
Setelah beberapa hari berlalu, pihak keluarga Negara memberikan hari baik kepada keluarga Hadinata, terkait untuk dijalankannya pesta resepsi yang akan dilangsungkan di Solo. Pihak keluarga Hadinata juga tidak ada request khusus, sepenuhnya menyepakati acara Ngunduh Mantu yang akan digelar di Solo nanti.
Ngunduh mantu adalah upacara penyambutan kehadiran mempelai wanita sebagai anggota keluarga baru di keluarga mempelai pria. Pada acara ini nanti, pengantin wanita dan seluruh keluarga akan diterima dan disambut dengan baik oleh keluarga pengantin pria.
"Mbak Indi, untuk ngunduh mantu nanti kamu ingin didampingi Ayah atau Bapak Firhan? Bagaimana pun beliau juga Bapak kamu. Ayah tidak keberatan kalau Bapak kandungmu yang mendampingi kamu," kata Ayah Pandu.
Di dalam kebiasaan orang Jawa, memang jika kasus seperti Indi, sudah jelas dan pasti bahwa ketika menikah ayahnya tidak bisa menjadi wali nikah. Seorang anak tanpa nasab sepertinya hanya bisa diwalikan oleh wali hakim. Akan tetapi, ketika resepsi atau ngunduh mantu barulah boleh didampingi orang tua bisa sambung atau kandung. Jika sudah tidak memiliki orang tua, boleh diwakili pihak keluarga. Oleh karena itu, Ayah Pandu memberikan wewenang kepada Indi untuk memilih.
"Kenapa, Yah?" tanya Indi.
"Tidak apa-apa, kan dulu waktu akad seorang anak dengan status sepertimu kalau akad baik Ayah atau Bapak kamu sama-sama tidak berhak. Hanya bisa diwakili oleh wali hakim. Sementara untuk resepsi atau ngunduh boleh didampingi siapa saja," jelas Ayah Pandu.
Bunda Ervita merasa suaminya lebih lapang dada. Masih teringat kenangan dulu sewaktu Indi masih kecil, ada rasa berat hati ketika Bapak Firhan berusaha meminta supaya Indi memanggilnya ayah. Memang, Ayah Pandu bukan darah dagingnya, tapi untuk pembuktian kasih sayang, selama ini Ayah Pandu sudah selalu memberikan yang terbaik untuk Indi.
"Yayah, mohon maaf sebelumnya. Bukannya Indi tidak menaruh hormat kepada Bapak Firhan. Akan tetapi, bisakah Yayah saja yang mendampingi Bunda kala ngunduh mantu nanti? Indi meminta sebagai putrinya Yayah. Walau bukan karena hubungan darah, Allah yang membuat ikatan di antara kita berdua kan?"
Indi membalas demikian. Lagipula, kepada Ayah Pandu, Indi selama ini mengerti figur dan sosok seorang ayah. Dia menyayangi ayah Pandu dan menaruh hormat kepadanya. Bukan berarti Indi tidak melakukan hal yang sama dengan Bapak Firhan. Akan tetapi, hatinya merasa lebih dekat dengan Ayah Pandu.
__ADS_1
"Yakin, kamu ingin Ayah dampingi?" tanya Ayah Pandu.
"Iya, dampingi Indi, Yah. Kala akad, Indi sudah ikhlas dan menerima wali hakim yang mendampingi Indi. Kali ini, hantarkan Indi untuk diterima sebagai bagian dari keluarga Mas Satria. Maaf, seumur hidup Indi, sosok ayah yang Indi kenal, Indi lihat, sayangi dan kagumi adalah Yayah," kata Indi.
Satria yang mendengarkan istrinya saja merasa terharu. Ada kalanya Satria berpikir betapa sedihnya menjadi Indi dulu ketika teman-teman sebayanya tumbuh dalam pengasuhan orang tua yang lengkap. Sementara Indi hanya tahu Om Ayah yang kemudian benar-benar bisa menjadi Ayahnya. Satria juga tak menyalahkan Indi yang mau didampingi ayahnya. Satria sangat yakin, walau bukan ayah kandungnya, tetaplah Ayah Pandu adalah cinta pertama di dalam hati Indi.
"Yayah, dampingi putri Yayah ini," pinta Indi lagi.
Sekarang, Ayah Pandu tak lagi bisa menahan. Hatinya tak kuasa untuk menolak. Terlebih ketika Indi sudah meminta, hatinya sebagai ayah akan selalu berusaha memberikan untuk anaknya.
"Baiklah, nanti Ayah akan jelaskan juga ke Bapakmu yah," kata Ayah Pandu.
Rupanya Indi mendekat dan memeluk ayahnya itu. Rasanya memang Indi sangat sayang ketika ayah Pandu. Pria hebat yang selalu dia kagumi sejak kecil.
"Yah, tahu enggak, Indi sedih banget waktu tahu bahwa Indi bukan anak kandung Yayah. Indi merasa beruntungnya Irene yang adalah anak kandung Yayah. Di dalam darahnya mengalir darah Yayah. Berhari-hari Indi sedih dan tak bisa tidur. Hingga akhirnya, Indi berusaha menerima semua, tapi yang pasti Indi selalu sayang Yayah."
Sekarang Indi bisa mengutarakan perasaannya kala tahu bahwa dirinya adalah anak tanpa nasab. Ketika dia tahu bahwa Yayah Pandu bukan ayah kandungnya. Sementara Ayah Pandu memahami jalan pikiran Indi. Tak dipungkiri Ayah Pandu juga selalu menyayangi Indi. Sayangnya sama untuk Indi dan Irene.
__ADS_1
"Jangan begitu, di mata Yayah, kamu dan Irene sama, Mbak Indi. Sama-sama putrinya Yayah. Berbahagialah dan beruntungnya kamu karena nanti kamu dan Satria akan memiliki buah hati dan keturunan yang memiliki nasab ayahnya. Jadilah muadzin yang soleh ya Satria," kata Ayah Pandu.
Satria pun segera menganggukkan kepalanya."Ya, Ayah. Satria sering terharu melihat Indi dan Ayah seperti ini. Akan tetapi, Satria yakin bahwa hubungan ini adalah dari Allah. Terima kasih sudah jadi ayah terhebat untuk Indi," balas Satria.
"Kamu bisa saja, Satria. Ayah hanya melakukan yang terbaik. Menyayangi Indi, karena dalam kasus Ayah dulu berbeda. Ketika Ayah mencintai dan menerima Bunda Ervi, maka Ayah harus mencintai dan menerima buah hatinya. Tulus, dan luar biasa rasa sayang itu tumbuh dengan sendirinya. Ayah selalu sayang sama Indi sejak dia dilahirkan. Ayah pikir jika bukan karena Allah tidak mungkin," ceritanya.
"Ayah memiliki hati yang murni, tulus, dan lapang. Satria harus belajar banyak dari Ayah juga," balas Satria sekarang.
Bunda Ervita yang sedari tadi diam akhirnya berbicara juga. "Teladani yang baik Mas Satria. Orang tua juga tempatnya luput dan salah. Kalau yang salah dan kurang baik jangan ditiru. Begitu juga nanti kalau sudah jadi orang tua, jadi teladan untuk anak-anak. Namun, jangan berpura-pura. Kebaikan yang sejati itu terpancar dari hati."
Satria menganggukkan kepalanya. Nah, petuah dan pembelajaran seperti ini yang adi luhung menurut Satria. Ketika keteladanan itu benar-benar diaktualisasi dalam tindakan sehari-hari. Ketika orang tua jujur dan tulus berperilaku untuk menghasilkan generasi yang luar biasa. Pantas saja istrinya itu juga tumbuh menjadi anak yang baik, sopan, dan meneladani karakter dari kedua orang tuanya.
"Makasih banyak Ayah dan Bunda. Kadang, Satria justru belajar banyak hal dari Ayah dan Bunda," kata Satria.
"Sama-sama belajar, Sat ... Ayah juga belajar darimu. Baiklah, Kapan-kapan kalau ke Solo, usai Ngunduh Mantu main ke rumah Bapaknya Indi. Biar kenal. Beliau juga adalah orang yang baik," kata Ayah Pandu.
"Siap Ayah. Nanti usah Ngunduh Mantu, kami akan main ke rumahnya Pak Firhan. Untuk bersilaturahmi," balas Satria.
__ADS_1
Satria menyambut baik saran dari Ayah Pandu. Selain itu, usai Ngunduh Mantu nanti juga Satria sudah merencanakan untuk bulan madu bersama istrinya. Satria rasanya tak ingin menunda memiliki keturunan. Dia ingin segera dianugerahi keturunan bersama dengan Indi.