Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Tidak Cawe-Cawe


__ADS_3

Ungkapan cawe-cawe akhir-akhir ini sering kali terdengar. Istilah dalam bahasa Jawa ini memiliki arti ikut campur. Orang yang ikut campur dalam urusan orang lain. Sementara sekarang Rama Bima mengatakan bahwa dirinya tidak akan cawe-cawe.


"Baru trend tuh Rama, ungkapan cawe-cawe," kata Satria.


Rama Bima kemudian tertawa. "Benar. Rama akhir-akhir ini juga mengikuti berita. Kayaknya 2024 nanti akan panas, Sat."


"Iya, Rama. Istilah cawe-cawe sampai trending juga di Twitter," balas Satria.


"Semua sudah berubah, Sat. Dulu orang tua merasa anak itu ya selamanya adalah anak kecil, sehingga walau anak-anak sudah menikah, orang tua tetap saja menganggap si anak ini adalah anak kecil. Dikasih tahu terus-menerus, diminta taat atau nurut terus-menerus. Akan tetapi, sekarang kan sudah berbeda."


Rupanya sekarang Rama Bima menyadari hal itu. Ada kala orang tua memang masih menganggap anaknya itu anak kecil, tidak bisa mandiri, sehingga apa pun yang anak putuskan orang tua selalu ikut campur atau cawe-cawe.


"Kalau orang tua menganggap anak adalah anak kecil terus, setiap keputusannya tidak dihargai, ya anak-anak akan bergantung selamanya ke orang tua. Dia tidak percaya diri dengan keputusannya. Padahal kepala keluarga harus berani mengambil keputusan," kata Rama Satria lagi.


"Iya, Rama. Salah satunya belajar mandiri untuk pasangan muda yang sudah menikah adalah hidup bersama, Rama. Tidak ikut orang tua atau mertua. Tentu dengan segala risikonya. Namun, menurut Satria hidup mandiri setelah menikah adalah langkah awal untuk lebih dewasa," balas Satria.


"Dulu, Rama dan Ibu begitu menikah juga mandiri. Tidak mengikuti orang tua dan mertua. Eyang di Solo, nah Rama dikasih rumah di Solo Timur. Belajar berumahtangga. Rumah tangga itu, Sat ... belajarnya sepanjang hayat, sepanjang masa. Ada kalanya suami yang salah, istri memaafkan. Ada kalanya istri yang salah, suami yang memaafkan. Kehidupan Rama dan Ibu juga jauh dari kata sempurna. Namun, bukan berarti Rama dan Ibu berhenti belajar. Sampai sekarang pun, Rama dan Ibu terus belajar," kata Rama Bima lagi.


Indi tersenyum, dia tahu banyak pernikahan yang tidak sempurna. Ada salah, khilaf, dan sebagainya. Akan tetapi, bukan berarti menyerah, melainkan harus terus belajar, memperbaiki yang belum baik menjadi lebih baik. Belajar untuk memahami pasangan sepanjang hayat.

__ADS_1


"Ambangun bebrayan iku ora cukup wektu sedino utawa setahun, nanging sak lawase, Sat."


Sekarang Rama Bima menuturkan petuah dalam bahasa Jawa yang artinya adalah membangun rumah tangga itu waktu yang dibutuhkan bukan hanya sehari atau setahun, tapi seterusnya, sepanjang usia. Sungguh itu adalah petuah yang indah. Kala mendengarkan petuah itu, Satria melirik ke istrinya. Sebab, Satria juga ingin menghabiskan sepanjang usia dengan istrinya. Pun Indi merasa dilirik suaminya juga tersenyum tipis. Benar sekali, memulai rumah tangga itu mudah. Cukup akad dan diikuti resepsi. Akan tetapi, membangunnya itu tidak mudah. Diperlukan cinta, kesetiaan, komitmen, dan lainnya.


"Matur nuwun Rama ... petuahnya indah banget," kata Indi sekarang.


"Sama-sama Mbak Indi. Rama dan Ibu terus merestui semoga Mbak Indi dan Satria langgeng," balas Rama Bima.


"Ibu juga kok Mbak Indi, selalu memberikan restu. Ditunggu yah, bulan depan ke Solo waktu Sitha sudah lulus. Nakula dan Sadewa biar lihat pabrik jamunya Eyang Rama yah. Main di sawah. Dulu, Papamu itu sukanya main layang-layang di sawah sampai sore. Nakula dan Sadewa besok kalau gede kayak Papa Satria juga enggak main layangan?"


Semua yang ada di sana tertawa mendengar ucapan Bu Galuh. Walau kaum ningrat, ternyata Satria juga melewati masa kecil seperti anak-anak yang lain bisa bermain layang-layang di sawah. Indi seketika membayangkan bagaimana suaminya itu sewaktu kecil dulu. Mungkin kelak, Nakula dan Sadewa juga akan seperti Papanya.


"Enggak nakal lah, Yang," sahut Satria dengan cepat.


Bu Galuh justru tertawa. "Namanya anak-anak ya ada nakalnya. Udah wajar Mbak Indi. Walau begitu, di sekolah Satria selalu juara satu kok."


"Kalau nakal sih, enggak. Ya, kadang kala ngeyel aja, Mbak Indi. Ada kalanya tidak taat, maklum anak-anak. Rama kira semua anak nanti juga akan begitu," balas Rama Bima.


Indi menganggukkan kepalanya, hal wajar memang untuk anak-anak. Ada kalanya sedikit nakal, banyak menangis atau cengeng, atau bisa juga tidak taat. Semua isi cerita masa kecil tidak akan jauh-jauh dengan hal itu.

__ADS_1


"Rama dan Ibu bahagia, kalian berdua dewasa. Berusaha membangun rumah tangga berdua. Mungkin nanti kalian akan melewati kerikil-kerikil tajam, ada kalanya merasakan hujan deras, awan mendung, dan sebagainya. Percayai Rama, di sela-sela semua fenomena itu ada pelangi yang bisa kalian lihat bersama. Intinya Rama dan Ibu tidak mau cawe-cawe, Rama dan Ibu yakin kepada kalian berdua. Kalau bercerita dan meminta saran memang tempatnya orang tua memberikan saran, bukan memaksakan sarannya," kata Rama Bima lagi.


"Nggih, Rama. Matur nuwun. Ayah dan Bunda juga seperti itu. Wah, Indi seneng. Bukan hanya Nakula dan Sadewa yang seneng ketemu Eyangnya, Indi juga seneng mendapat petuah, wejangan yang baik."


Indi mengatakan semua itu dengan jujur. Dia juga senang mendengarkan nasihat seperti ini. Ajaran dan petuah dari orang tua adalah tuntunan untuk anak. Ajaran yang baik kalau dilakukan dengan baik, akan menuai hasil yang baik juga.


"Sana kalian kalau mau keluar berdua boleh. Biar Nakula dan Sadewa sama Eyang Rama dan Ibu," kata Bu Galuh.


Satria dan Indi tersenyum. Sudah sebulan lebih, keduanya tak keluar bersama. Lebih-lebih Indi yang memang memilih berada di rumah. Bahkan keperluan untuk Kembar sudah dibelikan suaminya.


"Sejak melahirkan, Indi jarang keluar kok, Ibu. Paling keluar pagi belanja sayur," balasnya.


"Kadang-kadang jalan berdua tidak apa-apa, Mbak. Kalau Bunda ke sini, nitip sebentar. Mama dan Papa baru butuh refreshing," balas Bu Galuh.


"Masih seneng-senengnya memiliki anak, Bu. Main dan ngasuh Nakula dan Sadewa tidak ada bosannya," balas Satria.


"Wajar Bu, masih orang tua baru. Tidak jauh berbeda dengan kita berdua dulu," kata Rama Bima.


"Iya, Rama. Apalagi Si Kembar ganteng-ganteng gini yah. Pipinya makin bulet," balas Bu Galuh.

__ADS_1


Kedua orang tua paruh baya tertawa bersama dengan memandangi wajah kedua cucunya yang sekarang wajahnya semakin bulat dan tambah ganteng itu. Memaklumi bahwa fase bagi orang tua baru masih senang-senangnya mengasuh anak sendiri, berbagi tawa, dan seakan selalu terpesona dengan tumbuh kembang bayinya. Jauh di dalam hati, Rama Bima dan Bu Galuh selalu mendoakan agar Indi dan Satria dalam membangun bebrayan selalu kuat dan bahagia selalu.


__ADS_2