
Lebih dari satu jam mandi dan merengkuh kehangatan yang menusuk hingga ke relung kalbu. Kini, Indi dan Satria sama-sama sudah menyelesai semuanya. Sekarang, keduanya sama-sama duduk bersama di sofa yang ada di dalam kamarnya. Wajah Satria pun lebih cerah dan sumringah setelah mendapatkan asupan vitamin dari istrinya.
"Makasih, Sayang ... sangat indah. Seketika peningku hilang," kata Satria.
"Kamu bisa saja sih, Mas," balas Indi dengan senyum-senyum mendengarkan ucapan dari suaminya itu.
"Serius, peningnya langsung hilang. Kayaknya, tiap kali aku peningnya, obatnya sudah terbiasa deh, Sayang," kata Satria.
"Ya, kan ... obatnya itu tidak bisa diberikan di saat-saat tertentu, misalnya palang merah dan aku sedang berhalangan. Jadi, maaf ... di saat seperti itu, tidak bisa," balas Indi.
Satria segera menganggukkan kepalanya. "Iya, aku tahu, Sayang. Kalau memang belum bisa karena berhalangan, aku akan menunggu kok. Kayak kemarin itu, abis malam pertama langsung berhalangan. Duh, aku sudah ketakutan tuh. Takut terjadi pendarahan atau sebagainya," balas Satria.
Waktu itu memang Satria takut. Dia mengira bahwa itu bukan sekadar datang bulan, tapi terjadi pendarahan atau bagaimana. Maklum, baru sama-sama pengalaman pertama, sehingga ada ketakutan sendiri. Terlebih Satria masih ingat kala melihat percikan darah yang berada di puncak pusaka miliknya dulu.
"Kamu tahu enggak, Sayang ... aku bahagia banget bisa menjadi yang pertama untuk kamu. Eyang dulu bilang, malam pertama itu hadiah pertama dalam berumahtangga untuk pasangan suami istri. Ketika, bisa membuka dan menikmati hadiah fantastis itu rasanya memang begitu luar biasa," kata Satria.
"Mas Satria juga baru pertama kali, atau pernah aneh-aneh sebelumnya?" tanya Indi.
"Kamu yang pertama, Sayang. Sebelumnya, aku tidak pernah macam-macam," jawab Satria.
Indi menganggukkan kepalanya. "Iya, aku percaya sama Mas," jawabnya.
"Jangan ragu yah ... tiga tahun kita pacaran, toh, aku juga tidak pernah macam-macam. Sekadar gandeng tangan kamu, atau cium pipi saja. Yang lainnya gak berani," balas Satria.
Indi juga merasakan sendiri bagaimana dulu kala masih pacaran memang Satria tergolong bukan pria yang macam-macam. Diajak ke kost atau sebagainya juga tidak pernah, paling nonton bioskop, makan bersama, dan juga yang lain. Namun, pacaran yang menjurus ke hubungan layaknya suami istri tidak pernah terjadi. Definisi pacaran yang saling menjaga satu sama lain. Romantisme berpacaran tentu berbeda dengan romantisme suami dan istri. Oleh karena itu, ketika sudah menikah, barulah Satria menunjukkan dirinya yang sesungguhnya. Tak segan untuk merengkuh kenikmatan berbalut madu dengan Indi.
"Akhir pekan nanti, menginap ke rumah Ayah dan Bunda yuk, Mas ... mau enggak?" tanya Indi.
"Sudah kangen sama Ayah dan Bunda yah? Padahal baru juga dua hari tinggal bersamaku," balas Satria.
"Iya, kangen ... tapi ya kalau Mas mengizinkan. Kan setelah menikah, istri harus patuh sama suaminya," balas Indi.
__ADS_1
Satria menganggukkan kepalanya. "Iya, lihat Sabtu nanti yah, Sayang. Padahal pengen pagi-siang-malam sama kamu. Gantinya kita tidak berbulan madu," balas Satria.
"Ish, semangat banget sih ... tulangku emang gak rontok tuh, Mas?" tanya Indi.
"Enggaklah ... kalau sudah aku juga siap mijitin kamu kok."
Keduanya sama-sama tertawa. Geli sebenarnya dengan pembahasan mereka sekarang. Akan tetapi, memang ketika sudah berumahtangga, obrolannya lebih beragam. Obrolan absurd pun juga sering kali terjadi antara suami dan istri. Semua ada fasenya, nanti jika sudah hamil dan memiliki baby, obrolannya juga akan berganti topik sesuai dengan kenyataan yang tengah di hadapi.
"Besok aku kayaknya akan lebih capek deh, Mas ... sialnya sampai akhir pekan nanti menyelesaikan pemasangan panel kayu. Kalau tinggal finishing begini, lebih capek dan lebih deg-degan," kata Indi.
"Ya, gak usah capek-capek. Kalau aku di sana, aku bantuin, Sayang. Maaf yah, semula berharap satu haluan, nyatanya harus bekerja sendiri-sendiri. Padahal, udah kebayang bisa kerja sama istri sendiri," kata Satria.
"Tidak apa-apa, Mas. Kan yang penting Mas kerja saja. Untuk menafkahi aku, biar perutku gak kosong," balas Indi dengan bercanda.
"Kalau itu pasti, Sayang. Pria harus tanggung jawab. Berani menikah, berarti harus berani untuk memberi nafkah istrinya," jawab Satria.
Namun, Indi sangat setuju karena memang pria yang sejati harus begitu. Berani menikah, artinya berani menafkahi pasangannya. Sudah siap dengan segala risikonya. Indi menyambut baik niat hati Satria itu.
***
Kembali bekerja di Oemah Jamu, kali ini Indi harus mengawasi dan membantu pemasangan panel kayu. Untuk memasang panel kayu sendiri, ukurannya harus pas, tidak boleh bergeser.
"Jangan sampai geser ya, Tedja," kata Indi dengan memberi arahan kepada Tedja.
"Siap, Mbak Indi ... ini juga aku memakai benang kok Mbak, biar lurus terus. Harus jeli yah, Mbak," kata Tedja lagi.
Indi kemudian menganggukkan, untuk bekerja seperti ini memang tak segan untuk mengawasi langsung. Jika, perlu Indi pun akan siap untuk membantu. Namun, semuanya berubah kala Karina ada di sana, dan menyenggol bahu Indi dengan sengaja. Membuat Indi mengaduh dan memegangi bahunya.
"Aduh," kata Indi.
"Huh, sorry ... sengaja memang," balas Karina dengan begitu sombongnya.
__ADS_1
Indi menghela napas panjang dan mengamati kelakuan Karina. Memilih sabar, karena menanggapi Karina justru akan menambah rasa jengkel. Hanya kepala Indi menggeleng perlahan karenanya.
"Mau mengumpatkan kamu?" tanya Karina dengan menatap tajam Indi.
Sekarang yang ada hanya Indi dan Karina saja. Jujur, Indi sangat heran karena wanita itu seakan suka sekali mengusiknya dan mengajak berantem melulu. Indi sampai jengah terus-menerus berhadapan dengan Karina.
"Jangan salah sangka, Rin ... jangan menghakimi orang semau-maumu," balas Indi.
"Halah, kamu aja yang sok. Pembawaannya lembut, padahal sebenarnya sebaliknya," balas Karina.
Indi tersenyum. "Oh, yah ... kita lihat saja siapa yang bermuka dua sebenarnya. Aku atau kamu," balas Indi.
Mendengar jawaban Indi yang seolah tidak memiliki rasa takut sama sekali terhadapnya, Karina menjadi sebal. Cewek itu kemudian pergi meninggalkan Indi. Dia berjalan cepat dengan heels yang dia kenakan. Akan tetapi, Karina tidak fokus, karena ada pegawai cleaning service yang sedang mengepel lantai. Lantaran tidak hati-hati, heels yang mengenai lantai licin pun membuat Karina tergelincir. Bahkan ember yang berisi campuran air dan pembersih lantai pun sampai tumpah ke lantai.
"Sialan. Heh, bisa enggak sih kalau kerja itu yang bener. Sialan, bikin jatuh saja," umpat Karina dengan kesal.
Indi berjalan perlahan. Dia segera mengangkat ember dengan sisa-sisa air di dalamnya, dan menegakkan alat pel. Setelah itu, dia berbicara dengan lembut kepada petugas cleaning service itu.
"Sudah Mbak ... tidak apa-apa. Nanti minta tolong dibersihkan lagi yah," kata Indi.
"Maaf Mbak Indira ... saya benar-benar tidak tahu," balas pegawai itu dengan takut.
"Sudah, tidak apa-apa. Nanti lantainya dikeringkan saja," balas Indi.
Pegawai cleaning service itu pamit untuk mengambil alat pel yang kering dan akan segera mengeringkan lantai yang basah di sana. Usai itu, Indi berjalan mendekat ke Karina. Sedikit berjongkok, Indi mengulurkan satu tangannya.
"Hm, sudah terlihat siapa yang bermuka dua. Tidak harus menunggu hari berganti. Inget, Rin ... sapa salah seleh," balas Indi.
Sapa salah seleh adalah sebuah pepatah dalam bahasa Jawa yang artinya siapa yang berbuat salah, pada akhirnya akan kalah. Sekadar mengingatkan Karina bahwa tidak perlu menuduh yang tidak-tidak. Hanya berselang menit saja, sudah terlihat siapa yang salah, dia lah yang kalah pada akhirnya.
"Gak sudi kalau kamu yang nolongin," balas Karina.
__ADS_1
"Oh, begitu yah ... Mbak Karina yang berdarah biru. Baiklah-baiklah ...."
Indi tersenyum perlahan dan meninggalkan Karina begitu saja. Jika memang tidak mau ditolong baiklah, Indi memilih berlalu begitu saja. Indi akhirnya memilih pergi dan tertawa dalam hati.