Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Ditertawakan Bunda


__ADS_3

Di bawah Bunda Ervita yang sedang membuat Sambal Kecap tertawa sendiri. Antara geli atau justru menjadi pengganggu anak dan menantunya. Mengiris bawang merah dan cabai, Bunda Ervita ketawa sendiri.


Hingga sepuluh menit kemudian Indi turun dari kamarnya dengan rambut yang masih setengah basah. Anaknya itu begitu harum, karena Indi sudah mandi dua kali. Lebih harum dari biasanya.


"Indi bantuin apa, Nda?" tanya Indi berusaha bersikap wajar dan santun seperti biasanya walau sebenarnya Indi sangat malu kepada Bundanya.


"Sudah semuanya kok, Mbak Didi. Itu tahunya sudah Bunda goreng. Sambel kecap juga sudah siap. Dibawakan ke meja makan saja, Mbak," balas Bunda Ervita dengan tersenyum.


Mengangguk. Akhirnya Indi membawa Tahu Baxo dan Sambal Kecap ke meja makan. Selain itu, Indi dengan inisiatifnya sendiri menyeduh Teh. Menurut Indi, Teh hangat sangat cocok menemani untuk menikmati Tahu Baxo ini.


Hingga akhirnya semuanya berkumpul di meja makan. Bunda Ervita masih saja tersenyum sembari melirik Indi dan Satria bergantian. Bukannya tidak peka, Indi sangat peka dan sejujurnya salah tingkah. Namun, bagaimana lagi semuanya sudah terjadi begitu saja.


"Kenapa Mbak Indi, wajah kamu merah gitu?" tanya Ayah Pandu sekarang.


"Eh, gak apa-apa kok, Yah," balasnya.


Bunda Ervita kemudian terkekeh perlahan. "Sudah, gak apa-apa. Biasa pasangan muda. Nang-Nang jangan-jangan nanti mau punya adek yah? Sudah besar juga, cucunya Eyang sudah mau tiga tahun."


Mendengar kata-kata itu Satria justru yang tersenyum. Tidak terasa juga sebenarnya karena Nakula dan Sadewa sudah hampir tiga tahun. Kalau pun memiliki adik lagi kayaknya usianya juga tepat. Namun, Satria juga berpikiran kalau nanti kembar lagi bakalan ada empat anak di rumah dan itu terbilang ramai.


"Mbak, Nda kamu memang mau punya cucu lagi. Katanya biar Nda ada kesibukan dan enggak sedih karena Irene di Jakarta. Coba kalau bisa program saja. Anak cewek kalau bisa. Untuk mengasuh jangan risau, Yayah nanti bantuin mengasuh Nang-Nang," kata Ayah Pandu.


Indi kemudian melirik suaminya. Dulu, memang mereka terpikirkan untuk menambah momongan. Bahkan Indi sempat khawati sewaktu di Belanda dulu bercinta dan tidak mengecek kalender terlebih dahulu. Ternyata tidak terjadi pembuahan. Semuanya masih berjalan dengan aman. Bahkan sekarang Nakula dan Sadewa sendiri sudah hampir tiga tahun.


"Coba kami diskusikan bersama ya Yah dan Nda," balas Satria.

__ADS_1


Ketika menambah momongan lagi memang itu adalah hasil diskusi dari suami dan istri. Tidak ingin memaksakan kehendak siapa pun. Terlebih Satria juga akan mempedulikan kesiapan Indi untuk hamil dan melahirkan lagi. Sebab, wanita juga butuh persiapan mental untuk kembali hamil dengan segala kisahnya mulai dari perubahan gejolak hormonal, pertambahan berat badan, wajah yang kusam, atau perubahan lainnya.


"Ya, benar. Diskusi dulu. Juga enggak usah terburu-buru. Kalau bisa sebelum kepala tiga sudah tutup pabriknya. Tinggal membesarkan anak-anak aja," kata Yayah Pandu.


"Ayah, kenapa dulu hanya memiliki Irene aja? Gak pengen nambah adik lagi?" tanya Indi sekarang.


Ayah Pandu kemudian tersenyum. "Lah kan anaknya Yayah sudah dua. Kamu dan Irene. Memiliki kalian berdua dalam satu rumah ini aja sudah bahagia sekali. Kalau tahu akhirnya Irene bekerja di Jakarta, dulu Yayah minta baby lagi. Biar masih ada bungsu yang tinggal di rumah," balasnya.


"Maaf, kan secara hukum, anaknya Ayah cuma Irene," kata Indi lagi.


"Benar. Memang begitu adanya, tapi di mata dan hati Yayah, kamu tetap putrinya Yayah. Yah, sejak menikahi Nda ya Ayah sudah menaruh pemikiran kalau kamu adalah anaknya Ayah. Begitu, Mbak Didi."


Indi menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Seketika Indi teringat kalau dia adalah seseorang yang beruntung. Walau tanpa nasab, tapi dia memiliki ayah sambung yang memiliki kasih sayang melebihi ayah kandung.


"Sudah Mbak Indi. Yayah kamu secara hukum anaknya cuma satu. Kalau kamu punya anak banyak gak apa-apa. Nanti kalau Yayahmu pensiun, biar diasuh Yayah," balas Bunda Ervita dengan tertawa.


"Nda ini malahan ngetawain Indi terus kenapa sih, Nda?" tanya Ayah Pandu.


"Gak apa-apa, Yah. Nda baru bahagia aja. Lebih bahagia lagi kalau nanti bisa menambah cucu," balasnya.


Satria yang diam kemudian melirik istrinya. Mungkin saja semua ini karena aktivitasnya di dalam kamar yang terbilang lebih dari setengah jam tadi. Namun, Satria percaya bahwa Bundanya hanya menggoda saja.


Indi masih malu sebenarnya. Hingga sekarang, Indi dan Satria hendak berpamitan pulang.


"Yayah dan Nda, kami pamit pulang dulu yah? Terima kasih sudah mengasuh Nakula dan Sadewa," pamit Satria.

__ADS_1


"Sama-sama, Satria. Lain kali kalau kalian berdua ada acara nitip lagi aja. Atau kalau mau honeymoon lagi juga boleh. Biar Nda segera dapat cucu," balas Bunda Ervita.


"Kalau pergi jauh-jauh belum bisa, Nda. Kepikiran nanti sama Nang-Nang," balas Satria.


"Bener, Sat. Kepala kepikiran, hati tak tenang. Akan tetapi, kalau kalian pergi semalam gitu gak apa-apa deh, biar kami yang jagain Nang-Nang. Honeymoon tipis-tipis. Pasangan muda kan butuh waktu pacaran lagi, menyemaikan cinta lagi di samping rutinitas suami istri dan orang tua yang tidak ada habisnya. Justru disarankan loh, biar tambah harmonis," kata Ayah Pandu.


"Hm, susah, Yah. Pacaran di rumah aja. Memanfaatkan waktu yang ada, sembari mengasuh anak-anak," balas Satria.


Ayah Pandu menganggukkan kepalanya. "Kami seperti Ayah dulu. Pacarannya di rumah saja bersama Nda. Sambil mengasuh Indi waktu kecil. Penting sih dinikmati dan disyukuri yah. Ayah dapatnya Bunda dan anaknya, jadi ya memanfaatkan waktu di sela-sela ngurus Indi," kata Ayah Pandu.


Satria menjadi membayangkan bagaimana ayah mertuanya itu yang benar-benar baik malahan. Tidak pernah berpikiran buruk dan juga sosok yang legowo. Di muka bumi mungkin sosok seperti Ayah Pandu bisa dihitung dengan jari.


"Setuju, Yah. Semuanya bisa berjalan baik kalau kita menikmati dan mensyukuri semuanya. Sembari mengasuh Nang-Nang."


Usai berpamitan mereka sekarang sudah masuk ke dalam mobil, kembali pulang ke rumah Satria. Di perjalanan Indi pun berbicara.


"Tuh, tadi diketawain Bunda kan, Mas. Kamu sih enggak sabaran. Enggak bisa nahan sampai di rumah. Kan malu, Mas," kata Indi.


"Gak apa-apa, sesekali memacu adrenalin. Deg-degan, tapi sensasinya dahsyat kan?" balas Satria.


Indi memanyunkan bibirnya. "Jangan lagi yah, Mas. Susah banget loh konsentrasinya," balas Indi.


"Gak suka yah berarti?"


"Banyak deg-degannya. Takut juga. Abis itu juga jadi malu sama Nda," jawab Indi dengan jujur.

__ADS_1


"Ya sudah, lain kali enggak lagi. Kita lakukan di rumah aja. Lebih leluasa," balas Satria.


Akhirnya Satria memikirkan untuk kefokusan Indi dan bagaimana istrinya itu bisa menikmati momen berdua. Sebab, memang sejati banyak hal yang terjadi atas kompromi bersama.


__ADS_2