Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Mengalahkan Trauma


__ADS_3

Sekarang keluarga Indi dan Satria sudah kembali ke Jogja. Waktu yang mereka lalui di Solo juga sangat berkesan, walau Indi tidak sempat mampir ke rumah Eyangnya dan Bapak Firhan. Akan tetapi, di lain waktu Indi dan Satria sudah mengagendakan untuk kembali ke Solo lagi dan mampir ke rumah Eyang Buyut dan Bapak Firhan.


"Senang bisa kembali ke rumah ini lagi," kata Indi dengan wajah penuh senyuman.


Usai menikah dengan Satria, rumah suaminya ini menjadi tempat ternyaman buatnya. Dulu, sebelum menikah, rumah Ayahnya lah rumah ternyaman. Akan tetapi, sekarang setelah bersama Satria, ditambah dengan kelahiran Nakula dan Sadewa, rumah ini menjadi rumah ternyaman untuk Indi.


"Senang, Yang? Katanya senang di rumah Rama yang dekat sawah," balas Satria.


"Di Solo juga seneng. Kan melihat pemandangan yang enggak dilihat sepanjang hari itu menyenangkan, Mas. Kembali ke rumah itu selalu nyaman," balas Indi.


Satria menganggukkan kepalanya. Dia senang rumah dua lantai miliknya itu bisa memberikan kenyamanan untuk istrinya dan tentunya untuk Nakula dan Sadewa juga. Satria ingin istri dan anak-anaknya akan selalu aman, nyaman, dan bahagia tinggal di rumahnya ini.


"Kangen kamar?" tanya Satria perlahan.


"Salah satunya. Lain kali, kalau ke Solo lagi mengunjungi Eyang dan Bapak yah, Mas," kata Indi.


"Iya, siap, Sayang. Kemarin agenda kita penuh, jadi tidak bisa banyak ke sana ke mari," balas Satria.


Setelah itu keduanya berbagi tugas untuk menidurkan Nakula dan Sadewa terlebih dahulu. Seperti biasa, satu bayi akan diberi ASI dan ditidurkan terlebih dahulu, barulah nanti menidurkan satu bayi lagi. Begitulah kira-kira kegiatan Indi dan Satria di setiap malamnya.


Hampir setengah jam, akhirnya Nakula dan Sadewa sudah tidur. Waktunya untuk mama dan papanya bersantai sejenak. Menikmati malam dan mengobrol bersama.


"Capek?" tanya Satria kepada istrinya.


"Enggak, mengasuh anak tiap hari kalau menjadi rutinitas karena kegiatannya berulang, capek, tapi bahagia kok," balas Indi dengan jujur.


Satria tersenyum terlihat jelas bagaimana istrinya itu menikmati perannya sebagai ibu bagi Nakula dan Sadewa. Justru Satria bahagia, kadang kala Satria juga memikirkan untuk Indi yang terbiasa produktif bekerja dan kemudian tinggal di rumah sepanjang hari, bisa jenuh, kehilangan kehidupan dan rutinitas sebelumnya, bahkan bisa memicu stress. Akan tetapi, Indi tampak beradaptasi dengan baik. Tidak mengeluh, walau capek pun, wanita itu masih tertawa melihat perilaku lucu kedua putranya yang kian menggemaskan.


"Mas," kata Indi lirih memanggil suaminya itu.


"Hm, ya Sayangku."


"Mas Satria jadi enggak? Itunya," kata Indi lagi dengan ambigu.


"Hm, itu apa?"

__ADS_1


Indi malu sekarang, ingin berbicara jujur dan terbuka. Namun, ranah pembicaraan sekarang terbilang sensitif. Oleh karena itu, ucapannya menjadi ambigu bahkan seakan tak memiliki makna.


"Jadi enggak, Mas Satria melawan post-natal nya?" tanya Indi sekarang. Dia bertanya dengan hati-hati. Sebab, sebetulnya juga malu dengan suaminya sendiri.


"Kamu ini, mau ngapain aku coba?" tanya Satria kemudian.


"Ya, enggak. Kalau mau dilawan kan bisa. Masak mau menahan diri terus? Sampai kapan, Mas? Sampai Nakula dan Sadewa masuk TK?" tanya Indi.


Mendengarkan apa yang disampaikan Indi, Satria menjadi tersenyum karenanya. Akan tetapi, bagaimana lagi kalau mendengar kata obras atau suara gunting kadang membuat Satria bergidik ngeri.


"Ya, sebenarnya aku mau mengalahkannya, tapi gak tahu," jawabnya.


Indi kemudian menganggukkan kepalanya perlahan. Sekarang, wanita itu mematikan lampu kamar utama, menggantikannya dengan lampu yang lebih redup. Lantas, Indi menggenggam perlahan tangan suaminya.


"Aku bantuin mau enggak? Trauma, rasa takut itu kan harus dilawan," kata Indi kemudian.


"Kamu tidak apa-apa?"


"Iya, tidak apa-apa kok. Aku mau Mas Satria kembali seperti semula. Tidak perlu menahan diri lagi. Nanti aku yang pasang kontrasepsi, mengatur jarak kehamilan. Mas senormalnya aja," jelas Indi dengan lirih.


"Rileks, Mas."


Terdengar Indi memberikan instruksi. Wanita itu mulai membelai perlahan sisi wajah suaminya, mengusapinya dengan lembut, telapak tangannya mulai meraba bagian punggung dan lengan, mengusapnya perlahan dengan gerakan naik dan turun. Hingga ujung jemari Indi mulai menyentuh, memberikan belaian perlahan di dada suaminya. Satria mengamati apa yang Indi lakukan dalam diam. Walau begitu beberapa kali Satria tampak memejamkan matanya.


Tangan-tangan Indi mulai turun ke perut suaminya. Turun lagi ke bawah. Belaian itu terasa ringan, tapi nyatanya sukses membuat Satria merasakan desiran hebat di dadanya. Terlebih sekarang, rasanya ada api yang mulai tersulut dan membakar dirinya. Sang pusaka yang semula tertidur mulai terbangun perlahan. Indi sangat tahu, suaminya bisa memusatkan pikirannya, bisa mengalahkan traumanya. Sebagai seorang istri, juga Indi akan berusaha sepenuh hati.


Tidak sampai di sana, tangan Indi yang lembut mulai merangsek masuk ke paha suaminya. Dibelainya perlahan, hingga kian masuk, kian dalam, kulit bersentuhan dengan kulit. Satria sudah pasrah, pria itu memejamkan mata dengan menghela napas beberapa kali. Hingga akhirnya, Satria mendesis karenanya.


"Ssshhss, Sayang ...."


Di telinga Indi itu bukan sekadar suara yang dihasilkan dari pita suara. Namun, suara itu parau dan dalam. Suara dengan timbre yang berbeda dan cukup lama tidak Indi dengarkan.


"Rileks, Mas. Aku cinta kamu," kata Indi sekarang dengan melepas busana bagian bawah yang dikenakan suaminya.


Satria mengangguk pasrah dan kian memejamkan matanya. Hingga akhirnya kepala pria itu sedikit terangkat mana kala merasakan sapaan dalam kesan erat, basah, dan hangat membaluri seluruh pusakanya. Sudah begitu lama, sekarang Satria kembali mendesis. Jantungnya berpacu dengan lebih cepat. Apakah memang harus seperti ini cara mengalahkan traumanya?

__ADS_1


"Sayang ...."


Suara Satria kembali mengalun mana kala merasakan hisapan berbalut gerakan peristaltik naik dan turun di pusakanya. Dahsyat sekali rasanya. Dalam diam, Satria mengakui seluruh bulu romanya berdiri. Dia hanya bisa terus-menerus menyebut nama istrinya itu. Serta memfokuskan pikirannya.


Oh, begitu nikmat. Terlebih Indi melakukannya dengan sepenuh hati. Nalurinya sebagai pria juga sangat bahagia rasanya. Istrinya sangat paham dan mengerti dirinya.


"Oh, kamu apain, Sayang?" tanya Satria perlahan dengan membuka kelopak matanya.


Ada seutas senyuman di sudut bibir istrinya itu. "Mas santai aja, nikmati. Aku yakin. Usai ini, semua rasa trauma itu akan pergi."


Memilih menuruti apa yang dikatakan istrinya. Satria benar-benar merasakan efek yang luar biasa. Indi benar-benar pintar menyentuhnya, yang terbaik yang bisa seorang istri lakukan benar-benar Indi lakukan.


"Dhasyat, Sayang. Ya, nikmat ... kamu pinter banget," kata Satria meracau tidak jelas dan kian menjadi-jadi.


Sementara Indi turut lega, reaksi alamiah seperti ini yang dia tunggu. Artinya trauma itu sudah dikalahkan. Suaminya tidak lagi menahan diri dan juga hasratnya. Dari sapaan di dalam rongga mulut, Indi kombinasikan dengan tangan yang seolah memberikan pijatan naik dan turun.


"Aku gak tahan, Sayang ... aku ... aku ...."


Satria menyingkirkan dengan cepat wajah istrinya dari sana. Mendekap Indi sekarang dengan kuat, sementara setiap bagian cair dari Satria tumpah keluar. Meledak. Indi malahan tersenyum melihat raut wajah suaminya dan melihat semuanya yang terjadi.


"I Love U, Mas Satria," kata Indi perlahan dengan mengecup pipi suaminya.


"I Love U too, Sayang."


Beberapa saat berlalu, Satria membersihkan dirinya. Walau tidak bersatu dengan istrinya, Satria tetap memilih untuk mandi. Kemudian dia menyusul Indi yang sudah rebahan di ranjang.


"Kamu tadi pinter banget," katanya.


"Apa, Mas ... ku hanya mencoba saja apa yang aku bisa kok," balas Indi dengan malu.


"Kamu mau sekarang atau nanti? Aku akan mencoba," balas Satria.


Indi sekarang menggelengkan kepalanya. "Sesiapnya Mas Satria aja. Asal Mas sudah siap dan sudah lebih baik. Mas sendiri kalau butuh jangan ragu, ada beberapa cara yang bisa ditempuh. Yang pasti Mas Satria kembali seperti dulu yah. Aku menunggu."


Satria segera membawa Indi ke dalam pelukannya. Istrinya itu luar biasa, perkataannya juga terdengar teduh. Ketika dia mengalami trauma tersendiri, Indi tak ragu mengambil peran untuk turut menyembuhkannya bahkan Indi mau menunggu. Satria bangga dengan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2