Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Solo Jadoel Festival


__ADS_3

Usai semua acara kemerdekaan selesai, selang kurang lebih dua pekan sekarang Indi, Satria, bersama Nakula dan Sadewa serta seluruh keluarga Hadinata kembali menuju ke kota Solo. Walau begitu, Indi dan Satria membawa mobil sendiri karena nanti mereka pastilah akan menginap di Solo lebih lama.


"Kita ke Solo lagi yah, Pa," kata Indi kepada suaminya itu.


"Iya, soalnya ada festival lagi kan di Solo. Lihat stand UMKM jamunya Eyang Rama," balas Satria.


UMKM yang diundang kali ini memang dipilih UMKM di sentra kuliner yang jadoel. Minuman jamu sendiri juga adalah minuman jadoel, begitu lama bahkan sejak era nenek moyang. Jamu Sido Mulya sendiri sudah berdiri lebih dari seabad, sehingga memang kiprah Jamu Sido Mulya terbilang begitu lama.


Menempuh perjalanan kurang lebih dua jam, akhirnya Satria tiba juga di kota Solo. Setiap kali pulang ke Solo, membuat Satria seolah nostalgia karena masa kecilnya banyak dihabiskan di Solo, begitu juga ketika lulus kuliah Satria juga kembali ke Solo, walau sesekali pergi ke Jogjakarta untuk menemui Indi waktu mereka masih pacaran dulu.


"Kotanya Papa dulu, Nang. Dulu Papa waktu sekecil kamu tinggal di Solo," kata Indi kepada kedua putranya.


"Papa waktu kecil juga secakep kalian juga, Nang," kata Satria yang memang sengaja bercanda.


"Percaya, Pa. Sekarang aja Papa cakep kok," balas Indi.


"Yang benar. Setelah sekian lama, dipuji istri sendiri itu seneng loh, Yang."


Keduanya tertawa dibarengi dengan celotehan dari Nakula dan Sadewa sehingga membuat mobil itu menjadi ramai. Kali ini, Satria tidak menuju ke rumahnya melainkan ke Balaikota Surakarta tempat digelarnya acara Solo Jadoel Festival. Begitu juga Ayah Pandu yang menyusul dengan mobilnya sendiri menuju tempat acara.


"Assalamualaikum, Pak Bima dan Bu Galuh," sapa Ayah Pandu dan Bunda Ervita bersamaan.


"Sugeng siyang, Eyang," sapa Indi dan Satria.


Begitu senangnya Rama Bima dan Bu Galuh, keluarga dan besan dari Jogja benar-benar datang. "Sugeng rawuh ...."


Para Besan itu memberi salam dengan hangat. Sangat menyenangkan ketika hubungan antar besan itu dekat dan ramah, sama seperti keluarga Negara dan keluarga Hadinata yang ramah dan hangat. Benar-benar seperti keluarga besar jika bertemu.

__ADS_1


"Minum jamu dulu. Asli racikan rumah," kata Rama Bima.


Memang ada satu botol khusus yang disimpan Rama Bima, berisi jamu Beras Kencur yang dibuat sendiri oleh Bu Galuh. Memang diperuntukkan untuk besannya yang datang dari Jogjakarta.


"Tamu khusus, minumannya khusus ya Pak Bima?" tanya Ayah Pandu.


"Harus dong. Diunjuk (diminum dalam bahasa jawa krama halus), Pak Pandu dan keluarga," balas Rama Bima.


Akhirnya Ayah Pandu, Bunda Ervita, dan Irene menikmati segelas jamu Beras Kencur yang rasanya benar-benar enak. Bahkan ada sensasi hangat di tenggorokan usai meminumnya. Kualitas jamu buatan keluarga Negara memang tidak perlu diragukan lagi.


"Resep ini asli dari Eyang Buyutnya Satria loh, Pak Pandu. Tidak berubah. Komposisi kencur, beras, dan gula semua menurut resep Eyang Buyut," cerita Rama Bima.


"Luar biasa Pak Bima, sudah generasi ketiga yah berarti? Catatannya ada memangnya Pak Bima?" tanya Ayah Pandu.


Rama Bima kemudian menganggukkan kepalanya. "Ada Pak Pandu, semuanya ada."


"Seperti Batik Galery milik Bu Ervi yah, sampai ada semua motif batik dari zaman Eyang Hadinata Buyut dan diturunkan terus-menerus," balas Bu Galuh.


"Supaya tidak hilang, Bu. Anak-anak muda juga belajar dari batik yang dulu hanya dikenakan raja dan juga orang yang mengabdi kepada raja di keraton, hingga akhirnya masyarakat umum bisa turut mengenakan batik. Walau tetap ada motif khusus yang hanya boleh dikenakan oleh Raja saja," balas Bunda Ervita.


Memang batik pun demikian adanya. Menilik dari sejarahnya hanya raja dan pengabdi raja di dalam keraton yang boleh mengenakan kain batik. Hingga akhirnya batik menjadi motif kain yang dikenakan masyarakat luas dan menjadi benda warisan budaya dunia. Kendati demikian, di Surakarta dan Jogjakarta sendiri ada motif batik yang hanya diperuntukkan untuk Raja. Masyarakat biasa tidak diperkenankan memakainya.


Usai itu keluarga Negara dan keluarga Hadinata melihat aneka pameran zaman dulu ada koran edisi lama, Majalah Gatra yang merupakan majalah yang ditulis dengan bahasa Jawa, lalu ada foto-foto kota Solo tempoe doeloe. Ada Pasar Gede, Gapura Gladag, pembangunan Universitas Sebelas Maret untuk kali pertama, Loji Gandrung dan beberapa tempat di Solo yang memang begitu ikonik.


"Dekat rumahnya Bu Ervi nih," kata Bu Galuh menunjuk foto lama Sebelas Maret di sisi timur Solo.


"Nggih, Bu. Dulu saya sempat kuliah di sana, hanya beberapa semester saja," balas Bunda Ervita sembari mengenang lagi masa kuliahnya yang tidak selesai karena dulu mengandung Indi dan dia harus keluar dari kampus.

__ADS_1


"Ini Bengawan Solo zaman dulu," kata Rama Bima.


Sungai legendaris di Solo itu masih begitu banyak pohon bambu di sisi kanan dan kirinya. Jepretan lensa kamera dengan warna hitam putih itu seolah benar-benar mengajak pengunjung pameran bernostalgia ke Solo tempo dulu. Semua foto seolah mengisahkan semua kenangan untuk setiap orang.


"Ada jajanan jadul juga, monggo ...."


Akhirnya Rama Bima menaktir aneka jajanan jadul untuk besannya. Ada Gatot goreng, Kue Apem, Lenjongan, dan aneka jajanan khas Solo lainnya.


"Dinikmati, kalau kurang nambah lagi," kata Rama Bima.


"Kalau ke Solo pasti wisata kuliner sama Besan loh ini. Selalu," kata Bunda Ervita.


"Mumpung rawuh ke Solo, Bu Ervi. Tadi jamu kan sudah, sekarang menikmati jajanan jadul. Sate Kerenya enak loh, Bu," kata Bu Galuh.


Sate Kere sendiri adalah sate yang dibuat dari tempe gembus kemudian dibakar layaknya sate. Di masa dulu, sate dengan daging hanya bisa dinikmati orang kaya saja. Bagi rakyat jelata ketika mereka menginginkan sate, hanya bisa membuatnya dari tempe gembus. Setiap makanan memiliki nilai sejarah, itu adalah hal yang pasti.


"Mbak Indi dan Satria kalau mau jajan boleh loh, sana muter keliling berdua," kata Rama Bima.


"Sudah, Rama. Tadi sudah sekalian muter-muter. Tidak menyangka Plaza Balaikota bisa menjadi tempat untuk menarik atensi masyarakat," kata Indi.


"Solo selalu berinovasi, Mbak Indi," balas Rama Bima.


"Setuju sekali, Rama. Benar-benar kreatif. Semua UMKM juga bergerak. Roda ekonomi juga bergerak ini," balas Indi.


"Benar, jamu kita juga memiliki berkah tambahan. Bisa memberikan bonus untuk karyawan," balas Rama.


Ada kalanya bernostalgia dengan masa lalu. Entah itu surat kabar kuno, potret kuno, dan makanan yang melegendaris. Mengingat kenangan dengan menyemai asa untuk masa depan. Sebab, masa kini dan masa depan tak ada jika belum bisa melewati masa lalu.

__ADS_1


__ADS_2