Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Boleh Pulang


__ADS_3

Ketika keluarga Hadinata dan keluarga Negara masih berada di kamar perawatan Indi, pagi itu Dokter melakukan visitasi untuk pasien. Sekaligus, hasil rontgen kemarin akan dibacakan oleh Dokter. Jujur saja, Satria merasa deg-degan dan takut jika terjadi hal yang berlebih kepada Indi, terutama di bagian kaki.


"Selamat pagi," sapa Sangat Dokter.


"Pagi, Dokter," sapa Satria dan para orang tua yang ada di sana.


"Bagaimana kondisi pasien?" tanya Dokter lagi.


"Pagi tadi waktu bangun, seluruh badannya sakit. Apakah tidak bisa diresepkan untuk pereda nyeri, Dokter?" tanya Satria.


Dokter pun menganggukkan kepalanya. "Boleh, nanti saya akan resepkan. Sekaligus saya akan bacakan hasil rontgen kemarin, khususnya untuk bagian kaki yah. Hasil rontgen tidak ada tulang yang retak dan patah, jadi bengkaknya ini karena tertimpa beban yang cukup berat, sementara keadaan tulang di kaki belum siap. Nanti akan diberikan obat yang mengurangi bengkaknya. Secara medis, tidak ada yang serius."


Semua yang mendengarkan penjelasan Dokter merasa benar-benar lega rasanya. Terutama Satria, dia merasa sangat lega ketika Indi tidak mengalami luka yang serius.


"Alhamdulillah," kata Satria dengan mengusap wajahnya.


"Kalau tidak ada kendala, sore nanti boleh pulang. Rawat jalan dari rumah, ketika obat habis bisa ke apotek dan mungkin sekali lagi kontrol yah," kata sang Dokter.


"Dengan kaki yang bengkak itu, kira-kira kapan istri saya bisa berjalan?" tanya Satria.


"Bisa tiga hari, atau mungkin seminggu. Bengkaknya nanti juga perlahan mengecil. Misalnya merasakan gejala lain, harus segera ke Dokter untuk pemeriksaan lagi," kata Dokter.


Usai melakukan visitasi, Dokter kembali ke luar ruangan. Sementara keluarga yang ada di dalam merasa lega. Pun dengan Indi, walau nanti bisa berjalan dan beraktivitas lagi menunggu semuanya berangsur-angsur pulih. Tidak bisa instan langsung berjalan.


"Maafkan Rama yah Mbak Indi," kata Rama Bima lagi.


Ayah Pandu, Bunda Ervita, dan Bu Galuh mendengar sendiri bagaimana Rama Bima yang selama ini begitu keras dan seolah tak menerima keberadaan Indi, akhirnya meminta maaf lagi. Pada dasarnya memang ketika bersalah haruslah meminta maaf. Bukan sesuai hierarki di mana orang muda, anak-anak yang harus meminta maaf kepada orang tuanya. Namun, juga sebaliknya ketika orang tua memiliki salah juga sebaiknya segera untuk meminta maaf. Dengan meminta maaf terlebih dahulu, tidak akan menjadikan seseorang tinggi atau rendah, tapi menunjukkan kebesaran hati.


"Tidak apa-apa," balas Satria dan Indi bersamaan.

__ADS_1


"Mbak Indi masih belum melakukan apa yang Rama minta semalam yah?" tanya Rama Bima sekarang.


Keluarga Hadinata dan Bu Galuh bertanya-tanya, apa sebenarnya yang diminta Rama nya itu kepada Indi. Apakah itu adalah sebuah pertanyaan yang memberatkan?


"Meminta Indi melakukan apa, Pak Bima?" tanya Ayah Pandu.


"Permintaan sederhana saja, Pak Pandu. Saya ingin Mbak Indi tidak lagi memanggil saya Bapak. Panggil saya Rama," balasnya.


Oh, seketika Ayah Pandu lega. Itu bukan permintaan yang berat. Walau memang butuh waktu untuk Indi. Justru Ayah Pandu menyambut baik dengan permintaan ayahnya Satria itu.


"Pak Bima yakin bisa menerima Indi? Di kemudian hari tidak akan mengungkit lagi kenasabannya?" tanya Ayah Pandu.


"Iya, saya akan berusaha menerimanya. Maaf, untuk sikap saya yang dulu," kata Rama Bima.


"Saya dan Indi hanya Ayah sambung, Pak Bima. Namun, sayang saya kepada Indi sangat besar. Hubungan kami bukan hubungan darah, tapi ikatan dengan hati yang Allah satukan," kata Ayah Pandu.


"Ayah," suara Indi.


"Ya, Mbak Didi. Ayah selalu sayang kamu. Sampai kapan pun," balas Ayah Pandu.


"Makasih banyak Ayah," balas Indi dengan berlinang air mata.


"Nah, apa kamu melakukan permintaan Rama, panggil dia Rama. Pernikahan bukan hanya antara kamu dan Satria, tapi juga kamu dan orang tuanya, dan keluarganya. Jadi, panggil Rama," kata Ayah Pandu sekarang.


Mendengarkan Ayah Pandu memberikan penjelasan kepada putrinya, Rama Bima menganggukkan kepalanya. Dia adalah penjelasan yang lembut dari seorang ayah kepada putrinya. Tidak ada nada paksaan di dalam setiap ucapannya.


"Kalau memang belum bisa tidak apa-apa," balas Rama Bima mencoba legawa.


Hingga akhirnya, Indi berusaha memanggil pria paruh baya yang adalah ayah kandung suaminya itu. Indi tahu, pernikahan juga melibatkan keluarga dan orang tua. Dulu, dia yang mengharapkan restu dari keluarga Negara. Sekarang, restu itu sudah hadir dengan sendirinya. Jika sekadar meminta memanggil Rama, Indi akan berusaha.

__ADS_1


"Ra ... ma," panggil Indi dengan terusik.


Ah, air mata Rama Bima seketika menitik dengan sendirinya. Dia sangat senang ketika Indi mau memanggilnya Rama.


"Makasih Mbak Indi," kata Rama Bima.


Bu Galuh kemudian mendekati Indi dan merangkul menantunya itu. "Terima kasih banyak Mbak Indi. Ibu juga sangat senang. Kamu segera sembuh yah, jangan banyak menangis. Apa kamu mau pulang ke Solo, biar Ibu yang merawat kamu sampai sembuh?" tawar Bu Galuh.


"Indi tinggal dengan Mas Satria saja, Ibu," balasnya.


Satria menganggukkan kepalanya. "Iya, Sayang. Aku akan selalu mendampingi dan merawat kamu sampai sembuh," kata Satria.


"Dijaga baik-baik yah, Sat," kata Bu Galuh.


Bunda Ervita yang sejak tadi diam akhirnya juga berbicara. "Mas Satria, rawat dan jaga Indi yah. Yang dilakukan Indi benar, tinggallah bersama suamimu. Melewati semuanya bersama. Itu dulu yang Bunda lakukan bersama Ayahmu," kata Bunda Ervita.


Ayah Pandu menganggukkan kepalanya setuju dengan pernyataan istrinya. Memang dulu, hidup pernah mengalami pasang surut, dan Bunda Ervita selalu bersama dengan Ayah Pandu. Di mana suami berada, di sana semestinya istri turut mendampingi.


"Iya, Bunda dan Ibu, Satria akan merawat Indi sendiri. Tidak akan membiarkan Indi. Kami akan melewati semuanya bersama-sama," kata Satria.


"Makasih, Mas," kata Indi.


"Sama-sama, Sayang."


Rama Bima kemudian berpamitan dengan keluarga Hadinata karena masih ada pekerjaan mendesak yang dilakukan. "Bapak Hadinata, saya mohon pamit. Terima kasih untuk semuanya. Di lain waktu, saya dan keluarga akan datang ke rumah Bapak Hadinata dengan lebih layak dan membicarakan resepsi Satria dan Indi. Terima kasih banyak."


"Sama-sama Bapak Bima. Kami tunggu keluarga Negara untuk kembali datang ke rumah kami," balas Ayah Pandu.


Tidak ada dendam di dalam hati Ayah Pandu. Pintu rumahnya selalu terbuka menyambut kedatangan Negara. Justru ini menjadi momen yang baik. Semoga usai semua ini kedua keluarga akan benar-benar berbaikan dan memiliki hubungan yang lebih rekat.

__ADS_1


__ADS_2