Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Adigang, Adigung, Adiguna!


__ADS_3

Indi meninggalkan ruangan Rama Bima dengan membesarkan hatinya sendiri. Caranya membalikkan keadaan tadi memang menggunakan kata-kata yang sopan, tapi Indi mengakui ada ledakan emosi di sana. Tidak mengelak, Indi mengakui banyak kekurangannya. Dia dan Satria pun berbeda. Akan tetapi, bukan berarti tidak bisa menyebrangi perbedaan. Tidak bisa melihat perbedaan sebagai keragaman yang menyatukan.


Sama sekali Indi tidak buta, tapi dia meyakini bahwa semula Rama Bima dan keluarga Negara bisa menerimanya yang notabene hanya anak juragan batik. Selain itu, Indi benar-benar bangga, bagaimana dulu Bundanya hamil seorang diri, sempat menjadi ibu tunggal dan masih bekerja, menjual batik untuk memenuhi kebutuhan mereka berdua. Bahkan, Bunda Ervita masih dan terus mengembangkan dagangan batiknya sampai sekarang merambah ke Kafe Batik yang dimiliki Bunda dan Ayah Pandu.


"Kok bengong Mbak Indi, kepikiran MasE yah?" tanya Nita yang ada staf dari kantor Ayah Pandu yang turut bekerja di Oemah Jamu itu.


"Eh, enggak kok," balas Indi sembari tersenyum dan menggeleng perlahan.


"Pengantin baru, Mbak. Kenalin dong sama MasE. Bapak Pandu saja sudah memberi pengumuman, Mbak. Wah, intinya selamat yah, Mbak," balas Nita.


Indi justru baru tahu kalau Ayahnya sudah membuat pengumuman di kantor bahwa dia sudah menikah. Sebenarnya juga tidak perlu diumumkan, kan memang pernikahan tidak harus diwartakan di mana-mana. Selain itu, waktu menikah juga tidak ada yang diberitahu.


"Putrinya pimpinan loh, masak menikah sederhana sih, Mbak," kata Nita sekarang.


"Nikah sih sederhana saja, yang penting doanya biar Samawa selalu," balas Indi.


"Pasti Samawa, Mbak. Aku turut bahagia, Mbak. Semoga Mbak Indi dan MasE bahagia yah ... cepat diberi momongan," kata Nita lagi.


Indi tersenyum. Sebenarnya jujur dia belum memikirkan momongan. Lebih memilih fokus untuk menjalani apa yang ada. Walau Satria sendiri mengatakan tidak ingin menunda.


Hingga akhirnya, jam bekerja pun selesai. Esok akan ada pekerjaan lagi yang Indi lakukan, untuk pemasangan beberapa panel kayu di dinding untuk mendesain bagian ruang depan. Usai semua panel kayu terpasang, Indi tidak akan setiap hari ke Oemah Jamu. Jujur, Indi ingin bisa menyelesaikan pekerjaannya. Sebab, bekerja di Oemah Jamu membuatnya tertekan. Bukan hanya dari Karina, tapi juga Rama Bima.


Sore saat pulang kerja, Satria yang sudah terlebih dahulu tiba. Pria itu menunggu dengan berdiri di depan mobilnya, satu tangannya memegang handphone dengan arah pandangan ke pintu, berharap istrinya akan segera keluar.

__ADS_1


Walau Oemah Jamu itu milik Ramanya, tapi Satria tidak mau masuk. Dia lebih memilih menunggu di luar saja. Namun, belum Indi keluar, ada Ramanya yang keluar terlebih dahulu.


Ini adalah pertemuan Rama Bima dan Satria setelah hampir dua bulan lamanya. Pertemuan bertatap muka. Sebelumnya, tak pernah mereka bertemu sejak Satria memutuskan keluar dari rumahnya.


Melihat Ramanya, Satria menyapa dengan menganggukkan kepalanya. Bagaimana pun, Satria tetap bersikap sopan.


Rupanya, Rama Bima menghentikan langkah kakinya tepat di depan Satria.


"Untuk apa kamu ke mari?" tanya sang Rama.


"Menjemput istri," jawab Satria.


Rama Bima tersenyum miring. Rupanya Satria mengatakan bahwa Indi adalah istrinya. Rama Bima semakin yakin bahwa memang Satria sudah menikahi Indi.


"Semisal, Rama berikan semua harta Rama untuk kamu, tapi tinggalkan Indi. Apakah kamu bisa?" tanya Rama.


Bukan sekadar bertanya, tapi sebenarnya Rama Bima ingin menekan Satria. Bisakah jika dia mengiming-imingi harta kekayaan, Satria mau meninggalkan Indi.


"Maaf, Satria tidak tertarik dengan harta kekayaan," balas Satria.


Satria tidak ingin terpancing emosinya. Dia lebih memilih untuk menahan supaya tidak emosi. Walau begitu, dia memilih untuk membalas dengan sopan.


"Walau semua hartanya Rama, Rama alihkan semuanya atas nama kamu?"

__ADS_1


Satria sekarang menggelengkan kepalanya. Bagi Satria, golongan ningrat saja sudah dia tinggalkan. Dia lebih memilih meninggalkan semua untuk meminang Indi.


"Satria sama sekali tidak tertarik dengan harta kekayaan, Rama. Cinta yang Satria miliki untuk Indi jauh lebih besar," balasnya.


"Kita lihat, Sat ... sampai berapa lama kamu bisa bertahan dengan prinsipmu," kata Rama lagi.


"Insyaallah, Satria akan tetap bertahan. Harusnya Rama bangga karena putranya Rama mau bekerja keras, tidak menggantungkan hidup kepada orang tua dan harta kekayaannya. Satria bukan tipe anak yang adigang, adigung, dan adiguna."


Adigang, adigung, dan adiguna adalah nasihat dalam bahasa Jawa yang sering kali orang tua tuturkan untuk anak-anaknya. Arti Adigang, Adigung dan Adiguna bermakna manusia hendaknya tidak mengandalkan dan menyombongkan kelebihan yang dia miliki. Adigang bermakna kekuatan, Adigung bermakna kekuasaan, dan Adiguna bermakna kepandaian.


Ya, Satria masih inget dengan Eyang Kakung Negara yang sering mengatakan, "Dadi manungsa kuwi aja nduweni watak adigang adigung adiguna." Mereka berharap agar putra-putrinya tidak mempunyai sifat yang buruk seperti peribahasa adigang adigung adiguna dalam kehidupan sehari-hari. Kalau dipikir-pikir semua orang tua pasti menginginkan anaknya mempunyai budi pekerti yang baik.


Rama Bima kembali terdiam. Niat hati ingin menekan Satria dengan memberi iming-iming harta kekayaan, tapi Satria tidak terpengaruh sama sekali. Tadi Rama Bima terhenyak dengan ucapan Indi, dan sekarang dengan ucapan Satria.


"Satria harap suatu hari nanti Rama bisa merestui kami berdua," kata Satria.


Tidak menjawab, Rama Bima berlalu pergi. Sia-sia saja usahanya untuk membuat Satria meninggalkan Indi. Sama sekali tak berhasil.


Satria kembali menganggukkan kepalanya, ketika Rama nya berlalu dan masuk ke dalam mobil. Setelah kepergian Rama nya, barulah Satria menghela napas panjang.


Dulu, Satria siap meninggalkan semuanya. Meninggalkan identitas Satria sebagai putra ningrat. Satria juga siap melupakan semua warisan itu. Cinta Satria untuk Indi jauh lebih besar dari apa pun. Bukan harta dan tahta yang Satria cari, tapi cinta sejati, cinta yang mau mendampingi kala Satria bukan siapa-siapa. Cinta yang mau menerima ketika Satria datang dengan tangan kosong dan ketidaklayakan. Cinta yang melengkapi Satria. Selama ini, Satria hidup dalam kungkungan pakem dan tradisi. Bersama Indi, Satria akan hidup untuk diri Satria sendiri, serta untuk Indi dan orang-orang yang Satria cintai.


Pria itu berbicara dalam hati. Rama Bima salah mungkin bisa membuat Satria tergiur dengan harta kekayaan. Namun, Satria membalikkan sangat Rama dengan nasihat dan pitutur yang sering Rama dan Eyangnya sampaikan kepadanya sejak dia waktu masih kecil. Lebih baik bekerja keras, berusaha lagi dari nol, supaya lebih terasa prosesnya. Memaknai proses dengan kerja keras dan tidak mudah menyerah.

__ADS_1


__ADS_2