
Tidak terasa dua pekan sudah dilalui oleh keluarga Negara di Amsterdam, Belanda. Banyak festival budaya dan kegiatan UMKM yang mereka ikuti selama di Amsterdam. Selain itu ada beberapa kota yang mereka kunjungi yaitu Rotterdam dan Frisian Flag yang terkenal dengan peternakan sapi dan penghasil susu.
Walau sebelumnya ada yang belum dilakukan oleh Indi dan Satria yaitu ingin berwisata kanal. Ya, Belanda dikenal juga negeri dengan seribu kanal. Banyak kota dan tempat-tempat romantis yang berdiri di sekitar kanal. Akan tetapi, keduanya urung mencoba hal itu karena banyaknya kegiatan-kegiatan selama di Amsterdam.
"Masih ada yang kurang enggak, Sayang?" tanya Satria.
"Sebenarnya mau naik perahu dan mengelilingi kanal, Mas. Sayangnya belum sempat, Nakula dan Sadewa juga aktif banget, kalau kita berwisata kanal juga was-was deh rasanya," balas Indi.
"Next time kalau ada waktu dan tabungan berlebih kita ke sini lagi yah. Kita coba wisata kanal yang romantis. Duh, kalau saja punya kesempatan pengen cium kamu di atas kanal itu," balas Satria.
Rupanya Satria memiliki fantasi tersendiri. Berbicara kanal, perahu, dan nuansa romantis tiba-tiba saja Satria menginginkan untuk mencium istrinya itu sembari melintasi kanal-kanal yang indah, di atas perahu, dengan nuansa romantis, dua sejoli saling berciuman pastilah terasa indah sekali.
"Lain kali kalau kita ada berkah berlebih ke sini lagi yah, Mas," kata Indi.
Satria kemudian menganggukkan kepalanya. "Siap, Sayangku. Sekarang waktunya kembali ke negeri kita. Kembali ke rumah kita. Kangen juga kan dengan kamar kita," balas Satria.
"Hm, iya. Kangen dengan kamar kita. Ketika kamu berada, itu adalah rumah untukku, Mas," kata Indi.
__ADS_1
"Ketika kita berdua berada, itu adalah rumah untuk anak-anak kita," balas Satria.
Ada kala anak-anak tak membutuhkan bangunan megah dan mewah. Ya dibutuhkan anak-anak adalah kehadiran orang tuanya. Ketika ada Mama dan Papa di sana, memiliki hubungan yang baik dan harmonis itulah arti rumah untuk anak-anak. Sosok orang tua yang menyayangi, mengasihi, dan menerima keberadaan mereka. Sosok yang menerima kurang dan lebihnya, tempat bersandar, hingga dewasa nanti, itulah orang tua.
"Iya, Papa Satria. Kita adalah rumah untuk Nakula dan Sadewa, serta adik-adiknya nanti."
Satria merangkul istrinya itu. Selalu bahagia ketika bisa berbicara dengan istrinya. Banyak hal yang bisa dibicarakan, bahkan hal-hal yang terdengar filosofis. Akan tetapi, memang inilah pasangan suami dan istri dengan semua obrolan mereka.
...🍀🍀🍀...
Sekarang keluarga besar Negara sudah berada di dalam pesawat udara. Waktunya untuk kembali ke Jogjakarta, Kota Gudeg. Di dalam pesawat Nakula dan Sadewa juga tenang. Bahkan sekarang dua bocah kembar itu tertidur.
"Bobok, Sat?" tanya Rama Bima, tentu dia menanyakan kedua cucunya sekarang.
"Iya, Rama. Kompak banget keduanya bobok."
"Bulan depan ke Solo yah, Sat. Bantuin Rama di event Solo Jadoel Festival yah," pinta Rama Bima.
__ADS_1
"Siap, Rama. Nanti diberitahu dan diingatkan lagi nggih, Rama."
Rama Bima kemudian menganggukkan kepalanya. "Siap, nanti Rama kabarin lagi kalau waktunya sudah dekat."
Beberapa jam kemudian sudah terdengar pemberitahuan dari awak kabin bahwa pesawat udara akan segera tiba di Jogjakarta Internasional Airport. Pramugari pun mulai membangunkan beberapa penumpang yang tertidur, meminta penumpang menegakkan sandaran dan membuka penutup jendela pesawat. Di saat itulah, Indi juga membangunkan Nakula dan Sadewa. Terdengar tangisan beberapa anak kecil di dalam pesawat. Biasanya memang anak-anak merasa tak nyaman ketika pesawat mengurangi ketinggiannya di udara dan juga tekanan udara di dalam pesawat akan berkurang.
Nakula dan Sadewa pun tantrum untuk beberapa saat. Hingga akhirnya, Indi segera memberikan ASI untuk kedua putranya. Memang disarankan ketika menaiki pesawat saat hendak take off dan landing, para bayi dan anak-anak diberikan ASI atau minum. Tegukan di tenggorokan akan mengurangi sakit di telinga.
Mendapatkan ASI, Nakula dan Sadewa tak lagi menangis. Indi juga merasa tenang. Satria membantu mengusapi kepala hingga punggung putranya. Kadang kala Papa Satria bernyanyi lirih supaya kedua putranya itu bisa tenang. Untuk kolaborasi orang tua Indi dan Satria begitu kompak. Apalagi sifat Satria yang sabar sangat membantu kala anak-anaknya sedang tantrum.
Pesawat udara yang mereka tumpangi kian memutar, menukik, dan mengurangi ketinggiannya di udara. Untuk orang dewasa saja hal ini membuat deg-degan, tapi Nakula dan Sadewa bisa tenang karena mendapatkan ASI dan usapan tangan dari Papa Satria.
Dari kaca jendela sudah terlihat hijaunya pemandangan dari atas pesawat. Rindu dengan kota tercinta, ingin bertemu juga dengan Ayah Pandu dan Bunda Ervita. Hingga, terdengar pemberitahuan dari awak kabin mengenai laporan cuaca, zona waktu, dan suhu di kota Jogjakarta. Dengan burung besi yang mulai terbang lebih rendah, semakin rendah hingga roda-rodanya menjejak di tanah dan pesawat itu melaju dengan begitu kencangnya. Nakula sedikit menangis, Indi segera memberikan ASI lagi dan melakukan sounding dengan Nakula.
"Kaget yah, Nang? Kita sudah turun di Jogjakarta ini, Nang. Ada Mama di sini. Minum lagi yah. Nanti bisa bertemu dengan Eyang Pandu dan Eyang Ervi. Mama sudah kangen rumah kita," kata Indi.
Akhirnya tangisan Nakula reda. Sementara Sadewa justru tenang dan masih menghisap ASI. Pesawat akhirnya berhenti, dan penumpang dipersilakan turun satu per satu dari pesawat. Akan tetapi, Indi dan Satria memilih sabar, turun belakangan pun tidak menjadi masalah. Yang penting aman, nyaman, selain itu mereka sudah tiba di Jogjakarta dengan selamat.
__ADS_1