Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Lantaran Video Call


__ADS_3

Handphone milik Irene yang ditaruh di meja kala itu berdering. Bahkan terlihat ada yang sedang melakukan panggilan video sekarang. Bunda Ervita kebetulan menengok layar handphone milik putri bungsunya itu.


"Dek, handphone kamu loh. Ada yang melakukan panggilan video," kata Bunda Ervita.


Irene yang sebelum tengah bermain dengan Nakula dan Sadewa, kemudian sedikit berlari. Dia menyerahkan kedua keponakannya itu kepada kakak iparnya dan Ayah Pandu. Kemudian, Irene mendekat ke meja untuk mengambil handphonenya.


"Maaf, Irene jawab teleponnya dulu," katanya.


"Cie, siapa sih? Sampai dibela-belain Video Call loh," kata Indi bercanda.


Irene hanya tersenyum, dia pergi agak menjauh. Sementara Bunda Ervita dan Indi saling pandang. Menurut mereka berdua kalau sampai melakukan panggilan video itu memiliki hubungan yang lebih akrab. Sebab, hanya mereka yang akrab yang terbiasa melakukan panggilan video. Sementara untuk seseorang yang memiliki hubungan biasa-biasa saja, biasanya cukup hanya bertukar pesan saja.


"Siapa yah, Mbak?" tanya Bunda Ervita yang merasa ingin tahu.


Indi kemudian mengedikkan bahunya sembari menggelengkan kepalanya. "Kurang tahu juga, Nda."


"Biasanya kalau sampai videocall kan dekat yah? Spesial gitu," kata Bunda Ervita.


Indi kemudian tersenyum, dia melirik wajah Bundanya. "Tidak apa-apa, Nda. Semisal ada yang istimewa, nanti pastinya Irene akan cerita kok sama kita. Belum mendapatkan waktu yang tepat aja," balas Indi.


Mendengar apa yang dikatakan Indi akhirnya Bunda Ervita menganggukkan kepalanya. Menyadari bahwa apa yang Indi katakan benar adanya. Melakukan panggilan video itu pastilah hubungannya dekat, tapi kalaupun ada yang spesial di dalam hidup Irene, mereka akan menunggu sampai Irene bercerita nanti.


Sementara itu, Irene yang sedikit menjauh mulai menggeser ke atas ikon video di layar handphonenya. Di sana muncul seorang anak kecil dengan rambut sebahu dan poni di keningnya. Anak kecil itu tersenyum lebar ketika melihat Irene.


"Miss Irene," sapanya dengan melambaikan tangannya.


"Hei, hallo ... tumben kok videocall Miss Irene?" tanyanya.


"Iya, Miss. Soalnya sekolah libur. Aku nyariin, Miss. Kemarin ke sekolah, Miss Irene pulang ke Jogja yah?" tanya anak kecil berusia lima tahun itu.


Tampak Irene lantas menganggukkan kepalanya. "Iya, Miss Irene pulang ke Jogja, ke rumah Ayah dan Bundanya Miss Irene. Kamu tidak liburan?"

__ADS_1


"Mau liburan gimana sih, Papa sibuk banget. Mau liburan sama Daddy dan Onty aja nanti," balasnya.


Anak kecil yang adalah murid di sekolah tempat Irene mengajar. Dia memanggil Papa kandungnya dengan panggilan Papa, sementara memanggil kakak dari Papanya yang seharusnya Uncle, justru dia memanggilnya Daddy karena sudah begitu akrab dengan unclenya. Sejak kecil, Papanya bersekolah di Melbourne, Australia sehingga dia jauh dengan Papanya. Justru lebih dekat dengan Unclenya yang lambat laun justru dia panggil Daddy.


"Yang penting berlibur. Setelah liburan berakhir, kembali ke sekolah lagi yah," balas Irene.


"Iya, mau ketemu Miss Irene lagi," balas anak kecil itu.


"Oke, kamu jangan lupa makan makanan sehat kalau kemana-mana memakai masker ya. Miss Irene mau main dengan keponakannya Miss dulu," pamit Irene menyudahi panggilan videonya.


"Keponakannya cowok atau cewek, Miss? Kalau sepupuku cewek," balasnya.


"Keponakannya Miss Irene cowok nih. Kembar, cowok semuanya," jawab Irene.


"Oke Miss. Bye Miss, aku mau diajak Oma dan Opa ke rumah Daddy dulu. Bye Miss Irene."


Setelah panggilan video berakhir, Irene tersenyum sendiri. Kemudian dia menyimpan handphonenya ke dalam saku celana. Irene bergabung lagi dengan Bunda dan kakaknya.


"Oh, dari salah satu muridnya Irene kok, Nda. Kasihan dia tidak liburan, katanya Papanya sibuk banget. Jadi, menelpon Irene," ceritanya.


"Lalu, Mamanya di mana?" tanya Bunda Ervita.


Pikir Bunda Ervita, jika Papanya sibuk setidaknya masih ada Mamanya yang bisa mengajaknya liburan. Apalagi di Jakarta, bisalah seorang Mama mengajak anaknya jalan-jalan ke Mall walau hanya sekadar mengunjungi playground saja.


"Irene tidak tahu Mamanya itu, Ma. Yang dia ceritakan cuma Papa, Daddy, Onty, Opa, dan Omanya," balas Irene.


Indi mengernyitkan keningnya. Dia penasaran kenapa ada yang disebut Papa dan ada yang disebut Daddy. "Kok punya Papa dan Daddy? Aneh enggak sih?" tanya Indi secara langsung.


"Oh, kalau Papa itu ya Papa kandungnya. Kalau Daddy itu sebenarnya pamannya, Mbak. Pakde yah kalau di Jawa. Cuma karena dari bayi lebih dekat sama pamannya itu jadi manggilnya Daddy. Kalau Onty, ya istri pamannya yang dia panggil Onty," cerita Irene.


Indi memahami sekarang. Sebab, tak dipungkiri zaman sekarang banyak penyelewengan di sana sini. Orang tua juga lebih berhati-hati. Namun, dari ceritanya Irene, setidaknya Indi dan Bunda Ervita mengerti latar belakangnya.

__ADS_1


"Kasihan yah ... itu Mamanya masih ada atau gimana. Untung Opa dan Omanya baik," kata Indi lagi.


"Ya, iya Mbak. Yang sering mengantar ke sekolah ya Opanya kok, Mbak." Irene berbicara demikian, kemudian dia berkata lagi dengan menatap wajah Bundanya. "Opanya yang ketemu sama Nda dan Yayah waktu di Jakarta dulu itu loh, Nda," cerita Irene.


Bunda Ervita sekarang mengangguk-anggukkan kepalanya, mengingat sosok pria paruh baya yang pernah dia temui saat mengantar Irene ke Jakarta untuk kali pertama. Saat itu, sempat juga Bunda Ervita berpikiran yang tidak-tidak. Untung saja dia hanya wali murid dari salah satu muridnya Irene.


"Oh, yang itu ... yang usianya hampir se Yayah kan?" tanya Bunda Ervita.


"Iya, Nda. Opanya yang itu."


"Lebih hati-hati, Rene. Bisa saja nanti muridmu itu butuh kasih sayang seorang ibu. Mengingat dia tidak pernah menceritakan sosok ibunya," kata Indi.


Irene kemudian tertawa. "Duh, kok jadi begitu Mbak. Kan cuma guru dan murid aja kok, Mbak. Gak akan lebih. Irene juga gak tahu Mamanya masih ada atau tidak, terus kan lebih ke ranah pribadi yah, Mbak. Aduh, senormalnya aja, Mbak," balas Irene.


"Kan siapa tahu juga, Dek. Anak kecil kalau sayang biasanya lama-lama akan ketergantungan, jadi gak mau pisah. Hm, contohnya aku sendiri kali yah waktu kecil dulu. Melihat sosok Yayah itu ya Yayahku, jadi sayang dengan sendirinya. Sosok yang harusnya aku panggil Om, malahan aku panggil Yayah. Bisa saja. Sebab, perasaan itu tumbuh sendiri. Rasa sayang ke sosok layaknya orang tua," kata Indi.


Mendengarkan apa yang Indi katakan, Bunda Ervita terdiam. Yang dikatakan Indi tidak salah, tapi memang fakta. Namun, di satu sisi Bunda Ervita memikirkan putri bungsunya itu.


"Bisa saja, Dek. Penting jangan merusak rumah tangga orang lain. Kamu dan kami di sini tidak tahu bagaimana latar belakang muridmu itu. Profesional dulu sebagai guru," nasihat Bunda Ervita.


"Iya, Bunda ... pasti Irene akan melakukannya."


Nasihat dan cerita dari Bunda dan kakaknya akan didengar dan menjadi pertimbangan untuk Irene. Walau demikian, Irene juga hanya bersikap baik kepada anak-anak yang dia ajar saja. Walau ke depannya garis takdir manusia juga tidak ada yang tahu.


...๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€...


Dear seluruh pembaca setia,


Bulan ini kisahnya Indi dan Satria akan tamat yah. Awal bulan, kita akan lanjutkan dengan kisahnya Irene yang juga seru. Jadi, selalu dukung yah. ๐Ÿฅฐ


With Love,

__ADS_1


Kirana๐Ÿงก


__ADS_2