
Usai mengadakan upacara tujuh bulanan, Indi dan Satria barulah bersiap untuk mempersiapkan berbagai barang dan keperluan Babies mereka. Orang tua berkata pamali ketika mempersiapkan dan membeli-beli untuk bayi sebelum usia kandungan tujuh bulan. Setelah tujuh bulan barulah keduanya mulai mencicil untuk membeli berbagai keperluan bayi.
Lantaran Indi sendiri seorang desainer interior, maka Indi menata kamar yang terkoneksi dengan kamar tidur mereka dengan sedemikian rupa. Mengerjakan sendiri membuat Indi sangat puas rasanya.
"Kamu ini bilangnya resign bekerja, mau persiapan persalinan malahan di rumah aja sibuk banget sih, Sayang," kata Satria.
Itu Satria bisa lihat sendiri karena Indi seolah tak ada capeknya untuk menyiapkan kamar bayinya. Sebelumnya untuk pengecatan kamar, memang dikerjakan oleh desainer lain dari kantor konsultan Ayah Pandu. Namun, semua konsep idenya adalah dari Indi.
"Abis enggak capek tuh, Mas. Seneng malahan bisa mengerjakan semuanya sendiri. Makin seneng kalau membayangkan ada dua bayi laki-laki di sini. Replikanya Papa Satria," balas Indi.
"Replika kita berdua dong, Sayangku. Kan anak kita berdua. Kebetulan aja keduanya cowok, sama seperti Papanya," balas Satria.
Indi tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Benar yang suaminya katakan bahwa Babies nanti adalah replika keduanya, hanya saja memang keduanya sama-sama laki-laki seperti Papa Satria.
"Udah kepikiran namanya belum, Mas?" tanya Indi.
"Sudah dong. Aku udah menyiapkan namanya dan yang pasti memakai nama Negara," balas Satria.
Indi menganggukkan kepalanya. "Nama Hadinata berakhir yah berarti. Anaknya Yayah cewek juga, nanti kalau Irene semakin dewasa dan memiliki anak, juga pasti mengikuti nama suaminya. Tidak ada yang melanjutkan nama Hadinata," balas Indi.
"Nda hamil lagi aja, Yang. Bunda masih muda kan, masih 40an tahun. Masih bisa hamil lagi," balas Satria dengan tiba-tiba.
"Ya ampun, Mas. Masak iya, Bundaku abis terima cucu, terus terima anak. Ya, iya Bundaku masih muda, tapi kan hamil lagi apakah tidak berisiko. Malu juga pasti, Mas. Tetangga pasti berbicara yang aneh-aneh," balas Indi.
Secara usia memang Bunda Ervita terbilang muda. Masih kepala empat. Selain itu, wanita ketika belum menopause pastinya memang masih masa subur. Oleh karena itu, masih bisa saja untuk hamil. Namun, pastilah nanti tetangga akan nyinyir dan berbicara macam-macam.
__ADS_1
"Iya, ya ... ya nanti anak kita selanjutnya diberi nama Hadinata, Sayang. Biar enggak hilang namanya," balas Satria.
"Mana boleh Mas? Kan mengikuti nama suami, nama Negara," balas Indi.
"Boleh-boleh aja kok. Biar lengkap dua keluarga di nama anak-anak kita. Negara dulu, nanti selanjutnya Hadinata," balas Satria.
Ide yang aneh dari Satria. Memang masyarakat suku Jawa tidak memiliki marga. Akan tetapi, biasanya para orang tua akan memberikan nama belakangnya untuk keturunannya. Indi juga menyadari bahwa dalam darahnya tidak ada darah Hadinata, hanya Irene satu-satunya keturunan Ayah Pandu.
"Gak apa-apa, nanti kita sematkan nama Hadinata ke anak-anak kita selanjutnya. Oh, iya Yang ... kehamilan kamu sudah berapa minggu loh? Sudah saatnya pemeriksaan adik babies lagi, sudah tinggal menghitung pekan untuk melahirkan dua jagoan kita," balas Satria.
Indi menganggukkan kepalanya. Memang benar bahwa sekarang tinggal menghitung pekan saja untuk bertemu dan menimang kedua bayinya. Selain itu, mereka juga akan kembali memeriksakan kandungannya terlebih dahulu.
...🍀🍀🍀...
Keesokkan Harinya ....
"Tumben Bumil cantik, harum, dan wangi," goda Satria kepada istrinya itu.
"Ngledekin nih," balas Indi.
"Biasanya kan, sepulang kerja langsung ketemu Dokter Arsy. Mana pernah sebelumnya periksa dan kamu secantik ini, udah mandi," balas Satria.
Mendengarkan ucapan suaminya, Indi tertawa. Memang sebelumnya, pulang kerja langsung ke Rumah Sakit. Tidak sempat untuk mandi terlebih dahulu. Barulah sepulang periksa bisa mandi di rumah.
"Akibat udah resign, Mas," balas Indi.
__ADS_1
"Gak apa-apa. Resign juga baru sebulan kok. Kerjaan kamu di rumah menyiapkan untuk kamarnya Twins lebih capek malahan," balas Satria.
Akhirnya Satria melajukan mobilnya menuju ke Rumah Sakit. Dia mengemudikan mobilnya lebih pelan, mengingat kehamilan Indi sudah semakin besar. Terlebih jalanan berlubang pastilah Satria hindari, supaya tidak mengguncang perut istrinya.
Setelah tiba di Rumah Sakit, di poli kandungan, Satria yang mendaftarkan nama Indira terlebih dahulu. Seperti biasanya, dia meminta istrinya itu untuk duduk saja. Setelah menunggu cukup lama, barulah nama Indi dipanggil. Seorang perawat menimbang berat badan Indi terlebih dahulu, dilanjutkan mengukur tensi darahnya. Setelahnya, barulah Indi dipersilakan untuk menemui Dokter Arsy.
"Selamat sore, Dokter," sapa Indi dan Satria bersamaan.
"Sore ... bagaimana kabarnya Mom? Sudah menjelang Hari Perkiraan Lahir nih," kata Dokter Arsy.
"Alhamdulillah, sehat sih, Dokter. Palingan jadi lebih banyak ke kamar mandi. Kadang kalau bersin seperti ada tekanan di kandung kemih, jadinya terasa mau buang urin," jawab Indi.
"Oh, tidak apa-apa, Mom. Hal itu normal karena memang semakin besar usia janin dan berat badannya memang akan menekan kandung kemih. Semangat Mom, tinggal tiga pekan lagi loh!"
Setelahnya, Indi dipersilakan untuk menaiki brankar. Dokter Arsy pun bersiap untuk memeriksa kondisi janin dengan USG. Setelah sebelumnya USG Gell diberikan di perut Indi terlebih dahulu.
"Baik, kita akan lihat kondisi baby nya. Sekarang ... sudah 37 minggu ya Mom. Panjang bayinya masing-masing 40 centimeter dengan berat 2,7 kilogram. Kalau untuk bayi kembar 2,7 kilogram itu sudah terhitung besar, Mom. Biasanya bayi kembar lahir dengan berat badan 2,5 kilogram itu sudah dibilang cukup berat badannya," jelas Dokter Arsy.
Indi menganggukkan kepalanya. Kemudian Indi bertanya kepada Dokter Arsy. "Posisi bayinya bagaimana Dokter? Sudah menjelang HPL, Kira-kira advice dari Dokter untuk persalinan nanti bagaimana?"
"Baik, Mom. Sekarang sih kepala bayinya sudah masuk ke dalam panggul. Tidak ada lilitan juga di badannya. Kalau Mom ingin melahirkan secara normal pun bisa. Perbanyak jalan pagi dan berhubungan dengan suami, Mom. Cairan milik suami kalau di awal kehamilan bisa membuat janinnya pusing, tapi kalau di trimester akhir begini bisa memicu kontraksi nanti dan menguatkan tulang panggul."
"Berisiko enggak, Dok?" tanya Indi.
"Tidak sama sekali, Mom. Aman kok, justru disarankan. Jangan takut, Mom," balas Dokter Arsy.
__ADS_1
Indi sendiri sebenarnya takut, tapi begitulah advice Dokter. Yang penting dicoba dulu. Berikhtiar terlebih dahulu untuk mencoba yang terbaik.