
Pagi harinya, Indi terbangun lebih dahulu. Walau semalam sudah memberikan ASI untuk dua bayinya, tapi pagi ini Indi terbangun karena sumber ASI nya sudah penuh. Oleh karena itu, Indi memilih melakukan pumping terlebih dahulu, supaya tidak bengkak nantinya.
Suara mesin pumping elektrik itu tidak berisik, tapi memang terdengar bagaimana katup terpompa dan gemericik ASI yang memenuhi botol pumping. Rupanya suara itu saja membangunkan Satria. Pria itu mengerjap dan melihat istrinya pagi-pagi sudah pumping.
"Sepagi ini sudah pumping?" tanya Satria.
"Penuh banget, Mas. Daripada nanti bengkak," balas Indi.
Satria menganggukkan kepalanya. Pria itu segera bangun. Setelahnya dia melihat kedua putranya yang masih terlelap. Senyuman pun terbit di sudut bibir Satria, bahagia sekali rasanya memiliki dua jagoan yang sehat seperti Nakula dan Sadewa.
Setelah itu, barulah Satria masuk ke dalam kamar mandi sebentar, lalu mengambilkan kantong ASIP di kamar sebelah.
"Kantong ASIP (Air Susu Ibu Perah) nya, Sayang. Nanti diberi tanggal, kan diberikan berdasarkan tanggal pumping duluan," kata Satria.
Memang ada ketahanan Air Susu Ibu perah atau ASIP. ASIP jika di suhu ruangan bisa tahan hingga empat jam. ASIP tahan 24 jam jika dimasukkan dalam kantung pendingin dan ditambahkan ice pack. Sedangkan jika disimpan chiller, ASIP tahan hingga 4 hari. Sedangkan jika disimpan di dalam freezer, ASIP bisa tahan hingga enam bulan. Oleh karena itu, Ibu yang bekerja pun bisa menyimpan ASIP terlebih dahulu, sehingga asupan nutrisi si baby tetap terpenuhi.
"Iya, Mamas Satria. Punya Babies 48 jam, suamiku sudah begitu ahli," balas Indi.
Satria tersenyum, memang Satria membekali dirinya supaya bisa terlibat untuk mengasuh Nakula dan Sadewa. Selain itu, Satria merasa bahwa dia dan Indi masih sangat awam. Ibarat anggur, keduanya adalah anggur hijau, belum masak. Masih perlu banyak belajar.
"Pengasuhan itu gak mudah, Sayang. Belajar pun kadang masih banyak salahnya," balas Satria.
"Setuju sekali. Aku sebenarnya juga takut kalau banyak salah. Namun, ada kalanya kan dari kesalahan itu kita belajar. Tidak apa-apa, kita belajar bersama-sama. Jatuh bangun juga sama-sama," balas Indi.
__ADS_1
"Iya, mana kalau sudah aku yang cuciin pumping kamu. Harus dicuci setelah dipakai, kalau tidak bisa terkena bakteri. Biar Papanya yang bersihin."
Lagi-lagi Satria berinisiatif. Sekadar mencuci dan mensterilisasi botol pumping tidak sukar untuk Satria.
"Makasih Papa, Love U."
Satria melakukan semuanya tanpa mengeluh. Dia sepenuhnya memahami pengasuhan anak itu adalah tentang berbagi. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Terlebih Satria merasa istrinya belum cukup pulih dengan luka pasca bersalin yang diterimanya. Sebisa mungkin, Satria berusaha meringankan tugas istrinya.
Begitu Nakula dan Sadewa sudah terbangun, Indi tersenyum melihat dua putranya yang masih menguap. Tampak begitu lucu. Kulit mereka masih memerah, sungguh menggemaskan.
Hingga akhirnya, Indi mengajak dua bayinya untuk berjemur terlebih dahulu. Bayi yang baru lahir memang disarankan untuk dijemur sepuluh hingga lima belas menit. Indi melepasi pakaian bayinya, hanya mengenakan diapers dan kacamata penutup mata bayi saja sehingga mata bayi tidak langsung terkena sinar matahari. Satria yang selalu mencuci peralatan pumping istrinya, menyusul ke balkon, melihat kedua putranya yang sedang dijemur.
"Anak-anak Papa sedang mandi matahari yah?" tanyanya.
"Iya, Pa. Biar sehat dan kuat Nakula dan Sadewanya," balas Indi.
"Iya, biar enggak kuning, Mas. Harus dijemur dulu," balas Indi.
Akhirnya keduanya memangku satu-satu putranya. Nakula dengan Papa Satria, sementara Sadewa dengan Mama Indira. Semuanya dibagi berdua. Satria malahan senang memangku putranya.
"Kulitnya lembut banget yah. Ya ampun, dia sekecil nanti. Akan tetapi, nanti kalau aku sudah menua, tangan ini yang akan bergantian menuntunku," kata Satria.
Memang begitulah kehidupan, sekarang orang tua yang mengasuh dan menuntun anak. Akan tetapi, ketika orang tua kian berjalan menuju usia senja, giliran tangan sang anak yang akan menuntun dan membimbing orang tua. Sama seperti Satria sekarang yang sudah membayangkan kelak-kelak tangan-tangan putranya yang akan menuntunnya berjalan.
__ADS_1
"Iya, Mas. Namun, Mas Satria jangan cepat-cepat tua yah. Bimbing aku dan anak-anak dulu," balas Indi dengan bercanda.
"Menua itu pasti, Sayang. Insyaallah, aku akan mempergunakan waktu sebaik mungkin. Menjadi imam untuk kamu dan tauladan untuk Nakula dan Sadewa," balas Satria.
Semua manusia tak bisa mengelak karena menua adalah hal alamiah yang harus dialami oleh manusia. Usia setiap hari akan bertambah. Tubuh yang sekarang kuat, perlahan-lahan akan menua. Itu adalah kodrat yang tidak bisa dielaki.
"Aamiin," balas Indi.
Setelah menjemur Nakula dan Sadewa kurang lebih lima belas menit. Indi kemudian memberikan ASI untuk kedua bayinya. Satu di kanan, dan satunya di kiri. Satria menyiapkan air hangat untuk mandi kedua bayinya.
"Gak usah buru-buru, Papa. Nakula dan Sadewa minum dulu kok," kata Indi.
"Siap, Mama. Kamu juga minum dulu yah. Aku ambilin," kata Satria.
Indi tersenyum, dia benar-benar bersyukur dulu Satria berkata akan turut merawat, sekarang pria itu benar-benar memberikan bukti nyata. Mendapatkan suami pengertian adalah berkah tersendiri. Indi sangat mensyukuri hal itu.
"Makasih, Mas. Aku belum sempat menuju dapur loh malahan," balas Indi.
"Tidak apa-apa. Ke Babies dulu, sarapan bisa beli. Tidak usah mempersulit diri sendiri," kata Satria.
"Maaf yah, Mas. Pagi hari full untuk Nakula dan Sadewa dulu. Besok aku akan bangun lebih pagi," kata Indi.
"Tenang saja. Kita yang penting bekerja sama, Sayang. Melakukan peran baru sebagai Mama dan Papa sama-sama. Tidak apa-apa kalau ada kurangnya. Seperti katamu semalam, kita juga harus belajar. Nakula dan Sadewa yang menumbuhkan kita menjadi orang tua yang bisa dan mampu untuk mengasuh mereka berdua. Dia membuat kita belajar banyak hal."
__ADS_1
Indi menganggukkan kepalanya perlahan. Merasa bahagia ketika suaminya tidak banyak menekan, tapi justru sangat baik, sangat telaten, bahkan Satria tak segan untuk terlibat langsung untuk mengurus kedua bayinya. Indi yakin dengan baiknya Satria seperti ini membuatnya lebih cepat pulih, selain itu Satria benar-benar tauladan yang baik untuk Nakula dan Sadewa.
Ajaran dan didikan itu disemai ketika anak-anak masih kecil, tapi harus dibarengi dengan teladan. Baik Indi dan Satria akan berusaha berbagi dalam mengasuh Nakula dan Sadewa. Menjadi teladan sekaligus sahabat untuk kedua putranya. Saat ini keduanya belum paham, karena masih new born. Lambat laun Nakula dan Sadewa akan mengerti bahwa kedua orang tuanya tak hanya mengajar, tapi juga memberikan contoh nyata dalam hidup sehari-hari. ❤️