Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Ngedate Tipis-Tipis


__ADS_3

Selang beberapa hari kemudian, pagi hari di Jogjakarta turun hujan. Tidak seperti biasanya, tapi kebetulan sekali hujan turun dengan cukup lebat. Untung juga hari ini adalah hari Minggu sehingga, Satria libur di rumah.


"Tumben sih jam segini hujan?" tanya Satria.


"Makanya, Mas. Mana mendungnya juga gelap banget. Anak-anak juga bobok habis minum ASI," balas Indi.


Ya, faktanya usia mandi pagi dan sudah mendapatkan ASI sekarang Nakula dan Sadewa dua-duanya terlelap. Indi tersenyum sendiri mengamati gaya tidur kedua putranya yang seolah hendak terbang dengan tangan terangkat ke atas itu. Begitu lucu dengan bibir mereka yang kadang bergerak seolah masih meng-ASI saat tidur.


"Itu bibirnya kayak masih minum ASI, Sayang. Lucu banget sih," kata Satria.


"Kayak kamu banget yah, Mas," balas Indi.


"Kamu bisa saja. Sama cowoknya. Ada kamunya juga. Kan Nakula dan Sadewa itu hasil karya kita berdua, jadi yah mirip kita berdua dong," balas Satria.


"Dominan kamu keduanya deh," balas Indi.


Satria tersenyum lagi. Dia lantas berbicara tepat di sisi telinga istrinya. "Nanti, kalau Nang-Nang udah lepas ASI, hamil lagi yah. Mau anak cewek yang secantik Mama Indira," katanya.


Indi merasa geli dengan ucapan suaminya. Beberapa kali wanita itu tersenyum sembari mengedikkan bahunya. Hingga Indi menatap suaminya itu.


"Kalau hamil lagi dan kembar lagi bagaimana dong? Bisa-bisa nanti rumah kita penuh bayi. Sekali lahiran dua," balas Indi.


"Gak apa-apa, banyak anak katanya orang Jawa zaman dulu banyak rejekinya. Setiap anak membawa rejeki masing-masing."


Apa yang Satria katakan tepat, orang Jawa zaman dulu selalu beranggapan banyak anak itu banyak rejeki. Terlebih pada zaman dulu, pemerintah belum mencanangkan program Keluarga Berencana. Satu orang Ibu bisa melahirkan hingga sepuluh anak. Sehingga keluarga yang dimiliki adalah keluarga besar. Baru di era orde baru mulai dicanangkan Keluarga Berencana dengan slogan dua anak cukup. Itu semua juga karena laju pertumbuhan penduduk negera ini yang amat banyak.


"Mas, kalau setiap hamil dapatnya kembar, tiga kali hamil anak kita udah setengah lusin loh. Banyak banget itu. Jadi, sekali hamil lagi aja yah," balas Indi.

__ADS_1


"Boleh, yuk ... pacaran tipis-tipis di dalam rumah. Mumpung Nang-Nang bobok."


Satria mengajak istrinya untuk bisa pacaran tipis-tipis mumpung kedua anaknya juga sedang tidur. Tidak perlu keluar rumah, tapi waktu ketika anak tidur memang bisa dimanfaatkan berdua untuk menyemai cinta, mempererat hubungan. Waktu yang dimiliki suami dan istri memang ketika anak tidur seperti ini.


"Ngedate, Mas?" tanya Indi.


"Iya. Nonton yuk, mumpung hujan-hujan," ajak Satria.


"Boleh, tapi kalau Nakula dan Sadewa terbangun, udahan yah. Kan prioritas tetap di anak dulu."


Akhirnya, Indi turun sebentar untuk membuat dua cokelat hangat untuk keduanya. Ada beberapa camilan yang dia bawa masuk ke kamarnya. Sementara Satria tampak memilih-milih film apa yang ingin dilihat bersama.


"Mau lihat film, drama korea atau apa?" tanya Satria.


"Drama Korea boleh enggak Mas? Ada drama bagus CEO yang pemilik hotel itu. Romantis - Komedi genrenya," kata Indi.


Akhirnya keduanya memilih untuk melihat drama korea terbaru itu. Duduk bersama di atas karpet, dengan punggung yang bersandar di sofa yang berada di dalam kamar. Sembari menikmati cokelat hangat bersama.


"Kapan lagi punya kesempatan manis di pagi hari coba," kata Satria lirih. Pria itu lantas menelisipkan untaian rambut Indi hingga sisi wajahnya terlihat. Pelan-pelan Satria mendekat dan mencium pipi istrinya itu.


Indi tersenyum. Terbilang jarang suaminya itu mencium pipinya. Sebab, biasanya Satria setelah Indi melahirkan lebih banyak memberikan ciuman di kening istrinya. Satria juga usai itu senyam-senyum sendiri.


"Mungkin juga karena hujan yah, Mas. Lebih dingin jadinya Nang-Nang pules yah," kata Indi.


"Gak apa-apa. Biar mereka bobok dulu aja. Papanya mau meluk Mamanya dulu," kata Satria sekarang.


Indi lagi-lagi tersenyum. Dia juga nyaman dipeluk suaminya sepertinya. Dentingan hujan di luar seakan memberikan kesan syahdu tersendiri. Selain itu, Indi tetap berjaga-jaga, kalau ada petir harus segera melihat Nakula dan Sadewa. Sebab, bisa-bisa keduanya bisa kaget kalau mendengar suara petir.

__ADS_1


"Hujan sih tidak apa-apa, Sayang. Yang penting enggak petir saja. Kasihan kalau mereka kaget dan nangis," kata Satria.


"Hujan pagi-pagi gini di rumah Rama enak dong yah, Mas. Lihat sawah dan mencium semerbak pretikor yang harum, pasti indah banget," kata Indi.


"Iya, hujan dan melihat sawah itu romantis, Yang. Apalagi kalau padinya mulai menguning, indah aja kalau mereka terkena hujan," balas Satria.


Mendengar cerita dari suaminya ingin rasanya Indi ketika di Solo dan turun hujan. Dia ingin menikmati suasana romantis bersama dengan suaminya. Lebih-lebih kalau Nakula dan Sadewa sedang tertidur. Sehingga keduanya bisa memanfaatkan waktu bonding seperti ini.


"Sejak kita menikah ini hujan pertama di pagi hari yah?" tanya Satria.


"Kelihatannya benar, Mas. Baru kali ini hujan turun di pagi hari," balas Indi.


Sekarang Satria mengeratkan pelukannya. Dia merasa senang sekali menikmati waktu dengan istrinya di pagi hari. Biasanya jam segini, pastilah mereka mengasuh Nakula dan Sadewa bersama-sama. Terlebih hari minggu, ada masa menjadi lebih malas dan lebih suka rebahan dengan dua jagoan kecilnya.


Dengan memeluk Indi, juga ada kalanya Satria mendaratkan kecupan demi kecupan di pipi istrinya itu. Rasanya sudah lebih dari sepuluh kecupan yang Satria berikan. Indi sampai bingung, kenapa suaminya menjadi manis seperti ini.


"Geli, Mas. Jangan dicium terus," kata Indi pelan.


"Gak mau disayang?" tanya Satria.


"Ya, mau. Ini udah lebih dari sepuluh kali loh. Geli," balas Indi.


Sekarang tidak hanya di pipi, melainkan diam-diam Satria meniup telinga istrinya itu. Seketika gelenyar asing itu bisa Indi rasakan. Wanita itu sampai menghela napasnya.


"Mas."


"Ya, Sayangku. Lebih dari sekadar ngedate yuk, Sayang. Mau?"

__ADS_1


Seolah Satria menginginkan hal yang lebih di pagi hari yang berhujan itu. Terlebih kedua putranya masih begitu terlelap. Jika memanfaatkan waktu dengan baik, pastilah bisa ambangun katresnan berdua. 😁


__ADS_2