
Setelah dimandikan dan sudah bersih, kemudian Nakula dan Sadewa dibawa lagi keluar. Keduanya ditaruh di stroller khusus untuk bayi kembar. Setelah sebelumnya Indi memberikan ASI dulu untuk kedua bayinya.
"Makan dulu, Mbak Indi ... Mamanya Kembar harus makan dulu," kata Bunda Ervita.
"Benar Mbak Indi. Apalagi usai memberikan ASI pasti jadi laper," balas Bu Galuh.
"Sebenarnya Indi belum begitu lapar sih, Bu. Cuma kalau habis memberikan ASI itu rasanya sangat haus saja, Bu," balas Indi.
"Tenggorokan rasanya kering yah, Mbak?" tanya Bu Galuh.
Indi kemudian menganggukkan kepalanya lagi. Kalau lapar sebenarnya dia tidak terlalu lapar. Akan tetapi, rasanya haus saja setiap kali usai memberikan ASI untuk Nakula dan Sadewa.
"Selalu minta tolong Satria untuk mengambilkan air putih, Mbak," kata Bu Galuh lagi.
"Tanpa meminta, Mas Satria udah selalu menyiapkan untuk Indi kok, Ibu. Terima kasih Ibu, karena dari Ibu dan Rama lahir Mas Satria yang benar-benar baik," kata Indi.
Mendengarkan apa yang dikatakan Indi, Bu Galuh kemudian tertawa. Lucu mendengar menantunya yang memuji putranya. Namun, di sisi lain Bu Galuh senang dan bangga karena putranya tumbuh dengan kepekaan dan juga siap siaga untuk istri tercinta. Didikan itu tidak berbuah saat itu juga. Melainkan dalam waktu yang panjang, barulah pohon itu menghasilkan buah.
"Ibu jadi senang nih karena memiliki putra yang baik," balas Bu Galuh dengan bercanda.
"Memang kelihatan kalau Satria itu baik kok, Bu," balas Bunda Ervita.
Lagi-lagi Bu Galuh tersenyum. Dia bangga memiliki putra yang baik. "Semoga nanti Satria juga berhasil menjadi Papa yang baik untuk Nakula dan Sadewa. Sekarang PRnya bertambah, tidak hanya menjadi suami yang baik, tapi juga menjadi Papa yang baik."
"Aamiin Ibu. Doakan juga yah," balas Indi.
Setelah itu, ada beberapa keluarga yang ingin berfoto dengan Nakula dan Sadewa. Merasa kalau putranya Indi dan Satria itu ganteng-ganteng dan menggemaskan.
"Boleh foto enggak Mbak Indi?" tanya Budhe Pertiwi, yang tak lain adalah kakak kandung Ayah Pandu.
"Boleh. Wah, ini Nakula dan Sadewa manggilnya Eyang De loh," balas Indi.
Budhe Pertiwi justru tertawa. Geli juga. Merasa masih muda, sudah harus dipanggil Eyang. Akan tetapi, memang begitulah di Jawa, ada tatanan untuk memanggil keluarga dan kerabat yang lebih tua.
__ADS_1
"Manggilnya Oma Cantik yah," balas Budhe Pertiwi.
"Dipanggil Simbah juga boleh," celetuk Pakdhe Damar, suaminya Budhe Pertiwi.
Indi dan Bunda Ervita tertawa. Pakdhe dan Budhenya itu memang begitu. Sering membuat orang lain ketawa. Ada Lintang dan Langit juga, dua anaknya keluarga Pertiwi dan Damar.
"Cakep loh, In ... jadi pengen," kata Lintang, kakak sepupu Indi.
"Jangan pengen, Mbak Lintang. Kalau pengen Mbak Lintang harus menikah dulu," balas Indi.
"Nah, benar. Kalau sudah ada calonnya disegerakan Mbak Lintang. Bulik dan Om Pandu siap loh," balas Bunda Ervita.
Lintang akhirnya tertawa sendiri. "Belum ada yang cocok di hati kok, Bulik. Doakan saja."
Setelah itu, giliran adiknya Bunda Ervita yaitu Bulik Mei dan Om Tanto yang ingin berfoto bersama Si Kembar. Keduanya gemas melihat Nakula dan Sadewa.
"Sumeh yah," kata Bulik Mei. Dalam bahasa Jawa, sumeh itu artinya banyak tersenyum. Itu karena sering kali Nakula dan Sadewa tersenyum sendiri.
"Sama-sama, Indi. Mumpung di akhir pekan jadi Bulik dan Om Tanto bisa datang dari Sidoarjo."
Lalu, Nakula dan Sadewa juga mendapatkan hadiah khusus dari Eyang Buyutnya. Ada Eyang Hadinata, Eyang Negara, Eyang Dirja, dan Eyang Agus. Ada sejumlah uang yang diberikan sebagai buyutan, memberikan uang untuk cucu buyut. Yang berbeda adalah Eyang Negara yang juga memberikan Ayam Jago.
"Eyang berikan ayam juga yah, ayam jago. Dipelihari yah," kata Eyang Negara.
Indi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Matur sembah nuwun, Eyang Buyut."
Hari ini seolah-olah semua keluarga berbahagia. Bukan hanya bertemu dengan Nakula dan Sadewa, tapi masing-masing keluarga bertemu, menjadi ajang silaturahmi yang hangat. Yang belum begitu kenal, juga bisa saling kenal.
"Boleh Tante, gendong satu, Mbak Indi?"
Sekarang giliran Tante Wati, istrinya Bapak Firhan yang ingin menggendong salah satu dari Si Kembar. Sejak tadi sebenarnya Tante Wati ingin menggendong Nakula atau Sadewa, tapi memilih menunggu waktu yang tepat.
"Boleh, Tante kan Eyangnya Nakula dan Sadewa juga," balas Indi.
__ADS_1
Mendengar jawaban Indi, Tante Wati bahagia. Dia akhirnya menggendong Nakula. Mengamati paras tampan bayi yang masih kecil itu.
"Cakepnya, Mbak Indi. Eyang Wati doakan Nakula dan Sadewa sehat-sehat, membanggakan kedua orang tua, dan selalu sukses yah," katanya.
"Aamiin, makasih Eyang Wati."
Setelah itu, fotografer mengabadikan momen aqiqah dan kumpul keluarga itu. Tidak lupa mengambil potret dari pihak keluarga Hadinata, Negara, Firhan, dan keluarga yang hadir. Selain itu, Satria meminta request khusus berfoto dengan istri dan kedua anaknya.
"Minta tolong difotokan keluarga kecil kami bisa, Mas?" tanya Satria kepada fotografer di sana.
"Bisa, Mas."
Akhirnya Indi dan Satria diarahkan untuk berfoto keluarga kecil mereka. Satria juga memberikan handphonenya supaya bisa diambil foto dengan handphonenya. Sebab, Satria ingin mengganti profil whatsapp miliknya.
"Terima kasih, Mas," kata Satria kepada fotografer itu.
Selesai foto, Satria menunjukkan hasil jepretan di handphonenya kepada Indi. "Bagus yang mana, Sayang?" tanya Satria.
Pilihan Indi jatuh pada foto di mana Indi duduk menggendong Nakula, dan Satria berdiri menggendong Sadewa. "Ini bagus, Mas. Wajahnya Kembar juga kelihatan. Aku minta fotonya juga yah, Mas," pinta Indi.
Akhirnya Satria membagikan file foto itu kepada istrinya itu. Ada kebahagiaan yang tersisip juga untuk Indi dan Satria, selain bisa melihat keluarga besar, juga memiliki potret indah dengan dua buah hati mereka.
"Dulu tujuh bulanan di Jogja, sekarang Aqiqahan juga di Jogja. Nanti kalau Nakula dan Sadewa belajar berjalan, upacara Tedhak Siten di Solo yah? Di rumahnya Eyang Rama," kata Rama Bima.
Tedak siten atau tedak siti adalah rangkaian prosesi adat tradisional dari tanah Jawa yang diselenggarakan pada saat pertama kali seorang anak belajar menginjakkan kaki ke tanah. Tedhak berarti turun, dan sitèn artinya tanah. Biasanya dilakukan saat anak berusia sekitar tujuh atau delapan bulan.
"Agenda sudah antri yah. Berarti nanti kalau Nakula dan Sadewa berusia delapan bulan, kita berkumpul lagi di Kota Solo," kata Ayah Pandu.
"Oh, iya. Harus Pak Pandu. Bukan hanya sekadar berkumpul keluarga besar, tapi sekaligus melestarikan budaya. Budaya seperti ini kalau bukan kita yang mengenalkan ke anak-anak dan cucu kita, siapa lagi?"
"Benar Pak Negara. Menguri-uri warisan budaya ini," balas Ayah Pandu.
Semua yang ada di sana bahagia dan tertawa. Berarti nanti kala Nakula dan Sadewa hendak berjalan, semua akan berkumpul lagi di Kota Solo. Melestarikan tradisi dan budaya. Sebab, kalau tidak dilestarikan anak-anak dan cucu atau generasi muda masa kini tidak akan mengenalnya.
__ADS_1