Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Keresahan Jelang Persalinan


__ADS_3

Hampir dua pekan berlangsung. Selama dua pekan ini Indi selalu jalan-jalan pagi, selain itu Indi juga mengikuti Senam Kegel. Pikirnya, Indi ingin melahirkan secara normal, sehingga berikhtiar untuk melakukan hal yang mendorong persalinan normal pun dilakukan oleh Indi. Selain itu, Satria juga memberikan dukungan secara penuh untuk istrinya. Walau Satria sendiri masih bekerja, tapi dia lebih sering mengirimkan pesan kepada Indi. Apa pun yang Indi mau, Satria akan berusaha membelikannya. Juga, Satria juga berusaha untuk siaga jelang persalinan.


Malam ini, Indi merasa gelisah. Ada kalanya tendangan bayinya sangat kencang sampai rasanya terasa nyeri hingga ke ulu hati. Ada kala tendangan bayinya juga membuat kandung kemihnya mengembang sehingga membuat Indi harus ke toilet lebih sering. Walau terlihat normal, terlihat juga kecemasan di raut wajah Indi.


"Kepikiran Sayangku?" tanya Satria sambil mengusap-usap perut istrinya.


"Iya, Mas. Sudah menuju 40 minggu. Minggu terakhir jelang bersalin. Kadang rasanya sudah engap, Mas," aku Indi sekarang.


Memang sekarang yang Indi rasakan tubuhnya menjadi lebih gerah, berbaring telentang tidak bisa, sementara kalau miring terus juga capek. Selain itu, satu kaki Indi juga lebih bengkak.


"Kakiku bengkak sedikit yah, Mas," kata Indi sekarang.


Satria menganggukkan kepalanya. Pria itu tidak banyak berbicara. Akan tetapi, Satria mengambil minyak zaitun, dia mengolesi kaki istrinya, sedikit memijat supaya tidak capek. Selain itu, ada beberapa hal yang Satria sampaikan.


"Kalau duduk, kakinya jangan menggantung, Sayang ... selonjoran aja, jangan ditekuk. Banyak minum air putih dan kurangi garam," kata Satria.


"Kamu hebat banget, Mas Satria," balas Indi.


"Aku cuma membaca aja, Sayang. Aku kasih minyak zaitun ke perut kamu sekalian yah, biar nggak strecthmark," kata Satria.


Bahkan sejak Indi hamil, Satria memiliki rutinitas baru di malam hari yaitu dia selalu mengolesi bagian perut istrinya dengan minyak zaitun. Dipercaya kandungan dari minyak zaitun bisa mencegah stretchmark. Terlebih Indi hamil kembar, perutnya lebih menyembul dan begitu besar. Itu berarti kulitnya juga melebar lebih banyak, karena itu Satria yang telaten mengolesi perut istrinya itu.

__ADS_1


"Makasih Mas, hampir sembilan bulan ini kamu merawatku dengan sangat baik," kata Indi.


"Sama-sama, Sayang. Kan kamu juga mengandung anakku, anak kita. Sebagai gantinya biar aku yang merawat kamu," balas Satria.


"Ibu dulu waktu hamil kamu ngidam apa sih, Mas? Kok anak prianya bisa sebaik ini. Jarang-jarang ada pria seperti kamu deh, Mas," balas Indi dengan tersenyum.


Satria merasa dipuji oleh istrinya hanya menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya. Walau begitu, Satria memang diajar Ibunya sejak kecil untuk menjadi pria yang perhatian dengan istri. Diberitahu bahwa wanita itu bukan sekadar teman belakang yang hanya menghuni dapur, tapi wanita juga adalah sosok yang mulia, karena itu suami harus melakukan yang terbaik untuk sang istri.


"Dedek bayi, kalian punya Papa yang sangat baik ... semoga kelak kalian seperti Papa yang lembut dan memperlakukan istrinya dengan baik," kata Indi dengan terkekeh perlahan.


"Aamiin, Mama Didi ... seperti Mama juga tidak apa-apa. Mama kan pinter, sederhana, juga memiliki jiwa pemberani tidak mudah diintimidasi orang lain. Yah, semoga mengikuti yang terbaik dari kita berdua. Yang jelek kita bawa sendiri, Sayang," balas Satria.


"Senyum-senyum gitu, daripada kamu kepikiran sesuatu. Aku tahu kamu akhir-akhir ini banyak cemasnya kan?" tanya Satria.


"Iya, cemas sih, Mas. Sembari menunggu nanti kontraksinya akan seperti apa," jawab Indi.


"Jangan banyak pikiran, Sayang ... dijalani saja. Nanti akan ada masanya bisa merasakan semuanya. Yang pasti kamu santai, semua kita jalani berdua," balas Satria.


Indi mengangguk perlahan. Sebab, memang dia juga khawatir dan cemas. Ada kalanya Indi sudah menunggu gelombang sapaan dari bayi-bayinya yang hendak keluar. Indi juga menunggu akan seperti apa rasanya nanti.


"Aku juga sudah mulai libur kok, Sayang ... ini hari terakhir bekerja. Katanya Eyang disuruh ngurusin istri dulu," cerita Satria kini.

__ADS_1


Rupanya baiknya Eyangnya Satria yang sudah menyuruh Satria untuk libur. Sebab, kalau menilik dari Hari Perkiraan hanya tinggal sepekan lagi. Kalau Indi menginginkan persalinan secara caesar di 39 minggu, Dokter sudah bersedia untuk melahirkan secara caesar. Akan tetapi, Indi juga sudah memilih untuk melahirkan secara normal, sehingga harus menunggu proses pembukaan itu.


"Tahu kalau kamu sudah di rumah, aku menjadi lebih lega deh, Mas."


Indi juga berbicara dengan jujur. Setidaknya jika ada suaminya di rumah, ketika merasakan sapaan dari bayinya dan sinyal persalinan kian dekat ada yang menemani dan ada yang melarikan ke Rumah Sakit. Lebih tenang rasanya. Sebab, HPL juga tinggal menghitung hari lagi.


"Iya, Eyang juga mempertimbangkan itu ... katanya persalinan kalau normal kan nunggu sinyal saja, Yang ... bisa maju dan bisa juga mundur. Jadi, Nak Babies ... kalau mau lahir, Papa sudah siaga di rumah yah untuk kalian," kata Satria.


Lagi-lagi Indi tersenyum. Bumil itu menjadi tidak begitu resah. Selain itu, semua untuk bayi juga sudah tersedia. Koper untuk dibawa ke Rumah Sakit juga sudah Indi siapkan. Praktis, memang hanya menunggu sinyal persalinan itu datang.


"Makasih, Papa ... selalu memperhatikan kami bertiga. Yang belum kami minta saja, Papa sudah memikirkannya terlebih dahulu," kata Indi.


"Sama-sama Mama ... yang penting jangan banyak pikiran. Kalau kepikiran apa mending cerita saja sama aku. Daripada ditanggung sendiri," balas Satria.


"Iya, Mas ... terima kasih banyak. Lega. Andai kata besok Nak Lanang dua ini mau lahir, kayaknya aku siap deh," balas Indi dengan tertawa.


Di saat bersamaan Indi merasakan tendangan bayinya hingga Bumil itu mendesis dan mengusapi perutnya. "Duh, keduanya langsung nendang-nendang deh," kata Indi.


"Apa Nak Lanangnya, Papa? Kalian segera berikan sinyal yah ... biar Papa bisa siap sedia mengantar Mama ke Rumah Sakit. Semuanya sudah siap, tinggal menunggu sinyal yang kalian berdua berikan saja."


Sejujurnya untuk wanita hamil jelang persalinan memang banyak yang dipikirkan. Terlebih bagi mereka yang baru saja hamil kali pertama. Menerka-nerka bersalin apa seperti apa, sesakit apa, nanti kalau di Rumah Sakit bagaimana. Indi juga merasakan semuanya itu. Akan tetapi, ketika Indi tahu bahwa suaminya sudah mulai libur di rumah, rasanya dia menjadi lebih tenang. Rasanya andai kata besok bersalin pun tidak masalah, karena ada suaminya di rumah. :D

__ADS_1


__ADS_2