
Malam harinya seperti biasa kurang dari jam 20.00, Nakula dan Sadewa sudah tertidur. Tentu ini yang Satria inginkan, supaya dia memiliki waktu dengan istrinya. Satria mengusap perlahan kening putranya dan mencium pipi mereka satu per satu.
"Bobok yang nyenyak yah, Nang-Nang ... yang pinter yah, Papa mau quality time dulu sama Mama," kata Satria.
"Ssshhhs, jangan bicara begitu, Pa. Malu loh. Masak bicara begitu sama Nakula dan Sadewa," balas Indi dengan menepuk punggung suaminya.
Satria kemudian tersenyum, satu tangannya segera melingkar di pinggang istrinya. "Kan jujur, Sayang ... bagaimana lagi coba," balas Satria.
Indi geleng-geleng kepala sendiri. Suaminya kadang kalau sudah mendamba memang seperti itu. Usai itu, Satria mengajak istrinya menuju ke ranjang. Sudah begitu mendamba, kepala pun rasanya begitu pening jadinya. Namun, Satria tidak akan melampiaskannya. Satria sangat tahu bahwa wanita juga butuh waktu, secara bertahap. Kebanyakan wanita tidak akan bisa menggapai kenikmatan jika semua berlangsung secara cepat.
"Mas Satria pengen banget?" tanya Indi.
Satria menganggukkan kepalanya. "Iya, pengen banget."
Inilah yang selalu dilakukan Satria dan Indi, untuk hubungan suami istri keduanya selalu jujur dan terbuka satu sama lain. Bukan berarti tabu, tapi hubungan pernikahan juga diharapkan memiliki hubungan intimitas yang sehat dan hangat. Selalu ada bonding antara suami dan istri.
"Mas yang duluan yah," kata Indi.
Terlihat selalu tidak ada keterpaksaan dari Indi. Dia bahkan tak segan untuk memberikan yang terbaik bagi suaminya terlebih dahulu. Memberikan terlebih dahulu. Satria tersenyum cerah jadinya. Jarang juga ada sosok istri seperti istrinya yang selalu bisa memberikan yang terbaik dan mendahulukan suaminya.
"Tidak usah, tidak perlu buru-buru," balas Satria.
Satria mengatakan demikian. Usai itu, dia mematikan lampu utama di dalam kamarnya. Segera dia memangku istrinya itu. Lebih dekat dan lebih intim. Satria ingin menikmati malam ini, lagipula Nakula dan Sadewa sudah tertidur.
"Tumben sih, Mas ...."
"Sesekali Mama dan Papanya Nang-Nang pacaran dulu. Mumpung mereka baru bobok," balas Satria.
__ADS_1
Pelan-pelan Satria memangkas jarak wajahnya yang tidak seberapa, kemudian Satria mengecup bibir istrinya dengan hati-hati. Itu adalah kecupan yang lembut. Seolah hadir dalam kesan hangat dan basah yang menyapa Indi. Sebatas kecupan saja membuat Indi tersenyum kecil, hingga wanita itu mulai memejamkan matanya. Dia menerima kecupan demi kecupan yang dilabuhkan suaminya di bibirnya.
Jika kecupan itu saja memberikan rasa hangat, maka Satria memberikan kehangatan dalam kesan yang lain. Dalam usapan yang seakan menggoda dan sekaligus menggelitik. Usapan dengan lidah yang membasahi kedua belah lipatan bibir Indi. Disertai dengan pagutan dan lu-matan yang dilakukannya secara intens. Satria lantas menenglengkan wajahnya, memberikan tekanan dalam tekanan bibirnya. Bahkan lidah Satria berhasil menyusup masuk dan merasakan kehangatan rongga mulut Indi.
Ada kalanya bagi pasangan yang sudah menikah, hubungan seperti ini dilakukan secara instan. Melewatkan beberapa step, hingga menuju ke menu utama. Namun, Satria tidak ingin, dia ingin mengajak Indi menapaki tangga demi tangga menuju Swargaloka. Tempat yang penuh kilauan cahaya, di mana dewa-dewi memanahkan panah-panah asmara yang terhunus hingga ke relung jiwa.
Ketika bibir bertemu dengan bibir, maka menghasilkan decakan. Kian hangat dan basah, maka itu sangat melenakan. Dahaga yang semula dirasakan sekarang perlahan sirna. Sebatas berciuman saja membuat tubuh Indi meremang. Matanya kian terpejam dan bibir yang bergerak mengikuti ritme yang semula diciptakan oleh suaminya.
Dengan saling memagut, tangan Satria pun menahan tengkuk Indi. Ada kalanya, Satria mengusap lengan, bahu, hingga paha istrinya. Ketika Indi memekik, justru Satria kian bahagia.
"Mas ... Satria."
Bagaimana tidak memekik dan melenguh dengan napas terengah-engah jika tangan Satria sekarang memegang dan meremas perlahan bulatan indah milik istrinya. Indi sampai menahan karena sekarang area dadanya kian sensitif ketika disentuh.
"Ya, Sayang ... kangen," kata Satria mendesis.
Tangan Indi yang lembut mulai membelai dada suaminya. Satria menengadahkan wajahnya. Sentuhan ujung jari dari istrinya saja membuat Satria kalang kabut. Dia kian pasrah ketika Indi bergerak turun dan memberikan sentuhan yang lain. Bukan sekadar sentuhan dan belaian, tapi itu adalah sentuhan yang seakan memantik korek api. Membuat Satria menggeram karenanya.
"Oh, kamu selalu pinter, Sayang."
Satria memuji istrinya manakala Indi menyapa pusaka yang sudah begitu tegak. Ada kecupan-kecupan yang menghadirkan rasa geli nan menggelitik. Usapan dengan ujung lidah rasanya membuat Satria kian terengah-engah karenanya. Ketika pusakanya masuk dan tenggelam di dalam rongga mulut istrinya membuat Satria tak berdaya. Hangat, seolah terbaluri sempura dalam sensasi hangat dan erat.
"Sayang ... hh, pinter banget."
Satria memejamkan matanya. Dia melenguh beberapa kali merasakan gerakan peristaltik sang istri yang melingkupi pusakanya. Bagi Satria, istrinya itu selalu saja pandai dan membuatnya membumbung ke angkasa.
Cukup lama Satria menikmati momen itu, hingga sekarang Satria beralih posisi. Dia menginstruksikan cukup kepadq istrinya. Sekarang, giliran Satria yang akan membuat Indi mencicipi nektar Swargaloka. Jika itu adalah nektar bunga, pastilah kenikmatan kali ini sungguh manis, dan ingin selalu mencecapnya.
__ADS_1
Satria meloloskan helai demi helai busana istrinya. Dia sapa dalam kesan hangat bulatan indah milik istrinya. Hisapan tipis dan ada bagian puncak yang lagi-lagi sengaja Satria lewatkan. Indi merengek jadinya, afa bagian sensitif yang menghadirkan gelenyar, tapi Satria menghindarinya.
"Gak boleh, Sayangku ... bisa bahaya nanti," balas Satria.
Indi pasrah saja, apa pun yang suaminya lakukan, Indi menerimanya. Hingga Satria bergerak kian turun dan menjajaki lembah di bawah sana. Indi memekik karenanya. Dia meracau beberapa kali.
"Oh, Mas Satria ... Mas!"
Indi tak tahu pasti apa yang dilakukan suaminya yang pasti usapan itu sangat melenakan. Membuat Indi terengah-engah dan kehilangan dirinya sendiri. Terlebih ada ritme tersendiri yang Satria ciptakan membuat Indi kian tak berdaya.
Tak perlu waktu lama, tubuh Indi sudah menegang. Wanita itu menutup mulutnya sendiri supaya tak berteriak. Dia mengalami pelepasan yang benar-benar hebat. Tubuhnya bergetar dan meringan karenanya.
Menuju ke tahapan selanjutnya, Satria mulai mengambil posisi dan menyatukan dirinya dengan istrinya. Sang pusaka yang sekarang terselimuti dengan kehangatan cawan surgawi. Hangat dan erat. Satria sampai memejamkan matanya. Itu adalah sambutan yang benar-benar dahsyat.
Satria lantas berusaha untuk menghentak dan melakukan gerakan seduktif keluar dan masuk. Akan tetapi, di saat bersamaan terdengar tangisan dari bayinya.
Oekk ... Oeekkk ...
Laksana rajawali yang terbang ke awan, sekarang harus dihempaskan ke bumi. Panik melingkupi keduanya, terlebih sebenarnya ini adalah bagian dari menu utama. Seketika lava pijar dimuntahkan keluar dan pusaka itu kehilangan dayanya. Mengecil seketika. Pria itu mengguling posisinya.
"Aku panik, gak bisa berdiri lagi," katanya.
"Maaf yah, Mas. Aku pegang Nang-Nang dulu, nanti lagi," kata Indi. Sekarang Indi membersihkan beberapa daerah dengan tissue secara asal dan mengenakan daster terlebih dahulu.
"Bukan salahmu ... duh, Suka-Duka punya baby kayak gini yah. Haduh, langsung gak bisa ngapa-ngapain," kata Satria dengan menatap bagian pusakanya yang seketika menjadi lemas.
Indi tak enak hati jadinya. Bayinya yang menangis dan terbangun juga diluar prediksi. Mungkin para orang tua di luar sana juga akan mengalami hal sedemikian rupa. Baru satu hunusan dan bayi menangis membuat panik dan semua hasrat itu sirna begitu saja.
__ADS_1
Kasihan Mas Satria ....ðŸ¤