Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Ada Harapan yang Disematkan


__ADS_3

Malam Harinya ....


Entah Nakula dan Sadewa yang sedang kooperatif malam ini atau memang keduanya yang kecapekan bermain sepanjang hari hingga melewatkan tidur siang. Sehingga, malam harinya kurang lebih jam 19.00, Nakula dan Sadewa sudah tertidur. Wajah Satria pun seketika menjadi cerah dan sumringah.


"Sayang," panggil Satria kepada Indi yang tengah merapikan tempat tidur di dalam kamarnya sendiri.


"Hm, ada apa Mas?"


"Nakula dan Sadewa udah tidur. Kebutuhan Papanya jadi dong?" tanya Satria. Itu sejujurnya adalah pertanyaan modus ala Satria. Entah, rasanya dalam hati sangat senang ketika kedua putra kembarnya sudah tertidur lebih cepat dibandingkan biasanya.


"Pasti modus deh," balas Indi.


Satria kemudian tertawa. Yang pasti hanya Indi saja yang tahu bahwa dia sedang modus. Satria kemudian berbicara lagi kepada istrinya.


"Katanya Sadewa mau adik bayi. Ya, ayo kita coba dulu. Biar ada adik bayi di perutnya Mama Indira," balas Satria.


"Coba apaan? Kalau gak berhasil, nanti kayak beli lotre deh, 'Coba Lagi'," balas Indi.


Mendengarkan ucapan istrinya, Satria malahan yang tertawa. Memang tujuannya seperti itu. Kalau percobaan kali ini gagal atau tidak berhasil, maka masih ada kesempatan yang lain untuk coba lagi, lagi, dan lagi. Sampai benar-benar berhasil. Sebab, tidak mungkin juga satu kali berhubungan langsung positif. Harus beberapa kali hingga pembuahan itu sendiri berhasil.


"Aku bahkan sudah baca-baca tadi, kalau mau baby cewek. Kamu di atas, Yang," kata Satria sembari berbisik di telinga Indi.


"Emang iya? Ngaruh emangnya?" Indi rasanya tak percaya dengan apa yang baru saja disampaikan oleh suaminya itu.


Satria kemudian menunjukkan layar handphonenya dengan artikel yang tadi sempat dia baca. Memang di sana ditulis demikian. Selain itu, juga pola makan harus dijaga. Disarankan mengonsumsi banyak sayuran dan kacang-kacangan.


"Ini yang bilang. Situsnya terpercaya juga. Tidak ada salahnya kan kalau kita coba. Ya, aku sih andaikan memiliki baby lagi pengennya cewek. Kan sudah punya dua cowok, kalau diberi Allah baby cewek kan seneng. Yang cantik di dalam rumah bukan hanya Mama Indira," kata Satria merayu.


"Yakin enggak, Nang-Nang gak akan bangun?" tanya Indi.


Satria kemudian menganggukkan kepalanya. "Kali ini sih, aku yakin, Sayang. Mau? Kali ini bukan sekadar bonding dan menjaga keharmonisan, tapi juga ada harapan untuk menambah momongan lagi. Mau?"


Usai mengatakan itu, Indi rupanya tampak berpikir-pikir dulu terlebih dahulu. Kemudian Indi menganggukkan kepalanya, tanda bahwa dia setuju. Walau pun proses terjadinya pembuahan sepenuhnya adalah kehendak Allah, tapi keduanya mau untuk mencobanya terlebih dahulu.


Satria tersenyum senang sekali rasanya ketika Indi tidak menolak. Kali ini harapan di dalam hati Satria begitu besar untuk menambah momongan. Sebelum usia menjadi kepala tiga, setidaknya Nakula dan Sadewa sudah memiliki adek. Setelah itu, Satria juga berpikir untuk menutup pabrik saja.

__ADS_1


Satria kemudian menutup pintu penghubung terlebih dahulu, tidak sepenuhnya menutup, tapi setidaknya ketika pintu didorong akan terdengar deritnya. Kemudian, Satria mematikan lampu di dalam kamar utama, menggantikannya dengan lampu tidur. Suasana di dalam kamar pun menjadi remang-remang. Dia mengajak Indi berdiri terlebih dahulu, membiarkan punggung istrinya mengenai sisi tembok kamar. Sudah lama tidak pemanasan dengan berdiri, karena itu Satria ingin melakukannya.


"Cantik banget," kata Satria perlahan dengan menelisipkan rambut Indi ke belakang telinga.


Wanita yang baru saja mendapat pujian dari suaminya itu pun tersenyum. "Papa kayak pasangan muda, pengantin baru aja. Padahal ekornya udah dua," kata Indi.


"Biar cinta kita berdua semakin bersemi, Sayang," kata Satria disertai dengan mendaratkan kecupan di pipi istrinya.


Dua wajah saling menggoreskan senyuman. Memang mereka bukan lagi pengantin baru, tapi menurut Indi sendiri suaminya itu selalu saja bisa membuat dirinya berbunga-bunga. Bahkan setiap kali berduaan dengan Satria, jantungnya berdetak lebih cepat melebihi ambang batasnya. Deg-degan rasanya, bercampur dengan rasa malu juga.


Setelahnya, Satria mulai memangkas jarak wajahnya yang tak seberapa. Pria itu sedikit menunduk dan kemudian dengan perlahan mulai menjatuhan kecupan demi kecupan di dua belah lipatan bibir istrinya. Bibir yang memberikan candu bagi Satria. Sebab, satu kali mengecupnya tidak akan pernah cukup. Maka, Satria mengulanginya kali dengan dengan lebih dalam, sembari ada usapan yang Satria lakukan dengan ujung lidahnya.


Indi menyiapkan dirinya dengan mulai memejamkan mata. Dia sambut kecupan dan usapan suaminya itu. Indi juga melakukan hal yang serupa terhadap suaminya sebagai bentuk saling memberi dan saling menerima. Perlahan-lahan tapi pasti, Satria mulai memagut bibir istrinya. Awalnya perlahan dan lembut, tapi kemudian berubah menjadi lebih cepat dan napasnya kian memburu.


Lidahnya menelusup masuk dan menggoda rongga mulut Indi yang hangat. Ada kalanya lidah itu memberikan belitan di lidah yang berada di dalam sana. Sungguh luar biasa rasanya. Dalam keadaan berdiri seperti ini, sesekali Indi menjinjitkan kakinya. Benar-benar menikmati bagaimana dalam dan intensnya ciuman suaminya itu.


"Sa ... yang," lenguh Satria perlahan dengan menghisap bibir istrinya.


"Mas ...."


Tangan Indi bergerak meremas perlahan helai-helai rambut suaminya. Sebab, Indi sendiri kian kalang kabut jadinya. Bahkan, tangan Indi perlahan mengusap dada bidang suaminya. Di sana Satria benar-benar mendesis jadinya.


"Ssshhhss, Sayang ...."


Kini, Satria tak cukup hanya menciun Indi. Akan tetapi, dia juga tangannya mulai membelai lekuk demi lekuk feminitas yang ada di sana. Semakin Indi bergerak gelisah, justru membuat Satria kian bersemangat.


Hingga akhirnya, Satria mulai membuka kancing demi kancing di piyama yang dikenakan oleh istrinya. Hingga wadah berenda di sana terlihat, dan piyama bagian atas milik Indi sudah teronggok di lantai.


Dari bibir, wajah Satria bergerak turun dan menjatuhkan kecupan berbalut usapan dengan ujung lidahnya di garis leher Indi yang jenjang dan harum. Semerbak parfum yang manis bisa Satria hirup, dan itu membuat Satria menggila. Aroma manis itu seakan memantik hasrat dalam dirinya.


Sekarang kedua kaki Satria bergerak, dia memandu Indi menuju ke ranjang mereka. Sedikit dorongan dia mendorong tubuh Indi, hingga tubuh wanitanya itu memantul di kasur yang empuk. Lantas Satria mulai menindih istrinya, dengan menahan bobot tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya.


Tidak ada kata yang terucap, tapi tindakan demi tindakan yang Satria lakukan tampak begitu terukur. Hingga lepaskan tali yang menggantung di bahu istrinya. Lantas pria itu mengecupi permukaan kulit yang berada di sana. Satria benar-benar menikmati malam ini, mengingat malam panjang dan waktu yang dimanfaatkan banyak. Oleh karena itu, Satria tidak ingin terburu-buru.


Hingga tangan Satria menyusup ke balik punggung istrinya dan dia lepaskan pengait besi yang bersembunyi di sana. Wadah berenda pun Satria buang begitu saja, hingga bulatan indah itu terpampang nyata. Kian menundukkan wajahnya dan menikmati bulatan indah yang ada di sana. Bukan sekadar kecupan, tapi juga usapan dan hisapan. Satria benar-benar menikmatinya dengan mata terpejam. Walau Indi terengah-engah dan melenguh beberapa kali, tapi Satria tidak akan mengurungkan niatnya.

__ADS_1


Tak hanya hisapan, tangan Satria pun mengombinasikannya dengan remasan memutar, dan pijatan yang benar-benar panas. Kian Indi melenguh, kian Satria bersemangat. Luar biasa rasanya. Hingga Satria menginvansi lembah yang ada di bawah sana.


Usapan lidah berpadu dengan tusukan demi tusukan yang membuat Indi memekik. Bagi Indi suaminya begitu lihai membuatnya seperti lilin yang cahayanya tertiup angin. Kobat-kabit. Luar biasa rasanya, detak jantungnya kian meningkat hingga akhirnya Indi merengek nikmat dengan menggerakkan pinggang dan meliukkan pinggang. Di detik ini, Indi sendiri benar-benar gila. Dia sampai membawa tangan suaminya ke bulatan indahnya.


Satria sangat tahu apa yang diinginkan oleh Indi, tangan itu mulai meremas dan memilin ujungnya perlahan. Luar biasa rasanya. Akan tetapi, Indi tak mau egois, dia kemudian mengubah posisinya. Dia mulai memberikan kenikmatan yang sama untuk suaminya. Pangkal hingga ujung, Indi sapa dan benamkan ke dalam rongga mulutnya. Seketika Satria menggeram hingga garis rahangnya tampak tegas, dan kemudian matanya terpejam.


"Nikmat, Sayang," desisnya dengan memegangi rambut Indi supaya tidak menutupi wajah istrinya.


Beberapa menit berlalu, Satria benar-benar memuncak sekarang. Hingga akhirnya, dia memberikan instruksi kepada istrinya. "Di atas yah?"


Untung saja Indi tidak banyak protes. Dia segera memposisikan dirinya, tentunya dengan dibantu suaminya. Oh, Satria menggila. Beda posisi, sangat beda posisinya, beda kenikmatannya. Satria mengakui itu dalam hati.


"Pelan, Sa ... yang. Hh," kata Satria.


"Aku meremang," aku Indi dengan napas terengah-engah.


Satria menggerakkan tangannya dengan begitu nakal. Lekuk demi Lekuk feminitas di sana dia belai perlahan. Indi pun kian meremang. Luar biasa rasanya aliran listrik ribuan volt seolah menyengat dirinya.


Satria akhirnya membuka matanya, dia menikmati keindahan yang ada di depan matanya. Akan tetapi, sekarang bukan sekadar mengejar kenikmatan, tapi ada harapan yang sama-sama mereka semai dalam hatinya.


"Cantik banget," kata Satria lagi.


Indi tersenyum, dia menunduk sesaat dan dia kecup bibir suaminya itu. Oh, di detik ini Satria merasa istrinya itu benar-benar panas. Suka sekali dengan sisi lain istrinya yang seperti ini. Semakin lama gerakan seduktif terjadi dengan sendirinya. Ada hentakan bahkan benturan di dalam sana. Bak ada langit-langit yang runtuh, tapi kenikmatannya benar-benar tak terkira.


Hingga akhirnya, Satria menggeram. Dia angkat tubuhnya perlahan dan dia peluk istrinya dengan begitu eratnya. Inilah waktunya Satria tidak bisa menahan dirinya. Ya, dia benar-benar meledak dan pecah dan memenuhi cawan surgawi milik istrinya dengan benih terbaik darinya.


"I love u, Sayang," kata Satria.


"I love u too, Mas ...."


"Kali ini semoga adiknya Nang-Nang on the way yah ... Aku berharap hal itu," kata Satria.


"Aamiin, semoga saja, Mas."


Berusaha menetralkan napas, tanpa melepas penyatuan keduanya. Kali ini, Satria benar-benar berharap bahwa kali ini akan memberikan harapan untuk keduanya. Ada asa yang disemai. Semoga saja memang ada pembuahan terjadi, dan tidak butuh waktu lama keduanya akan segera diberikan momongan.

__ADS_1


__ADS_2