
Usai seluruh desainer interior mempresentasikan karya rancang desainnya, tentu Rama Bima selaku pemilik Jamu Sido Mulya sudah bisa mempertimbangkan siapa yang memiliki desain terbaik. Pun demikian dengan Satria yang nanti akan memimpin Store di Jogjakarta itu. Bukan nepotisme atau sejenisnya, tapi mereka juga memberikan penilaian secara objektif. Benar-benar memperhatikan seluruh apa yang dipresentasikan.
"Baiklah, saya sudah mendengarkan semua presentasi hari ini. Untuk hasilnya, nanti akan saya hubungi dalam waktu tiga hari."
Akhirnya Indi dan beberapa orang lainnya memilih untuk pulang. Indi pun merapikan laptop dan tablet miliknya terlebih dahulu, dia masukkan ke dalam tas. Setelah itu, dia keluar dari ruangan. Bersikap biasa saja dan tidak mengharapkan sesuatu yang lebih. Walau dia dalam hati menunggu Satria, tapi Indi memilih pergi.
Sebelum Indi keluar dari area perkantoran itu, ada Satria yang berlari mengejar Indi. Pemuda itu sengaja menautkan tangannya di tangan Indi, membuat sang gadis terkaget jadinya.
"Ya Tuhan," pekik Indi tatkala ada satu tangan yang sekarang bertaut di tangannya.
"Ini aku, Dik ... aku sengaja," balas Satria dengan tertawa.
"Kenapa, Mas? Kamu tidak kembali bekerja, nanti dicari Rama loh," balas Indi.
"Sudah izin kok," balas Satria.
"Kan gak mungkin diizinkan," balas Indi.
"Izin gak perlu diiyain, penting aku udah bilang mau mengejar kamu."
Satria berkata jujur. Usai semuanya selesai, dia berbicara kepada Ramanya untuk mengejar Indi. Walau Ramanya belum mengizinkan, Satria sudah pergi.
"Kok, begitu?" tanya Indi.
"Ya, gak apa-apa. Kan yang penting aku sudah berbicara jujur dengan Rama. Yuk, jalan-jalan sebentar," ajak Satria.
"Mau kemana?" tanya Indi.
"Ke Taman Sari saja, yang dekat dari sini. Yuk, mana kunci mobil kamu, nanti antar aku pulang lagi yah."
Rupanya Satria tidak membawa kunci mobilnya sendiri. Sehingga, dia meminta kunci mobil milik Indi. Usai itu, Satria mengajak Indi menuju ke Taman Sari, Jogjakarta.
__ADS_1
Taman Sari Ngajogjakarta adalah situs bekas taman atau kebun Keraton Jogjakarta Hadiningrat. Taman ini dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1758. Walau bekas taman, tapi tempat ini masih terlihat eksotis dan dekat dengan historis di masa lalu.
Sekarang, Satria mengajak Indi berjalan-jalan di kompleks pertama yang dinamakan Segaran. Dinamakan Segaran karena di sana terdapat danau buatan. Dulu kala, di tempat ini Sultan sering kali bermain sampan dengan keluarganya.
"Walau hanya puing, tapi nilai sejarahnya tidak hilang yah, Dik," kata Satria kepada Indi.
"Iya, sisi eksotisnya masih ada. Dulu para putri kedhaton juga sering mandi di sini," balas Indi.
"Wah, tahu gitu, aku dulu ke sini yah. Biar bisa ngambil selendangnya," balas Satria.
"Ihh, emang kamu Jaka Tarub yang memgambil selendangnya Klenting Kuning?" balas Indi dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mending Jaka Tarub, Dik ... daripada Jaka Tingkir."
Jaka Tingkir ngombe dawet
Indi dan Satria kompak menyebutkan bait dalam lagu berbahasa Jawa yang hits akhir-akhir ini. Setelahnya, keduanya sama-sama tertawa. Tidak mengira candaan mereka pun serupa.
"Bisa samaan ... jodoh kali yah, Dik," kata Satria.
"Kebetulan aja, Mas. Jodoh atau enggak kan kita gak tahu," balas Indi.
"Jodoh itu ada usaha manusia, Dik. Kalau takdir itu Allah yang menggariskan. Kalau mau berjodoh, caranya mudah kok?" kata Satria tiba-tiba.
"Hmm, caranya gimana?"
"Ya, kita harus bersama-sama dan berjuang bersama. Kadang, Dik ... jodoh itu sudah di depan mata, tinggal lebih berusaha saja," balas Satria.
Mendengarkan apa yang dikatakan oleh Satria, Indi tersenyum perlahan. Dia tahu bahwa yang dikatakan Satria ada benarnya, hanya saja yang dihadapi mereka berdua lebih berat.
__ADS_1
"Walau sangat berat?" tanya Indi.
"Islam memandang semua anak itu suci, Dik. Islam memandang sama terhadap anak yang dilahirkan tanpa kecuali, semuanya dalam keadaan fitrah (suci), baik mereka yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat dari perkawinan yang sah, maupun yang lahir tanpa didahului perkawinan yang sah. Anak tetap suci dan tidak menanggung dosa dari dosa orang tuanya, hanya saja dalam masyarakat, hal itu tetap menjadi bahan pembicaraan orang.
Pernikahan seorang wanita yang yang lahir di luar nikah tetap dapat dilakukan, dengan catatan bahwa calon suaminya mau menerima keadaan. Perlu ada keterbukaan untuk menceritakan apa yang terjadi di keluarga kepada calon suami, agar tidak menjadi beban perkawinan karena ada yang disembunyikan. Keterbukaan itu akan menjadi awal komunikasi yang baik antar suami isteri kelak. Nah, aku kan mau menerimanya, kurang apa lagi coba?"
Satria menjelaskan semuanya. Sebagai calon suami dia bisa menerima kenasaban Indi. Selain itu, Satria juga tak mempermasalahkan nasabnya Indi. Ada keterbukaan juga bahwa keluarga Indi, sehingga memang tidak menyembunyikan apa pun kepada pihak keluarga calon besan.
Di depan Segaran, Indi lantas menghentikan langkah kakinya. Gadia ayu itu melirik Satria sekilas. "Restunya Rama bagaimana?" tanya Indi.
"Tenang saja, putranya Rama ini sedang berusaha," jawab Satria.
Indi tersenyum. Sebenarnya kapan lagi mendapatkan pria baik-baik dan menerima kekurangan Indi. Semoga saja, nanti Rama akan lunak hatinya dan memberikan restu untuk keduanya.
"Kalau menikahiku yang bisa menjadi wali adalah wali hakim. Ayah biologis pun tidak berhak, Mas Satria tidak keberatan?" tanya Indi.
"Tidak sama sekali. Sudah, nanti kamu sedih lagi. Kita jalan-jalan di sini mengunjungi tempat bersejarah, semoga nanti cinta kita berdua juga mengukir sejarah ya, Dik," balas Satria.
Di depan Satria, Indi menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Di dalam hatinya dia mengamini semoga saja memang cintanya bisa mengukir sejarah.
"Sejarah baru seorang putra ningrat meminang gadis tanpa nasab yah, Mas?" tanya Indi.
"Iya, sudah biasa para bangsawan meminang orang biasa. Jadi, ya santai saja. Nanti Allah kalau memberikan kelembutan hati untuk Rama itu mudah. Tadi kayaknya Rama juga terpukau sama kamu yang pinter banget. Moga aja itu menjadi jalan," balas Satria.
"Terpukau apanya," balas Indi.
"Serius kok. Terlihat dari presentasi kamu yang memukau dan penuh nilai filosofis. Putrinya Yayah Pandu mah keren," balas Satria.
"Berlebihan," balas Indi.
Satria kemudian tertawa. Semoga saja nanti memang ini menjadi jalan bagi restu dari Ramanya. Satria yakin dengan usaha dan doa semua dia dapatkan dengan perlahan-lahan. Hanya tinggal menunggu waktu. Untuk Indi dan cintanya, Satria akan benar-benar berjuang.
__ADS_1