
Tidak berselang lama Eyang Dirja dan Bu Galuh berpamitan dengan Satria dan Indi. Banyak pesan dan nasihat dari Eyang Dirja kepada pengantin baru itu. Sekarang, kala petang di rumah berlantai dua itu hanya ada mereka berdua.
"Istirahat, Sayang ... dari pagi baru sekarang bisa nyantai," kata Satria.
"Gak apa-apa, Mas. Ya ada sedih, ada bahagianya," balas Indi.
Sedih ketika terbiasa tinggal bersama orang tua, dan sekarang harus tinggal bersama suami. Harus beradaptasi dengan kebiasaan baru. Harus membiasakan diri menjadi istri yang tunduk dan melayani suami. Namun, juga bahagia ketika banyak nasihat, petuah-petuah yang baik yang akan mereka terapkan untuk berumahtangga.
"Ya, ini rumah kita, Sayang ... kita belajar bersama yah, untuk membina rumah tangga," kata Satria.
"Iya, Mas. Sama-sama belum berpengalaman, semoga bisa bertahan dan menyesuaikan diri," balas Indi.
Satria tersenyum, benar yang dikatakan Indi bahwa mereka sama-sama belum berpengalaman. Untuk itu, keduanya memang harus lebih banyak belajar. Selain itu, Satria juga akan belajar menjadi suami yang bertanggung jawab. Sebagaimana janjinya kepada Ayah Pandu, dia tidak akan meminang Indi dengan berbekal cinta, tapi juga menafkahi Indi.
"Oh, ada yang belum aku berikan, Sayang," kata Satria.
Pria itu mengambil debet card dari dompetnya dan menyerahkannya kepada Indi. "Kewajiban pertama seorang suami adalah memberi nafkah untuk istrinya, jadi nanti setiap bulan, hasil pendapatanku akan aku berikan kepadamu. Diterima yah, biarkan dapur di rumah kita terus mengepul. Isi perutku dengan makanan sehat," kata Satria.
Indi tersenyum, dia menerima kartu ATM dari suaminya itu. Indi menerima karena dia juga berpikir realistis bahwa cinta harus direalisasikan dengan tindakan. Suami memang memiliki kewajiban untuk menafkahi istri. Bukan hanya nafkah lahir, tapi batin. Semuanya harus berjalan seimbang.
"Aku terima yah, Mas," balas Indi.
"Harus diterima. Kan itu kewajibanku. Cinta ya cinta, tapi harus bertanggung jawab," balas Satria.
Indi menyimpan kartu ATM ke dalam dompetnya terlebih dahulu. Supaya tidak hilang. Setelah itu, dia kembali duduk di sisi suaminya.
"Kamu gak nanya dan tidak menetapkan setiap bulan aku harus memberikan berapa?" tanya Satria.
Dengan cepat Indi menggelengkan kepalanya. "Tidak, berapa pun itu aku terima. Nominal tidak menjadi masalah," balas Indi.
Yang dilakukan Indi sejalan dengan prinsip Bundanya, berapa pun yang diberikan suaminya akan diterima dengan tangan terbuka. Yang penting setiap uang bisa dialokasikan dengan tepat, dan disisihkan untuk ditabung. Selama suami masih berusaha memberikan nafkah, itu artinya para suami masih berusaha bertanggung jawab.
"Baik banget kamu, Sayang. Bahkan kamu tidak banyak menuntut. Makasih yah," kata Satria.
"Iya, Mas. Hm, kamu biasanya ngapain aja di rumah sendiri, Mas?" tanya Indi.
"Ya, bekerja. Kalau bosen nonton film, sambil Whatsapp-an sama kamu," jawab Satria. Namun, usai itu, Satria melirik Indi sesaat. "Kayaknya sekarang, aktivitasku di rumah lebih bervariasi deh, Sayang. Aku bukan lagi pemuda lajang, aku sudah dewasa dan beristri. Aktivitas di rumah lebih menyenangkan dengan kamu."
Indi menunduk, bagaimana pun rasanya malu. Terlebih usia pernikahan baru seminggu, masih malu-malu dan masih harus meraba-raba arah pembicaraan dan kemauan itu mengarah ke mana.
__ADS_1
"Kamu sudah selesai, Sayang?" tanya Satria perlahan.
Tentu Satria menanyakan itu karena sejak mereka menikah, baru sekali mereka merasakan indahnya malam pertama. Biasanya pengantin muda akan menggebu-gebu dengan malam pertama mereka dan menginginkan banyak eksplorasi untuk mencoba hal yang baru dengan pasangan mereka. Namun, Satria baru melakukannya sekali saja. Sebab, usai itu istrinya justru berhalangan. Praktis harus berpuasa terlebih dahulu.
Akan tetapi, Satria cukup sabar dan juga mau menunggu Indi. Setidaknya sudah sekali dia merasakannya. Tidak penasaran lagi dengan apa yang orang katakan sebagai surga dunia itu. Sekarang, ketika sudah berada di rumah sendiri, Satria agaknya ingin mengajak Indi menapaki tangga demi tangga menuju Swargaloka. Merasakan buaian malam yang tentunya akan membuai keduanya.
"Sudah," balas Indi dengan lirih.
Seketika senyuman terbit di wajah Satria. Pria itu kemudian menggenggam tangan Indi, bukan sekadar menggenggam, tapi tangannya mengusapi lengan dan punggung tangan Indi.
"Boleh lagi enggak, Sayang?" tanyanya.
"Sakit lagi tidak, Mas?" tanya Indi.
Pertanyaan yang lucu. Sebab, Indi masih bisa merasakan dan mengingat rasa sakit itu. Panas dan nyeri di area pangkal paha. Untuk itulah, Indi bertanya lagi kepada suaminya itu.
"Ya, pelan-pelan saja, Sayang. Aku sendiri akan berusaha tidak menyakiti kamu. Kendati begitu, untuk kali pertama kan memang harus menyakiti dulu, Sayang," jelas Satria.
Usai itu, Satria mengajak Indi ke ranjang mereka. Hari baru saja beranjak malam, tapi pintu depan rumah itu sudah terkunci. Bahkan lampu di ruangan tamu di bawah sudah diganti dengan lampu yang lebih redup. Hanya lampu di kamar mereka saja yang menyala.
"Sini, berbaring di sisiku," pinta Satria.
"Malam saja baru tiba, Mas," kata Indi lirih.
"Biarkan saja. Kalau akhir pekan boleh dong, sehari tiga kali ... kan kita libur, bisa pagi, siang dan malam," balas Satria dengan tersenyum.
Belum Indi memberikan jawaban, Satria sudah sedikit menindih Indi. Pria itu tidak berlama-lama segera menyapa bibir istrinya yang sudah merekah seperti kelopak bunga. Sebab, tidak perlu izin lagi untuk Satria. Malam ini, dia akan memastikan mengajak Indi merasakan buaian malam.
Dua bibir saling bertemu dan menyapa dalam kesan hangat dan basah. Hingga pelan-pelan, Satria membuka sedikit bibirnya, dan dia mulai memagut bibir Mira. Kesan hangat, manis, dan basah seketika keduanya rasakan. Lama-lama, bukan hanya sekadar pagutan, tapi Satria juga menghisap dan melu-mat bibir Indi dengan napas yang lebih memburu. Lidahnya pun menerobos masuk dan memberikan godaan yang membuat Indi memekik dan kian memejamkan matanya.
"Mas ... Satria."
Indi sudah tak berdaya dengan ciuman bertubi-tubi dan begitu intens dengan suaminya. Malu sesungguhnya, tapi bibirnya sesaat yang mengeluarkan kata-kata itu. Terlebih Indi sangat malu, karena cahaya di kamar itu sangat terang.
"Ya, Sayang ...."
Satria tidak memberikan ampun untuk Indi. Seminggu menunggu usai malam pertama sejujurnya menyiksa Satria. Namun, pria itu tak mau protes. Dia memilih untuk menuntaskan semuanya sekarang. Satria mulai menarik ke atas kaosnya sendiri, dia tampil shirtless di hadapan Indi. Usai itu, Satria mendaratkan kecupan di pipi, kelopak mata, kening, turun ke bibir, dagu, dan semakin turun hingga ke garis leher Indi. Kecupan berbalut dengan sapaan lidah yang sangat melenakan, membuat Indi bergerak gelisah karenanya.
Setiap tindakan yang Satria lakukan benar-benar membuat tubuh Indi meremang. Oleh karena itu, Indi sampai menggigit bibirnya sendiri agar tidak sampai mendesah. Namun, bagaimana lagi, sengatan demi sengatan terjadi membuat Indi terus menyebutkan nama suaminya.
__ADS_1
"Mas ... Sa ... tria!"
"Nikmati, Sayang."
Suara dalam Satria yang terdengar berbeda dari biasanya. Walau memberikan jawaban, tapi Satria terus meraba lekuk-lekuk feminitas di tubuh Indi. Pria itu sekarang tak ragu untuk melepaskan piyama yang Indi kenekan. Oh, Satria kian gelap mata rasanya melihat wadah berenda di sana. Sangat indah. Dia tak sabar untuk segera melucuti semuanya, dan merasakan sensasi lembut dan kenyal dari bulatan indah milik sang istri.
Dengan begitu nakalnya, Satria meremas bulatan indah itu perlahan, memilin ujungnya, dan juga dia kombinasikan dengan hisapan dengan mulutnya. Oh, luar biasa. Satria masih ingat, seminggu yang lalu, bulatan indah dengan puncak yang pink kecoklatan itu sangat melenakannya. Membuat Satria ingin terus menghisap dan menggigit puncaknya. Bahkan, untuk bulatan indah yang lain, Satria berikan godaan serupa secara bergantian.
Pria itu benar-benar terbakar dalam gelora. Satria ingin memaknai malam ini sebagai malam kedua yang lebih indah untuk mereka berdua. Semua yang bisa Satria lakukan, akan Satria lakukan.
Puas memberikan sapaan dan godaan di area dada, Satria melucuti busana mereka. Sama-sama tampil polos satu sama lain. Lantas, Satria memberikan instruksi kepada Indi.
"Kenalan lagi yah?" pintanya.
Indi menurut. Dia membuka lagi memorinya, bagaimana harus berkenalan dengan pusaka sang suami. Dia sejujurnya takut, tapi Indi juga sangat tahu bahwa hubungan seperti ini adalah saling memberi dan menerima. Dia tak ingin hanya menjadi pihak yang hanya menerima saja, dia juga ingin memberi untuk suaminya.
Dia pegang perlahan pusaka yang sudah berdiri tegak itu, menggerakkan tangannya naik dan turun dari pangkal hingga ke ujungnya. Terdengar tarikan napas Satria dan ketidakberdayaan pria itu. Luar biasa, hanya gerakan tangan saja membuat Satria gila. Pria itu lebih menggila merasakan ******* dan sapaan hangat istrinya, ketika pusakanya tenggelam di dalam rongga mulut istrinya.
"Sayang ... astaga, indah ... yah, Sayang."
Satria sudah mende-sah beberapa kali. Itu sangat indah. Kesannya mendebarkan dan memercikan kebahagiaan untuknya. Ini adalah perkenalan Indi kedua, tapi Satria harus mengakui bahwa di tengah takut-takut dan ragunya Indi, kali ini bisa lebih rileks.
Indi tak menyangka reaksi suaminya akan seperti ini. Terlebih ketika lampu masih menyala, tidak dalam keremangan. Indi baru tahu reaksi sebenarnya dari suaminya itu. Hal yang sangat baru untuk Indi.
Sebelum Satria bisa meledak dan pecah, Satria menghentikan Indi terlebih dahulu. Pria itu tersenyum dan segera mencium bibir Indi. Lantas, Satria membaringkan Indi. Sebelum ke menu utama, Satria memberikan invansi terlebih dahulu ke lembah sang istri. Sebab, tanpa invansi itu pastilah lembah di sana bisa kering dan terasa sakit. Oleh karena itu, Satria benar-benar memberikan sapaan, usapan dengan lidahnya.
Sekarang Indi yang menggeliat dengan mata yang kian terpejam. Malu? Ya, sangat malu ... tapi rasa asing ini sangat indah, membuat Indi refleks melakukan hal yang sebenarnya tidak semestinya. Bahkan Indi berusaha membuka matanya, ingin melihat apa yang suaminya lakukan, tapi Indi tak mampu. Cara Satria memujanya sangat luar biasa. Indi nyaris merengek dan terus menyebut nama suaminya itu.
Hingga akhirnya, tubuh Indi bergetar. Dan zat cair yang hangat keluar begitu saja. Oh, kepuasan yang sangat indah untuk Indi. Pelepasan yang membuat Indi terengah-engah di sana.
"Manis," kata Satria pelan dengan menyeka bibirnya.
Usai itu, Satria segera memposisikan dirinya. Dia menyatu, sang pusaka memenuhi cawan surgawi milik istrinya. Memberikan kesan penuh dan hangat. Diiringi dengan gerakan seduktif Satria yang sekarang lebih bertenaga. Dalam, dalam, dan dalam. Masuk, masuk, dan terus menusuk. Satria menggeram. Peluh di tubuhnya keluar begitu saja. Walau ini adalah kesempatan keduanya, tapi cawan surgawi ini masih sangat rapat. Cengkeraman otot-otot di bawah sana yang sangat melenakan Satria.
"Sayang ... Sa ... yang!"
Satria menggeram dengan terus menghujam dan menusuk. Keluar dan masuk silih berganti, sementara Indi sudah merasa lemas karenanya. Wanita itu merasa terombang-ambing dalam permainan malam yang kali ini menurut Indi durasinya lebih lama.
Ya, dua jiwa seolah terombang-ambing di angkasa. Keduanya laksana komet yang melesat jauh dalam ratusan mil cahaya. Gumpalan stratosfer melingkupinya, memberikan kegilaan yang benar-benar memuncak.
__ADS_1
Itu adalah peraduan yang sangat indah. Itu adalah buaian malam yang indah. Sampai akhirnya Satria menggeram. Dia memuntahkan lava pijarnya yang memenuhi cawan surgawi milik istrinya. Tubuh yang sama-sama bergetar, ledakan dahsyat, ya andai itu adalah komet sudah terjadi ledakan ke awan hingga keduanya berjatuhan ke bumi dari angkasa yang tinggi.