Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Pertemuan Dua Keluarga


__ADS_3

Selang sepekan kemudian, Indi sudah benar-benar pulih. Bengkak dan bekas luka lebam di badannya sudah sembuh. Selain itu, berkat Satria juga yang telaten, Indi bisa berjalan lagi.


"Sudah bisa berjalan sekarang," kata Satria.


"Berkat kamu, Mas. Kalau tidak pastilah kakiku masih bengkak," balas Indi.


Sebab, Satria benar-benar meluangkan waktu seminggu cuti untuk mengurus istrinya. Selain itu, ada kalanya Satria memberikan Param. Param adalah sebuah obat tradisional yang terbuat dari jahe, serai, cengkih, mentol, gondopuro, dan bahan lainnya. Cara pemakaiannya digosokkan di bagian tubuh yang merasakan pegal, keseleo, hingga rematik. Semua itu tentunya karena keluarga Negara sebagai pengusaha jamu memiliki berbagai ramuan tradisional yang memang bisa dijadikan obat selama bertahun-tahun.


"Kalau habis dikasih Param itu kakinya jadi enak, Mas. Dingin-dingin gitu di kulit, bengkaknya juga lebih cepet pulih," balas Indi.


"Kan dirawat suami sendiri dengan penuh cinta. Jadi memang harus cepat sembuh," balas Satria.


Indi tak ragu, suaminya memang sangat telaten merawatnya. Indi pun bisa merasakan bahwa suaminya itu merawatnya benar-benar penuh dengan cinta. Seketika, Indi tersenyum sembari menyadarkan kepalanya di bahu suaminya itu.


"Terima kasih banyak ya Mas Suami ... kamu baik banget. Bunda berkata seorang suami yang mau merawat istrinya yang tengah sakit itu menunjukkan bahwa mereka adalah pria yang berakhlak baik," kata Indi.


"Sama-sama. Baginda Rasulullah saja memberi teladan, Sayang. Bahkan Baginda Rasulullah tidak ragu membantu istrinya, tak segan turut menjahit sendiri baju yang Beliau kenakan. Jika Baginda Rasulullah saja begitu agung dan menjadi suri tauladan, harusnya para hambanya juga melakukan hal yang sama," kata Satria.


Kebaikan dan cara Satria yang menuturkan dengan lembut ini yang menjadi penyejuk hati untuk Indi. Luar biasa rasanya kala memiliki suami yang benar-benar baik, seorang suami yang melakukan perintah agama dengan baik.


"Oh, iya Sayang ... berhubung kamu sudah pulih dan membaik, besok kita akan ke rumah Ayah dan Bunda yah. Rama dan Ibu akan datang ke rumah Ayah dan meminta dengan baik-baik supaya anaknya Ayah Pandu bisa menjadi menantu di kediaman Negara," kata Satria.


"Rasanya aneh, Mas. Kan kita sudah menikah. Resmi juga di hadapan agama dan negara," balas Indi.


"Ya, kan Ramaku belum datang dengan baik-baik ke pihak keluarga Besan. Kalau mengingat yang dulu, aku sangat terharu loh, Sayang. Waktu itu, aku baru saja keluar dari rumah, belum berpikir kerja dan mendapatkan penghasilan berapa. Saat aku datang ibarat kata dengan tangan kosong, malahan Ayah dan Bunda menerima aku loh. Di zaman sekarang menantu idaman itu yang mapan dan tampan. Aku justru belum bisa dikatakan mapan. Kan baru cari kerjaan paginya, gajinya berapa juga belum tahu," balas Satria.

__ADS_1


Indi tersenyum perlahan. "Mungkin Ayah dan Nda sudah mempertimbangkan terlebih dahulu bahwa menantunya ini adalah sosok yang baik dan pengertian. Jadi, langsung dapat restu," balas Indi.


"Mungkin saja yah. Aku juga bingung kok. Ketika seorang Ayah mempercayakan anak perempuan itu adalah hal yang berat, Sayang. Dilimpahi tanggung jawab dan juga ada harap yang sang Ayah berikan bahwa kepada pria itu akan dipercayakan putrinya untuk disayangi, dikasihi, dan dinafkahi, selain itu dihormati sebagai wanita. Iya kan?" tanya Satria.


"Iya, Mas. Seharusnya kan begitu kan? Lagipula, seorang istri juga adalah milik suaminya, mengabdi kepada suami. Jadi, hak dan kewajiban itu seharusnya berjalan seimbang, Mas," balas Indi.


Satria menganggukkan kepalanya perlahan. "Ya sudah, penting besok kita ke rumah Ayah dulu yah. Impian kita sudah terwujud, Sayang. Sudah mendapatkan restu dari Rama. Setelah ini, aku memimpikan anak-anak yang akan semakin menyemarakkan kehidupan rumah tangga kita," balas Satria.


Untuk Satria sendiri memang setelah merasakan pasang surut berumahtangga padahal rumah tangganya belum seumur jagung, baru berjalan tiga minggu. Akan tetapi, Satria sudah mengharapkan akan segera memiliki keturunan dengan Indi.


...🍀🍀🍀...


Akhir Pekan Kemudian ....


Sekarang di kediaman Hadinata akan kembali menerima tamu yang tidak lain dan tidak bukan adalah dari keluarga Negara yang kembali datang. Dulu, Keluarga pernah datang dengan niat baik, sayangnya urung ketika tahu bahwa Indi adalah seorang gadis tanpa nasab. Sekarang, kembali datang dengan banyak Serah-Serahan Paningset Pengantin untuk Indi.


"Kula nuwun (Permisi dalam bahasa Indonesia), Assalamu'alaikum," sapa Rama Bima ketika datang ke kediaman Hadinata.


"Waalaikumsalam, mari silakan Bapak dan Ibu Negara," balas Ayah Pandu sembari mempersilakan Besannya itu untuk duduk.


"Akhirnya, hari ini datang Pak Pandu ... mengingat Mbak Indi juga sudah semakin membaik," kata Rama Bima.


Memang Rama Bima sengaja menunggu sampai Indi lebih baik dan semakin pulih. Bagaimana pun, ini adalah hari yang baik dan dinanti Indi juga. Di mana dia akan diminta dengan baik-baik oleh keluarga Satria.


"Bapak Bima Negara, sebelumnya mohon maaf, kenapa membawa begitu banyak Seserahan Paningset untuk Pengantin. Bukannya apa, tapi dulu Satria sudah memberikan untuk Indi," kata Ayah Pandu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Pak Pandu. Dulu kan yang memberikan Satria, sekarang Rama nya, keluarganya Satria yang memberikan. Tanda kami meminta baik-baik Mbak Indi untuk menjadi bagian keluarga Negara," kata Rama Bima.


Usai itu, Bu Galuh berdiri dan menghampiri Indi. "Mbak Indi, titipan dari Eyangnya Satria ... ini adalah kalung dan gelang keluarga Negara yang akan diwariskan secara turun-temurun. Diterima yah," kata Bu Galuh.


Indi menganggukkan kepalanya. Kemudian, Bu Galuh mengenakan kalung dengan liontin berpermata hijau, dan gelang keluarga itu kepada Indi. Usai memakaikannya, Bu Galuh pun tersenyum, "Cantiknya Mbak Indi ...."


Rama Bima juga tersenyum. Dia berdiri dan mendekati Indi. "Ini hanya tanda bahwa Mbak Indi sudah resmi menjadi keluarga Negara," katanya.


Indi pun menganggukkan kepalanya. "Terima kasih banyak, Rama," balas Indi.


Usai itu, semuanya kembali duduk ke tempatnya masing-masing. Rama Bima kemudian juga bertanya kepada Ayah Pandu.


"Apakah Bapak Pandu dan keluarga memiliki request khusus untuk hari digelarnya resepsi nanti?" tanya Rama Bima.


"Ah, tidak Pak Bima ..., kalau kami sendiri percaya semua hari itu baik adanya. Akan tetapi, jika berkenaan dengan hari yang baik, kami serahkan saja ke Keluarga Negara. Juga resepsi nanti akan dilakukan di mana? Kalau saya mengusulkan satu tempat saja Pak Bima. Mau di Jogja atau di Solo, monggo ... kami mengikuti saja," kata Ayah Pandu.


"Bukan bermaksud aneh yah Pak Pandu, saya masih mempercayai hitungan baik. Jadi, kami nanti akan carikan hari dan tanggalnya. Kalau untuk pestanya bagaimana kalau di Solo saja?" tanya Rama Bima.


"Boleh Pak Bima, kamu mengikuti saja," balas Ayah Pandu.


Usai itu, Rama Bima menganggukkan kepalanya. Dia kemudian memberanikan diri untuk berbicara satu hal. "Maaf Pak Pandu dan keluarga, tanpa mengurangi rasa hormat apakah bisa pihak Ayah kandungnya Mbak Indi turut diundang. Bagaimana pun, nantinya ada ikatan kekerabatan nanti," kata Rama Bima.


"Tentu bisa, Pak Bima. Dulu waktu Indi dan Satria melakukan akad, Bapaknya Indi juga datang," jelas Ayah Pandu.


"Sungguh luar biasa," sahut Rama Bima.

__ADS_1


Di dalam benak Rama Bima, dia baru melihat keluarga yang bisa lapang dada, mau memberikan maaf untuk mereka yang sudah menabur luka. Potret keluarga seperti ini tidak pernah Rama Bima temui sebelumnya.


__ADS_2