
"Bisakah aku meminta bantuanmu untuk memperbaiki reputasiku? Kan kita berteman lama," kata Papa Atmaja.
Seolah Papa Atmaja mengatasnamakan pertemanan mereka sejak masih muda. Siapa tahu, ada kesediaan Rama Bima untuk membantunya. Setidaknya kasus ini tidak begitu keruh dan memperbaiki reputasi Atmaja.
"Membantu apa dulu?" tanya Rama Bima sekarang.
Papa Atmaja menjeda ucapannya sejenak. Setelah itu, barulah dia akan mengemukakan apa yang ada di pikirannya. Sementara, Rama Bima tampak mengamati sahabat lamanya itu sembari menerka apa yang bisa dia lakukan.
"Dulu, kamu ingin menjodohkan Karina dengan Satria bukan? Bisakah kita melanjutkannya?"
Sungguh apa yang ditanyakan Papa Atmaja sekarang benar-benar di luar prediksi. Dulu saja Satria sudah menolak mentah-mentah. Bahkan Satria rela pergi dari rumah guna bisa menolak perjodohan itu.
Tidak perlu berpikir panjang, tapi Rama Bima sudah menjawabnya terlebih dahulu. "Maaf, At ... tidak bisa."
"Kenapa, Bim? Bukannya dulu kamu tidak setuju dengan hubungan Satria dan istrinya itu? Kamu bahkan yang menawarkan perjodohan Satria dan Karina? Kita bisa melanjutkannya," balas Papa Atmaja.
__ADS_1
"Satria sudah menikah. Aku melihat sendiri bahwa Satria sangat bahagia dengan pernikahannya. Selain itu, anak menantuku adalah orang yang baik. Jangan lupa, At ..., Karina justru yang berusaha mencelakai aku. Untung aku selamat, tapi menantuku yang menjadi korbannya. Aku tidak menempuh jalur hukum saja harusnya kamu sudah bersyukur."
Bukan mengungkit masa lalu, tapi Rama Bima seolah mengingatkan dan mempertegas di mana seorang Karina berusaha mencelakainya. Benar, Rama Bima terhindar dari bahaya itu, tapi sebagai ganti Indi yang harus dirawat di Rumah Sakit. Lewat kejadian itu juga, Rama Bima tahu dan melihat karakter lain seorang Indi. Melalui kejadian itu juga Rama Bima menjadi sayang begitu saja dengan Indi dan memberikan restu untuk keduanya.
Rama Bima yakin dengan keputusannya bahwa Indi memang adalah wanita yang tepat untuk Satria. Memang ada satu poin yang tidak bisa Indi penuhi, tapi semuanya bisa ditutupi dengan sifat dan karakter Indi yang santun, lembut, dan mau berkorban untuk orang lain.
"Kamu menjilat ludahmu sendiri, Bim. Dulu kamu bilang tidak suka dengan istrinya Satria, kamu bilang gadis dari kasta Sudra tak sepadan dengan keluarga Ningrat, sekarang kamu justru merendahkan keluarga ningrat yang lain," balas Atmaja.
"Cinta bisa menjembatani kasta, At. Aku belajar itu dari Indi dan Satria. Bagaimana putraku mau melepaskan semuanya untuk gadis yang dicintainya. Bukan hanya Satria, pangeran dari Inggris saja melepaskan kebangsawanannya untuk gadis yang mereka cintai. Sudah saatnya kita yang tua ini juga belajar dari yang muda."
Rama Bima memberikan penjelasan secara langsung. Selain itu, beberapa bangsawan di dunia juga rela melepas kebangsawanannya, melepas privillege yang mereka miliki untuk seseorang yang mereka cintai. Begitu juga dengan Satria yang memilih cinta daripada keningratannya.
Sekarang telinga Rama Bima menjadi merah rasanya. Yah, dulu dia mempermasalahkan ketidaknasaban Indi. Namun, sekarang Rama Bima bisa menerima. Bahkan Rama Bima mengakui sayang dengan menantunya itu.
"Tutup mulutmu, At. Siapa yang bermain-main dengan api seharusnya mereka siap untuk terbakar karenanya. Salah sendiri kamu membiarkan anakku bermain api," balas Rama Bima dengan sangat kesal.
__ADS_1
"Kamu menyalahkanku, Bim? Astaga, Bima ... aku bersahabat denganmu sejak lama. Namun, belum ada setahun kamu memiliki menantu dan kamu melupakan persahabatan kita."
"Persahabatan dan kekeluargaan itu beda, At. Sekarang Indi adalah anakku. Dia sama seperti Sitha. Lagipula, Indi yang menyelamatkanku, mengorbankan dirinya sendiri. Kasih itu tulus dan siap mengorbankan dirinya sendiri. Itu yang Indi lakukan. Tolong Atma, jangan merusak pagar ayu," balas Rama Bima.
Sejatinya pagar yang sudah indah, keelokannya bisa dinikmati janganlah dirusak. Begitu juga pernikahan yang sudah berjalan baik, di mana pasangan suami istri saling mengasihi dan menerima satu sama lain juga jangan diganggu dan dipisahkan. Justru didoakan supaya kehidupan rumah tangganya langgeng.
"Omong kosong, Bim."
"Sampai kamu mengganggu Satria dan Indi, kamu berhadapan denganku, Atma. Aku memperingatkan kamu sebagai temanku. Saranku temui pria yang menjalin hubungan dengan Karina sekarang, minta pertanggungjawabannya. Kalau dia benar-benar pria, pasti mau bertanggung jawab. Jangan hanya mengedepankan hasrat semata."
Ya, alih-alih mengganggu kehidupan rumah tangga Satria dan Indi, Rama Bima menyarankan untuk mendatangi pihak pria yang disinyalir dalam video itu. Meminta pertanggungjawabannya secara langsung.
Papa Atmaja langsung berdiri dan angkat kaki dari ruangan sahabatnya itu. Niat datang dan menawarkan aliansi pernikahan, tapi tak ada guna. Sudah kian rusak dan hancur reputasinya. Hingga akhirnya, Papa Atmaja memikirkan untuk mendatangi pria itu saja dan meminta pertanggungjawabannya.
Seperti di dalam ruangannya, Rama Bima sekarang meminum setengah gelas air putih. Dia butuh menenangkan dirinya sendiri. Sungguh, dia tak menyangka sahabatnya sendiri datang menawarkan hal gila dan menjelek-jelekkan menantunya.
__ADS_1
"Di masa lalu, Rama punya salah kepadamu, Mbak Indi. Rama yang tidak menyetujui hubunganmu dengan Satria. Rama membuka kartu AS-mu sebagai gadis tanpa nasab kepada sahabat Rama sendiri. Sekarang, Rama akan melindungi kamu. Rama tidak akan membiarkan siapa pun menggoyahkan rumah tanggamu dan Satria, termasuk jika orang itu adalah sahabat Rama sendiri. Selama Rama masih hidup, Rama akan mendukung dan mendoakan kalian berdua hidup bahagia. Tidak akan mengulangi kebodohan Rama lagi dulu. Cinta bisa menerobos kasta, cinta bisa menyatukan perbedaan. Itu yang Rama pelajari dari kalian berdua."
Ya, Rama Bima sudah berkeyakinan dalam hati bahwa dia tidak akan memberikan celah untuk orang lain menggoyahkan rumah tangga Indi dan Satria. Justru Rama Bima ingin selalu melindungi anak dan menantunya selagi dia bisa. Selain itu, sudut pandang Rama Bima adalah Karina yang terlalu bebas, bertindak tanpa memperhitungkan risikonya. Sementara sahabatnya sendiri yaitu Atmaja yang terlalu memberikan kebebasan untuk anak dan tidak melakukan fungsi kontrol kepada anaknya sendiri.