Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Mau Melahirkan Normal atau Caesar?


__ADS_3

Masih melanjutkan pemeriksaan, sekarang USG Gell di perutnya Indi sudah dibersihkan. Hasil pemeriksaan dengan USG sudah dicetak oleh Dokter Arsy, tapi Indi dan Satria masih melanjutkan untuk konsultasi. Sebab, Indi merasa masih perlu menanyakan sesuatu.


"Jadi bagaimana Mom, mau melahirkan normal atau Caesar? Kalau normal, kandungan Mom juga baik, kedua jagoan juga sehat dan sudah masuk ke dalam panggul. Kalau Caesar, saya sarankan di 39 minggu nanti sudah bisa dilahirkan bayinya," kata Dokter Arsy.


"Sakit mana, Dok?" tanya Indi.


Pertanyaan yang sangat wajar untuk wanita yang tidak pernah memiliki pengalaman melahirkan sebelumnya. Sebab, ketika mengingat tentang persalinan pasti akan mengingat tentang rasa sakit yang menyertainya. Indi pun menanyakan demikian kepada Dokter Arsy.


"Sebenarnya dua-duanya sakit ya, Mom. Melahirkan normal juga waktu kontraksi dan menambah pembukaan itu akan terasa sakit. Sementara kalau Caesar, pasca melahirkan baru nyeri. Lalu, baik melahirkan normal atau Caesar, seorang Ibu tetaplah Ibu yang sempurna. Tidak boleh mendeskreditkan satu di antaranya. Itu hanya metode persalinannya saja yang berbeda, Mom."


Sebuah pemaparan baik dari Dokter Arsy. Sebab, tak dipungkiri masyarakat awam menilai bahwa melahirkan normal itu menjadikan wanita yang sempurna. Padahal dengan metode Caesar pun, wanita juga berjuang di antara hidup dan mati, berjuang melahirkan bayinya, dan merasakan nyeri sampai tidak bisa langsung berjalan kaki setelahnya.


Indi menganggukkan kepalanya. Dia sangat setuju dengan apa yang diucapkan oleh Dokter Arsy. Mau normal atau Caesar sejatinya para wanita sudah menjadi Ibu yang sempurna. Baik normal atau Caesar para Ibu sudah berjuang, merelakan dirinya merasakan dan menahan rasa sakit bersalin.


"Kamu mau yang mana, Sayang?" tanya Satria kemudian.


"Nah, udah ditanyain langsung sama Suaminya, Mom ... kalau Pak Satria mempertimbangkan yang mana?" tanya Dokter Arsy.


"Saya sih senyamannya Istri saja, Dokter. Yang pasti mau normal atau Caesar, saya akan selalu mendampingi," balas Satria.


Indi tampak terdiam beberapa saat. Tentu saja dia memikirkan jenis persalinan apa yang nanti hendak dia pilih. Sebab, usia kehamilan juga sudah 37 minggu, sudah memasuki pekan terakhir menuju persalinan.

__ADS_1


"Saya coba normal dulu, Dokter. Melahirkan anak kembar bisa normal kan Dokter?" tanya Indi.


"Bisa, sangat bisa, Mom. Paling nanti selisih lahirnya hanya semenit saja. Mulai sekarang banyak jalan kaki, ikuti senam atau yoga, dan berhubungan suami istri, Mom," balas Dokter Arsy.


"Saya takut menyakiti janinnya, Dok," aku Satria.


"Tidak usah takut, Pak. Asal tidak menekan perut dan tidak mengeksplorasi area dada tidak apa-apa. Masih aman," balas Dokter Arsy.


Setelah cukup lama konsultasi dan memeriksakan kehamilannya, akhirnya sekarang Satria mengajak Indi pulang ke rumah. Mungkin masih ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan Indi sendiri. Indi memilih rebahan di ranjangnya, sementara Satria memilih mandi terlebih dahulu karena sejak pulang kerja belum mandi.


Hampir dua puluh menit berlalu, barulah Satria keluar dari kamar mandi. Dia menyusul Indi yang sekarang duduk bersandar di headboard.


"Ngapain Sayangku?" tanya Satria.


Satria menghela napas sejenak, tangannya mengusapi perut istrinya yang sudah sedemikian besar. "Mama Indi yakinnya mau melahirkan gimana? Kalau normal ya normal, kalau Caesar ya Caesar. Pastinya aku akan selalu nemenin dan mendampingi. Jangan takut. Nanti kita lewati semuanya bersama-sama," balas Satria.


"Makin ke sini makin takut," balas Indi.


"Yang paling kamu takutkan apa, Sayang?" tanya Satria sekarang.


"Sakitnya sih, Mas. Katanya melahirkan itu sakit banget. Apa aku kuat yah, Mas?" tanya Indi.

__ADS_1


Dengan cepat Satria menganggukkan kepalanya. "Pasti kuat, Sayang. Semisal kamu enggak kuat, kamu dan aku, kita ... memiliki Allah yang akan menguatkan kita berdua. Memberikan kekuatan lebih untuk kita berdua. Jangan takut," balas Satria.


Usai itu, Satria segera memberikan pelukan untuk istrinya. Satria tahu menjelang persalinan banyak hal yang dicemaskan oleh istrinya. Oleh karena itu, Satria pun akan berusaha mengakomodasi kecemasan itu dan menunjukkan kepada Indi bahwa dia selalu ada dengan suaminya.


"Kalau yang itu Mas?" tanya Indi dengan lirih.


"Hm, itu yang mana?" tanya Satria dengan mengurai pelukannya.


"Advicenya Dokter Arsy tadi," balas Indi.


"Kamu mau?"


"Gak tahu juga."


Keduanya lantas sama-sama tersenyum sendiri. Aneh rasanya mengatakan itu. Akan tetapi, juga sedikit khawatir jika sampai menyakiti janinnya walau Dokter sebelumnya sudah memberikan penjelasan bahwa hubungan suami istri itu aman dan juga justru disarankan untuk menguatkan otot-otot di tulang panggul. Bagi Indi dan Satria ini juga hal baru yang mereka ketahui bahwa mereka disarankan untuk berhubungan.


"Mau sekarang?" tanya Satria.


"Jangan sekarang, besok aja deh. Ya sudah, bobok yuk, Mas. Besok pagi temenin jalan-jalan sehabis sholat subuh yah, Mas," pinta Indi.


Satria kemudian menganggukkan kepalanya. "Siap, Sayangku. Besok usai sholat subuh kita jalan-jalan bersama yah. Kita lakukan stimulasi untuk bisa melahirkan dua baby secara normal seperti keinginan kamu. Aku akan mendampingi kamu, Sayang."

__ADS_1


Indi merasa lebih lega. Persalinan akan seperti apa nanti, agaknya memang Indi tidak tahu. Akan tetapi, Indi yakin bisa melewati semuanya bersama dengan suaminya itu. Hanya tiga pekan lagi dan semuanya akan berubah, tidak lagi sama. Akan ada kebahagiaan dan pengalaman menjadi orang tua baru untuk keduanya.


__ADS_2