
Selang beberapa bulan berlalu, ketika setiap hari semua makhluk hidup semakin bertumbuh. Begitu juga dengan Nakula dan Sadewa yang esok akan genap berusia tiga tahun. Tidak terasa, rasanya seperti baru kemarin Indi berjuang di ruang bersalin dan melahirkan putra kembarnya, sekarang Nakula dan Sadewa sudah berusia tiga tahun.
Malam hari ketika Nakula dan Sadewa sudah tertidur, Indi menatap kedua putranya itu. Benar-benar wajah mereka berdua berbeda. Walau kembar, tapi tidak identik.
"Kenapa, Yang?" tanya Satria dengan memeluk istrinya itu dari belakang.
"Mengingat masa-masa dulu melahirkan mereka berdua. Gak kerasa besok Nakula dan Sadewa sudah mau tiga tahun. Waktu cepat sekali bergulir," kata Indi.
Rasanya seperti baru kemarin Indi berbadan dua dan menikmati proses demi proses kesakitan hingga akhirnya kedua jagoannya lahir. Sekarang sudah tidak ada lagi box bayi. Nakula dan Sadewa sudah tidur sendiri di dalam kamar yang terkoneksi dengan kamar milik Indi dan Satria. Walaupun terkadang, pintu penghubung sengaja tidak ditutup sehingga kalau Nakula dan Sadewa terbangun, mereka mendengar dan bisa menolong kedua bayinya terlebih dahulu.
"Sekarang lebih bahagia melihat Nang-Nang sudah semakin besar. Walau bicaranya belum lancar, tapi Nang-Nang sudah pinter," kata Satria.
Secara verbal memang kata yang dikuasai oleh Nakula dan Sadewa belum banyak. Akan tetapi, kedua anaknya itu tahu instruksi. Selain itu, Indi menyadari bahwa perkembangan otak anak laki-laki tidak sama dengan anak perempuan. Anak perempuan otak kanannya yang lebih cepat berkembang, sehingga anak perempuan akan mudah belajar dan meningkat secara kognitif. Akan tetapi, anak laki-laki otaknya baru siap belajar ketika berusia enam tahun. Otaknya baru seimbang kala berusia 16 tahun. Oleh karena itu, anak laki-laki seakan tertinggal dengan teman sebayanya yang perempuan yang seolah terlihat lebih pintar.
"Benar, Mbak. Penting kita selalu memberikan stimulasi untuk Nang-Nang, Mas. Mereka bertumbuh dan belajar setiap harinya, begitu juga dengan kita berdua yang juga belajar dan bertumbuh setiap hari," kata Indi.
Mendengar apa yang Indi katakan, Satria pun segera menganggukkan kepalanya. Yang dikatakan istrinya sangat benar. Anak-anak menumbuhkan orang tua membuat para orang tua mengenali anaknya, menambah kesabaran, dan juga menemukan solusi demi solusi yang dihadapi anak-anak.
"Nang-Nang sudah tiga tahun, Sayang ... bagaimana kalau kita menambah momongan lagi? Katanya kalau di rumah anaknya sama-sama balita itu enak, menghandlenya lebih mudah. Kalau satu batita dan satunya balita itu lebih susah, karena kebutuhannya sudah jauh berbeda. Yaitu kalau kamu mau sih. Aku tidak memaksa, hanya mengemukakan pendapatku saja," kata Satria.
Indi kemudian menganggukkan kepalanya. Dia juga paham dengan apa yang dikatakan oleh suaminya itu.
"Aku juga enggak memakai kontrasepsi kok, Mas. Kalau hamil ya sudah, kita terima dengan lapang dada. Kalau kembar lagi gak apa-apa emangnya?" tanya Indi.
"Tidak apa-apa. Sedikasihnya Allah saja, Sayang."
Usai itu Indi menundukkan badannya, dia kecup kening dan pipi kedua putranya itu. Begitu pula dengan Satria, setelahnya mereka menuju ke dalam kamarnya. Beristirahat terlebih dahulu dan esok memberikan ucapan selamat ulang tahun untuk putranya yang bertambah usia.
__ADS_1
...🍀🍀🍀...
Keesokan Harinya ....
Pagi hari usai menyiapkan sarapan, Indi menuju ke dalam kamar kedua putranya. Sengaja di dalam kamar Nakula dan Sadewa, tempat tidur hanya diletakkan di lantai untuk mengantisipasi supaya kedua putranya tak jatuh dari tempat tidur. Mengingat Nakula dan Sadewa kalau tidur gayanya bisa jungkir balik.
"Tumben Mama di sini?" tanya Satria.
"Menunggu My Birthday Boys bangun," balas Indi.
Satria kemudian tersenyum. Dia turut berbaring di sisi ranjang dan memeluk satu putranya.
"Lihat, Sayang. Kamu dikelilingi pria-pria cakep loh. Aku, Nakula dan Sadewa," kata Satria.
Indi terkekeh dan menganggukkan kepalanya. "Benar banget, bodyguard nya Mama capek-capek. Gak cuma satu, tapi tiga," balas Indi.
Saat itu Nakula dan Sadewa memang bobonya begitu lucu. Layaknya seekor sloth yang tidur di ranting pohon. Satria sampai geleng kepala sendiri melihat gaya tidur kedua putranya yang kelihatan kompak.
"Lucu banget yah, Mas. Bibirnya tuh, si Sadewa mirip kamu," balas Indi.
Satria tersenyum lagi, tapi ketika Indi menilai anaknya mirip Satria, dia merasa senang. Artinya memang anaknya mewarisi dirinya. Itu membuat Satria merasa senang.
Hingga akhirnya kedua putranya pun terbangun. Indi dan Satria kompak mengucapkan selamat ulang tahun kepada keduanya.
"Selamat ulang tahun, Nakula dan Sadewa! My Birthday Boys. Doanya Mama dan Papa, kalian berdua tumbuh sehat dan bahagia yah ...."
Sementara Nakula dan Sadewa yang terbangun seolah belum tahu apa itu ulang tahun. Dia malahan masuk lagi ke pelukan Mama dan Papanya, dengan mata beningnya yang berkedip beberapa kali. Akhirnya Indi menciumi pipi kedua putranya itu.
__ADS_1
"Mama sayang banget sama kalian," kata Indi.
"Papa juga sayang banget sama kalian," kata Satria.
"Ama ... Apa," kata Nakula.
"Mma ..., Mpa," kata Sadewa.
Indi kemudian menganggukkan kepalanya. "Benar, ini Mama dan Papa, Nang. Mama dan Papanya Nakula dan Sadewa."
"Nang ...."
Sadewa berkata demikian dengan menunjuk dirinya sendiri. Indi kemudian tersenyum. Mungkin karena terbiasa dipanggil Nang, Sadewa merasa dirinya bernama Nang.
"Nama kamu itu Sadewa, dan ini Nakula. Ini ... Nakula ... ini ... Sadewa."
Indi mempertegas nama kedua anaknya. Supaya Nakula dan Sadewa juga tahu nama asli mereka berdua. Sebab, Nang-Nang itu hanya panggilan saja karena keduanya adalah anak laki-laki. Agaknya Indi juga merasa harus memanggil nama anak-anaknya dengan nama asli mereka. Sebab, nama juga adalah sebuah identitas seseorang.
Pagi itu, keluarga Satria sedikit bermalas-malasan. Merayakan ulang tahun kedua putranya dengan banyak bonding berempat. Hingga akhirnya menjelang sore hari, ada keluarga Hadinata dan keluarga Negara. Seperti biasa kedua Eyang itu datang dan memberikan kejutan untuk kedua cucunya.
"Selamat ulang tahun ketiga cucu-cucunya Eyang," kata keempat Eyang secara bersamaan.
Nakula dan Sadewa justru senyum-senyum sendiri. Setelah itu keduanya heboh melihat kue ulang tahun dengan lilin di sana. Anak-anak yang kadang juga bertingkah absurd.
"Makasih Eyang ... ayo, ucapkan terima kasih dulu," kata Indi.
"Acih ...."
__ADS_1
Keduanya mengatakan itu dengan bertepuk tangan sendiri. Hingga akhirnya para eyang bergantian memeluk dan mencium pipi cucu-cucunya itu. Hari ulang tahun yang bahagia dengan keluarga dan para Eyang. Tawa Nakula dan Sadewa juga menggema di dalam rumah, seakan membuat rumah itu begitu ramai dengan tawa keduanya yabg terdengar begitu renyah.