Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Di Jakarta 2


__ADS_3

Kurang lebih sudah dua hari Ayah Pandu dan Bunda Ervita berada di Jakarta. Satu kamar dengan putrinya Irene. Sekaligus menjadi momen lebih dekat dengan putrinya, sebelum beberapa hari lagi Bunda Ervita dan Ayah Pandu akan pulang ke Jogjakarta.


Hari ini Irene sudah akan bekerja. Sehingga pagi hari, Irene sudah bersiap mengenakan celana panjang dari bahan berwarna hitam dan kemeja. Rambut Irene yang panjang juga dikuncir.


"Sarapan dulu, Dek. Yayah tadi pagi jalan-jalan ke luar beli Nasi Kuning. Untuk mengganjal perut dulu," kata Ayah Pandu.


"Makasih, Yah. Harusnya Irene yang memikirkan sarapan untuk Yayah dan Nda," balasnya.


"Tidak apa-apa, Dek. Ayo sarapan dulu," balas Ayah Pandu.


Sementara Bunda Ervita menyodorkan secangkir Teh hangat untuk putrinya itu. "Teh masih sedikit panas, diminum dulu."


Walau wajahnya tersenyum, tapi Irene merasa bersedih. Nanti kalau kedua orang tuanya sudah kembali ke Jogjakarta pastilah Irene akan rindu dengan suasana kekeluargaan seperti ini. Ada Bunda yang selalu memasak enak, seduhan teh beraroma melati di pagi hari, dan ada Ayah yang selalu sabar dan perhatian dengannya.


Namun, Irene mengambil keputusan untuk bekerja di Jakarta, tentu dia sudah bersiap dengan semua konsekuensinya. Ada akan datang satu hari ketika dia merasa galau dan akan sangat rindu dengan suasana rumah dan kasih sayang kedua orang tuanya.


"Irene nanti bakalan kangen hari-hari kayak gini," katanya lirih.


"Kami juga akan rindu ada putri kecil kami di rumah. Bayangkan di rumah sebesar itu Yayah dan Nda hanya akan tinggal berdua," balas Bunda Ervita dengan tersenyum.


Tidak mudah beradaptasi dengan perubahan. Apalagi perubahan suasana rumah. Ketika biasanya ada anak di rumah, kemudian hanya ada pasangan kita. Rumah menjadi sepi itu pasti. Terbayang-bayang tingkah laku dan kebiasaan anak itu juga hal yang wajar. Bahkan tak jarang kedua orang tua bersedih karena sukar beradaptasi dengan perubahan.


"Kalau kangen nanti kami main ke Jakarta lagi yah, Dek," kata Bunda Ervita.

__ADS_1


"Iya, Nda. Walau nanti Irene tinggal bekerja yah?"


"Iya, tidak apa-apa. Kan kamu ke Jakarta juga untuk bekerja."


Menghabiskan nasi kuning yang dibungkus dengan wadah sterofoam dan meminum secangkir teh yang memang dibawa Bunda Ervita dari Jogja, Irene kemudian berpamitan dengan Ayah dan Bundanya.


"Irene berangkat bekerja dulu yah Yah dan Nda," pamitnya dengan mencium punggung tangan Ayah dan Bundanya.


"Iya, sukses yah, Dek. Allah permudah semuanya. Hati-hati, perlu Ayah anter enggak?" balas Ayah Pandu.


"Irene bukan Mbak Indi yang berangkat dan pulang bekerja sama Yayah. Irene bisa, Yah."


Ayah Pandu dan Bunda Ervita tersenyum. Memang begitu adanya. Dulu waktu Indi bekerja di kantor konsultan milik ayahnya, setiap hari ya Indi akan berangkat dan pulang bersama ayahnya. Hanya kadang kala saja kalau Ayahnya ada tender di luar kota, atau kepentingan lain, Indi baru membawa mobil sendiri. Dulu, Indi bahkan sangat identik sebagai anak ayahnya.


Walau sebenarnya Ayah Pandu sendiri tak membedakan antara Irene dan Indi. Keduanya sama-sama adalah putrinya yang dia sayangi. Namun, Ayah Pandu dan Bunda Ervita mengantarkan Irene hingga ke depan kostnya. Tampak pasangan jelang paruh baya itu melambaikan tangannya kepada Irene.


Saat mengatakan itu hati Ayah Pandu sebenarnya sedih. Rasanya baru kemarin dia mengantar Irene ke sekolah setiap paginya. Menurunkan Irene dari sepeda motor atau mobil miliknya, sementara sekarang Irene sudah dewasa. Putrinya sudah berusia 22 tahun sekarang, sudah bekerja.


"Kenangan sewaktu anak-anak masih kecil melekat di memori kita yah, Yah. Rasanya seperti baru kemarin rumah kita ramai, ada tawa dan tangisan Indi dan Irene. Namun, nanti saat kita kembali ke rumah, hanya ada suara kita berdua. Tidak ada suara dan tawa anak-anak kita."


Ayah Pandu menganggukkan kepalanya. Perubahan itu pasti akan mereka alami. Ketika Indi menikah dan kemudian tinggal bersama Satria saja rumah sudah begitu banyak berubah. Apalagi nanti ketika mereka pulang ke Jogjakarta. Situasi rumah tidak akan lagi sama.


Keduanya kemudian kembali masuk ke dalam kost. Menaiki anak tangga. Beristirahat dan memikirkan apa yang bisa mereka lakukan mumpung berada di Jakarta. Lagipula, hari ini Irene akan bekerja hingga jam 15.00 sore.

__ADS_1


"Nda mau jalan-jalan sama Yayah puter-puter Jakarta, atau mau istirahat saja?" tawar Ayah Pandu.


"Boleh yuk, Yah. Kalau capek istirahat yah."


Akhirnya Ayah Pandu dan Bunda Ervita memutuskan jalan-jalan berdua. Kali ini keduanya memilih menaiki Busway yang membawa mereka melihat kota Jakarta. Melihat gedung-gedung pencakar langit yang tinggi. Bahkan Bus Trans Jakarta itu juga melintasi area Bundara Hotel Indonesia. Ayah Pandu menunjukkan beberapa tempat terkenal yang bisa dilihat dari Busway yang mereka naiki.


"Ini Bundaran Hotel Indonesia, Nda. Patung Selamat Datang ya itu. Di sebelahnya ada Plaza Indonesia dan Grand Indonesia. Pasti sering melihat tempat ini di televisi kan?"


"Oh, kayak gini ya, Yah. Ikonnya kota Jakarta," balas Bunda Ervita.


"Iya nanti kita bisa juga menggunakan lihat Monas. Dari Monas ke Istana Negara itu dekat. Nda kalau mau turun ke Monas juga bisa," kata Ayah Pandu.


Cukup menaiki bus trans Jakarta saja beberapa tempat terkenal di Jakarta sudah bisa Bunda Ervita lihat. Walau memang keduanya harus berganti-ganti koridor Busway. Setidaknya ini jadi pengalaman sendiri untuk pasangan itu.


"Di Jogjakarta saja, Nda lupa kapan terakhir kali naik Trans Jogja. Sekarang sudah setengah hari naik Trans Jakarta," balas Bunda Ervita.


"Kapan-kapan Trans Jogjakarta atau Batik Trans kalau di Solo, Yayah juga mau kok. Yang penting Nda tidak kecapekan saja. Nanti kita makan siang bersama sebelum kembali ke kostnya Irene yah," balas Ayah Pandu.


"Nanti sekaligus beli dibungkus untuk Irene yah, Yah. Kan nanti jam tiga sore Irene pulang, kasihan kalau lapar," balasnya.


"Siap, Nda. Benar yah. Kasih Ibu sepanjang masa. Selalu ingat anaknya. Luar biasa," kata Ayah Pandu.


"Sudah sewajarnya, Yayah. Tinggal beberapa hari lagi di Jakarta, doakan Bunda lebih kuat yah, Yah. Ikhlas dan bisa beradaptasi lagi nanti," kata Bunda Ervita.

__ADS_1


"Selalu Nda, dalam setiap sujudnya Yayah, selalu ada nama Nda di bibir Yayah. Selalu Yayah bawa dalam sujudnya Yayah."


Bunda Ervita tersenyum. Ini bukan hanya ucapan manis, tapi Bunda Ervita percaya bahwa dalam setiap sujud suaminya ada namanya, nama anak-anak, dan cucunya yang selalu Ayah Pandu sebut dalam doa.


__ADS_2