Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Penolakan Satria


__ADS_3

Satria menunggu hingga celah untuk berbicara untuknya tiba. Hingga akhirnya, ketika Rama Bima dan Pak Atmaja mengambil jeda, Satria berusaha untuk berbicara. Pemuda menuturkan isi hatinya dengan sopan.


"Satria mohon izin untuk berbicara ..., bukannya Satria sibuk bekerja sampai tidak memikirkan perihal jodoh. Sebenarnya sudah ada seorang gadis yang dekat di hati Satria. Hanya saja, satu hal yang membuat Satria belum bisa memilikinya. Jadi, mohon maaf Satria secara pribadi tidak bisa menerima perjodohan ini," kata Satria.


Ini adalah caranya menuturkan isi hatinya dengan jujur. Sebab, bagaimana pun Satria merasa cintanya hanya untuk Indi. Tidak sanggup hatinya menerima gadis lain, walau itu adalah Karina yang sudah dia kenal sejak lama.


"Kenapa lagi sebenarnya, Satria?" tanya Karina sekarang.


Ini bukan kali pertama Karina mendengar hal yang serupa. Karina juga pernah mendengarnya kala pertama kali bertemu dengan Satria di gedung baru Negara saat berada di Jogjakarta dulu.


"Aku sudah memiliki gadis yang dipilih hatiku. Jadi, mohon maaf semuanya ... Satria tidak bisa."


"Satria ...."


Rama Bima menunjukkan kekesalannya. Dia sangat kesal dengan Satria yang menolak perjodohan itu. Bahkan sekarang Satria terang-terangan menolak Karina.


"Anak zaman sekarang, Bim ... punya pilihannya sendiri-sendiri," kata Pak Atmaja.


"Bagaimana tradisi harus dijalankan," balas Rama Bima.


Merasa bahwa perjodohan itu tak akan terlaksana karena Satria menolak. Akhirnya Pak Atmaja mengajak Karina untuk pulang saja. Mau dilanjutkan yang ada justru Satria akan semakin menolak.


"Maaf," kata Rama Bima kepada Pak Atmaja.


"Tidak apa-apa. Bukti kalau putramu sudah dewasa. Bisa memilih dan menentukan apa yang dimaui hatinya," balas Pak Atmaja.


Begitu keluarga Atmaja telah pulang, Rama benar-benar marah kepada Satria. Baginya Satria sudah bersikap kurang ajar. Pria menjelang paruh baya itu pun berkacak pinggang sekarang.


"Apa-apaan kamu, Satria ... kamu pikir tindakan dan sikap kamu ini benar?" tanyanya dengan suara keras.


"Sudah, Mas ... jangan marahi Satria," balas Bu Galuh.


Bu Galuh sangat tahu bagaimana suaminya kalau sedang emosi. Yang Bu Galuh takutkan adalah jika sampai Ramanya mengangkat tangan kepada Satria.

__ADS_1


"Hasil didikan kamu! Dia sudah kurang ajar!"


Bu Galuh turut menerima amukan kekesalan suaminya. Rama Bima menilai bahwa Satria menjadi sosok seperti itu karena didikan ibunya. Berani membantah orang tua.


"Rama!"


Satria membalas dengan suara keras. Itu dia lakukan kala Ramanya hendak menampar ibunya sendiri. Tindakan Ramanya yang seperti ini yang sejak dulu sangat dibenci Satria.


"Kenapa, mau membela ibumu ini? Iya?" tanya Rama Bima.


"Iya, Rama yang terlalu kolot. Rama harusnya menyadari zaman sudah berubah. Sia-sia Bu Kartini berjuang untuk emansipasi wanita, jika para pria masih menindas dan memperlakukan wanita seperti ini!"


Satria tidak menahan emosinya. Dia luapkan semuanya. Dia tuturkan semua karena menilai apa yang dilakukan Ramanya sangat salah.


"Diam kamu, Sat!"


"Kalau mau melampiaskan amarah, pukul saja Satria, Rama. Jangan pukul Ibu!"


"Sudah ... jangan bertengkar ... lagi."


Suara Bu Galuh bercampur isakan terdengar sekarang. Dia ingin suami dan anaknya tidak lagi bertengkar. Sakit hatinya melihat pertengkaran dua orang yang harusnya saling menyayangi satu sama lain.


"Rama akan menjodohkan kamu, Sat. Tidak peduli dengan pilihan hatimu itu," kata Rama Bima.


"Bukan berdarah biru, tak memiliki nasab bukan membuat gadis menjadi hina, Rama. Satria bahkan siap pergi dari rumah. Dengan atau tanpa restu dari Rama, Satria akan menikahi Indira."


Satria sudah membulatkan tekadnya. Jika bersabar tidak menuai hasil, yang ada Ramanya justru semakin keras, maka Satria juga akan sampai pada keputusannya bahwa dia bisa menikahi Indira dengan atau tanpa restu Ramanya.


"Rama tidak akan merestui!"


"Satria sebagai pria tidak membutuhkan wali nikah, Rama. Cukup restu dari Ibu saja. Ibu sudah merestui Satria dan Indira. Jadi, Satria akan pergi ke Jogjakarta dan segera meminang Indi," balas Satria.


"Jangan bodoh kamu, Sat. Itu hanya akan menjadi aib!"

__ADS_1


Rama Bima kembali membentak. Dia sangat tidak setuju dengan Satria. Menikahi gadis tanpa nasab hanya akan menjadi aib di dalam keluarga besarnya.


"Satria tak peduli, Rama. Cinta bisa menutupi aib."


Satria hendak pergi meninggalkan rumah. Selama ini, dia sudah begitu melunak dengan Ramanya. Sekarang, Satria akan melawan dengan cara lain.


"Tunggu, Sat! Berani kamu keluar dari rumah ini, Rama akan mencoret namamu dari ahli waris keluarga Negara," balas Rama Bima.


Senyuman penuh kegetiran tercetak jelas di wajah Satria. Disertai dengan gelengan kepala secara samar.


"Tidak menjadi ahli waris bukan hal yang Satria genggam, Rama. Satria bisa berusaha sendiri. Berdiri di atas kaki Satria sendiri. Dengan sosok wanita yang tepat, wanita yang mau mendukung Satria kala terpuruk, di sana letak kenikmatan dari sebuah perjuangan," balas Satria.


"Tanpa nama Negara, tidak ada yang mengenal kamu."


"Satria akan buktikan bahwa Satria bisa berjuang, berdiri di kaki Satria sendiri, Rama."


Usai mengatakan itu, Satria masuk ke dalam kamarnya. Dia mengambil koper dan memasukkan pakaiannya. Sementara dokumen penting sudah dia bawa. Yang Satria ingin lakukan adalah pergi ke Jogjakarta. Dia akan menemui keluarga Indi, tanpa restu dari Ramanya, dia ingin meminang Indi.


Jika Ayah Pandu dan Bunda Ervita memberikan restu, Satria akan berusaha membahagiakan Indi dengan caranya. Tidak akan membiarkan Indi kekurangan cinta darinya. Biarkan cintanya saja yang berbicara saja sekarang.


Usai belasan menit kemudian, Satria keluar dari kamarnya dengan membawa koper besar dan ransel kerja miliknya. Satria berjalan mendekat kepada Ibunya yang masih menangis.


"Ibu, maafkan Satria ... jika keputusan Satria melukai Ibu. Namun, Satria ingin lepas dari semua pakem yang menjerat ini. Cinta Satria bisa menerima kekurangan Indi dengan lapang. Doakan Ibu, kiranya anakmu ini bahagia bersama gadis pilihannya," kata Satria.


"Nak ...."


Bu Galuh menangis. Berkata-kata saja rasanya tidak bisa. Terlebih susah rasanya membiarkan Satria pergi.


"Mohon terus doakan Satria, Bu. Satria yakin doa dari Ibu yang mendatangkan kebahagiaan untuk Satria," kata Satria dengan memeluk ibunya.


Usai itu, Satria menatap kepada Ramanya. "Terima kasih untuk semuanya, Rama. Kali ini Satria sudah memilih jalan Satria sendiri. Doa Satria, semoga Rama bisa melembutkan hatinya. Apa yang Rama anggap baik, belum tentu baik untuk Satria. Walau begitu, ini sudah menjadi keputusan Satria. Satria akan ke meminang Indira."


Usai berpamitan, Satria keluar dari rumahnya. Jika mencintai Indi membuatnya keluar dari rumah, itu akan Satria lakukan sekarang. Jika bersatu dengan Indi membuatnya membayar sangat mahal, Satria akan membayarnya. Biarkan hatinya memilih dan menentukan bahwa kebahagiaannya Satria hanya bersama dengan Indi saja.

__ADS_1


__ADS_2