
Rama Bima benar-benar panik. Dia tidak menyangka, sosok yang tidak dia sukai, nyatanya justru yang menolongnya. Jika tidak ada Indi, sudah pasti Rama Bima sendiri yang tertimpa kardus dan panel kayu di sana.
"Mbak Indi ... Indira."
Teriakan Rama Bima menggema. Dia benar-benar tidak menyangka, Indi mau menolongnya, mengorbankan keselamatannya sendiri untuk menolong dirinya. Seketika muncul perasaan menyesal dalam hati Rama Bima.
Sembari menunggu staf yang menyingkirkan kardus dan panel kayu, Rama Bima menghubungi Satria. Dalam pikirannya, Satria harus diberitahu terlebih dahulu.
Bahkan ketika semua barang berhasil disingkirkan, Rama Bima sendiri yang menggendong Indi membawanya masuk ke dalam ambulance. Rasa tidak suka di dalam hatinya sirna begitu saja, berganti dengan rasa malu dan panik. Malu, karena Indi ternyata adalah wanita yang sangat baik dan mau berkorban untuknya.
"Tolong anak saya," kata Rama Bima.
Petugas medis yang berada di mobil ambulance memasangkan jarum infus dan oksigen kepada Indi terlebih dahulu. Terlihat beberapa luka di pelipis Indi, karena ada darah di sana.
Rama Bima juga mengabari Satria untuk langsung saja menuju ke Rumah Sakit. Sebab, Indi dibawa ke Rumah Sakit. Meminta bertemu di Rumah Sakit saja.
Begitu tiba di rumah sakit, brankar Indi segera digeledek ke Instalasi Gawat Darurat. Dokter mulai memeriksa kondisi Indi, sementara Rama Bima diminta untuk menunggu di luar. Belasan menit kemudian, Satria datang dengan berlari-lari dari parkiran hingga ke Instalasi Gawat Darurat. Pria tampan itu tampak terengah-engah dan begitu panik.
"Sat," panggil Rama Bima.
"Indi kenapa?" tanya Satria dengan sangat panik.
Akhirnya, di sana Rama Bima pun memberikan penjelasan untuk Satria. "Maafkan Rama, Sat ... semua ini terjadi gara-gara Rama. Indi menolong Rama. Harusnya kardus dan panel kayu itu ambruk dan menimpa Rama. Sayangnya, Indi menolong Rama dengan mengorbankan dirinya sendiri."
Satria memejamkan matanya. Tidak mengira Indi akan mengambil keputusan seperti ini. Satria juga mengira bahwa Indi pasti sangat sakit ketika tertimpa beban seperti panel kayu.
"Satria minta rekaman CCTV di tempat kejadian perkara, Rama. Jika ada yang berusaha menyakiti Indi, maka Satria tidak akan segan-segan," balasnya.
__ADS_1
Mencoba berpikir dengan jernih, walau Satria sangat panik. Rama Bima menganggukkan kepalanya. Dia menelpon bagian Oemah Jamu dan meminta rekaman seluruh CCTV dialihkan ke emailnya.
"Maafkan Rama, Satria," kata Rama Bima.
"Tidak perlu meminta maaf, Rama. Satria harap hati Rama menjadi lebih lunak. Walau tak bernasab, Indi adalah sosok yang baik. Dia orang yang tak segan berkorban, mengorbankan dirinya untuk orang lain," kata Satria.
Rama Bima tersadar. Darah biru bukan jaminan atas dasar kemanusiaan. Walau dia menolak Indi, nyatanya justru Indi yang menolongnya.
"Wali dari pasien yang mana?" tanya Dokter yang baru saja keluar dari ruangan IGD.
"Saya suaminya," kata Satria.
"Pasien pingsan, selain itu ada beberapa luka di pelipis dan kaki. Kakinya bengkak, saya akan bawa pasien untuk melakukan rontgen. Bengkak di kaki bisa jadi karena memang memar dan efek jatuh, bisa juga ada tulang yang patah," jelas sang Dokter.
Satria sudah sangat panik dan sedih. Namun, jauh di dalam hatinya, dia berharap itu hanya memar saja. Tidak ada patah tulang di kaki Indi. Jika itu sampai terjadi, rasanya Satria gagal untuk bisa melindungi istrinya sendiri.
Sementara Rama Bima juga berharap tidak ada hal yang serius pada Indi. Rama Bima juga merasa begitu bersalah sekarang.
"Lakukan pemeriksaan menyeluruh untuk istri saya, Dokter," kata Satria.
"Pasti, Pak. Pasien dalam pengaruh obat dan belum siuman. Mohon ditunggu, dan sekarang pasien akan kami bawa untuk foto rontgen," kata Dokter.
Usai mengatakan itu, Dokter dan perawat mendorong brankar Indi dan dibawa ke ruangan rontgen. Seketika Satria menitikkan air matanya melihat istrinya dengan beberapa luka di wajahnya. Itu pastilah luka yang sangat sakit.
Satria mendekat dan turut mendorong brankar itu dan berbicara lirih. "Sayang ...."
Suara terdengar bergetar. Baru dua hari lalu, Satria mengatakan bagaimana bahagianya dia menggapai Swargaloka bersama Indi. Akan tetapi, sekarang istrinya sudah berada di atas brankar kesakitan. Jika bisa menggantikan posisi Indi, pastilah Satria akan menggantikannya.
__ADS_1
Sementara Rama Bima turun mendorong brankar itu. Sorot matanya menatap Indi dengan luka-luka di sana dan juga selang infus yang terpasang di tangannya. Ah, Rama Bima menyesal.
Ketika sudah di ruangan rontgen, Satria dan Rama Bima diminta menunggu di luar pintu. Seolah terlihat sorot lampu rontgen di sana.
"Rama pulang saja," kata Satria.
"Tidak, Sat ..., semua ini karena Rama. Rama akan berada di sini sampai Indi sadar."
Satria menghela napas kasar. Dia melirik Ramanya yang berdiri tidak jauh darinya. "Sudah terlanjur, Rama. Lukanya Indi tetap menjadi luka. Hanya menunggu hasil rontgen kakinya," balas Satria.
Usai itu, Satria memilih diam dan menunggu. Hanya beberapa menit, brankar milik Indi sudah dibawa keluar lagi. Satria dan Ramanya kembali mendorong brankar itu. Bukan ke ruangan IGD lagi, tapi ke ruangan rawat inap karena Indi harus menjalani rawat inap.
Di ruangan kelas VIP sekarang, Indi dibawa ke sana. Perawat berpesan bahwa ketika pasien siuman nanti Satria diminta untuk menekan tombol yang berada di atas brankar pasien.
"Sudah, Rama. Rama urus masalah di Oemah Jamu saja. Satria yang akan menjaga istrinya Satria," kata Satria.
"Sat, tapi ...."
"Kalau Rama mau, tolong cek di tempat kejadian perkara. Mungkinkah ada sesuatu yang mencurigakan. Tolong copy file video CCTV ke dropbox Satria juga."
Tujuan Satria hendak mengecek file CCTV adalah untuk memastikan apakah ada orang yang sengaja, atau murni kecelakaan kerja. Satria akan mengusut semuanya. Tidak mau menerima begitu saja.
"Baiklah, tolong kalau Indi siuman nanti kabari Rama."
"Baik," jawab Satria.
Mengikuti apa diminta Satria, Rama Bima memilih untuk kembali ke Oemah Jamu. Dia akan memastikan semuanya beres. Pria paruh baya itu berjalan dengan rasa menyesal. Hatinya benar-benar terketuk dengan apa yang baru saja Indi.
__ADS_1
"Sekali lagi maafkan Rama, Mbak Indi. Harusnya sebagai orang tua, Rama yang melindungi kamu. Sekarang, kondisinya justru sebaliknya. Kamu yang melindungi Rama. Padahal, bisa saja kamu abai dan membiarkan semuanya. Maafkan Rama ...."
Hati nurani Rama Bima mulai terusik. Mungkinkah ini adalah titik balik dalam hidupnya? Titik balik bahwa dia sudah tidak membenci Indi. Justru, Rama Bima berharap Indi segera pulih. Bengkak di kaki pun semoga hanya cidera biasa, bukan karena tulang yang retak atau terjadi patah tulang.