanya menyenangkan. Akan tetapi, sekarang masih gerah. Sehingga Satria berpikir untuk mandi nanti malam saja.
"Pengen lihat senja itu, Mas," kata Indi dengan menunjuk pelataran rumah mertuanya.
"Sana loh. Kayak di rumahnya siapa. Gak usah bingung, Eyangnya dua bisa jagain Nakula dan Sadewa. Sitha bisa jagain juga. Sana kalau mau main-main," kata Bu Galuh.
Rasanya Indi sungkan sebenarnya. Akan tetapi, senja yang mulai terlihat dari rumah suaminya itu terbilang indah. Surya kembali ke peraduannya tampak bulat sempurna.
"Boleh lihat sebentar, Bu?" tanya Indi.
"Boleh, Mbak. Nakula dan Sadewa di dalam rumah saja yah. Buat enggak digigit nyamuk," kata Bu Galuh lagi.
__ADS_1
Akhirnya, Satria tersenyum dan mengajak Indi berjalan ke pelataran rumah untuk melihat senja. Tak jauh dari rumah. Mumpung senja kala itu begitu mempesona.