
Selang beberapa pekan kemudian, cuaca kota Jogjakarta yang sangat terik. Bahkan dalam lebih dari empat bulan, hujan benar-benar tidak mengguyur kota Pelajar itu. Membuat suasana panas, berdebu, dan juga gerah. Indi yang sedang hamil muda, agaknya menginginkan makanan pedas dan sedikit dingin dengan tiba-tiba.
"Mas, panas-panas gini enaknya rujakan deh, Mas," kata Indi.
Satria tersenyum. Itu adalah kode kalau istrinya yang tengah hamil muda itu tengah ngidam. Oleh karena itu, Satria menawarkan kepada Indi.
"Mau aku beliin Rujak dan Lotis di depan kompleks?" tanya Satria.
Rujak dan Lotis adalah jajanan dari aneka buah. Ada Bengkuang, Mentimun, Nanas, Mangga Muda, hingga Kedondong. Bedanya jika Lotis, buahnya hanya dikupas dan diiris kecil-kecil. Sementara, untuk Rujak, semua buahnya akan diparut dan diberi es batu. Sambal gula jawa dan asam jawa bercampur dengan aneka buah dan es batu benar-benar segar dan nikmat disantap di saat cuaca terik seperti ini.
"Mau enggak aku beliin?" tanya Satria lagi.
"Beli buahnya aja, bikin sendiri, Mas ... aku pengen makan langsung dicobeknya," kata Indi.
Satria malahan tertawa sekarang. Tidak menyangka juga bahwa istrinya itu ingin memakan Rujak langsung di cobeknya. Oleh karena itu, Satria pun menganggukkan kepalanya. Dia segera mengambil kunci sepeda motor dan berniat membelikan buah untuk Rujak.
"Buahnya mau apa aja, Sayang?"
"Buah Rujakan komplit, Mas. Pakai mangga muda yah," pinta Indi.
Sebelum berangkat, Satria mengusap puncak kepala istrinya itu. Satria tidak merasa keberatan sama sekali. Justru kalau hanya mengidam rujak yang dibuat di cobek saja terlihat mudah. Dulu bahkan saat hamil Nakula dan Sadewa, Satria pernah mengejar penjual Gandhos di Solo karena istrinya sedang mengidam.
"Makasih yah, Papa," kata Indi.
"Sama-sama, Mama."
Satria berpamitan dan segera menuju ke pasar terdekat. Demi istri yang hamil, walau panas tetap saja diterjang supaya istrinya senang. Mengingat Bumil bisa mudah terkena badmood, karena itu selama Satria bisa membelikan, maka Satria akan membelikan istrinya.
Di pasar pun, Satria menjelajah bagian buah. Dia membeli Bengkuang, Nanas, Kedondong, Mentimun, Jambu, hingga Mangga Muda. Untuk berjaga-jaga Satria sekalian membeli cabai rawit, gula jawa, dan asam jawa. Supaya nanti kalau ingin membuat sambal tidak perlu mencari-cari lagi.
Setelah yakin dengan semua yang sudah dibeli, akhirnya Satria pulang ke rumah. Sudah ada istrinya yang menunggu.
"Nungguin, Sayang?" tanya Satria.
"Iya, pengen banget, Mas."
__ADS_1
"Biar aku kupasin buahnya dan cuci dulu. Yang lainnya kamu yang bikin, atau aku?"
"Biar aku aja, Mas."
Satria menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Satria segera menuju ke dapur kemudian mulai mengupas buah-buahan yang sudah dia beli dan juga mencucinya hingga bersih. Sementara Indi sudah membuat Sambal di cobek. Setelah sambalnya jadi, Indi mulai mengambil serutan, mulai menyerut aneka buah yang sudah dibeli suaminya. Ya, semua buah itu diserut di atas cobek, lalu diberi sambal dan diaduk supaya rasanya lebih merata.
Sebelum menambahkan es batu, Indi mencobanya terlebih dahulu. Tak lupa meminta Satria untuk mencicipinya juga.
"Cobain, Mas ... kurang apa?" tanya Indi.
Satria membuka mulutnya menerima suapan sesendok rujak dari Indi. Kemudian, dia mengunyahnya dan merasakan rasanya terlebih dahulu. Beberapa saat kemudian, Satria menganggukkan kepalanya.
"Hm, udah enak, Sayang. Pedes dan manis, mangganya lebih banyak yah? Agak asam," kata Satria.
"Iya, memang sedikit lebih banyak. Pas jadinya Mas?"
"Iya, udah enak kok."
Akhirnya sebagai sentuhan terakhir, Indi menambahkan es batu. Semuanya benar-benar berada di cobek. Bahkan sekarang Indi menikmati Es Rujak ini dengan lahap. Satria sampai geleng kepala melihat istrinya. Kalau mau jujur, orang yang hamil itu memang lucu. Yang sebelumnya tidak pernah diminta, sekarang bisa meminta. Sama seperti Indi yang hampir tak pernah membeli Rujak. Sekarang malahan Indi menikmati Es Rujak langsung di cobeknya.
"Apa yang dimau udah kesampaian? Puas?" tanya Satria.
"Kamu duluan aja, Sayang. Bumilku biar puas dulu. Penting jangan terlalu pedes, nanti sakit perut," kata Satria.
Dia hanya memperingatkan istrinya saja supaya tidak memakan terlalu pedas. Nanti bisa sakit perut. Selain itu, memang masih hamil muda tidak boleh terlalu banyak pedas.
"Iya, Papa. Siap," balas Indi.
"Seneng lihat kamu."
"Babiesnya juga seneng, Papa. Apa yang dimau, udah dibeliin Papa," balas Indi.
Satria juga senang. Melihat istrinya yang baru hamil moodnya sangat baik, membuat suami juga senang. Dalam hatinya Satria berjanji akan memberikan apa yang Indi mau, selama dia bisa dan semoga saja bukan ngidam yang aneh-aneh.
Sudah habis satu cobek berdua, kemudian Indi membuat sekali lagi. "Kok bikin lagi?" tanya Satria.
__ADS_1
"Aku simpan di lemari es kok, Mas. Buat nanti lagi. Jadi, kalau pas pengen tinggal buka lemari es aja," kata Indi.
"Penting enggak banyak-banyak. Kasihan perut dan bayi-bayi kita," sahut Satria.
"Iya-iya, Mas."
Membiarkan Indi membuat lagi, kemudian Satria bermain dengan Nakula dan Sadewa yang sudah bangun tidur siang. "Mma, ana, Pa?" tanya Sadewa. Dia menanyakan di mana Mamanya.
"Mama sedang di dapur, Sadewa."
"Apur ... mam?"
Menurut pemahaman Sadewa, Mamanya yang di dapur sedang makan. Sebab, ada meja makan yang dekat dengan dapur. Sadewa juga tahu Mamanya makan di sana.
"Bikin Rujak, Mas Sadewa."
"Ujak?" tanya Nakula sekarang.
Papa Satria menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas Nakula ... mama baru pengen rujak."
Sejak Indi positif hamil ini, memang Indi dan Satria memanggil kedua putranya dengan panggilan Mas. Artinya kakak laki-laki dalam bahasa Jawa. Ini juga cara untuk mempersiapkan Nakula dan Sadewa menjadi kakak.
"Aen, Pa. Ola," ajak Sadewa sekarang.
Akhirnya, Satria mengajak kedua putranya itu bermain bola. Sebab, Nakula sudah berlari terlebih dahulu mengambil bola. Mumpung libur juga, Satria terbiasa menemani kedua putranya bermain.
Indi yang sudah selesai membuat rujak, bergabung dengan suami dan anak-anaknya. Nakula kemudian berlari ke arah Mamanya.
"Mma kin ujak?" tanya Nakula.
Indi menganggukkan dan memangku putranya itu. "Iya Mas Nakula. Mama baru saja bikin Rujak."
"Acanya apa Ma?" tanya Sadewa yang kemudian ikut mendekat. Maksud Sadewa, rasanya rujak itu seperti apa. Akan tetapi, Sadewa belum bisa mengucapkan huruf konsonan R. Sehingga beberapa kata yang menggunakan konsonan R terdengar lucu.
"Rasanya pedas, Mas Sadewa."
__ADS_1
"Hhah, edes," balas Sadewa.
Indi dan Satria tertawa. Putranya itu memperagakan ekspresi kepedesan yang lucu dengan mengipasi mulutnya sendiri. Nakula pun ikut-ikutan. Hingga siang itu, kamar bermain menjadi penuh tawa dari Satria, Indi, Nakula dan Sadewa.