Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Masih Ada Banyak Waktu


__ADS_3

Usai memberikan ASI dan menidurkan Nakula dan Sadewa, barulah Indi bisa mandi besar. Tadi terjeda karena kedua putranya yang terbangun. Lebih dari setengah jam barulah Nakula dan Sadewa kembali tertidur.


Selesai mandi, Indi kembali duduk mendekati suaminya. Dia bertanya sembari mengusap-usap rambut legam suaminya itu.


"Mas Satria mau lagi enggak? Nakula dan Sadewa sudah bobok. Kalau mau lagi, ayo ...."


Sebenarnya Indi malu bertanya demikian. Akan tetapi, Indi berpikir lagi bahwa dalam hubungan suami dan istri, terkait kebutuhan batin harus dikomunikasikan bersama. Hal ini juga menjadi cara supaya hubungan suami dan istri selalu hangat.


Namun, Satria menggelengkan kepalanya. "Enggak, enggak usah, Sayang. Kita masih punya banyak waktu kok."


"Mas Satria marah?" tanya Indi dengan menatap wajah suaminya.


Indi sangat tahu akibat panik dan satu kali tusukan sudah menyemburkan larva pijar pastilah membuat Raka benar-benar pusing. Oleh karena itu, jika sekarang suaminya menginginkan lagi, Indi tak segan-segan untuk memberikannya. Tidak masalah kalau mencoba lagi dari awal.


"Astaga, enggak marah sama sekali, Sayang. Panik aja tadi, sekarang udah gak bisa berdiri. Udah kapan-kapan saja," balas Satria.


Indi sebenarnya kasihan dengan kasihan. Bahkan Satria mengaku bahwa sekarang pusakanya tak bisa tegak berdiri lagi. Bukankah itu kondisi yang sangat kasihan untuk seorang suami? Indi sekaligus memahami bahwa emosi dan kepanikan seorang pria bisa berpengaruh ke pusakanya.


"Aku bisa handle pelan-pelan kalau Mas Satria mau ... pusing pasti ya Mas?"

__ADS_1


Satria tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya, walau tadi keluar sih. Cuma sekali langsung keluar. Pusing sih, pening di kepala."


Indi akhirnya memilih memberikan pelukan untuk suaminya itu. Dengan mengusapi helai demi helai rambut suaminya dan juga punggung suaminya dengan gerakan tangan naik dan turun. Satria memejamkan matanya. Sebenarnya Indi sendiri juga sangat baik dan mau menghandle pelan-pelan. Apakah bisa berdiri? Ya, bisa hanya saja untuk menstimulasi butuh waktu lama. Selain itu, Satria lebih baik berjaga-jaga kalau nanti Nakula dan Sadewa terbangun lagi.


"Udah, kamu jangan kepikiran. Aku gak apa-apa kok. Rumah tangga emang seperti ini, apalagi kala anak-anak masih bayi, masih kecil-kecil. Kadang ada saja yang terjadi di luar rencana kita," balas Satria.


Indi menganggukkan kepalanya. Memang hidup berumahtangga seperti ini. Seperti yang mereka alami sekarang, sedang melakukan kegiatan suami istri, tapi bayinya menangis dan terbangun. Bisa saja nanti kalau anak-anak makin besar, sedang bercinta ada anak yang mengetuk pintu dan tiba-tiba ingin tidur dengan orang tuanya. Memang begitulah, mencari celah pun kadang juga tidak selamanya berhasil.


"Jadi, malam ini cukup?" tanya Indi.


"Iya, cukup. Lain hari lagi aja. Waktu kita berdua kan masih banyak. Gak bisa malam, pagi juga bisa," balas Satria.


Indi kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas. Yang penting jujur dan terbuka, supaya kehidupan kita sebagai suami istri itu hangat dan harmonis. Kadang suami dan istri yang tidak memiliki aktivitas ranjang yang sehat bisa membuat uring-uringan, bisa tidak ada kedekatan antara pasangan suami istri. Mau harmonis, dekat, dan hangat, kita harus terbuka juga? Ini kan juga salah satu komunikasi dalam berumahtangga," kata Indi.


Usai itu, Satria mengurai pelukannya, dia kecup perlahan kening istrinya. "Makasih yah, ucapan kamu itu teduh, kamu juga sabar dan pengertian. Peningku perlahan mereda kok. Aku jadi membayangkan loh, Yang. Kalau nanti Nakula dan Sadewa udah TK gitu, kadang mereka ngetuk pintu mau bobok sama orang tuanya, terus kalau kita sedang bekerja di ladang bagaimana?"


"Aku baca sih jangan panik, terus tutupi area sensitif kita dengan bantal atau selimut, baru nanti memakai baju. Intinya jangan panik. Kalau panik, nanti punyanya Mas bisa kayak begitu loh. Ingatan anak-anak itu parsial kadang tidak terekam di memorinya. Namun, kalau anak bertanya berikan jawaban yang logis. Pendidikan se-ks kan seharusnya dimulai dimulai dari keluarga. Anak-anak belajar dari Mama dan Papanya. Sekarang hal kayak gitu bukan tabu, Mas. Mengerikan justru ketika anak bertanya dan mencari jawaban sendiri. Kita yang harus memberikan informasi yang benar dan memfilter semua informasi yang didapatkan anak."


Indi menjelaskan semuanya dengan detail. Akan tetapi, apa yang Indi sampaikan sangat benar. Bukan hal yang tabu. Justru ketika anak-anak ingin tahu, dan mendapatkan jawaban sendiri, apa yang anak cari belum tentu benar. Jauh lebih baik, ketika anak bisa belajar langsung dari Mama dan Papanya.

__ADS_1


"Setuju banget, Mama Indira. Aku perlu belajar juga. Anak-anakku cowok, nanti aku membimbing mereka. Memberikan teladan supaya anak-anakku tumbuh jadi pria sejati," aku Satria.


"Ketika anak cowok makin besar, dia akan melihat figur Papanya sebagai figur pemimpin, suami, dan Papa. Nanti mereka akan meniru apa yang papanya lakukan. Yah, begitulah anak-anak, Mas ... mereka adalah peniru ulung. Nakula dan Sadewa semoga tumbuh jadi pria berakhlak baik seperti Papa Satria," balas Indi.


"Aamiin ... semoga ya, Sayang. Nanti Nakula dan Sadewa juga belajar dari Mamanya. Kelemahlembutan, sosok yang penuh perhatian, dan penyabar akan Nakula dan Sadewa dapatkan dari Mama Indira."


Indi kemudian tertawa. "Sabar-sabar, Mama Indi bisa jadi singa loh, Pa ...."


Satria tertawa. "Pengen lihat bagaimana istriku yang cantik dan penyabar ini menjadi singa. Pengen dong diterkam."


Ada-ada saja keduanya. Namun, memang para ibu yang sabar kadang kala bisa juga menjadi singa. Apa yang dikatakan oleh Indi sangat dekat dengan realita.


"Duh, nerkamnya kamu beda, Mas. Jangan begitu, malu."


"Makasih, Yang. Saat aku pusing atas dan bawah, sekarang aku menjadi lebih baik. Kamu jangan kepikiran yah, kan kamu masih memberikan ASI, jangan sampai berpengaruh ke ASI. Kasihan Nakula dan Sadewa nanti. Jadikan ini pengalaman kita berdua. Bumbu rumah tangga memang ada-ada saja. Makasih," kata Satria.


Indi menganggukkan kepalanya."Sama-sama, Mas. Jangan panik lagi yah. Toh, aku selalu siap kok untuk Mas Satria."


"Masyaallah, kamu bidadariku banget. Cantik, sabar, dan selalu memprioritaskan suami. Allah baik banget memberikanku istri sepertimu," kata Satria.

__ADS_1


"Udah, mujinya jangan kebanyakan. Nanti kepalaku membesar loh."


Keduanya tertawa lagi. Menyingkapi yang terjadi dalam rumah tangga memang seperti ini. Ada hal yang terjadi tidak terduga. Sama seperti yang dihadapi Satria dan Indi. Namun, dengan sikap positif dan selalu menjadi support sistem untuk pasangan semuanya akan bisa dilalui dengan baik. ❤️


__ADS_2