Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Upacara Sungkeman


__ADS_3

Usai akad dilangsungkan, kedua mempelai melanjutkan dengan upacara sungkeman kepada orang tua. Baik Indi dan Satria sama-sama bersimpuh di hadapan Ayah Pandu dan Bunda Ervita untuk menghaturkan bakti dan tentunya memohon doa restu.


"Ayah dan Bunda, terima kasih untuk kasih sayang yang selalu Ayah dan Bunda berikan selama ini. Sekarang, Indi sudah menemukan seorang pria yang akan menjadi imam, penolong, dan teman sepanjang hayat. Mohon Yayah dan Nda memberikan doa restu," kata Indi dengan berlinang air mata.


"Ya, Mbak Indi ... putri kami. Yayah dan Nda pasti merestui dan mendoakan supaya Mbak Indi dan Mas Satria memiliki kehidupan rumah tangga yang shakinah, mawaddah, dan warrahmah. Saling mengisi satu sama lain, saling menyayangi sepanjang hayat. Yang terbaik selalu Yayah dan Nda doakan untuk kalian berdua."


Ayah Pandu yang memberikan doa restu, suara sang Ayah bergetar. Bagaimana pun, kasih sayangnya untuk Indi begitu besar. Di dalam hatinya, Indi sudah anaknya sendiri. Memang bukan terjalin karena darah, tapi maha besarnya Allah yang merajut ikatan hingga keduanya seperti ayah dan putri kandung. Ikatan yang Allah jalin dengan hati.


Bunda Ervita dan Yayah Pandu memeluk Indi dan Satria bergantian. Lantas dilanjutkan dengan sungkeman kepada Ibu Galuh sebagai ibu kandung Satria. Sekarang, Satrialah yang meminta doa restu kepada Ibunya.


"Ibu yang selalu Satria sayangi, hari ini Satria sudah menemukan pasangan hidup yang sepadan. Pasangan hidup pilihan hati Satria sendiri. Satria memohon doa dan restu dari Ibu. Doa dan restu yang akan Satria butuhkan untuk membina rumah tangga."


Bu Galuh menangis terisak-isak. Putra yang dia sayangi sejak kecil, sekarang sudah menemukan pendamping hidup. Lebih terharu karena tidak ada kehadiran Rama Bima di sana.


"Ya, anakku Satria dan Indi, Ibu akan selalu mendoakan kalian berdua. Semoga kalian berdua selalu bahagia bersama. Dikaruniai anak-anak yang sholeh dan sholehah, bahagia selamanya," kata Bu Galuh.


Bu Galuh memeluk Indi dan Satria berbarengan. Sang Ibu benar-benar menangis. Namun, Bu Galuh ingin putranya membina rumah tangga yang bukan hanya sekadar karena perjodohan, tapi karena cinta.


Usai itu, Indi mengajak Satria untuk mendatangi Bapak Firhan. Tampak pria itu terkejut ketika Indi mengajak suaminya kepadanya. Wajah keterkejutan yang benar-benar terlihat.


"Mas Satria perkenalkan, beliau adalah Bapak biologisku," kata Indi mengenalkan.


"Saya ... Bapaknya Indi," jawab Pak Firhan.


Pak Firhan menjawab dengan suara bergetar. Dia merasa terkejut. Tidak menyangka bahwa Indi mau datang dan mengenalkan suaminya.


Kemudian, keduanya juga sungkem kepada Bapak Firhan. Di sana Satrialah yang berbicara dan mengucapkan doa restu.


"Bapak, maaf sebelumnya Satria belum pernah sowan (berkunjung dalam bahasa Indonesia) dan meminta doa restu. Oleh karena itu, mohon doakan dan restui Satria untuk membina rumah tangga dengan Indi."


Ah, seluruh air mata Pak Firhan tumpah. Diundang keluarga Hadinata secara khusus saja dia sudah sangat senang, tapi sekarang Indi dan Satria sama-sama melakukan sungkem dan memohon doa restunya.

__ADS_1


"Ya, Mas Satria ..., Bapak doakan Mas Satria akan bahagia dengan Indi. Lain kali kalau ke Solo, mampir ke rumah Bapak yah. Mbak Indi ... maafkan Bapak yah," kata Pak Firhan.


Dengan cara yang sama, Pak Firhan memeluk Indi dan Satria. Namun, pria itu menangis dengan sangat. Hatinya hancur seketika. Banyak merasa bersalah, tapi Indi begitu sopan kepadanya.


Usai sungkeman, acara dilanjutkan dengan pengambilan foto dan juga makan siang bersama. Menjelang sore barulah semua acara selesai. Indi memilih pamit untuk bersih-bersih dan berganti baju. Masih MUA yang siap membantunya beberes dan membersihkan paes di keningnya. Khusus, malam ini hingga sepekan ke depan Satria akan tinggal di rumah Ayah Pandu dan Bunda Ervita. Kemudian barulah, nanti keluarga Hadinata akan mengantarkan Indi dan Satria ke rumah yang sudah dimiliki oleh Satria.


...🍀🍀🍀...


Malam Harinya ....


"Sudah lega, Mas Satria?" tanya Bunda Ervita.


"Lega banget, Bunda," balas Satria.


"Ya, sudah sana kalian istirahat. Anggap di rumah sendiri," kata Bunda Ervita sekarang.


"Iya, istirahat sana. Sudah malam," kata Ayah Pandu.


Untuk kali pertama, seorang pria memasuki kamar Indi. Tidak ada yang berubah dari kamar Indi, jika itu ada hanya aroma melati dari reroncean di sanggul Indi yang masih berada di meja rias. Selain itu, ada bunga mawar yang sengaja dipesan Bunda Ervita untuk mempermanis kamar pengantin itu.


"Silakan, Mas," kata Indi dengan sungkan.


"Kamar kamu, Dik?" tanya Satria.


"Iya, ini kamarku ...."


Satria mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar itu. Sekarang, tatapan matanya tertuju ke foto kecil yang ada di meja yang ada di kamar itu.


"Foto makrab kita berdua yah?" tanya Satria.


"Iya, satu tim waktu Makrab. Kebetulan ada foto kita berdua," balas Indi.

__ADS_1


Satria tersenyum, dia sangat senang melihat ada fotonya di sana. Hanya itu satu-satunya fotonya di dalam kamar Indi. Kemudian, Satria meminta izin terlebih dahulu untuk menyentuh Indi.


"Boleh aku memelukmu?" tanyanya.


Gadis itu tersenyum dan mengangguk perlahan. Bahkan Indi memgambil satu langkah, dengan tangannya yang melingkari pinggang Satria. Sementara Indi sendiri merasakan pelukan hangat seorang Satria. Keduanya sama-sama memejamkan matanya sekarang. Tidak ada yang lebih indah daripada hubungan keduanya yang sudah sah dan terikat dalam pernikahan.


"Aku benar-benar bersyukur, Dik. Hari bahagia ini tiba. Maaf, ada beberapa kekurangan yang belum bisa aku berikan salah satunya restu dari Rama. Namun, aku yakin cepat atau lambat nanti kita akan mendapatkan restu dari Rama. Maaf yahhh," kata Satria.


"Iya, Mas Satria ... tidak apa-apa," balas Indi.


"Aku selalu cinta kamu, Dik. Sekarang aku sudah lega, tapi usahaku tak akan terhenti di sini. Aku masih dan akan selalu berusaha," kata Satria.


Sampai pada akhirnya, Satria berhadap-hadapan dengan Indi. Pria tampan layaknya Arjuna itu tersenyum perlahan. "Malam ini, mau berbagi peraduan denganku?" tanyanya perlahan.


Tidak menjawab, Indi menunduk. Gadis itu sangat grogi. Tangannya yang memegangi pinggang Satria saja terasa begitu dingin. Namun, Satria ingin malam ini menjadi momen yang indah untuk keduanya.


Diamnya Indi, dengan sikap malu-malu yang Indi tunjukkan menjadi bukti bahwa Satria akan terus maju. Ini adalah malam pertama untuk mereka berdua, sehingga Satria ingin memaknai malam ini dengan indah.


Pelan-pelan, seolah Satria mengukur tindakannya. Pria itu menundukkan wajahnya, dia memberanikan diri untuk mengecup bibir Indi. Walau sudah tiga tahun berpacaran, baru kali ini Satria berani mengecup bibir Indi. Dulu, paling Satria hanya mengecup kening Indi saja.


Tidak menolak, tapi Indi tak beradu pandang dengan pemuda yang kini berdiri di hadapannya. Dia sangat grogi dan juga bingung. Namun, seorang istri juga akan berdosa kala menolak suaminya.


"Kalau aku memasrahkan diriku kepada Mas Satria seutuhnya, setelah itu Mas Satria tidak akan meninggalkanku kan?" tanya Indi perlahan.


Ada ketakutan di dalam hati Indi. Jika, dia sudah benar-benar memasrahkan diri kepada Satria, mungkinkah suatu hari nanti Satria akan meninggalkannya? Di saat bersamaan Satria menggelengkan kepalanya.


"Tidak, tidak akan, Dik," jawab Satria.


Indi terdiam lagi. Namun, di dalam hati Indi menguatkan hatinya sendiri untuk mempercayai Satria seutuhnya. Dalam pernikahan ini, harus menyingkirkan keraguan.


"Lalu, bolehkah aku mengambil hak pertama sebagai suamimu?" tanya Satria.

__ADS_1


Apakah jawaban yang akan Indi berikan? Akankah terjadi hal yang memang seharusnya terjadi?


__ADS_2