
Sementara itu di pelataran Candi Prambanan, Indi mengobrol dengan Bunda Ervita dan Bu Galuh sembari menunggu para pria kembali. Sebab, Rama Bima, Ayah Pandu, Satria, serta Nakula dan Sadewa belum kembali. Sehingga, mereka masih menunggu.
"Kok lama yah? Katanya tadi cuma ke Candi Siwa, kok sudah beberapa menit belum kembali?" tanya Bu Galuh.
"Ditunggu dulu, Bu ... kaum Bapak biasanya begitu. Bilangnya hanya ke Candi Siwa, nanti ujung-ujungnya memasuki semua candi," balas Bunda Ervita.
Bu Galuh tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Biasanya memang begitu nggih, Bu. Bilangnya apa, pamitnya apa, kenyataannya apa. Sampai sudah hafal yah, Bu."
Apa yang dikatakan Bu Galuh benar adanya. Terkadang begitulah para kaum Bapak. Apalagi para Bapak yang sponstanitas sehingga memang kadang mereka bertindak random. Nanti kalau sudah baru menambah laporan tadi ke mana saja.
"Tidak apa-apa, Ibu. Para Eyang Kakung baru bernostalgia ke Candi Prambanan dengan cucu-cucunya. Rama juga kelihatan senang banget tadi," balas Indi dengan tersenyum.
"Benar kok Mbak Indi. Dari kemarin sudah berkata mau gendong cucunya ke Candi. Katanya walau Eyangnya mulai menua masih kuat menggendong cucunya dan menaiki candi," cerita Bu Galuh.
Sekarang Bunda Ervita dan Indi sama-sama tertawa. Tidak mengira bahwa Rama Bima sangat excited untuk berwisata candi dengan cucu-cucunya. Itu membuat Indi senang malahan.
"Semangat sekali yah, Bu," balas Bunda Ervita.
"Iya, Bu. Kalau di Solo itu Rama itu sering cerita kangen ke Nang-Nang, tapi karena tinggalnya jauh jadi jarang bertemu. Makanya kalau sudah bertemu Nang-Nang itu pengennya gendong-gendong terus," cerita Bu Galuh.
__ADS_1
Mungkin masih karena cucu-cucu pertama, sebagai Eyang juga baru seneng-senengnya sehingga sering kangen. Terlebih Rama Bima tinggal di Solo, dan Satria tinggal di Yogyakarta. Walau Solo dan Jogja tidak seberapa jauhnya, tapi sebagai pengusaha Rama Bima juga bisanya ke Jogja menunggu hari libur.
"Kalau rumahnya dekat, sudah dijenguk setiap hari, Bu," sambung Bu Galuh.
"Bahagia menjadi Eyang ya, Bu. Dulu, anak-anak kecil setelah mereka besar dan sekarang ada cucu itu bahagia banget. Bisa gendong bayi lagi itu menyenangkan sekali. Ayah Pandu juga begitu. Apalagi kami tidak memiliki anak laki-laki kan, jadi senang ketika punya cucu laki-laki," balas Bunda Ervita.
"Minta maaf sebelumnya, berarti sama Pak Pandu itu hanya memiliki satu putri saja nggih Bu? Kenapa enggak kepikiran memiliki dua atau tiga anak, biar Mbak Indi adiknya banyak," tanya Bu Galuh dengan lebih hati-hati.
Bunda Ervita kemudian tersenyum. "Iya, hanya satu Irene saja, Bu. Waktu itu sebenarnya saya dan Ayahnya masih muda, tapi Ayahnya dulu trauma menemani saya melahirkan. Melihat langsung saya kesakitan, melahirkan, sampai dijahit itu katanya gak sampai hati. Gak mau membuat saya kesakitan lagi. Usai itu Ayahnya berkata sudah anaknya dua saja Indi dan Irene. Keduanya sama untuk ayahnya. Tidak membedakan Indi dan Irene. Ya itu luar biasanya Ayahnya Indi, Bu. Dari kecil selalu sayang sama Indi," balas Bunda Ervita.
Cerita dari Bunda Ervita membuat Bu Galuh terharu. Benar-benar melihat ada kasih sayang ayah sambung dengan anaknya yang sangat besar dan tulus.
"Sangat baik nggih, Bu. Mohon maaf, biasanya image ayah tiri, ayah sambung ke anak perempuan itu kurang baik. Tak jarang melakukan pelecehan juga. Seperti di berita-berita itu, Bu. Saya juga melihat dan merasakan Pak Pandu yang sangat sayang dengan Mbak Indi. Luar biasa, Bu," balas Bu Galuh.
"Kamu bersyukur Mbak Indi," kata Bu Galuh dengan menepuk bahu menantunya itu.
"Di hidup Indi yang tidak sempurna ini, Indi banyak bersyukurnya Ibu. Dari anak tanpa nasab, akhirnya Tuhan karuniakan ayah yang sangat baik. Gadis tanpa nasab, akhirnya dipinang putra ningrat. Lantas disayangi Ibu dan Rama. Semua karena anugerahnya Tuhan semata," balas Indi.
Bu Galuh tersenyum mendengar jawaban menantunya itu. Jika sudah berbicara mengenai anugerah Tuhan seakan tidak akan ada habisnya untuk Indi sendiri. Banyak yang Tuhan lakukan untuk hidupnya. Bahkan sesuatu di mana dia tidak layak menikmatinya, tapi Tuhan beri kesempatan untuk mencicipi kebahagiaan itu.
__ADS_1
"Luar biasa ya, Mbak. Sekarang Rama malahan sayang, sering bersyukur. Apalagi dulu usai bertemu kawannya dan mendengar kabar anaknya. Wah, Rama menjadi sangat bersyukur memiliki menantu baik-baik. Kadang manusia begitu sih, terlalu memberikan penilaian di awal. Padahal, sebenarnya tidak begitu," balas Bu Galuh.
Bunda Ervita dan Indi tersenyum. Sudah tidak ada perasaan menyalahkan semuanya, tapi justru melihat semua itu sebagai perbuatan Tuhan semata. Yang bisa membolak-balikan hati manusia hanya Tuhan. Sehingga, yang bisa melembutkan hati Rama Bima adalah Allah semata.
Hampir setengah jam berlalu, barulah para kaum pria kembali. Rama Bima dan Ayah Pandu menggendong cucunya satu-satu, sementara Satria melenggang karena tidak menggendong anaknya.
"Itu Nang-Nang ... wah, digendong Eyang Kakung semua," kata Bu Galuh.
"Iya, Nakula dan Sadewa. Wah, ayahnya bisa santai. Eyang Kakungnya enggak berebut gendong cucu," balas Bunda Ervita.
"Nambah lagi, Mbak Indi. Itu Nakula dan Sadewa sudah satu tahun. Sudah gak apa-apa kalau punya adik. Kalau bisa sih gantian cewek, biar bisa diajak Eyang Putri shopping dan ke salon nanti," balas Bu Galuh.
"Setuju, Bu. Saya kalau ke Mall itu sering gemas dengan baju anak kecil yang lucu-lucu. Pengen cucu cewek jadinya," balas Bunda Ervita.
"Nanti dijahitkan Eyang Ervi dress batik yang lucu-lucu nggih," balas Bu Galuh dengan tertawa.
Rupanya para Eyang Putri sudah menginginkan cucu lagi dan kalau bisa cewek. Indi hanya tertawa saja. Sebab, kalau pun ingin menambah momongan menunggu waktu Nakula dan Sadewa sudah lepas ASI. Setidaknya kedua putranya mendapatkan ASI Ekslusif dan terpenuhi nutrisinya. Barulah nanti Indi akan memikirkan untuk menambah momongan lagi.
"Nunggu satu tahun lagi saja, Ibu. Biar selesai ASI ekslusif dulu," balas Indi.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Mbak Indi. Jangan jadikan ini sebagai desakan atau tuntutan. Semua kembali ke Mbak Indi dan Satria. Ibu selalu mendukung dan mendoakan yang terbaik."
Indi menganggukkan kepalanya, memang dia tidak keberatan. Hanya saja sudah ada rencana sebelumnya bahwa Indi menginginkan Nakula dan Sadewa terpenuhi dulu kebutuhan afeksi dan juga nutrisinya. Setelah itu, memang dia dan Satria sudah berdiskusi untuk menambah momongan, hanya saja tidak sekarang. Satu tahun lagi.