
Pulang dari Rumah Sakit, dalam perjalanan Satria mengatakan bagaimana dia merasa sangat senang ketika mengetahui bahwa ada dua janin berjenis kelamin perempuan yang berada di rahim istrinya. Itu artinya mereka akan memiliki anak perempuan juga setelah sebelumnya dikaruniai anak laki-laki yaitu Nakula dan Sadewa. Firasat Satria terbukti benar karena istrinya itu terlihat jauh lebih cantik.
"Kok senyam-senyum Mas?" tanya Indi.
"Iya, aku senang, Sayang. Akhirnya kita akan mendapatkan anak perempuan. Udah kebayang bagaimana nanti memiliki sepasang putri cantik yang manja gitu ke Papanya," jawab Satria.
"Duh, kalau punya sepasang putri yang manis dan manja gitu, Mamanya gimana Pa? Tersisih enggak?" tanya Indi lagi.
Satria kemudian dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Enggak akan tersisih. Waktu, perhatian, dan lainnya akan dibagi-bagi. Yang pasti cintanya Papa Satria cuma Mama Indira."
Mendengar jawaban Satria justru membuat Indi geli dan tertawa. Wanita hamil itu sampai mencubit paha suaminya lantaran geli dan bentuk ekspresinya. Sementara Satria juga tertawa. Benar, ini memang bukan kehamilan pertama, tapi mendengar lagi detak jantung bayi, mengetahui jenis kelamin kedua bayinya yang kali ini berjenis kelamin perempuan membuat Satria sangat senang.
Kehamilan selalu punya cerita dan terselip kebahagiaan di dalamnya. Sama seperti Indi dan Satria sekarang yang merasa begitu bahagia. Keduanya bisa bercanda dan tergelak dalam tawa.
"Eyangnya pasti senang akan memiliki cucu perempuan, Mas. Apalagi Bunda pengen buatin dress batik yang lucu-lucu untuk cucunya nanti," cerita Indi.
"Eyang Galuh juga senang, Sayang. Mau dibeliin boneka yang lucu-lucu. Intinya kedua keluarga bahagia semua. Benar yah, kehadiran bayi memang bisa menyemarakkan keluarga. Sama seperti keluarga besar kita berdua pasti sangat bahagia."
Satria berbicara demikian, lahirnya seorang bayi memang sangat bisa menambah kebahagiaan dalam keluarga. Kehadiran bayi selalu dinanti dan saat lahir akan disambut dengan sukacita yang melimpah. Oleh karena itu, Satria juga percaya keluarga Negara nanti pastinya juga akan sangat senang.
"Mampir enggan, Sayang?" tanya Satria.
"Enggak, langsung pulang aja deh, Mas. Sudah malam kok. Kasihan Nakula dan Sadewa," balas Indi.
Akhirnya Satria mengemudikan mobilnya segera menuju kediaman mertuanya sekaligus hendak menjemput Nakula dan Sadewa. Hanya beberapa belas menit, keduanya sudah tiba di kediaman keluarga Hadinata.
"Assalamualaikum," sapa Satria dan Indi begitu memasuki rumah.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, sudah pulang?" tanya Bunda Ervita.
"Sudah Bunda. Kan dua hari sebelumnya sudah reservasi terlebih dahulu, sehingga dapat nomor antrian lebih dulu," jawab Indi.
"Enaknya begitu yah. Lebih fleksibel," balas Bunda Ervita lagi.
"Nakula dan Sadewa di mana Nda?" tanya Indi sekarang.
"Sudah bobok. Tadi liat ikan di akuarium Eyangnya, abis itu pada minta bobok. Ya sudah, biarkan aja. Kecapekan juga," balas Bunda Ervita.
Berselang beberapa menit, Ayah Pandu keluar dan bergabung dengan istri, anak, dan menantunya di ruang tamu. Kemudian Ayah Pandu bertanya kepada Indi dan Satria.
"Bagaimana janinnya?"
"Keduanya sehat, Ayah. Sudah 17 minggu," jawab Satria.
Kemudian Satria menganggukkan kepalanya lagi. "Ayah dan Nda inginnya memiliki cucu laki-laki atau perempuan?"
"Sedikasihnya saja sih, Sat ... mau cowok atau cewek tidak masalah. Yang pasti cucu-cucu sehat, Indi juga sehat. Kamu yang nanti mendampingi Indi bersalin juga sehat," balas Ayah Pandu.
Jawaban Ayah Pandu cukup bijaksana. Alih-alih mengharap cucu cowok atau cewek, tapi Ayah Pandu mengharapkan cucu-cucunya nanti dan juga Indi sehat. Selain itu, Satria yang akan mendampingi Indi juga sehat. Indi seketika tersenyum. Seolah tak ada tekanan dari keluarganya. Yang diharapkan justru adalah semuanya sehat.
"Doanya ya, Ayah," kata Satria.
"Pasti, Sat ... kalian, Irene, dan cucu-cucu itu selalu kami sebut di dalam sujud kami," kata Ayah Pandu.
Ucapan sang ayah yang benar-benar menghangatkan hatinya Indi dan Satria. Indi kemudian berbicara sekarang. "Kalau mau jujur, Yayah mau cucu cowok atau cewek?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Ayah Pandu tersenyum. Setelah itu, justru Bunda Ervita lah yang menyahut. "Jawab, Yah ... jujur saja. Setiap orang hidup pasti memiliki keinginan dan harapan. Ada kalanya kita mengutarakan keinginan kita, tidak ada salahnya."
Ayah Pandu terdiam dan tersenyum beberapa saat. Kemudian, dia memberikan jawaban kepada keluarganya. "Kan sebelumnya Yayah sudah memiliki cucu cowok, ada Nakula dan Sadewa. Kalau memiliki cucu lagi, ada baiknya perempuan. Biar Yayah bisa nostalgia, rasanya dulu mengurus kamu dan Irene," jawabnya.
"Kali ini keinginan Yayah akan dijabah Allah," jawab Indi.
Ayah Pandu lagi-lagi tersenyum. Dia senang tentunya mendengarkan ucapan Indi. "Kali ini perempuan?" tanyanya.
"Iya, Yayah ... keduanya perempuan. Alhamdulillah, berkah dari Allah semata," jawab Indi.
Bunda Ervita juga sangat bahagia. Kalau boleh berbicara jujur, Bunda Ervita juga menginginkan memiliki cucu perempuan. Pikirnya sudah memiliki sepasang cucu laki-laki, sehingga kali ini menginginkan cucu perempuan yang cantik, manis, dan lucu tentunya.
"Alhamdulillah, Bunda juga senang. Benar yang Yayahmu katakan, kami seakan bernostalgia lagi nanti, teringat bagaimana dulu mengurus kamu dan Irene. Berkah dari Allah. Lengkap sudah, memiliki anak cowok dan cewek," kata Bunda Ervita.
"Dijaga baik-baik, Sat ... Ayah doakan kamu sehat dan selalu sabar. Mengurus anak satu saja kadang tekanan darah naik, emosi memuncak. Apalagi kamu akan memiliki empat anak nanti. Jadi, harus sabar. Sabar ke istri, sabar ke anak-anak."
Ayah Pandu mengatakan demikian. Sementara Satria tentu menganggukkan kepalanya. Itu adalah nasihat yang baik dari Ayah mertuanya.
"Semoga Satria bisa sesabar Ayah," jawab Satria.
"Sabar bukan berarti menuruti semua yang diminta anak. Sabar itu ketika anak nakal atau berulah nanti, kita bisa tetap memiliki kepala yang dingin. Tidak cepat emosian. Kendati begitu, tetap harus mendisiplinkan anak. Kasih, disiplin, dan sabar itu seperti dua mata uang, harus ada di setiap sisinya. Biar anak-anakmu menjadi generasi yang tangguh," nasihat Ayah Pandu lagi.
"Benar, Yah. Sabar memang identik dengan lemah lembut. Akan tetapi, harus tegas dan mendisiplinkan anak juga," balas Satria.
"Mengasuh, mendidik anak itu ada kalanya tidak mudah. Kamu Papanya, jadi pemimpin dan pandu anak-anakmu," ucap Ayah Pandu.
Di tengah-tengah kabar bahagia karena keluarga Hadinata akan mendapatkan cucu perempuan. Banyak nasihat yang Ayah Pandu sampaikan kepada Satria. Namun, nasihat itu ada benarnya juga, Papa sebagai figur pemimpin memang harus mendidik dan memandu anak-anaknya. Menjadi figur teladan, dan juga selalu menjadi sahabat untuk anak. Satria sendiri termotivasi untuk bisa memiliki sifat yang sabar dan juga selalu melakukan yang terbaik untuk istri dan anak-anaknya.
__ADS_1