Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Tak Ada Kepanikan


__ADS_3

Tidak ingin terburu-buru. Satria dan Indi memilih menunggu waktu yang tepat. Sebagaimana dengan pengakuan Satria sebelumnya bahwa kalau terburu-buru atau nanti ada ketukan pintu dari luar, dia bisa seketika ambyar.


"Kamu itu lucu deh, Mas ... memakai kosakata ambyar," kata Indi dengan melirik suaminya itu.


"Serius. Hanya itu ungkapan yang tepat. Ibarat kata seperti nasi kucing hilang karetnya, ambyar ... carut-mawut," balas Satria memberikan sebuah ilustrasi.


Biasanya di Angkringan yang berada di area Solo atau Jogja, penjual akan menjual Nasi kucing yaitu nasi dengan sedikit ikan bandeng dan sambal, lalu dibungkus dengan kertas minyak dan dikareti dengan karet gelang. Sehingga memang tidak menggunakan staples. Begitu karet gelang itu dibuka, semua nasinya akan ambyar alias berantakan.


Sembari menunggu waktu, Satria memilih duduk dan menonton televisi. Intinya Satria tak ingin terburu-buru. Hanya ingin memanfaatkan momen dengan Indi terlebih dahulu.


"Anak-anak sudah bobok belum yah, Yang?" tanya Satria.


"Aku telepon Bunda dulu, Mas. Kasihan suamiku sudah mendamba," goda Indi.


Satria tersenyum saja. Memang dia bersabar, walau mendamba, tapi lebih baik sabar terlebih dahulu. Termasuk sekarang Satria yang sabar kala menunggu Indi yang sedang menelpon Bundanya.


"Sudah pada bobok kok, Mas," kata Indi.


Seketika senyuman di wajah Satria menjadi mengembang. Tak menunggu waktu lama, Satria segera mendekap istrinya itu. Memeluk sang istri dari belakang. Sesekali mencium tengkuknya.


"Kangen kamu, Sayang," kata Satria.


"Modus pasti," balas Indi.


"Modusnya cuma sama kamu aja kok, Sayang. Kamu juga tahu bahwa selama ini, aku gak pernah modus sama yang lain," kata Satria.


Lagi-lagi Indi hanya tersenyum. Dia geleng-geleng kepala sendiri melihat suaminya yang sudah seperti ini. Namun, Indi sendiri mengakui bahwa Satria memang tak pernah macam-macam dengannya. Tipe pria setia yang mendedikasikan hidupnya hanya untuk istrinya saja.


Usai itu, Satria membawa Indi untuk berhadap-hadapan dengannya. Entah, tapi Satria tak berbohong rasanya istrinya itu hamil kali ini justru begitu cantik dan bersih. Wajahnya terlihat glowing, walau tanpa polesan make up, tapi cantiknya Indi justru begitu terpancar. Kedua tangan Satria melingkari pinggang istrinya, wajah sedikit menunduk dan memperhatikan ekspresi wajah istrinya yang masih terlihat malu-malu itu.


"Kita sudah menikah lama, sudah mengenal satu sama lain, tapi tiap kali aku menginginkanmu, kamu selalu saja malu-malu," kata Satria.

__ADS_1


"Kalau kamu tatap seperti ini, tentu saja aku malu," balas Indi yang justru menunduk.


Hingga akhirnya Satria membelai sisi wajah istrinya, ibu jari dan jari telunjuknya perlahan mencapit dagu Indi untuk beberapa kali ibu jari itu mengusap dagu Indi, dan akhirnya Satria menundukkan wajahnya. Perlahan-lahan, dalam hitungan seirama, dia mulai mengecup perlahan-lahan kedua belah lipatan bibir Indi.


Indi menyambut dengan melakukan tindakan yang serupa. Dia turut membalas dengan memberikan kecupan, hingga akhirnya dua bibir bertemu. Saling menyapa, saling mengecup, dan saling memagut. Rasa hangat itu menjalar. Melingkupi hati keduanya dengan manisnya nektar cinta.


Jika bibir sudah saling bertaut, yang ada keduanya kian merasa dahaga. Saling memuaskan dengan cara yang tak biasa. Sentuhan hangat, usapan dalam kesan basah, dan juga pagutan yang memberikan kesan menggelitik. Luar biasa rasanya. Hingga akhirnya, Satria menarik wajahnya sesaat. Dia tatap kembali wajah Indi yang sudah memerah dengan mata yang masih terpejam. Sungguh, di mata Satria inilah bukti nyata betapa cantiknya istrinya itu.


"Kita mengarungi Swargaloka bersama-sama yah?" tanyanya lirih.


"Iya, Mas."


Oleh karena itu, tidak ada lagi yang Satria tunggu. Kembali dia mengecup bibir istrinya, kali ini dengan napas yang lebih memburu. Dengan tangan yang memberikan belaian di lekuk-lekuk feminitas milik istrinya. Hingga akhirnya, Satria meloloskan piyama yang dikenakan istrinya. Wajahnya kian turun dan memberikan kecupan di garis leher, tulang selangka, hingga tulang belikat istrinya. Kian turun, dan mengecupi puncak bahu istrinya yang sudah terekspos di sana. Indi menikmati semua kecupan dan tindakan suaminya. Namun, Indi mengakui bahwa kehamilan kali ini, dia suka kala suaminya menyentuhnya seperti ini. Menggelora bersama dan terbakar walau tak sampai hangus.


Bahkan dalam posisi masih sama-sama berdiri, Satria sudah meloloskan wadah berenda sang istri. Memberikan dua buah bulatan indah di sana terpampang nyata. Satria memberikan godaan di area bulatan itu. Menghisapnya perlahan, mengusapnya dengan lidahnya, dan memberikan gigitan demi gigitan di puncaknya. Indi terengah-engah dengan mata kian terpejam.


"Mas ...."


Lirih suara Indi mengalun di telinga Satria. Namun, suara itu justru menyulut Satria. Satria senang sekali bisa membuat istrinya bereaksi seperti ini.


"Biar aku saja, Sayang. Jadilah ratuku malam ini," kata Satria dengan mengecup kening Indi.


"..., tapi?"


"Tidak masalah. Baby moon kita berdua. Jadi nikmati saja," kata Satria lagi.


Sekarang, Satria bergerak turun ke bawah. Bagian lembah di sana benar-benar Satria buai. Dia biarkan istrinya itu terbang dan melayang. Kali ini, Satria benar-benar menyentuh sisi demi sisi di tubuh istrinya. Membuainya dalam kesan menggelitik dan panas, tapi membahagiakan bisa menikmati momen yang terbilang jarang seperti ini.


Ketika Indi memekik lantaran pelepasan pun, Satria justru tersenyum. Lantas, dia mulai menempatkan dirinya di tengah-tengah sang istri. Mulai merapatkan diri dan menghujam dengan lebih berhati-hati karena Satria tahu ada dua embrio yang sedang tumbuh dan terus berkembang di dalam rahim istrinya. Oleh karena itu, Satria berusaha pelan-pelan dan tidak menindih bagian perut istrinya.


"Ya Tuhan ... astaga," geram Satria hingga rahangnya mengeras. Beberapa kali Satria pun turut memejamkan matanya.

__ADS_1


Sambutan otot-otot yang tersembunyi di dalam cawan surgawi itu benar-benar erat dan rapat. Membuat Satria harus sedikit menahan diri untuk tidak menghujam sepenuh tenaga. Melainkan menjaga ritme yang lembut. Sayangnya, dalam ritme yang lembut dan tak terlalu cepat saja cengkeraman otot-otot milik sang istri membuat Satria merasa limbung. Indah sekali rasanya.


"Mas ...."


"Ya, Sayang. Sakit?" tanya Satria dengan merapikan anakan rambut di kening Indi.


Tampak Indi menggeleng. Akan tetapi, sesaat kemudian Indi menggigit punggung suaminya, dibarengi dengan pelukan yang erat. Indi merasakan dirinya hampir menggapai Swargaloka, tempat yang penuh dengan kilauan cahaya itu. Walau mata terpejam, sinarnya masih bisa dia lihat.


"Tahan dulu, Sayang ... kita sama-sama," kata Satria.


Indi menganggukkan kepalanya dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki. Sementara Satria sedikit menambah ritme gerakan keluar dan masuk yang dia lakukan. Walau ritme bertahan, tapi hujaman Satria benar-benar terukur.


Sampai di batas, Satria pun tak kuasa lagi menahan. Seolah menghitung lirih.


"Satu ... dua ...."


Tak sampai ketiga, keduanya sama-sama meledak dan pecah. Ya, hancur berkeping-keping dalam samudra cinta yang menggelora hingga menenggelamkannya hingga ke palung laut terdalam.


Indah.


Penuh warna.


Itulah kilat cahaya dari Swargaloka yang melingkupi keduanya.


...☘️☘️☘️...


Dear Pembaca Setia,


Mohon maaf untuk beberapa hari ini, cerita ini tidak update. Semua karena pasca operasi dan masih pemulihan. Semoga mulai hari ini bisa kembali rutin menyelesaikan cerita ini dan kita bertemu di kisahnya Irene yah.


Sehat-sehat selalu untuk seluruh pembaca setia.

__ADS_1


With Love,


Kirana🥰💕


__ADS_2