
Siang itu, Indi benar-benar mendengarkan pengalaman berharga. Terkait dengan bagaimana dulu bisnis jamu berawal, hingga akhirnya benar-benar menjadi industri jamu yang sudah mencapai pasar mancanegara. Untuk Indi itu adalah hal yang baik, sama seperti Batik Hadinata. Di mana bermula dari Eyang-Eyang dulu hanya sebagai pengrajin batik untuk Keraton, hingga akhirnya batik bisa dipasarkan dan juga menjadi warisan budaya dunia yang sudah diakui UNESCO.
Sangat indah rasanya mendengarkan cerita yang sudah terjalin puluhan hingga ratusan tahun. Cara pembuatan yang tradisional, memang sudah digantikan dengan tenaga mesin. Akan tetapi, kualitas yang sudah dimiliki sejak zaman dulu itu terus dipertahankan.
"Kecapekan enggak Mbak Indi?" tanya Bu Galuh sekarang.
"Enggak, Bu ... ada yang bisa Indi bantuin?" tanya Indi.
"Bantuin apa, di sini sudah ada Bibi yang mengurus rumah. Kalau enggak capek nanti ke rumah Eyangnya Satria. Biar kenal. Kemarin waktu resepsi itu juga sudah datang, tapi belum ngobrol banyak," kata Bu Galuh.
Tampak Rama Bima pun menganggukkan kepalanya. Hari ini juga menjadi hari yang baik untuk mengajak serta Indi ke rumah Eyangnya. Memang supaya Eyangnya Satria bisa berkenalan dengan cucu menantunya.
"Iya, tidak apa-apa, Bu," balas Indi.
"Hari ini, Eyang sedang Karang Pandan mengunjungi Kebun Teh yang ada di kaki Gunung Lawu. Jadi, kita sekarang ke sana saja," balas Rama Bima.
Hingga pada akhirnya, keempatnya menuju ke kawasan Karang Pandan, sebuah daerah yang memiliki iklim sangat sejuk karena berada di kaki Gunung Lawu, selain itu daerah Karang Pandan sendiri berada di dataran tinggi sehingga memiliki iklim yang dingin dan sangat sejuk. Banyak perkebunan teh, dan sumber mata air pegunungan di sana. Selain itu, masih ada situs sejarah yang ada di sekitar perkebunan teh seperti Candi Ketheg (Monyet dalam bahasa Indonesia), Candi Sukuh, dan Candi Cetho. Ketiga candi ini dipercaya masyarakat sebagai candi peninggalan Kerajaan Majapahit.
"Ke Kebun Teh, Rama?" tanya Satria.
__ADS_1
"Iya, kamu yang bawa mobilnya yah, Sat ... hati-hati saja," balas Rama Bima.
Satria menganggukkan kepalanya, dan dia membawa keluarganya menuju ke arah perkebunan teh. Ada Rama Bima yang duduk di depan. Sementara di belakang ada Indi dan Bu Galuh.
"Ada tempat di Solo yang ingin kamu kunjungi enggak?" tanya Bu Galuh kepada menantunya.
"Sebenarnya kalau beberapa tempat sudah Indi kunjungi, Bu ... kan Eyangnya Indi dari pihak Ibu dari Solo. Jadi, sudah familiar dengan wisata di Solo," balas Indi.
"Masuk keraton sudah pernah?" tanya Bu Galuh lagi.
"Yang Museum Kasunanan Solo sudah, Bu ..., yang Pura Mangkunegaran justru belum pernah," jawab Indi.
Indi menganggukkan kepalanya. Dulu, Indi sendiri mengira bahwa keluarga Ningrat itu akan banyak aturan. Misalnya kala berkomunikasi sehari-hari harus dengan Bahasa Jawa Krama Inggil yang halus. Ya, itu sebab dalam Bahasa Jawa ada tingkatan-tingkatannya. Ada bahasa diperuntukkan untuk berbicara dengan orang dihormati, orang yang lebih tua, dan untuk teman sebaya. Penggunaannya akan dibedakan. Akan tetapi, dalam berbahasa, rupanya keluarga Negara justru sering menggunakan Bahasa Indonesia. Walau memang ada kalanya, bahasa Jawa Krama Inggil yang halus, yang digunakan.
Perjalanan dari rumah Satria menuju ke area perkebunan Teh kurang lebih satu jam. Sekarang mereka seakan berada di antara perkebunan Teh dan ada sebuah kedai teh yang ada di kawasan Karang Pandan. Mereka berempat pun menuju kedai Teh yang memiliki keistimewaan bahwa teh yang dijual adalah teh yang dipanen dan diseduh sendiri.
"Pesan apa Mbak Indi? Ayo, pesan ... jangan malu-malu," kata Rama Bima.
Indi mengangguk lagi. Dia kemudian memesan Teh Melati hangat, dan ada Mendoan yang dipesan keluarga Negara. Baru memesan, tidak berselang lama sudah hadir Eyang Kakung dan Eyang Putri Negara yang rambutnya sudah campuran putih dan hitam, sehingga seperti kelabu. Indi pun berdiri dan memberikan salam takzim kepada Eyang dari suaminya.
__ADS_1
"Sugeng siyang, Eyang," sapa Indi. Apa yang Indi sampaikan itu bermakna 'Selamat Siang' dalam Bahasa Jawa Krama halus.
"Ya, ini istrinya Satria kan?" tanya Eyang Putri.
"Nggih, Eyang," jawab Indi.
"Akhirnya bisa ketemu Eyang yah, Cah Ayu ... kemarin Eyang datang di resepsi kalian dan cuma hadir dan foto bersama. Belum kenalan langsung," kata Eyang Putri lagi.
Siang itu, sembari menikmati Teh yang diambil langsung dari perkebunan teh dan menikmati udara sejuk di kaki pegunungan keluarga Negara saling mengenal dan juga mendekatkan Indi juga sebagai cucu menantu yang baru.
"Kalau Eyang ke Jogja boleh dong, lihat koleksi Batik Hadinata yang terkenal itu?" tanya Eyang Kakung.
"Inggih, sumangga pinarak, Eyang Kakung. (Iya, silakan datang, Eyang Kakung)" jawab Indi.
"Boleh, nanti Eyang mampir. Sudah menikah, sudah ayem yah hatinya."
Eyang Kakung berkata demikian. Ayem adalah istilah untuk menjelaskan bahwa suasana hati Satria dan Indi sekarang sudah lebih damai sejahtera pastinya. Ketika dua insan sudah menjadi satu, rasanya pastilah tidak ada berbagai kekhawatiran lagi.
"Jangan menunda memiliki momongan yah, Cah Ayu. Mumpung Eyang-Eyangnya Satria masih gesang (masih hidup, dalam bahasa Indonesia), biar Eyang merasakan memiliki cucu buyut," kata Eyang Putri.
__ADS_1
Rupanya Eyang-Eyangnya Satria juga menginginkan supaya Indi dan Satria nanti tidak menunda untuk memiliki momongan. Eyang yang sudah berusia lebih dari kepala enam itu rupanya sudah menginginkan menimang cucu buyut. Di sana Indi dan Satria hanya tersenyum. Memang keduanya tidak menunda, tapi sejatinya keturunan pun sudah Allah gariskan dan hadir dalam waktu yang Allah tetapkan.