Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Menabur Iman kepada Bayi


__ADS_3

Waktu berlalu, tidak terasa sudah sebulan waktu berjalan. Kali ini Indi dan Satria juga sedang mengunjungi kediaman Ayah Pandu dan Bunda Ervita. Mengisi akhir pekan dengan mengunjungi Eyangnya Nakula dan Sadewa.


"Ya ampun, cucu-cucunya Eyang ini makin bulat. Hanya minum ASI, udah ndut sekarang. Bulan depan ditambah makan MPASI jadi makin ndut dong," kata Bunda Ervita dengan menggendong Nakula.


Sementara Ayah Pandu yang menggendong Sadewa juga mengangguk perlahan."Benar. Dulu kamu dan Irene itu hitungannya kecil. Ini Nang-Nang lebih ndut," kata Ayah Pandu.


"Waktu Indi seusia Nakula dan Sadewa, apa Yayah pernah gendongin Indi, Yah?" tanya Indi kepada Ayah Pandu.


Ayah Pandu kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, Yayah gendongin kamu. Bayi kecil yang cantik. Bahkan Yayah juga yang mengumandangkan adzan di telinga kamu ketika kamu lahir. Menyuarakan iqomat dengan menghadap ke arah kiblat dan dilanjutkan dengan menyuarakan adzan."


Ketika Ayah Pandu menceritakan hal itu, hati Indi terasa bergetar. Bagaimana dia tidak sayang dan begitu menghormati Ayah Pandu jika sejak dia di dalam kandungan ibunya, seolah sudah terjalin hubungan dengan Ayah Pandu. Kedua mata Indi sampai berkaca-kaca jadinya.


"Terima kasih banyak, Yayah," kata Indi.


"Kalau yang mengumandangkan iqomat dan adzan, maaf bukan ayah kandung tidak apa-apa yah, Yah?" tanya Satria.


Ayah Pandu kemudian menganggukkan kepalanya. "Boleh, bahkan jika tidak ada ayah kandung, saudara atau Dokternya boleh mengumandangkan adzan kok."

__ADS_1


Satria menganggukkan kepalanya. Jujur, dia juga baru tahu. Sebab biasanya para ayah yang akan membisikkan iqomat dan juga melantunkan adzan di telinga bayi.


"Yang penting kita lakukan, Sat ... membacakan iqomat di telinga kiri dan adzan di telinga kanan adalah langkah awal menaburkan iman kepada bayi, kepada anak. Sehingga, ketika dia baru saja lahir, suara yang pertama kali dia dengar adalah keagungan dan kebesaran Allah. Allah yang maha agung dan maha besar itu akan melindungi anak, menuntun jalannya hingga dewasa, menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah. Insyaallah, Allah meridhoi anak-anak, Satria."


Ayah Pandu menjelaskan semua itu. Satria kian mendapatkan ajaran dan pengetahuan yang baik. Namun, di saat bersamaan dada Satria bergetar baru kali ini Satria mendapati seorang Ayah sambung yang memiliki hati yang besar dan lapang seperti Ayah Pandu. Kasih sayang yang beliau berikan untuk Indi bisa dikatakan melebihi rasa sayang seorang ayah kandung.


"Perasaan Bunda kala itu bagaimana?" tanya Satria sekarang kepada Bunda Ervita.


"Ya semua rasa itu hadir, Mas Satria. Sedih, terharu, sampai bahagia menjadi satu. Bunda kira tidak ada yang membisikkan iqamah dan adzan di bayi yang baru saja Bunda lahirkan. Akan tetapi, ada Ayah Pandu yang berinisiatif melakukan itu. Berinisiatif dengan tulus. Masyaallah. Bunda kalau mengingat yang sudah-sudah sering kali merasa sedih," cerita Bunda Ervita sekarang.


Indi sekarang benar-benar berlinang air mata. Membayangkan kala dia dilahirkan pasti Bundanya sangat sedih dan terharu. Akan tetapi, di balik semua rasa itu, ada kebahagiaan yang Allah selipkan.


Indi menganggukkan kepalanya. "Benar Bunda. Jujur, tidak ada dendam di hati Indi. Akan tetapi, rasa sayang dan hormat Indi kepada Yayah sangat besar. Ada maksud Allah terhadap semua peristiwa ini. Sebagai putri tanpa nasab dan mendapatkan ayah seperti Ayah Pandu adalah berkah yang tak ternilai."


Mengatakan itu saja hati Indi bergetar. Air matanya berlinang begitu saja. Dia tidak mendendam dengan ayah kandungnya. Akan tetapi, Indi beberapa kali mengatakan bahwa rasa sayang dan hormat yang dia miliki untuk Ayah Pandu begitu besar. Jikalau boleh itu, rasa sayang dan hormat itu melebihi untuk rasa yang dia miliki untuk ayah kandungnya sendiri.


"Ayah hanya mencoba melakukan yang terbaik untuk putri Yayah sendiri, Mbak Indi. Jadi, bagaimana Yayah tidak sayang kalau sejak kamu dalam kandungan saja, Yayah udah sayang sama kamu."

__ADS_1


Ayah Pandu juga sangat jujur mengatakan hal itu. Rasa sayang itu hadir dengan sendirinya sejak Bunda Ervita mengandung Indi. Selain itu, di dalam hatinya memang Ayah Pandu menganggap Indi adalah putrinya sendiri. Ketika orang mengatakan darah itu kental, tapi ada ikatan yang tidak dijalin berdasarkan darah nyatanya justru jauh lebih kuat. Itulah ikatan dan hubungan yang dijalin oleh Ayah Pandu dan Indi.


"Benar Mbak Indi. Itulah Yayah kamu, Yayah Pandu. Bunda tahu tidak ada dendam, walau begitu dekat dan tidaknya suatu hubungan juga dipengaruhi dengan interaksi setiap harinya. Tidak apa-apa. Kamu beruntung sekarang kamu memiliki Yayah dan Bapak," kata Bunda Ervita.


Indi menganggukkan kepalanya. Ya, dia tetap bersyukur karena memiliki Yayah dan Bapak. Walau tetap saja ada kisah pilu di belakangnya.


"Yayah menasihati Mbak Indi dan Mas Satria. Menaburkan iman itu dimulai anak dari kecil. Tugas orang tua juga mengenalkan anak-anak kepada Allah. Tugas seorang Ayah, tidak hanya mencari nafkah. Akan tetapi, juga menjadi imam untuk istri dan anak-anak. Membawa dan mengenalkan jalan Allah yang penuh ridho itu kepada istri dan anak-anakmu, Mas Satria."


Ayah Pandu menasihatkan ini dengan pelan-pelan dan hati-hati. Sementara Indi dan Satria saling menganggukkan kepalanya.


"Nggih, Yah. Satria akan menjadi imam untuk Indi, Nakula, dan Sadewa, mau pun untuk anak-anak kami yang akan lahir kelak," jawab Satria.


"Bagus, Mas Satria. Yayah percaya sama kamu. Setidaknya Nakula dan Sadewa bersyukur dan bahagia karena lahir dari ayah yang jelas. Asal-usulnya jelas. Maaf kata, kalau mungkin Mamanya dulu diragukan kenasabannya, insyaallah kali ini tidak berlaku untuk Nakula dan Sadewa. Tinggal selalu mendidik, Mas Satria."


"Iya, Yayah. Itu juga yang sempat Indi bicarakan dengan Satria usai melahirkan. Nakula dan Sadewa memiliki garis keturunan yang jelas. Dilahirkan dari bapak dan ibu yang kedua namanya tercatat di akta kelahiran itu sangat berharga," balas Satria.


"Mendidik anak itu seperti kita menabur benih di tanah. Benih yang sudah ditabur perlu disirami, diberi pupuk, mendapat sinar matahari yang cukup, hingga akhirnya benih itu menjadi tumbuhan, berakar, bertumbuh, dan berbuah. Prosesnya tidak hanya satu hari atau satu bulan, melainkan sampai anak-anak dewasa. Ketika anak-anak belum menikah, sepenuhnya masih menjadi tanggung jawab orang tuanya," kata Ayah Pandu lagi.

__ADS_1


Sungguh apa yang disampaikan oleh Ayah Pandu sekarang adalah hal yang baik. Terkait bagaimana menabur iman untuk anak, mendidik anak, dan tugas orang tua. Nasihat dan petuah seperti ini sangat berguna untuk Indi dan Satria yang notabene masih orang tua baru. Apalagi belajar dari sosok bijaksana seperti Ayah Pandu, membuat keduanya banyak menimba ilmu, pengetahuan, dan pengalaman. Inilah yang dinamakan menansfer hidup kepada orang lain. 🧡


__ADS_2