
Kembali ke Jogjakarta ....
Tumbuh kembang Nakula dan Sadewa seakan kian menakjubkan setiap harinya. Bahkan di usianya sekarang yang sudah satu setengah tahun, keduanya sudah berjalan dengan lancar. Walau untuk berbicara masih tertinggal. Hanya beberapa kosakata saja yang dikuasi Nakula dan Sadewa yaitu Mama, Papa, dan Maem. Selain itu agaknya Nakula dan Sadewa masih belum lancar berdiri. Untuk beberapa hal, keduanya masih suka menunjuk-nunjuk.
"Nakula dan Sadewa baru satu setengah tahun udah kelihatan gede yah, Sayang," kata Satria dengan mengamati kedua putranya.
"Makannya tambah lahap, selain itu masih ASI, Papa ... Nakula dan Sadewa kan bertumbuh juga setiap hari," balas Indi.
"Untung Nang-Nang makannya mudah yah ... selain itu mereka juga mau buah dan sayur. Jadi pastinya Nakula dan Sadewa lebih sehat," balas Satria lagi.
Usai itu, Indi kemudian menganggukkan kepalanya. Dia mensyukuri dengan Nakula dan Sadewa yang tidak pilah-pilih makanan. Selain itu keduanya juga begitu buah dan sayur. Tentu itu membuat Nakula dan Sadewa juga lebih sehat.
"Sudah menjadi orang tua melihat anak-anak tumbuh sehat dan kuat saja udah senang yah, Mas," kata Indi.
"Iya, dulu ... kalau melihat Nakula dan Sadewa demam karena imunisasi atau tumbuh gigi saja sedihnya. Kasihan lihat wajah mereka memerah, menangis lebih sering, dan waktu tumbuh gigi air liurnya juga banyak. Doaku sih, Nakula dan Sadewa sehat terus," balas Satria.
Memang usia-usia seperti Nakula dan Sadewa ini kalau pun sakit biasanya karena demam bisa pasca imunisasi atau bisa juga demam karena tumbuh gigi. Namun, jika demam karena tumbuh gigi biasanya Satria merasa lebih kasihan karena gusinya bengkak, air liurnya lebih banyak, selain itu juga kadang makannya menjadi berkurang karena merasa tidak nyaman di area mulutnya.
"Semua orang tua juga mendoakan itu, Mas. Katanya Ibu, Ibu sudah pengen cucu lagi itu, Mas," cerita Indi sekarang dengan tertawa.
"Udah kasih kode yah?" tanya Satria.
"Bukan sekadar kode, Mas ..., tapi beneran minta secara langsung. Kalau bisa sih cucunya gantian cewek. Nanti mau dibelikan baju yang lucu-lucu sama Eyang putri. Mau diajak main ke Mall," cerita Indi lagi.
Satria yang mendengarkan cerita dari istrinya pun tertawa. "Ya, aku sih mau-mau saja. Kamu itu mau apa enggak? Memiliki anak cewek juga aku pengen, Sayang. Pengen ada yang manja-manja gitu ke aku," balas Satria.
__ADS_1
Sekarang Indi tertawa. Rupanya suaminya juga menginginkan untuk memiliki anak cewek, katanya supaya ada yang manja dengan dirinya. "Istrinya kurang manja yah Bapak?" tanya Indi dengan melirik suaminya itu.
"Kamu sih mandiri, Sayang ... penyabar juga. Jarang banget manja malahan," balas Satria.
"Aku manjanya dulu waktu kecil kali ... manja ke Yayah. Katanya Bunda sih begitu," balas Indi.
"Nah, aku juga pengen tuh ada yang manja ke aku ... lucu kan kalau anak cewek manja-manja gitu ke Papanya. Sesiapnya kamu aja, Sayang. Yang hamil dan melahirkan itu kamu. Yang pasti, aku akan selalu mensupport kamu kok," balas Satria.
"Gampang, Mas. Hamil dan punya anak lagi kan membutuhkan persiapan yang matang. Fisik, emosi, mental, dan finansial. Mas, udah persiapan belum?" tanya Indi.
Satria kemudian tertawa. Namun, dia mengakui bahwa apa yang dikatakan oleh istrinya sangat benar. Hamil dan memiliki anak lagi membutuhkan persiapan. Setidaknya masa depan anak terjamin juga nantinya. Untuk menghidupi anak-anak juga membutuhkan persiapan finansial.
"Udah sih ... cukup untuk sekolah anak-anak nanti. Papanya akan terus bekerja keras," balas Satria.
"Kan tanggung jawab orang tua bukan hanya hamil dan melahirkan saja, Mas. Juga bertanggung jawab memenuhi kebutuhannya lahir dan batin, pemenuhan nutrisinya. Biar anak-anak kita enggak stunting. Selain itu, mendapatkan pendidikan juga. Kompleks," balas Indi.
Satria berkata demikian. Dia hanya mengantisipasi saja jika istrinya nantinya akan hamil kembar lagi. Kalau benar, lebih baik tutup produksi saja. Cukup dengan empat anak nanti.
"Enggak jadi setengah lusin?" tanya Indi dengan tertawa.
"Empat sudah banyak, Sayang ... menurutku sih udah cukup," balas Satria kini.
Usai itu, Satria melanjutkan bermain dengan Nakula dan Sadewa mereka heboh bermain bola-bola kecil. Ruang bermain Nakula dan Sadewa itu sampai seperti Play Ground yang banyak mainan di sana. Kadang kamar bermain itu juga berantakan dengan berbagai mainan. Akan tetapi, ketika memiliki anak memang seperti itu. Beberapa bagian di sudut rumah hanya bersih di waktu anak-anak sudah tidur saja.
"Mas, nanti kalau anak-anak sudah tidur, kita ngobrol dan nonton berdua yah," ajak Indi kemudian kepada suaminya itu.
__ADS_1
"Yakin, cuma mau itu? Enggak mau yang lain?" tanya Satria dengan mengedipkan matanya.
Indi malu sendiri jadinya. Dia padahalnya hanya ingin mengobrol dan juga menonton dengan suaminya saja. Akan tetapi, ada hal lain yang ditawarkan suaminya. Itu membuat Indi malu. Walau sudah menikah beberapa tahun juga dengan Satria.
"Malu, Mas ... itu dilihatin Nang-Nang loh," balas Indi.
Satria sendiri kemudian tertawa. "Ayo, Nang-Nang ... makin gede yah ... kalian mau punya adik enggak? Eyang Putri sudah meminta adik. Mau cucu cewek," kata Satria.
Itu adalah ucapan yang lucu. Sebab, anak-anak seusia Nakula dan Sadewa juga pastilah belum begitu tahu apa itu adik. Lagipula mereka sudah memiliki saudara kandung, kembarannya yang bisa diajak bermain bersama sepanjang hari. Teman bermain dan belajar. Sehingga memang, mungkin keduanya merasa cukup untuk satu sama lain.
"Biar dua tahun dan Nang-Nang lepas ASI dulu, Pa ... setengah tahun lagi. Setengah tahun kalau dinikmati tidak lama kok. Seperti mengedipkan mata," balas Indi.
"Siap, Mama ... apa pun itu, aku sih mendukung selalu. Yang penting kita menjalani semuanya bersama-sama. Suka dan duka kita lewati bersama," balas Satria.
"Pa ... Papa ... aem," kata Sadewa dengan menunjuk ada roti di dekat meja.
"Itu Sadewa mau maem, Papa ... mau maem roti," kata Indi.
"Iya, Papa ambilin. Sayang dulu dong Papanya," balas Satria dengan menunjuk pipinya, memberi isyarat kepada Sadewa untuk mencium pipi Papanya.
Akhirnya Sadewa mendekat dan mencium pipi Papanya itu dengan mulut terbuka. Sehingga pipi Satria terkena air liur putranya itu.
"Ya ampun, kamu sayang pipinya Papa malahan basah semua," kata Satria dengan tertawa.
"Lucu yah, Pa ...."
__ADS_1
Akhirnya Satria tertawa lagi dan mengambilkan roti untuk Sadewa. Namun, kemudian Nakula mendekat dan ikut meminta roti. Sehingga, Satria membagikan roti khusus untuk anak-anak itu untuk Nakula dan Sadewa. Sementara Indi tertawa mengamati tingkah lucu kedua putranya itu yang semakin hari semakin lucu dan ada-ada saja akalnya.