
Keesokan harinya, Satria mengantarkan Indi untuk bekerja. Akan tetapi, setelah kejutan semalam Satria mewanti-wanti, memberikan banyak nasihat dan pesan kepada istrinya yang tengah berbadan dua itu. Sebab, Satria khawatir dengan istrinya yang tengah hamil muda, tapi masih bekerja. Selain itu, sebagai desainer interior, Satria meminta Indi untuk tidak terlalu banyak bergerak, berhati-hati karena ada janin di dalam rahimnya.
"Jangan angkat barang berat-berat, Sayang. Banyakin minum air putih, jangan banyak pikiran. Kalau kerja kebanyakan duduk, jalan-jalan sebentar supaya pinggangnya enggak sakit," pesan dari Satria kepada istrinya itu.
"Calon Papa perhatian banget sih," balas Indi.
"Semua itu karena aku tidak bisa menemani kamu selama 24 jam, Sayang. Ada beberapa jam di mana kita berpisah karena bekerja. Kamu juga masih ingat dengan ucapanku waktu kamu sakit dulu enggak? Aku akan selalu merawat kamu, termasuk saat kamu hamil dan melahirkan nanti," kata Satria.
Indi tersenyum karena suaminya itu benar-benar perhatian. Ibu hamil muda yang diperhatikan suaminya tentu itu sangat memperbaiki moodnya, membuat bahagia dengan sendirinya. Hingga sekarang, Indi bergelayut manja di lengan suaminya itu.
"Kalau kamu seperhatian ini, aku bisa manja dan terus bergantung sama kamu dong, Mas," kata Indi.
"Boleh kok. Aku juga enggak keberatan. Justru kamu harus manja dan bergantung ke aku. Jangan sampai bergantung ke orang lain," balas Satria.
Usai itu, Satria menunduk. Dia mengecup perut Indi lagi. "Adik Bayi sehat-sehat yah ... bantuin Mama selama bekerja yah. Jangan rewel yah," kata Satria.
"Jadi, officially manggilnya Mama dan Papa yah?" tanya Indi.
"Iya, lepas dari pakem tidak apa-apa, Sayang," balas Satria.
Satria hanya mengingat bahwa cinta bisa merubah tatanan. Oleh karena itu, dia berpikir bahwa mungkin saja anak-anaknya nanti akan memanggilnya Papa dan Mama. Walau ini tentunya gebrakan baru di dalam keluarganya. Sebab, trah Negara biasanya memanggil orang tuanya dengan sebutan Rama dan Ibu. Sebutan Ibu saja masih terbilang modern, dulu Eyangnya memanggil Ibu dengan kata ganti Biyung. Panggilan yang sangat klasik, kental dengan budaya Jawa.
"Ya sudah, kalau ditanyain Rama nanti, Mas Satria yang jawab yah," balas Indi.
__ADS_1
Pria itu kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, Roro Ayu. Siap, nanti biar aku yang menjawab dan menjelaskan. Kamu tenang saja."
Setelah itu, barulah Satria dan Indi keluar dari rumah. Satria siap untuk mengantarkan istrinya itu bekerja. Bahkan Satria sudah khawatir kalau-kalau Indi nanti kecapekan bekerja.
"Bumil tetap semangat bekerja yah," kata Satria lagi.
"Harus dong. Dulu saja Bunda waktu hamil aku semangat bekerja, jualan batik loh, Mas. Jadi, aku juga harus bersemangat biar nanti Debay nya juga semangat," kata Indi.
Indi teringat dengan cerita dari Bundanya dulu bahwa ketika Bunda Ervita hamil dirinya, Bunda harus berjualan batik di Pasar Beringharjo. Bahkan pasar tradisional itu menjadi saksi pertemuannya dengan Yayah Pandu. Mungkin seperti bukan pertemuan romantis. Akan tetapi, justru keduanya bertemu, saling berinteraksi bersama, dan akhirnya saling mencintai, hingga menua bersama. Indi juga ingin walau hamil, tidak begitu manja supaya bayi di dalam kandungannya juga kuat dan tidak manja.
Sepanjang perjalanan, Satria masih memesan banyak hal kepada Indi. Sementara Indi senyam-senyum saja mendengarkan banyak pesan dari suaminya. Hingga akhirnya, mereka tiba di kantor konsultan milik Ayah Pandu.
"Aku antar masuk enggak, Sayang?" tawar Satria.
Belum sempat Indi masuk ke dalam kantornya, sudah ada mobil yang mengambil parkir di sisi mobil Satria. Ada seorang pria yang turun dari mobil itu. Dia tak menyangka bisa bertemu dengan orang yang dia kenal di sana.
"Dira ... kamu Indira kan?" tanya pria itu.
Merasa namanya dipanggil, Indi pun menoleh ke arah sumber suara. Dia juga cukup kaget melihat siapa yang memanggilnya itu. Tidak lain dan tidak bukan, dia adalah Yudha. Mantan pacarnya dulu.
Apakah Satria mengenal Yudha? Ya, tentu saja. Bahkan Satria yang menjadi tempat curhatnya Indi dulu. Menemani Indi kala patah hati. Hingga selang satu tahun kemudian, Satria yang maju dan mengutarakan perasaannya kepada Indi.
"Ada Satria juga di sini. Halo, Sat ...."
__ADS_1
Yudha tampak menyapa keduanya. Melihat sosok Yudha, jadi mengingat bagaimana dulu Indi merasa patah hati. Namun, semua itu sudah berlalu bukan? Sebab, sudah ada sosok pria yang sabar di sisinya.
"Yudha, kamu ngapain di sini?" tanya Satria. Sementara Indi hanya diam.
"Yah mau konsultasi dengan konsultan desainer lah, Sat ..., emang mau apa lagi coba? Enggak nyangka malahan ketemu kalian di sini," balas Yudha.
"Dira, kamu kok diam aja?" tanya Yudha sekarang kepada Indi.
"Gak apa-apa," balas Indi.
"Kalian masih sahabatan sejak kuliah dulu?" tanya Yudha. Yah, Yudha masih menganggap bahwa Indi dan Satria masih bersahabat. Dia tahu sendiri karena dulu Indi dan Satria memiliki hubungan persahabatan yang akrab.
Satria kemudian menggelengkan kepalanya. "Enggak, kami sudah menikah."
Satria memberikan jawaban dengan tegas. Hubungan Satria dan Indi bukan hanya sekadar sahabat seperti waktu di bangku kuliah dulu. Akan tetapi, Satria menegaskan bahwa mereka sudah menikah.
"He, menikah? Serius ... aku kira usai putus dariku kamu gak bisa move on, Dira," kata Yudha.
Indi kemudian tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Hanya butuh seminggu aku sudah move on kok, Yud. Tak ada guna menangisi masa lalu. Lebih baik membina masa depan dengan orang yang kita sayang," balas Indi.
Yudha kemudian tersenyum miring menatap Indi. "Kamu masih sama yah, Dira. Kamu itu lemah-lembut, tapi galak juga. Salut, kamu gak berubah."
"Dia sudah berubah, Yud. Yang pasti Indira sudah move on. Dia hanya mencintaiku sekarang," balas Satria.
__ADS_1
Yudha kemudian menganggukkan kepalanya. Pertemuan yang tak disengaja dengan Indira dan Satria. Kalau nanti Yudha akan menggunakan jasa konsultasi ini, pasti dia memiliki kesempatan dengan Indi. Tentu saja, munculnya Yudha ini membuat Satria cukup was-was juga.