Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Tasyukuran Empat Bulanan di Solo


__ADS_3

Sepekan kemudian, Satria dan Indi serta seluruh keluarga Hadinata menuju ke Solo. Kunjungan kali ini ke Solo juga sangat spesial karena mereka akan menghadiri tasyukuran empat bulanan kehamilan Indi di Solo. Sebelumnya Satria dan Indi sudah menyampaikan kepada Ayah Pandu dan Bunda Ervita terlebih dahulu bahwa keluarga Negara meminta kepada keluarga Hadinata untuk bisa menggelar tasyukuran Empat bulanan kehamilan Indi di Solo. Untungnya Yayah Pandu dan Bunda Ervita sama sekali tidak keberatan. Menurut Yayah Pandu dan Bunda Ervita, mau dilakukan di Solo atau Jogjakarta sama saja. Yang penting keluarga mengucap syukur untuk kehamilan Indi dan mengharapkan keselamatan untuk Indi dan kedua janinnya hingga waktu persalinan nanti.


Sementara itu, di kediaman Negara sudah bersiap dengan tenda yang sudah dipasang. Nantinya tasyukuran ini juga akan didatangi karyawan pabrik jamu milik mereka. Ada anak dhuafa juga yang diundang, semuanya benar-benar disiapkan Rama Bima dan Bu Galuh dengan maksimal.


"Satria dan Mbak Indi belum tiba ya, Bu?" tanya Rama Bima.


Belum sempat Bu Galuh menjawab, sudah ada tiga mobil yang memasuki parkiran rumah besar mereka. Dari mobil yang datang dan plat dengan nomor AB yang menandakan wilayah Jogjakarta itu saja sudah terlihat siapa saja yang datang dari Jogjakarta. Bu Galuh kemudian tersenyum.


"Panjang umur, baru juga Rama nanyain, Satria dan Mbak Indira serta seluruh keluarga Hadinata dari Jogja sudah tiba," balas Bu Galuh.


"Tiga mobil siapa saja ya Bu?" tanya Rama Bima.


Akhirnya Rama Bima dan Bu Galuh berjalan bersamaan dan hendak menyambut keluarga Besan yang datang jauh-jauh dari Jogjakarta. Sembari melihat kenapa sampai tiga mobil yang datang dari Jogjakarta.


"Sugeng rawuh ... pripun kabare?" sapa Bu Galuh. Sapaan itu berarti, "Selamat datang ... bagaimana kabarnya?"


"Matur nuwun Bapak dan Ibu Negara. Ini kami rombongan dari Jogjakarta. Beliau adalah Eyang Uyutnya Indi yang ikut hadir, Eyang Hadinata, dan ini adalah keluarga Kakaknya Yayahnya Indi dan Irene, Bapak dan Ibu."


Bunda Ervita mengenalkan keluarga dari Jogjakarta yang hadir ke Solo. Ada Eyang Tari dan Eyang Hadinata, lalu ada keluarga Mbak Pertiwi dan Mas Damar yang turut datang ke Solo. Mungkin ini kali pertama Keluarga Negara berkenalan dengan keluarga Mbak Pertiwi dan Mas Damar.


"Tepangaken, kula Pakdhe kaliyan Budhe nipun Indi," kata Mas Damar memperkenalkan diri sebagai Pakdhe dan Budhenya Indi. Pakdhe dan Budhe jika di dalam bahasa Indonesia setara dengan Paman dan Bibi.

__ADS_1


"Wah, matur nuwun ... Sugeng rawuh," balas Bu Galuh.


Saat itu juga mereka saling berkenalan dan sangat senang jika banyak keluarga dari Indi yang datang. Sebab, pernikahan itu mempersatukan dua keluarga. Sama seperti sekarang keluarga Negara dan keluarga Hadinata yang berkenalan satu sama lain.


"Nanti masih ada keluarga dari Eyangnya Indi yang di Solo juga akan datang," kata Bunda Ervita.


"Iya, Bu. Malahan senang saya, semuanya bisa berkumpul kan kita semua keluarga," balas Bu Galuh.


Lantas Rama Bima bertanya berbisik kepada Satria. "Bapak yang di Solo sudah diminta hadir tidak, Sat?" tanyanya. Yang dimaksudkan adalah Bapak Firhan sebagai bapak kandungnya Indi.


"Sudah, Rama. Kemarin Indi sudah menelpon kok," jawab Satria.


"Baiklah, kan bagaimana pun keluarga kita."


"Berkebaya masih nyaman enggak Mbak Indi? Ibu sengaja pesankan untuk bagian dalam atau sabuk ini dengan karet di belakangnya supaya tidak sesak nanti di perutnya," kata Bu Galuh yang menemani Indi berhias.


"Tidak sesak kok, Bu. Kok malahan enak memakai jarik yah, Bu," balas Indi.


"Syukurlah. Nanti kalau tujuh bulanan lagi. Semoga juga nyaman yah, soalnya kalau tujuh bulanan kan lebih besar perutnya," kata Bu Galuh.


Indi kemudian menganggukkan kepalanya. "Indi manut sama Ibu saja kok," balasnya.

__ADS_1


Hingga akhirnya, acara tasyukuran siap digelar. Tamu undangan juga sudah hadir. Oleh karena itu, Bu Galuh dan Bunda Ervita sekarang membantu Indi berjalan nanti Indi akan didudukan dengan Satria lalu mengikuti Kajian. Memang kali ini hanya kajian saja dan pembacaan ayat suci Al'Quran. Sementara ketika tujuh bulan nanti akan dilakukan dengan adat Jawa lengkap dengan siraman hingga Pecok Bakal.


"Pelan-pelan jalannya, Mbak," kata Bunda Ervita.


"Iya, Nda," balas Indi.


Kemudian Satria mengamati dari jauh istrinya sekarang yang berjalan ke arahnya. Sebelum Indi sampai, Satria sudah berdiri terlebih dahulu. Dia segera mengulurkan tangannya dan menyambut tangan Indi sekbari membisikkan sesuatu kepada istrinya itu.


"Cantik banget, Sayang," kata Satria.


Ya, melihat istrinya tampil dengan kebaya dengan bagian perut yang menyembul, riasan make up, dan sanggulan khas Jawa membuat istrinya itu kian cantik saja di matanya. Kebaya dengan motif bunga-bunga dan sebuah selendang berwarna ungu yang dipasangkan di satu bahu membuat Indi tampil sangat anggun. Siapa menyangka, anak tanpa nasab itu bisa menjadi bagian dari keluarga ningrat yang terpandang.


Indi hanya tersenyum tipis dan duduk di sisi suaminya. Sekarang keduanya, seluruh keluarga dan tamu undangan begitu khusyuk mendengarkan pembacaan ayat suci Al'Quran dan mendengarkan tausiyah dari seorang Ustadz.


Allahummahfazh waladii ma daama fii bathnii. Wasyfihi ma'ii. Anta asy-syaafii laa syifaa'an illa syifaa 'uka syifaa 'an laa yughaadiru saqamaa. Allahumma showwirhu hasanatan watabbit qalbahuu iimaanambika wabirasuulika. Allahumma akhrijhu mimbathnii waqta wilaadatii sahlan watasliimaa. Allahummaj'alhu shohiihan kaamilaw wa'aaqilan hadziqon 'aliman 'aamilaa. Allahumma thowwil 'umrohu washohhih jasadahu wahasan khuluqohu wafshoh lisaanahu wa ahsin shoutahu liqirooatil hadiitsi walquraani bibarakati muhammadin shollallahu 'alaihi wa sallam. walhamdulillahi robbil 'aalamiin


"Ya Allah, semoga Engkau lindungi bayiku ini selama ada dalam kandunganku, Berikanlah kesehatan kepadanya bersamaku. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penyembuh. Tidak ada kesehatan selain kesehatan yang Engkau berikan, kesehatan yang tidak diakhiri dengan penyakit lain. Ya Allah, bentuklah dia di dalam perut ibunya dalam bentuk yang elok dan tetapkanlah hatinya dalam keimanan kepada-Mu dan Rasul-Mu. Ya Allah, keluarkanlah dia dari perut ibunya pada saat kelahirannya dengan mudah dalam keadaan selamat dan dengan bentuk yang indah dan sempurna. Ya Allah, jadikanlah dia anak yang sehat dan sempurna, berakal yang cerdas, yang alim, dan mau mengamalkan ilmunya. Ya Allah, panjangkanlah umurnya, sehatkanlah tubuhnya, baguskanlah akhlaqnya, fasihkan dan merdukanlah suaranya untuk membaca Al-Qu'ran dan Al Hadist dengan berkah Nabi Muhammad SAW. Dan segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam."


"Aamiin ...."


Seluruh keluarga dan hadirin mengaminkan doa itu. Di saat bersamaan Indi merasakan sapaan Babies di perutnya. Terasa tendangan bayinya di sana.

__ADS_1


"Adik Bayi mendengarkan doa-doa yang indah dan suci ini yah? Sehat selalu, di usia sembilan bulan nanti bertemu dengan Mama dan Papa yah. Sehat Our Babies," gumam Indi dalam hatinya.


Indi sendiri berharap semua doa yang dipanjatkan hari ini akan didengar dan dijabah Allah. Anak-anak sehat dan sempurna sampai ketika dilahirkan nanti. Anak-anak yang akan menjadi penyejuk hati untuk orang tua dan kedua keluarga. Aamiin. 😍


__ADS_2