Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Suporter Terbaik untuk Bumil


__ADS_3

Seperti sudah diketahui sebelumnya ketika kehamilan Indi sudah menginjak 36 minggu justru posisi bayinya berubah. Ya, sekarang bayi kembarnya justru dalam posisi melintang. Itu tentu membuat Indi sendiri menjadi cemas.


Satria sendiri sudah mengatakan supaya Indi tak cemas dan mengikuti instruksi dokter Arsy terlebih dahulu. Namun, pada kenyataannya Indi juga masih cemas.


"Mas, minta tolong aturin timer di handphone yah. Mau menung-ging dulu sepuluh menit. Katanya harus banyak melakukan posisi ini supaya posisi bayinya muter," kata Indi.


Satria pun segera mengambil handphonenya dan mengatur timer sepuluh menit seperti yang Indi mau. Kemudian mulailah Indi melakukan saran dari dokter supaya posisi bayinya bisa berputar dan mulai masuk ke dalam tulang panggul. Satria pun membantu istrinya itu.


"Bagian pinggul agak diangkat, Sayang. Agak naik," kata Satria.


Satria memberikan instruksi sembari mengamati video di Youtube yang memang diikuti oleh Indi. Sebisa mungkin, Satria berusaha membantu istrinya. Memang Indi yang mengandung, tapi Satria turut serta ambil bagian dalam usaha dan kegiatan yang dilakukan oleh istrinya. Selain itu, Satria juga sadar bahwa istrinya itu diam-diam sesungguhnya sedang cemas.


"Sesak napas enggak, Sayang?" tanya Satria lagi.

__ADS_1


"Hm, enggak ... belum sih Mas. Usahanya sampai kayak gini yah? Padahal dulu hamil Nakula dan Sadewa aja posisi bayinya sudah benar. Masak babies ini berubah posisinya ketika memasuki Trimester tiga," kata Indi.


Secara tidak langsung sebenarnya Indi sedang mengeluh. Ya, dia mengeluhkan posisi bayinya yang berubah ketika memasuki Trimester tiga. Padahal hanya tinggal tiga hingga empat pekan saja masa bersalin akan tiba.


"Ya, setiap kehamilan punya cerita, Sayang. Nakula dan Sadewa tentu beda dengan Babies Girls kita kali ini. Mereka mau beda, gak pengen seperti Mas Nang-Nang dulu," balas Satria dengan sedikit tersenyum.


"Iya kali ya Mas. Biar kita ingat juga yah perjuangannya hamil pertama dan hamil kedua," balas Indi.


Waktu sepuluh menit akhirnya berlalu, Indi juga menyelesaikan untuk posisi menung-gingnya. Sepuluh menit dengan perut yang begitu besar dan melakukan posisi itu membuat terasa engap. Bahkan keningnya juga berkeringat.


"Makasih Papa. Kamu best banget deh. Aku padahal belum meminta loh, tapi udah kamu ambilin air minum duluan."


"Kadang kalau udah sama-sama sayang dan cinta, komunikasi itu tak harus berbicara. Sudah terkoneksi aja dari hati ke hati," balas Satria.

__ADS_1


Indi yang mendengarkan ucapan suaminya kemudian tertawa. Apa benar seiring dengan lamanya waktu yang sudah dilewati berdua, kadang kala membuat komunikasi itu bisa terjadi dari hati ke hati? Namun, Indi juga kadang bisa mengambil sikap ketika suaminya itu hendak membutuhkan sesuatu. Dengan sendirinya Indi pun sudah bisa menerka.


"Kerasa enggak gerakan Babiesnya, Yang?" tanya Satria.


"Ini dia bergerak. Nendang-nendang," balas Indi.


Satria pun mendekat, dia membawa kedua telapak tangannya mengusap perlahan perut istrinya agar dia bisa merasakan pergerakan bayi di perut istrinya itu. Kemudian Satria mendekatkan wajahnya ke perut istrinya.


"Hei Babies ... ini Papa. Yuk, posisinya yang bener yuk, supaya nanti bersalinnya juga enak. Mama dibantuin ya, Babies. Nanti kalau kalian sudah lahir, Papa gendong yah ...."


Indi tersenyum mengamati suaminya itu. "Mas, kamu suporter terbaiknya aku deh," kata Indi kepada suaminya.


"Oh, ya harus dong Sayang. Merah Putih di dadaku. Mama Indira di hatiku."

__ADS_1


Keduanya pun tertawa terbahak-bahak bersama. Makin hari, makin ada aja cara Satria menghibur istrinya itu. Sekadar gombalan receh saja berhasil membuat Indi tertawa dan mengalihkan kecemasannya sebelum masa persalinan tiba. 🥰


__ADS_2